Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Danu Kecele Lagi


__ADS_3

Sebenarnya tadi Danu juga ingin lembur. Tapi, sebentar ini masuk pemberitahuan kalau dia harus pergi meeting.


"Gue jalan dulu ya" ujar Danu yang tidak singgah di kantor. Dia harus berangkat meeting.


"Oke Bang. Hati hati" ujar Ivan mewakili Iwan.


Ivan dan Iwan kembali keruangan mereka. Mereka berdua akan lembur malam ini. Mereka akan menyelesaikan proyek kerja sama dengan beberapa perusahaan yang belum selesai dikerjakan oleh Ivan dan Iwan.


"Bang, loe masih banyak kerjaan?" Ivan bertanya kepada Iwan.


"Kenapa emang? Loe mau pulang?" tanya Iwan kepada Ivan.


"Nggak Bang. Loe mau ikut dengan gue gak hari minggu?" tanya Ivan kepad Iwan.


"Kemana?" ujar Iwan yang penasaran Ivan membawanya pergi hari minggu.


"Kesuatu tempat, tapi Abang harus nyelesain semua kerjaan sekarang. Jadi, nggak terganggu saat kita akan pergi besok" ujar Ivan memberitahukan kepada Iwan, kalau Iwan mau pergi dengan dirinya, maka Iwan harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum mereka pergi ke tempat itu.


"Kasih tau dulu Van, kemana mau perginya" ujar Iwan yang penasaran kemana Ivan akan membawa dia pergi.


"Jangan pengen tau sekarang Bang. Intinya Abang mau ikut atau ndak. Itu aja jawab" ujar Ivan yang masih merahasiakan kemana mereka mau pergi hari Minggu.


"Ikutlah. Berapa hari?" tanya Iwan dengan semangat.


"Berangkat minggu balik sabtu" jawab Ivan sambil menahan senyumnya ke arah Iwan.


"Seminggu. Lama juga ya. Tapi Oke lah berangkat. Kita rodi seminggu ini" ujar Iwan yang setuju untuk ikut pergi dengan Ivan melanglang buana.


Mereka berdua kemudian melanjutkan pekerjaannya. Tepat pukul enam sore, Danu kembali dari meeting di luar. Dia membawa martabak untuk dimakan oleh Iwan dan Ivan.


"Tumben baik loe bang, ada apa gerangan?" ujar Ivan sambil mencomot satu iris martabak manis yang di bawa oleh Danu.


"Nggak ada." jawab Danu sambil memainkan ponsel miliknya.


"Gue nggak yakin Bang. Apa lagi itu, loe baca pesan chat sambil senyam senyum. Ada apa gerangan?" ujar Ivan yang sangat kepo dengan apa yang dilakukan dan terjadi kepada Danu.


"Loe kepo Van" ujar Iwan sambil melempar tisu yang telah dipakai oleh Iwan untuk mengelap tangannya selesai makan martabak manis.


"Alah loe padahal juga kepo. Pake nggak ngaku segala lagi" ujar Ivan menatap Iwan.


"Hahahaha. Kepo lah. Masak iya, kemaren masih kayak orang panik dan seteres sekarang udah bisa senyum. Makanya ini pasti ada apa apanya. Gue curiga" ujar Iwan menatap Danu dengan tatapan menyelidik


"Hem kalian berdua cocok jadi detektif" jawab Danu sambil mengacungkan dua jempolnya kepada Iwan dan Ivan.


"Jadi, kenapa loe sebenarnya Bang. Ceritalah sama kami" ujar Ivan yang masih tetap penasaran dengan hal yang menyebabkan Danu menjadi kelihatan sebahagia itu.


Danu terlihat berpikir. Dia menimbang nimbang, apakah akan menceritakan semuanya kepada Ivan dan Iwan atau hanya menyimpannya sendirian. Danu masih berada di persimpangan jalan yang harus ditempuhnya.


"Bang Iwan, kalau Bang Danu nggak mau cerita sama kita apa yang terjadi, nah kita juga nggak akan bantu dia besok pas masalahnya dengan Ranti akan di sidang. Kita nggak usah carikan dia bukti bukti." ujar Ivan mengutarakan niat jahatnya kepada Iwan yang langsung di dengar oleh Danu.


