
"Kita tunggu dari Bang Frans aja Ayah. Aku kan sudah mengirim video ini kepada Bang Frans. Aku harap Bang Frans menghubungi aku. Jadi kita tinggal tunggu saja lagi Ayah" kata Ivan menjelaskan kepada Ayah kalau dia sudah mengirimkan video yang didapatkannya ini kepada Frans sebagai pengacara Bayu.
"Gimana kalau kamu yang menghubungi dia?" lanjut Ayah yang sudah tidak sabaran bagaimana analisa menurut Frans dari segi pengacara. Ayah benar benar ingin mengetahui hasil analisa Frans, dengan harapan Danu bisa mendapatkan hak asuh atas Deli.
"Is ayah nggak sabaran banget Ayah. Sabar sedikit bagaimana coba, nggak ada ruginya Ayah kalau kita sabar dalam menunggu panggilan telpon bang Frans" kata Ivan yang heran kenapa Ayahnya bisa tidak sabaran seperti sekarang ini, padahal biasanya Ayahnya adalah seorang pria yang snagat sabar dan memiliki perhitungan sendiri dalam melakukan sesuatu, tetapi kali ini sepertinya kesabaran itu telah hilang ntah kemana.
"Gimana mau sabar Van, kasus kayak gini banget. Ayah nggak menyangka kalau kasus ini akan seruwet ini. Dalam bayangan Ayah kasus ini tidak akan sebesar ini, ternyata oh ternyata" ujar Ayah menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ivan kepada dirinya.
"Ivan mengerti Ayah dengan apa yang Ayah pikirkan sekarang" kata Ivan
"Tapi kalau Ivan yang menghubungi gimana pula bentuknya itu. Bisa bisa Bang Frans curiga lagi sama Ivan, bisa bisa Bang Frans berpikir kalau Ivan bukan hanya sekedar sahabat dan rekan kerja saja, karena terlalu peduli dengan Bang Danu" ujar Ivan memberikan penjelasan kepada Ayah kenapa Ivan sama sekali tidak mau menghubungi Frans
"Bener juga ya Van analisa kamu. Ya udah kita tunggu aja. Kita tunggu semoga Frans menghubungi kamu, jadi kita bisa berdiskusi dengan Frans" kata Ayah yang memilih untuk menunggu saja telpon dari Frans.
"Oh ya Frans, saat kamu ke sini bagaimana keadaan adik tersayang kamu?" ujar Ayah yang ingat dengan anak perempuan satu satunya itu.
"Pagi pas Ivan mau pulang, Sari mau ke kebun dan pabrik Anggur Papi. Sepertinya Sari akan kembali aktif mengelola kebun dan pabrik Anggur itu" kata Ivan memberitahukan kepada Ayah apa yang sedang dilakukan oleh Sari saat Ivan mau pulang ke negara I
"Hem baguslah. Nanti kalau putusan sidang sudah keluar, Danu sudah memimpin perusahaan, maka kita berdua akan kembali ke negara U. Kita akan tinggal di sana bersama sama lagi" kata Ayah memceritakan rencana yang akan dilakukan oleh Ayah dan Ivan serta Sari.
"Ayah yakin Danu akan mengambil alih perusahaan?" ujar Ivan sambil melihat ke Ayah
Ivan sudah selesai mengemasi seluruh barang barang yang dipakai oleh dirinya untuk memutar video yang di dapat Ivan dari hasil merekan tindakan yang dilakukan oleh Ranti dan Anggara.
"Yakin. Ayah sudah berbicara dengan Danu, Sat itu Danu menjawab kalau dia akan mengambil alih perusahaan saat putusan sidang perceraian dirinya dengan Ranti selesai" kata Ayah mengatakan kepada Ivan keputusan yang diberikan oleh Danu kepada Ayah pada saat Ayah bertanya tentang kelanjutkan pepimpin perusahaan saat Ayah sudah tidak sanggup lagi untuk mengurus bisnis.
"Oh baiklah" ujar Ivan
*******************************************************************************
__ADS_1
Frans yang sedang menikmati makan malamnya dengan istri dan anak semata wayangnya itu, sama sekali tidak mendengar bunyi pesan chat yang masuk yang dikirimkan oleh Ivan kepada dirinya. Makanya sampai sekarang Ivan sama sekali tidak ada menghubungi Ivan untuk bertanya tentang video itu.
