
Vina membuka pesan chat yang dikirim oleh Ranti berupa fhoto dan video tersebut. Vina melihat fhoto fhoto yang dikirim oleh Ranti. Setelah itu Vina melihat video. Dimana Ranti sengaja membuka kancing atas bajunya dan memperlihatkan bekas bekas peperangan antara laki laki dan perempuan itu.
Vina menghentikan rekaman video itu. Dia kemudian meletakkan kembali ponsel miliknya. Dia tidak mau membahas hal itu untuk hari ini. Vina menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Kalau Tuhan berkehendak dia akan terus dengan Danu, maka Tuhan akan menunjukkan jalannya, tetapi kalau Tuhan tidak berkehendak hubungan dia dengan Danu kembali lagi, Vina juga meminta kepada Tuhan untuk memperlihatkan juga.
"Vin, loe sedang ngapain?" ujar Maya menyapa Vina yang terlihat sedang termenung tersebut.
"Ngapain loe menung kayak gini?" lanjut Maya kepada Vina.
"Nggak ada. Apa loe udah siap?" tanya Vina kepada Maya yang terlihat sudah siap untuk berangkat.
"Sudah. Yuk jalan. Gue udah nggak sabar pengen membuka kafe itu" ujar Maya dengan semangatnya untuk pergi ke kafe.
"Sabar, gue ambil ponsel dulu" ujar Vina masuk ke dalam kamar mengambil ponselnya yang tadi di letakkan di ranjang.
Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil. Pak Hans tadi sudah mengantarkan Rina dan Bik Ina duluan ke kafe.
"Gimana Pak, apa semuanya sudah siap?" tanya Maya yang penasaran karena sehari kemaren sama sekali tidak boleh datang ke kafe oleh para karyawan yang sudah berkumpul semuanya.
"Saya juga tidak bisa melihat Nona" ujar Pak Hans kepada Maya dan Vina.
Pak Hans juga tidak bisa melihat keadaan di kafe, semua orang menutup keadaan kafe dari Pak Hans agar tidak diketahui oleh Vina dan Maya.
"Sepertinya mereka menutupi dari kita berdua keadaan dan tampilan kafe." ujar Maya menyimpulkan perkataan dari Pak Hans.
"Sepertinya Vin. Gue penasaran seperti apa kafe. Oh ya, nanti loe bantu gue masak kan ya?" tanya Maya kepada Vina.
"Oke sip. Gue akan bantu loe masak nanti" ujar Vina yang menyetujui untuk ikut masak dengan Maya saat pembukaan kafe.
"Lagian rencana gue, siap gue kerja di perusahaan, gue akan bantu elo di kafe" lanjut Vina yang memang sangat suka bekerja di kafe dari pada di kantor. Bakat masaknya akan tersalurkan.
"Nggak usah aja Vin, nanti loe kecapekan, habis kerja kantor harus kerja lagi di kafe" ujar Maya yang tidak ingin Vina kecapekan karena full bekerja dari pagi sampai malam.
"Nggak apa apa. Emang apa bedanya waktu di negara kita. Juga sama kan ya. Malahan lebih parah dari pada sekarang. Gue harus kerja dari jam tiga subuh sampe malam, belum lagi malamnya harus nyiapin bumbu bumbu untuk besok lagi" ujar Vina yang mengingat kisah mereka saat berada di negara I.
__ADS_1
"Bedalah, saat itu loe belum jadi bos. Sekarang loe udah jadi bos. Tentu tuntutan kerja berbeda" ujar Maya yang nggak mau Vina terlalu letih bekerja.
"Gini ajalah, kalau gue rasa badan gue masih fit maka gue akan masak. Kalau nggak gue jadi tukang antar makanan aja" ujar Vina yang masih kekeh ingin tetap bekerja di kafe.
"Loe memang tipe keras kepala. Serah loe aja, tapi gue nggak mau loe sakit. Ada denger, nggak boleh sakit" ujar Maya menekankan setiap kata katanya kepada Vina.
"Siap bos. Gue akan jaga kesehatan. Jangan cemas, gue juga nggak mau sakit" ujar Vina yang juga cemas kalau dia sakit. Apalagi kerjaan sedang banyak banyaknya.
Mereka akhirnya sampai di parkiran kafe. Terlihat beberapa mobil sudah parkir di sana. Sari yang melihat mobil Vina sudah parkir, menyusul Vina ke tempat mobilnya diparkirkan.
"Hay, ayo cepat. Pengunjung udah nggak sabar lagi untuk mencicipi masakan kafe kita" ujar Sari yang ternyata berhasil menarik perhatian pembeli dengan konten yang ditampilkan di media sosialnya itu.
