
Danu yang telah kembali dari mengambil laptop miliknya, menghidupkan laptop tersebut. Danu akan melanjutkan pekerjaannya yang tertinggal sedikit lagi. Tetapi sebelum mengerjakan pekerjaannya Danu ingin melihat hasil rekaman cctv rumah beberapa bulan ke belakang. Danu penasaran dengan isi CCTV yang sudah sangat lama tidak dia lihat itu.
Danu berjalan menuju komputer yang terhubung dengan semua CCTV yang ada di rumah. Danu kemudian membuka rekaman semua CCTV. Danu mulai melihat dari rekaman pertama CCTV itu mulai di pasang.
Danu memerhatikan semuanya dengan seksama. Danu tidak sekalipun mempercepat laju dari CCTV nya. Dia mengamati setiap gambar gambar yang ditampilkan oleh CCTV. Gambar gambar yang telah di rekam oleh CCTV yang di letakkan di tiga sudut rumah. Termasuk kamar tamu.
"Aku harus mendapatkan bukti tambahan untuk menggugat cerai Ranti." ujar Danu yang terus menatap layar komputernya tanpa menoleh sedikitpun.
"Aku nggak mau Ranti menolak untuk bercerai karena mengatakan aku yang selingkuh. Aku harus mendapatkan semua bukti bukti kuat untuk menjerat dia. Sehingga dia tidak bisa menolak lagi bukti bukti yang aku berikan" lanjut Danu sambik tetap berkonsentrasi melihat layar komputer yang menampilkan situasi dan keadaan rumah.
"Mulai hari ini gue akan ngumpulin semua bukti bukti yang bisa menjerat Ranti. Bener kata Frans, kita tidak bisa pergi berperang kalau tidak bawa senjata apapun. Lawan akan dengan gampangnya menembak kita, kalau kita tidak bawa persenjataan untuk melakukan peperangan dengan lawan yang lumayan banyak itu." kata Danu menyemangati dirinya untuk pergi berangkat berperang dengan membawa persenjataan dan peluru yang penuh, tidak hanya peluru yang apa adanya saja. Tetapi Danu akan berperang dengan kekuatan penuh.
Danu kemudian menatap fokus kepada layar monitor komputer. Pada layar ditampilkan pintu ruang utama yang terbuka. Terlihat seorang wanita masuk dengan menggandeng tangan pria. Danu menyaksikan semua itu dan tersenyum bahagia. Danu terus menyaksikan adegan yanga da di CCTV ruang tamu.
Ternyata tidak hanya sampai di situ saja. Danu melihat apa yang ditampilkan oleh CCTV yang ada di kamar tamu.
Pada layar komputer terpampang adegan yang sangat luar biasa tidak bisa diterima oleh nalar dan akal manusia sedang terjadi. Ranti dan pria selingkuhannya itu sedang bergulat. Neraka mengadu kepintaran mereka masing masing. Danu menyaksikan semuanya dari layar komputernya. Selama menyaksikan hal itu, tidak ada terbersit rasa sakit hati, cemburu maupun marah di hati dan pikiran Danu. Danu terlihat sangat santai saja.
Setelah habis semua pergelutan. Ranti dan pria selingkuhannya itu berjalan keluar kamar. Mereka berdua kemudian keluar dari rumah. Mereka dengan santainya meninggalkan rumah yang telah mereka jadikan tempat membuang sampah sampah yang tidak baik tersebut.
"Gila, dikira rumah gue motel kali ya. Siap dipakai untuk begituan langsung main kabur aja. Mereka bener bener bukan manusia. Dasar guk guk guk" ujar Danu yang miris melihat tingkah Ranti dan selingkuhannya.
"Kenapa nggak bawa ke hotel milik dia aja. Kenapa harus ke rumah gue. Sarap ne orang" ujar Danu melanjutkan cacian nya kepada Ranti.
Danu menyimpan video tersebut. Setelah itu, Danu melanjutkan menonton rekaman CCTV yang lain. Danu menyaksikan dengan seksama video video tersebut.