"Yakin loe berdua nggak bakalan nolongin gue?" tanya Danu dengan wajah serius.


"Yakinlah. Seyakin abang yang nggak akan menceritakan kepada kami apa yang terjadi hari ini" ujar Ivan menjawab perkataan Danu.


"Yah, pake ngancem segala." ujar Danu kepada mereka berdua.


"Nggak ngancem Bang. Itu namanya barter" ujar Ivan menjawab komplenan Danu.


"Yayayaya. Gue akan cerita apa yang terjadi" ujar Danu yang akhirnya mengalah dengan keinginan Ivan dan Iwan.


"Nggak usah Bang, kalau kepaksa" ujar Ivan sambil menahan senyum nya.


"Gaya loe, nggak usah padahal dalam hati iya Bang, iya Bang, gue penasaran banget Bang." balas Iwan sambil geleng geleng kepala lihat tingkah ajaib Ivan.


"Itu namanya gaya Bang. Gaya itu perlu, biar orang yakin sama kita." ujar Ivan masih membela dirinya.

__ADS_1


"Serah loe" ujar Iwan.


"Loe semenjak berjauhan dengan Maya menjadi sangat luar biasa cerewet. Kayak petasan meledak" lanjut Iwan mengejek Ivan.


"Mau gue ceritain nggak, ribut aja dari tadi" ujar Danu yang sedikit emosi kepada Ivan dan Iwan.


Iwan dan Ivan mengangguk, mereka memang penasaran dengan cerita Danu yang tiba tiba mendadak menjadi bahagia itu.


"Jadi gini, Gue kemaren malam iseng iseng ngirim pesan chat ke Vina. Gue kira dia masih blokir nomor gue kan ya. Kiranya" ujar Danu sengaja menggantung kalimatnua.


"Kiranya Vina balas kan ya" ujar Ivan melanjutkan sendiri kalimat Danu yang sengaja di gantung itu.


"Kok loe tau?" tanya Danu kepada Ivan yang bisa menyambung perkataannya.


"Udah kebaca Bang dari wajah elo. Wajah elo memperlihatkan kebahagiaan karena Vina membalas pesan chat dari elo" ujar Ivan menjelaskan dari mana dia tau ujung dari cerita Danu.


"Sampe berapa lama dia balas pesan chat loe Bang?" tanya Ivan penasaran.


"Mayan lama lah. Bagi gue sekarang nggak penting durasinya. Bagi gue yang penting sekarang dia masih balas pesan chat dari gue udah itu. Itu aja yang penting" jawab Danu kepada kedua staffnya itu.


"Ya ya ya ya. Istilahnya walaupun hanya pesan kosong loe tetap bahagia. Gitukan ya Bang?" ujar Ivan mengejek Danu yang sangat tidak bisa menyimpan rona rona kebahagiaannya.


"Bener. Itu yang penting. Dia bales gue seneng" ujar Danu.


" Ah capek cerita terus. Gue lanjut dikit lagi dulu. Denger cerita loe Bang. Bisa mampus gue, kerjaan gue masih full" ujar Ivan yang kembali menatap layar laptop miliknya.


Ivan dan Iwan kembali bekerja. Danu melihat sudah pukul sembilan malam. Tetapi kdua staffnya itu tidak terlihat akan menyelesaikan pekerjaannya.


Danu menyandarkan badannya kesandaran sofa. Dia beristirahat sebentar, Danu mengeluarkan ponselnya. Dia iseng mengirim pesan chat kepada Vina.


"Masih jan sembilan. Kirim pesan chat dulu lah." ujar Danu sambil membuka aplikasi pesan chat ternama itu.


'Hay, sedang ngapain?' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Danu.


Danu kemudian membaca baca pesan chat lama antara dirinya dengan Vina. Setelah sekian kali men scroll pesan itu ke atas ke bawah, pesan balasan belum dikirim oleh Vina.


'Udah tidur?' Danu kembali mengirim pesan chat kepada Vina.


