
Danu yang sudah menukar pakaiannya langsung cebur ke dalam kolam renang. Dia akan berenang dengan anak semata wayang yang sangat dia cintai itu. Deli begitu bahagia karena ayahnga datang di waktu weekand.
"Ayah, ayo kejar Deli ayah. Deli sekarang udah bisa berenang dengan cepat" kata Deli sambil berusaha dengan sekuat tenaga untuk berenang.
"Oke. Kamu akan ayah kejar sayang" jawab Danu sambil berenang dengan pelan.
Mama dan Papa Danu yang melihat ayah dan anak itu bermain dengan begitu bahagia sangat merasa senang.
"Pa, semoga Danu bisa melupakan prahara rumah tangganya sejenak ya pa." kata Mama.
"Iya Ma. Papa begitu menyesal sudah menyetujui perjodohan ini. Akibatnya anak kita tidak bahagia dalam perkawinannya" kata papa.
"Tapi berkat perjodohan itu pula kita mendapat cucu yang cantik dan pintar itu Pa." kata Mama melihat Deli yang berusaha berenang dengan cepat.
"Ayah ayo tangkap Deli ayah. Ayah pasti bisa tangkap Deli" kata Deli sambil berteriak kencang.
"Deli, ayah sudah tua nak, jadi ayah nyerah ayah nggak bisa nangkap kamu sayang" kata Danu yang berhenti mengejar.
Deli yang melihat ayahnya mengambang di atas air, langsung berenang menuju ayahnya
"Ayah, Maafkan Deli karena sudah meminta ayah untuk mengejar Deli ayah" kata Deli sambil memegang tangan ayahnya.
"Kamu ayah tangkap Deli" kata Danu sambil memeluk Deli.
"Ayah curang. Mana ada bisa kayak gini ayah"
"Bisa lah. Kan kita tidak buat peraturan" kata Danu sambil mencium pipi Deli berkali kali.
"Ayah. No ayah. Deli udah besar" kata Deli sambil menjauhkan mukanya dari ciuman ayahnya.
"Mana ada besar. Masih kecil kok" kata Danu.
"Besar ayah"
"Nggak Deli. Kalau Deli besar, Deli udah nggak bisa ayah gendong. Sekarang Deli masih bisa ayah gendong" kata Danu sambil terus menggoda Deli.
"Nenek" teriak Deli ke neneknya yang duduk dikursi dekat tepi kolam renang
"Apa sayang?"
"Deli udah besar kan nek?"
"Udah sayang menurut nenek. Tapi menurut ayah kamu belum sayang" kata Nenek.
Deli keluar dari kolam renang dia menuju nenek dan kakeknya. Danu juga keluar dari kolam renang. Danu ingin mendengar apa yang akan dikatakan bocah ajaibnya itu kepada neneknya.
__ADS_1
"Kok bisa beda nek?"
"Bisa sayang. Ukuran besar seseorang itu berbeda."
"Deli kurang paham nek"
"Gini kenapa nenek berkata kalau menurut nenek deli sudah besar? jawabannya karena Deli sudah berpikiran dewasa. Kenapa ayah mengatakan Deli belum besae? jawabannya karena badan deli masih bisa di gendong ayah" kata Nenek menjelaskan kepada Deli.
"Berarti Bunda masih kecil ya nek, menurut nenek. Tapi kalau menurut ayah, bunda sudah besar" lanjut Deli mencarikan contoh.
Papa, Mama dan Danu saling berpandangan mereka tidak menyangka Deli akan mengambil Ranti sebagai perbandingan.
"Hahahahahaha. Kenapa harus bunda sayang yang kmau jadikan perbandingan" kata Danu sambil menatap Deli.
"Karena hanya bunda yang badannya besar, tapi otaknya tidak besar ayah" jawab Deli dengan polosnya.
"Hahahahaha. Sayang sayang. Ayah tidak menyangka kamu akan menjadikan bunda sebagai perbandingan nak"
"Deli nggak tau mau bandingin siapa lagi ayah" jawab Deki polos.
"Deli" teriak Iwan dan Ifan.
"Upin Ipin" kata Deli sambil berlari ke arah Iwan dan Ifan. Deli memeluk Iwan dan Ifan.
"Hay anak kecil mana bisa kamu memeluk kami berdua langsung" kata Iwan.