Selama empat jam lebih Danu melihat rekaman CCTV, Danu telah mendapatkan lima rekaman kelakuan negatif Ranti. Kelakuan yang sama sekali tidak bisa dimaafkan oleh Danu.
"Rasanya udah cukup untuk bukti bukti kejadian yang di rumah. Tambah bukti bukti yang akan diberikan oleh Ivan. Gue rasa sudah cukup untuk semuanya." ujar Danu berbicara sendirian.
"Saatnya menyelesaikan pekerjaan untuk besok pagi" kata Danu.
Danu kembali menuju meja yang di atasnya diletakkan laptop milik Danu yang sudah kembali aktif. Danu melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi itu. Dia bekerja dengan sangat tekun, Danu harus menyelesaikan semua pekerjaannya.
Tok tok tok terdengar pintu yang diketuk dari luar. Danu membuka pintu tersebut, terlihat bibik sedang berdiri di sana dengan membawa menu makan malam dalam piring ukuran menengah.
"Tuan, maaf bibik terpaksa mengganggu Tuan. Makan malam sudah Bibik siapkan dari tadi, tapi Tuan sama sekali tidak keluar dari dalam ruangan kerja." ujar Bibik sambil memegang nampan yang ada di tangannya
"Makanya Bibik panaskan kembali dan bibik antar ke sini aja langsung" ujar Bibik kepada Danu
"Mau bibik taruh dimana semua makanannya Tuan?" ujar Bibik yang masih memegang nampan berisi beberapa lauk untuk makan malam Danu
__ADS_1
"Meja kecil itu saja Bik" ujar Danu menunjuk meja sofa yang ada di depannya.
Bibik menaruh semua sambal yang dibawanya tadi ke atas meja yang ditunjuk oleh Danu. Bibik menata dengan sangat bagus makanan yang telah disiapkan oleh Bibik di atas meja kecil tersebut.
"Bibik permisi dulu Tuan. Nanti kalau sudah siap, kasih tau ajaaja, biar bibik ambil piring kotornya ke sini" ujar Bibik berkata sebelum meninggalkan ruangan kerja Danu.
"Nggak usah aja Bik. Bibik langsung istirahat saja. Saya juga belum tau mau makan jam berapa. Jadi, bibik ambil besok pagi aja peralatan kotornya ya" ujar Danu yang meminta pelayan setianya itu untuk beristirahat dan tidak menunggu dirinya selesai makan malam.
"Oh baik kalau begitu Tuan. Bibik ijin untuk istirahat dulu. Besok akan bibik ambil semua peralatan makannya" ujar Bibik.
Bibik sangat bahagia karena dia diperbolehkan beristirahat walaupun Danu belum beristirahat. Suatu hal yang tidak mungkin terjadi saat ada Ranti.
Bibik melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kerja Danu. Bibik akan kembali ke kamarnya yang terletak di bagian belakang rumah. Bibik akan beristirahat karena besok dia akan kembali bekerja.
Danu yang sudah ditinggal sendiri, melanjutkan kembali pekerjaannya yang sempat tertunda itu. Tepat pukul sebelas malam, pekerjaan Danu telah selesai.
Danu kemudian meraih ponsel miliknya. Dia akan menghubungi Vina. Sudah beberapa jam semenjak dia menghubungi Vina tadi, Vina tidak ada memberikan kabar apapun kepada Danu.
Danu memencet nomor ponsel Vina. Danu menunggu panggilan itu tersambung sambil mematikan laptopnya kembali.
Vina yang sedang bekerja di dapur melihat siapa yang menghubunginya. Vina kemudian memasang handset ke telinganya. Dia kemudian mengangkat panggilan dari Danu.
"Ini sedang masak sayang. Pengunjung kafe Maya lumayan rame. Dari tadi nggak berenti berenti masak." ujar Vina mengatakan aktifitas apa yang sedang dilakukan oleh dirinya
"Maya mana?" tanya Danu yang heran kenapa Vina yang masak dari tadi.
"Maya, ke bandara. Ada jemput barang ntah jemput apa katanya tadi. Lupa aku sayang" ujar Vina memberitahukan dimana Maya sekarang.
"Oooo. Terus kamu masak sendiri?"