Ivan dan Iwan menatap sekilas ke arah manager mereka yang terlihat panik karena pesan chatnya tidak juga dibalas oleh Vina.


"Kemana dia ya? Apa dia marah lagi dan tidak memberikan gue kesempatan kedua?" ujar Danu berbicara sendirian.


"Kenape loe Bang? Pesan chat loe nggak dibalas Vina lagi?" ujar Ivan nyeletuk kepada Danu yang terlihat mesu mesu karena pesan chatnya tidak juga di balas oleh Vina.


Danu mengangkat sebelah tinjunya kepada Ivan.


"Hahahahaha. Berarti Vina maren khilaf Bang, makanya dia balas pesan chat dari loe" ujar Ivan mulai mengejek Danu kembali.


"Gue setuju sama loe Van. Kalau memang udah balas maren, masak sekarang nggak lagi. Suatu hal yang nggak mungkin aja itu van. Gue setuju maren Vina sasek" ujar Iwan menyetujui perkataan Ivan.


Mereka berdua saling bertatapan dan saling memberikan jempol. Danu melihat apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya itu.


"Hem, kalau iri bilang aja boss" ujar Danu menyemprot kedua sahabatnya itu.


"Mana ada iri. Biasa aja kali" jawab Ivan.


'Vina, kamu marah lagi ke akunya?' ujar Danu kembali mencoba peruntungannya kepada Vina sekali lagi.


Tapi keadaan masih tetap sama. Sama sekali tidak ada balasan dari Vina.


"Udahlah Bang, sabar aja. Mana tau memang bener dia sedang tidur. Udah sabar aja, bangun dia pasti akan balas pesan chat loe" ujar Ivan berbicara dengan nada mengejek.


Iwan menendang kaki Ivan. Ivan kemudian memilih untuk diam, dia tidak akan memulai lagi mengejek Danu.


Akhirnya tepat jam setengah sebelas malam,, pekerjaan mereka telah selesai. Mereka bertiga bergerak meninggalkan perusahaan.

__ADS_1


"Bang, gue nginep tempat loe aja ya." ujar Ivan yang nggak mungkin pulang ke Penthouse Ayah, saat melihat jam yang hampir tengah malam itu.


"Oke sip. Tapi besok loe pakai baju apa?" tanya Iwan yang ingat Ivan tidak membawa baju ganti.


Ivan tidak akan bisa memakai pakaian Iwan. Kalau untuk baju masih bisa, sedangkan celana memang sama sekali tidak bisa, karena Ivan jauh lebih tinggi dari pada Iwan.


"Aman aja itu Bang, dalam tas gue ada satu stell pakaian yang belum gue pakai. " ujar Ivan memberitahukan kalau dia ada membawa pakaian cadangan.


Mereka sampai di parkiran perusahaan. Ivan meminta satpam untuk menaruh motornya di tempat yang aman. Dia akan pulang naik mobil Ivan saja. Dua mobil bergerak meninggalkan parkiran kantor. Mereka menuju tujuan masing masing.


Sedangkan di negara U, Vina yang sedang tertidur tidak mendengar bunyi pesan chat yang dikirim oleh Danu. Saat dia bangun pagi mau melaksanakan kewajibannya Vina baru melihat tiga pesan chat yang masuk itu.


'Maaf tadi ketiduran' ujar Vina membalas pesan chat dari Danu.


Vina menaruh kembali ponselnya. Dia tau perbedaan waktu membuat Danu tidak akan membalas pesan chat dari dirinya.


"Dia pasti sedang tidur sekarang" ujar Vina sambil melangkahkan kakinya menuju dapur rumah.


Vina akan membuat sarapan pagi ini kembali. Vina melihat lampu kamar Maya sudah hidup. Tapi Vina malas mengganggu Maya. Vina melanjutkan langkah kakinya menuju dapur.


"Gue kira loe masih di kamar May, kiranya udah masak aja" ujar Vina menegur Maya yang terlihat sudah sibuk mengolah bahan bahan untuk sarapan mereka.


"Nggak lah gue dari tadi bangun. Jadi, loe udah balas balasan pesan chat dengan Danu ya Vin?" ujar Maya mulai mengusulkan Vina.