"Dan. Ini anak elo cepat kali dewasanya. Kami nggak tau mau jawab apa dari pertanyaannya." teriak Iwan kepada Danu
Iwan kemudian menggendong Deli. Sedangkan Ifan membawakan boneka beruang besar untuk Deli.
"Ma, dikasi makan apa tu bocah cepat kali dewasa pola pikirnya?" kata Iwan kepada Mama Danu yang sudah dianggap sebagai mamanya sendiri.
"Makan biasa aja. Keadaan wan yang mengharuskan dia cepat dewasa. Tapi dengan dia dewasa Danu jadi mudah mengambil sikap Wan" kata Mama.
"Bener juga sih ma" jawab Iwan.
Deli dan Ifan sibuk memakan kue yang diberikan oleh Vina. Mereka sama sekali tidak peduli dengan pembicaraan keluarga Danu dan Iwan.
"Dan, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" kata Papa.
"Aku akan terus mencari dia Pa. Aku harus mengatakan semuanya. Aku udah nggak sanggup lagi pa"
"Maafkan papa nak. Gara gara papa kamu jadi seperti ini"
"Pa. Ini semua sudah takdir. Kita tidak bisa mengelak hanya bisa menjalani nya saja. Jadi papa tenang saja. Aku masih kuat menjalaninya" kata Danu sambil menatap papa.
__ADS_1
"Terus kamu yang akan jual rumah itu jadi nak?" kata Mama.
"Jual rumah? Kenapa lagi Dan?" kata Papa yang tidak tau apa yang terjadi.
"Iya Pa. Aku mau jual rumah yang kami tempati selama ini" kata Danu.
"Kenapa?" lanjut papa
"Karena Ranti sudah berani membawa selingkuhannya ke rumah kami Pa. Dia sudah berani membawa tidur yang bukan suaminya di kamar kami berdua pa" kata Danu sambil menunduk
"Terus, kamu hanya diam saja nak pas melihat kejadian itu terjadi di depan matamu?"
"Hari iti aku sempat berteriak dan maki maki dirinya malam itu"
"Terus. Kenapa kamu sekarang diam aja nak. Ceraikan saja dia"
"Pa, aku mau menceraikannya. Tapi wasiat ayah mertua ku yang menghambat semua prosesnya pa" kata Danu.
"Apa isinya nak?" lanjut papa yang benar benar kecewa dengan sikap anak menantunya itu.
"Di dalam wasiat papi. Dia mewasiatkan kalau perceraian terjadi karena Ranti yang bersalah maka seluruh warisan jatuh ke tangan anak kami yaitu Deli. Tapi kalau aku yang salah maka harta akan bagi dua antara Ranti dan Deki. Ranti ingin memiliki semua pa" kata Danu menjelaskan kenapa proses perceraian mereka tidak bisa berlangsung.
"Karena itu dia tidak mau tandatangan surat perceraian Pa. Jangankan untuk tanda tangan. Untuk membicarakan tentang masalah ini saja dia selalu kabur pa" kata Danu selanjutnya.
"Terus apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Papa.
"Saya akan tetap mencari dia dan akan membahas semua permasalahan ini dengan tenang. Aku sudah tidak tahan lagi." kata danu
"Tapi Papa dan Mama tenang saja. Aku udah dapat pengganti yang luar biasa baik sama aku" kata Danu kemudian.
"Siapa nak?"
"Naamnya Vina karyawan di kantorku" jawab Danu.
"Apa dia sudah tau tentang status kamu? Apakah dia juga sudah tau apa yang terjadi di dalam hubungan rumah tangga kamu?" tanya Mama
"Belum Ma. Aku belum mengatakan kepada dia status aku, dan aku juga belum mengatakan prahara rumah tanggaku. Aku takut dia mengelak Ma. Dia wanita yang sangat baik" kata Danu
"Dan. Kalau dia benar benar cinta sama kamu, pasti dia paham. Dia akan memberikan akami solusi nak" kata Mama.
"Baiklah Ma. Aku janji aku akan menceritakan semua kepada Vina" kata Danu.
"Ayah ayuk pergi ke mall" teriak Deli.
"Oke sayang kita ke mall. Semua orang kita bawa" kata Danu menyetujui ajakan Deli.
__ADS_1
Danu beserta keluarga besarnya, berjalan jalan dan bermain di mall. Mereka menghabiskan hari itu seharian di mall. Mengajak Deli main dan makan ice cream