"Nggak lah sayang, sama Rina dan ada satu lagi cheffnya tapi aku lupa namanya siapa" ujar Vina sambil melihat ke arah cheff yang sedang memasak di sebelah Rina.
"Oooo. Aku kira sendirian. Oh ya kapan jadinya ke negara A?" tanya Danu yang sudah tidak sabar ingin ketemu dengan Vina.
"Awal bulan besok. Kamu jadikan ke negara A?" tanya Vina yang berharap Danu tidak menggagalkan rencananya kali ini.
"Jadilah sayang. Masak ndak. Aku kan udah lama banget pengen ketemu sama kamu" ujar Danu sabil menahan senyumnya.
"Oh ya di sana pasti udah malam sangatkan. Di sini aja udah siang. Kamu istirahat sana. Besok bukannya mau kerja pagi" ujar Vina yang meminta Danu untuk beristirahat.
"Oke sip. Aku istirahat dulu ya. Kamu jangan kecapekan" ujar Danu berpesan kepada Vina.
__ADS_1
"Aman itu sayang. Nanti kalau aku capek, aku akan istirahat" jawab Vina.
Panggilan telpon itu kemudian di putus oleh Vina. Danu yang sudah sampai di kamar, membasuh wajahnya terlebih dahulu. Setelah itu dia langsung berbaring di ranjang. Ntah karena hati dan pikirannya udah nyaman, membuat Danu bisa langsung tertidur nyenyak.
"Nona Vina, boleh tanya sesuatu? Tetapi tidak boleh pakai marah ya" ujar Rina yang sudah lama ingin menanyakan hal ini kepada Vina.
Vina melihat ke arah Rina.
"Apa Rin? Tanya aja. Nggak apa apa kok. Ngapain juga harus pake marah" ujar Vina menjawab pertanyaan dari Rina.
"Jadi, Nona udah punya pacar ya sekarang? Atau baru baikan?" tanya Rina sambil melihat ke arah wajah Vina.
Rina takut kalau raut wajah Vina berubah saat ini. Tapi ternyata raut wajah Vina sama sekali tidak berubah, masih sama seperti raut wajah yang tadi pagi.
"Tepatnya bukan punya pacar baru. Tetapi pacar lama yang di upgrade ulang" jawab Vina sambil menahan senyumnya.
"Upgrade versi baru kan Non? Kalau masih versi lama ya sama aja Non" ujar Rina sambil tersenyum ke arah Vina.
"Upgrade ke versi limited edition, nggak pake versi lama. Semuanya versi baru" ujar Vina sambil menatap ke arah Rina.
"Keren Non" ujar Rina sambil mengangkat kedua jempol tangannya ke arah Vina.
Mereka melanjutkan pekerjaannya sambil mengobrol ringan tentang berbagai hal, sambil masih tetap melakukan kegiatan memasak.
Maya yang baru pulang dari bandara langsung menuju kafe. Ivan dan Iwan sudah terbang setengah jam yang lalu menuju negara I.
"Hay, sorry ya, gue lama nyampenya" ujar maya yang baru masuk ke dalam dapur.
Maya sudah memakai apron kebanggaannya. Vina dan Rina menatap Maya yang baru datang itu.
"Udah berangkat mereka May?" tanya Vina sambil memandang ke arah Maya yang sudah bersiap siap untuk mengolah masakannya.
"Udah Vin. Ternyata Presiden direktur juga pulang dengan mereka." ujar Maya memberitahukan kepada Vina.
"Sari?" tanya Vina yang ntah kenapa teringat dengan Sari.
"Mana gue tau. Dia aja nggak ada di bandara." ujar Maya terpaksa berbohong kepada Vina.
"Gue siap masak yang ini istirahat makan siang dulu ya. Laper gue belum makan." ujar Vina yang akan menyiapkan satu hidangan lagi untuk meja nomor Lima belas.
Mereka kemudian melanjutkan memasak menu makanan yang sesuai dengan nomor meja yang mereka ambil. Hari ini kafe semakin ramai oleh pengunjung. Apalagi sudah mau akhir pekan. Banyak mahasiswi yang dari tadi keluar masuk kafe
__ADS_1