"Maksud loe?" tanya Vina pura pura tidak paham dengan apa yang disebutkan oleh Maya.


"Jangan pura pura tidak mengerti elonya Vin" ujar Maya kepada Vina yang pura pura tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh dirinya.


"Sumpah gue kurang paham maksud loe" ujar Vina kepada Maya.


"Hem, Ivan sudah menjelaskan semuanya ke gue Vin. Jadi, elo nggak usah pura pura nggak tau deh." ujar Maya kepada Vina.


"Yah berarti gue nggak bisa ngelak lagi dong ya. Iya dia ngirim pesan chat ke gue semalam saat kita tidur. Kan nggak gue bales. Mungkin ya akan gue bales. Loe tau sendiri gue tidur kayak apa kan ya" ujar Vina kepada Maya.


"Nah baru tadi pagi gue bales" lanjut Vina lagi.


"Emang apa cerita Ivan ke elo May?" tanya Vina yang penasaran dengan apa yang diceritakan oleh Ivan kepada Maya.


"Nggak ada, dia cuma ngomong kalau Danu galau karena elo nggak balas pesan chat dari dia." ujar Maya memberitahukan apa yang dikatakan oleh Ivan kepada Vina.


"Jadi, dia masih belum tau Vin, kalau kita beda negara dengan dia?" tanya Maya kepada Vina.


"Nggak. Menurut dia kita pindah kota aja. Bukan pindah negara" jawab Vina sambil memotong motong telur dadar untuk nasi goreng.


"Yah masih tetap ogeb dia ampe sekarang. Gue kira dia udah pinter" ujar Maya yang baru tau kalau Danu masih belum mengetahui Vina dengan Danu sudah berbeda negara.


" Gimana lagi. Do'ain aja dia tau sendiri, bukan tau dari orang lain" ujar Vina.


Vina berkeinginan kalau Danu mengetahui keberadaannya di mana dengan mencari sendiri bukan diberitahukan oleh orang lain. Vina ingin melihat bagaimana cara Danu menemukannya.


"Ini misal ya Vin. Danu bercerai dengan Ranti. Terus dia berhasil menemukan kamu dan juga berhasil meyakinkan kamu kalau dia sangat mencintai kamu. Apa yang kamu lakukan?" tanya Maya sambil melirik sekilas ke arah Vina.


"Yah tergantung" ujar Vina menjawab.


"Ya nggak bisa tergantung lah Vin. Elo kan udah ngasih dia kesempatan kedua. Berarti dia memanfaatkan kesempatan kedua yang loe berikan dengan begitu baik. Jadi, bagaimanapun juga, elo harus menerima dia kembali" ujar Maya kepada Vina.


Maya mengingatkan Vina dengan janji Vina yang memberikan Danu kesempatan kedua.


"Emang loe setuju kalau gue balikan lagi dengan Danu?" tanya Vina kepada sahabat terbaiknya itu.


"Setuju aja kalau dia nggak kayak dulu lagi. Maksudnya ya, statusnya udah jelas, semua semuanya udah jelas. Pasti gue setuju kalau elo nerima dia kembali" kata Maya dengan nada serius.


"Ah gue seneng. Kalau loe udah mau nerima dia. Karena Bapak dan Ibuk nggak tau permasalah antara gue sama dia. Dalam keluarga kita, hanya elo yang mengetahui permasalahan antara gue dengan Danu" ujar Vina kepada Maya.


"Denger ya Vin. Gue akan mendukung semuanya. Semua yang terbaik untuk elo. Karena kebahagiaan elo adalah kebahagiaan gue" ujar Maya.

__ADS_1


Vina memeluk Maya. Dia sangat senang memiliki sahabat dan adik seperti Maya. Orang yang selalu mendukung Vina disaat kondisi Vina seperti apapun.


Mereka berdua akhirnya selesai memasak sarapan. Vina dan Maya kemudian menuju kamar mereka kembali. Vina akan bersiap siap menuju kantor, sedangkan Maya akan menuju kafe. Mereka akan kembali sibuk dengan rutinitas masing masing.


__ADS_2