
Mereka bertiga kembali menuju perusahaan. Pekerjaan masih menunggu mereka untuk minta segera diselesaikan.
Vina menghidupkan komputernya kembali dia ingin mencetak satu dokumen penting yang akan segera diantarnkannya ke direktur perusahaan.
"Bang aku permisi ke luar sebentar ya. Ada perlu." ujar Vina sambil membuka pintu ruangan mereka.
"Mau kemana Vin?" tanya Ivan yang merasa Vina ingin pergi ke tempat yang penting.
"Mau ke ruangan bagian pengadaan Bang sebentar. Kenapa mau ikut?" tanya Vina yang tidak mau Ivan curiga dia mau kemana.
"Oh oke sip."
Vina kemudian berjalan ke arah bagian pengadaan. Setelah merasa kalau tidak ada yang memata matainya Vina berjalan menuju lift. Dia akan menemui direktur perusahaan.
"Maaf Buk, apakah Bapak ada? Saya berencana untuk menemui Bapak." ujar Vina kepada sekretaris bos nya.
"Ada apa Nona Vina?" tanya sekretaris yang tidak bisa membiarkan sembarangan orang masuk ke ruangan direktur untuk menemui direktur.
"Saya tadi sudah buat janji dengan Bapak Buk. Jadi bisa saya bertemu dengan beliau?" tanya Vina kembali.
"Sebentar, saya akan tanya apakah Bapak ada waktu untuk bertemu dengan Nona Vina atau tidak." jawab Sekretaris sambil tersenyum.
Sekretaris masuk kedalam ruangan direktur. Sedangkan Vina menunggu di luar sambil mengoyang goyangkan kakinya.
"Nona Vina silahkan masuk. Bapak direktur telah menunggu Nona" ujar sekretaris mempersilahkan Vina untuk masuk ke dalam ruangan direktur.
Vina melangkahkam kakinya dengan sedikit berat ke dalam ruangan direktur tersebut. Tetapi dia tetap harus masuk dan mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
"Silahkan duduk Vina. Ada apa?" tanya Bapak direktur yang sudah lumayan tua itu.
"Maaf sebelumnya pak, saya sudah mengganggu waktu bapak. Tapi ini memang harus saya sampaikan kepada Bapak." lanjut Vina lagi.
__ADS_1
"Oh tidak masalah, saya sedang tidak sibuk. Jadi silahkan Nona Vina bercerita. Ada apa sebenarnya?" lanjut direktur.
Vina terdiam sebentar, dia berusaha menenangkan debaran hatinya. Pak Direktur bersedia menunggu sampai Vina benar benar siap menceritakan semua kejadian kepada Dia.
Setelah dirasa dirinya sudah cukup tenang untuk menyampaikan semua isi hatinya Vina mulai membuka mulutnya.
"Jadi begini Pak. Vina ingin mengajukan surat pindah ke cabang perusahaan Pak." ujar Vina yang sama sekali tidak berani menatap wajah direktur.
"Pindah ke anak cabang?" tanya direktur yang tidak percaya ada seseorang meminta untuk pindah ke anak cabang perusahaan. Setau direktur semua orang menginginkan untuk bekerja di perusahaan utama, bukan anak cabang.
"Benar Pak, saya mengajukan permohonan untuk pindah ke anak cabang. Saya bersedia diletakan di posisi mana saja dan di anak cabang mana saja." jawab Vina kembali meyakinkan direktur.
"Apakah kamu sudah benar benar berpikir jernih untuk pindah ke anak cabang??? Orang sangat senang untuk bekerja di perusahaan pusat, sedangkan kamu meminta pindah ke anak cabang." ujar Direktur yang tidak habis pikir kenapa Vina meminta untuk pindah ke anak cabang manapun.
"Saya sudah memikirkan semua ini dengan masak Pak. Saya benar benar ingin pindah ke salah satu anak cabang perusahaan ini." lanjut Vina kembali meyakinkan pak direktur.
"Baiklah kalau memang itu sudah keputusan kamu, saya tidak bisa memaksakan lagi untuk kamu bertahan di perusahaan utama. Tapi ada satu hal kamu mau duduk di kantor cabang yang mana. Kamu saya persilahkan untuk memilih." ujar direktur yang sangat tau kriteria dan bagaimana cara kerja Vina selama ini.