"Daddy, Aku istirahat dulu ya" ujar anak semata wayang Frans berpamitan untuk pergi beristirahat malam
"Oke Sayang, kamu bobok sama Mommy?" tanya Frans sambil menatap anak semata wayangnya tersebut
"Iya, sama mommy"
"Oke, selamat tidur sayang" ujar Frans sambil mengecup kening anaknya tersebut.
Istri dan anak Frans kemudian naik ke lantai dua rumah. Mereka akan beristirahat malam, sedangkan Frans akan melanjutkan membaca beberapa berkas yang akan dibawa oleh Frans ke pengadilan besok pagi karena ada satu kasus yang sedang ditangani oleh Frans yang akan di sidangkan besok.
"Pesan chat? Dari siapa? Kenapa namanya tidak terdaftar di kontak gue" ujar Frans saat melihat ponsel miliknya.
Frans kemudian membuka pesan chat tersebut.
"Video apa pula yang dikirim oleh Ivan?" kata Frans yang sangat penasaran dengan video yang dikirim oleh Ivan kepada dirinya
Frans menghubungkan ponsel miliknya dengan laptop. Frans ingin menonton video rekaman itu secara besar. Dia ingin melihat siapa orang yang ada di dalam video itu.
Frans mengunduh video yang dikirimkan oleh Ivan. Setelah itu Frans menonton video itu.
"Gila ni cewek" ujar Frans mengomentari video yang sedang dilihatnya itu
Frans kemudian melanjutkan menonton video yang dikirimkan oleh Ivan. Video yang durasi rekamannya sangatlah panjang. Tetapi memiliki makna yang sangat berarti bagi kubu Danu.
"Anggara?" ujar Frans menyebut nama rekannya yang sama sama pengacara itu
"Tapi apa iya Anggara?" ujar Frans yang masih belum yakin kalau itu adlaah Anggara.
__ADS_1
Frans menghentikan pemutaran video saat tepat di wajah pria yang bersama dengan Ranti..
"Wow bener banget ini Anggara. Jadi, dia sekarang selingkuhannya Ranti?"
"Yah jadi di pengadilan bertemu dia lagi gue. Huft. Berapa kali gue harus mempermalukan dia lagi" ujar Frans yang sudah bisa membayangkan bagaimana alotnya persidangan nantinya.
Frans melanjutkan kembali menonton rekaman video tersebut. Frans penasaran dengan endingnya. Frans sangat yakin kalau dia akan menemukan sesuatu pada video itu. Kalau tidak ada sesuatu maka tidak mungkin Ivan akan mengirimkan video tersebut kepada dirinya.
Tiba di bagian video yang membahas tentang hak asuk Deli. Frans mendengarkan dengan sangat serius. Frans ingin mencari bukti apakah Ranti mengetahui kalau Deli bukan anak kandung dari Danu.
"Syukurlah kalau dia tidak mengetahui kalau Deli bukan anak kandung Danu." ujar Frans yang sudah bisa bernapas lega atas apa yang di dengarnya dari mulut Ranti sendiri.
"Aku harus menghubungi Ivan." ujar Frans dengan semangat empat limanya.
"Gue sepertinya bisa berdiskusi dengan dirinya" lanjut Frans.
Frans mengambil ponsel miliknya, dia kemudian menghubungi nomor Ivan. Ivan yang sedang duduk bersama dengan Ayah melihat ke layar ponsel Ivan yang tiba tiba menyala tersebut, Ivan sama sekali tidak memakai mode suara dan juga mode getar.
"Siapa?" tanya Ayah kepada Ivan.
"Orang yang dari tadi Ayah harapin untuk menelpon" ujar Ivan menjawab pertanyaan Ayah tentang siapa yang menghubungi Ivan.
"Angkat ajalah nak, mana tau penting" kata Ayah yang pura pura mengatakan kalau telpon itu sangat penting. Padahal Ayah sudah tidak sabaran lagi ingin berdiskusi dengan Frans tentang semuanya.
"Ayah, Ivan mau angkat telpon dari Frans, tapi Ayah nggak boleh bersuara" ujar Ivan mengajukan syarat kepada Ayah.
"Oke Ayah nggak akan bersuara" kata Ayah yang setuju untuk tidak bersuara dan bisa mengakibatkan penyamaran Ivan terbongkar.
"Sip kita sepakat untuk tidak ada yang bersuara" kata Ivan.
__ADS_1