Semua pelayanan dan beberapa orang sudah berdiri di depan pintu masuk kafe. Terlihat sebuah pita terpasang di depan pintu kafe.
"Nona silahkan di gunting" ujar Rina sambil memberikan gunting yang juga sudah di pasangkan pita.
"Vina, Sari sini, kita gunting bertiga" ujar Maya juga membawa Vina dan Sari menggunting pita peresmian kafe mereka.
Juan mengambil gambar setiap acara peresmian kafe. Juan yang juga memiliki subscriber yang banyak, sengaja melakukan siaran langsung, agar para followers nya datang ke kafe Maya.
Para pengunjung kafe kemudian masuk ke dalam kafe dan memilih dimana mereka mau duduk. Kebetulan cuaca mendukung, jadi banyak pengunjung yang duduk di cafe yang bagian outdoor.
Para pelayan datang menghampiri meja meja dengan membawa nomor meja dan juga daftar menu serta secarik kertas untuk mencatat pesanan dari para tamu.
Para tamu melihat daftar menu yang disajikan oleh kafe Maya. Mereka melihat lihat menu menu yang sungguh menggoda selera.
"Ini beneran bisa di masak semuanya?" tanya salah satu pengunjung kafe.
"Bisa Tuan, segala yang ada di daftar menu, bisa kami sediakan" ujar pelayan kafe.
"Hem kalau gitu saya pesan ini dua. Terus minumnya yang ini dua." ujar pengunjung kafe.
Para pelayan yang lain sudah mengantarkan menu pesanan para pengunjung kafe kepada Maya, Vina dan Rina yang sekarang sedang masak di dapur.
__ADS_1
Mereka tidak henti hentinya masak dari pertama kafe diresmikan. Para pengunjung bergantian datang ke kafe. Istilahnya pergi lima masuk delapan malahan lebih.
Ivan dan Iwan yang baru saja datang dari hotel. Masuk ke dalam kafe. Mereka duduk disalah satu meja yang ada di dalam kafe.
"Silahkan ditulis menunya Tuan" ujar salah satu pelayan yang melayani Ivan dan Iwan.
Ivan menuliskan menu yang ingin di pesannya.
"Nasi goreng seafood tapi uangnya di potong halus halus. Pedas dan tidak pakai seledri." Ivan menulis menu yang dipesan oleh dirinya.
Pelayan membaca kertas menu Ivan. Dia memandang Ivan dan berencana untuk berkomentar.
"Sana kasihkan kepada nona Maya. Jangan ke Nona Vina apalagi Rina" ujar Sari meminta pelayan memberikan secarik kertas menu itu kepada Maya langsung.
Pelayan membawa kertas menu ke dapur.
"Nona Maya, ini ada kertas menu yang harus diserahkan kepada Nona Maya." ujar pelayan memberikan kertas menu kepada Maya.
Maya membaca kertas menu tersebut. Maya tersenyum bahagia saat membaca kertas menu itu. Vina membaca kertas menu dari belakang.
"Sini biar gue yang nyiapin pesanan elo. Elo lanjut aja memasak pesanan penuh cinta itu" ujar Vina yang sudah tau siapa yang memesan menu dengan menulis secara mendetail apa saja yang boleh dimasukkan ke dalam pesanannya.
Vina mengambil alih masakan yang sedang diolah oleh Maya. Maya kemudian mengolah pesanan yang dipesan oleh Ivan. Maya terlihat sangat ceria saat mengolah masakannya, padahal tadi Maya sudah mengeluh dia lelah dan ingin istirahat.
Maya memberikan sentuhan terakhir nasi gorengnya dengan menaburkan bawang putih goreng dan bawang merah goreng kesukaan Ivan.
"Ini pesanan meja mana Nona?" tanya pelayan kepada Maya yang terlihat telah selesai menyiapkan menu pesanan yang diminta pengunjung.
"Oh yang itu pesanan spesial. Jadi yang nganter juga yang spesial." Vina menjawab pertanyaan pelayan tersebut sambil menatap ke arah Maya yang sudah senyum senyum tidak jelas.
Maya terlihat akan membuka celemek nya.
"Ngapain loe buka, biarin aja. Biar tu orang lihat ada namanya di situ" ujar Vina melarang Maya membuka apronnya.
__ADS_1
"Bener juga ya Vina. Biar dia tau kalau dia selalu ada dimana aku berada. Hahahahahaha. Lebaynya gue" ujar Maya menertawakan apa yang dikatakannya sendiri.
Maya kemudian berjalan menuju meja Ivan. Maya sendirilah yang akan mengantarkan pesanan kekasih hatinya itu. Maya tidak mau pelayan lain mengantarkan pesanannya.