"Yup bisa. Sekalian kamu akan saya letakan sebagai calon manager di cabang sana." direktur kembali memberikan Vina kejutan yang tidak disangkanya.
Vina terlihat berpikir keras. Kalau dia menjadi manager, maka Danu pasti akan bisa menemukannya.
"Maaf Pak. Bukan saya menolak peluang itu. Tapi izinkan saya untuk tetap menjadi staf perencanaan di sana. Saya hanya ingin menjadi orang biasa saja." jawab Vina yang memang memiliki kapasitas untuk menjadi seorang manager yang ternama.
"Vina, sebenarnya saya sudah tau alasan kamu ingin pindah dari kantor pusat. Satu pesan saya, siapa pilihan kamu itu sudah tepat, sayangnya dia belum bisa mengambil keputusan karena terikat janji dengan seseorang." ujar direktur
Vina melongo mendengar semua ucapan direktur tersebut. Direktur juga mengetahui hubungan terlarangnya dengan Danu selama ini.
"Kamu pasti heran kenapa saya bisa tau akan hal ini. Saya sebenarnya adalah adik kandung dari ayah Danu. Danu memiliki separo saham perusahaan ini. Jadi saya tau hubungan antara kamu dengan Danu selama ini." ujar Direktur yang berhasil membuat kaget Vina.
"Vina, sebagai paman dari Danu, saya sangat sedih kamu memilih menghindar dari Danu. Tetapi sebagai seorang pimpinan saya mengerti dengan posisi kamu." lanjut direktur.
__ADS_1
"Saya akan merekomendasikan kamu untuk pindah ke perusahaan milik saya pribadi yang berada di luar negeri."
Ekspresi Vina langsung berubah, keluar negeri merupakan pilihan yang sangat bagus. Tetapi bagaimana dengan Maya dam cita citanya membangun sebuah cafe.
"Kamu jangan panik dahulu. Maya dan juga keinginan kamu untuk membuka kafe akan tetap bisa terwujud di sana. Kamu akan saya tempatlan sebagai seorang manager di sana. Kebetulan sekali manager bagian perencanaan sedang kosong. Kamu akan bisa pindah ke sana dua hari lagi. Jadi bersiap siaplah." ujar direktur.
"Untuk menghindari kamu diketahui oleh Danu keberadaannya, kamu akan diantar langsung oleh pesawat milik perusahaan. Jadi Danu tidak bisa melacak kamu." ujar direktur memberikan jalan bagaimana cara Vina keluar negeri.
"Baiklah Pak, saya setuju. Terimakasih sudah membantu saya dan maaf karena saya harus pergi dari keponakan Bapak." ujar Vina sambil membungkukkan setengah badannya.
"Vin dalam hidup kita harus memilih yang terbaik untuk kita. Semoga pilihan kamu memang pilihan yang terbaik." jawab Direktur.
Vina kembali menuju ruangannya. Dia tidak menyangka urusannya akan segampang itu. Dia nanti akan membicarakan semuanya dengan Maya dan juga kedua orang tuanya melalui sambungan telepon.
"Udah seleaai Vin?" tanya Ivan.
"Udah Bang." jawab Vina sambil duduk di kursinya kembali.
"Semoga ini jalan terbaik Vin." jawab Ivan kembali.
Vina hanya tersenyum mendengar jawaban Ivan. Untung saja di dalam ruangan tidak ada Iwan, kalau ada bisa berabe Vina.
Ivan dan Vina melanjutkan pekerjaan mereka. Tepat pukul lima sore, mereka berdua keluar dari ruangan kantor untuk kembali pulang ke rumah.
Vina kembali ke rumah memakai taksi online. Sebenarnya Ivan tadi bermaksud mengantarkan Vina. Tetapi mendadak Ivan ditelpon Direktur untuk menuju ruangannya. Akhirnya Vina harus memesan taksi online.
Vina menunggu taksi online di depan halte kantor. Dia menunggu sambil bermenung. Dia tidak menyangka semua keputusannya di dukung dan dipermudah oleh Direktur.
"Benar kata direktur, semoga pilihan ini benar dan tidak mengakibatkan kerugian kepada siapapun." ujar Vina.
Tidak menunggu lama taksi online yang dipesan Vina sudah datang. Dia langsung naik ke dalam taksi. Taksi melaju menuju rumah kontrakan Vina
__ADS_1