Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Vina Tau Semuanya


__ADS_3

"Tapi kamu duduk di situ ya. Aku mau pegang tangan kamu." ujar Vina


Danu mengangguk. Dia menggenggam tangan Vina. Vina perlahan menutup matanya. Dia perlahan masuk ke alam mimpinya. Danu juga perlahan memejamkan matanya. Sedangkan Iwan memilih untuk menonton televisi sambil menunggu kedatangan Ivan.


Tidak berapa lama menunggu, Ivan datang dengan membawa pakaian ganti milik Danu. Dia melihat Danu tertidur di kursi sambil tangannya menggenggam tangan Vina.


"Apa yang loe liat?" tanya Iwan yang baru keluar dari kamar mandi.


"Tu" tunjuk Ivan kepada genggaman tangan sepasang kekasih tersebut.


"Vina yang minta." jawab Iwan.


Ivan meletakan pakaian ganti Danu di sofa kamar.


"Bang, gue mau ngomong sama loe." ujar Ivan.


"Ngomong aja susah amat. Nggak perlu izin juga kali Van, kayak sama siapa aja." jawab Iwan yang kembali duduk di sofa kamar.


"Nggak di sini Bang. Di luar." ujar Ivan.


"Resek loe." ujar Iwan.


Mereka berdua keluar dari kamar rawat. Iwan dan Ivan duduk di kursi depan kamar rawat.


"Ada apa Van?" tanya Iwan yang penasaran kenapa Ivan mengajak dia berbicara di luar kamar.


"Tadi gue saat datang melihat Vina yang menatap Danu dengan tatapan sejuta tanya. Gue jadi yakin kalau Vina tau sesuatu bang." ujar Ivan.


"Tau kalau Danu sudah menikah?" tanya Iwan.


Ivan mengangguk.


"Jangan asal Van." jawab Iwan yang tidak suka Ivan mengambil keputusan sendiri.


"Bang, gue serius. Jadi maren tu, gue sempat berbisik ke Vina. Gue tau loe tau sesuatu." ujar Ivan.


"Terus reaksi Vina?" Iwan sekarang menjadi yakin kalau benar ada sesuatu dengan sikap Vina yang berubah menjadi manja itu.


"Dia memalingkan mukanya dari gue." ujar Ivan.


"Tau nggak loe bang, orang kalau memalingkan muka saat apa yang kita katakan ke dia itu benar maka tebakan kita itu benar. Tapi kalau dia menantang mata kita, maka tebakan kita salah." jawab Ivan memberikan alibinya.

__ADS_1


"Terus tadi saat gue ngantar Maya. Maya juga cerita kalau Vina mengatakan dia memiliki masalah besar sekarang." ujar Ivan memberitahukan apa yang diceritakan oleh Maya kepada dirinya.


"Kita sama taulah Bang, mana ada Vina punya masalah. Dalam kerja dia perfeck. Bisnisnya lancar. Keluarganya di kampung juga sehat." papar Ivan memberikan bukti bukti kepada Iwan.


"Gue sekarang yakin kalau dia sedang ada masalah dengan Danu. Jadi karena itu Vina manja banget dengan Danu ternyata." ujar Iwan menarik kesimpulan.


"Bang atau jangan jangan......" ujar Ivan yang sengaja menggantung ucapannya.


"Jangan jangan apa?" tanya Iwan yang penasaran dengan ucapan menggantung Ivan.


"Cuma jangan jangan aja." jawab Ivan yang nggak mau mengatakan hal apa yang ditakutinya kepada Iwan.


Ivan bertekad akan mencari tau ada apa sebenarnya yang terjadi.


Iwan dan Ivan cukup lama termenung. Mereka masuk ke alam pikiran mereka masing masing. Ivan merangkai semua kejadian. Sampai Ivan menarik sebuah kesimpulan yang mengarah kepada satu masalah. Masalah yang sebenarnya sangat besar, tetapi karena keegoisan seorang laki laki menjadi membuat masalah itu semakin membesar.


"Bang." ujar Ivan dengan suara agak besar.


"Apa?"


"Gue berhasil menganalisa sesuatu. Loe ingatkan nyonya sundel itu datang ke kantor pas pagi harinya saat Vina saing sebelum doa datang masuk rumah sakit." ujar Ivan.


"Bentar jadi maksud loe. Siang si nenek lampir menemui Vina. Sehingga mengakibatkan Vina pingsan dan di bawa ke rumah sakit. Pagi harinya nenek lampir mau ngelabrak Danu ke rumah sakit. Tapi akhirnya ketemu loe dan buat masalah dengan loe. Gitu maksudnya?" tanya Iwan berusaha mencerna dan menjelaskan lebih gampang apa yang dimaksud oleh Ivan.


Iwan memikirkan sendiri semua yang dikatakannya kepada Ivan. Semua dihubung hubungkan oleh Iwan.


"Kamu benar juga Van. Tapi bagaimana cara kita memastikan kebenarannya. Loe tau sendirilah ya Danu kan sampe sekarang nggak mau ngomong masalah itu."


"Iya Bang. Gue heran sama tu orang. Apa maunya cobak. Kalau gue mah lebih milih kebahagiaan gue dari pada kebahagiaan orang yang tidak ada lagi itu." ujar Ivan yang memang sangat heran melihat Danu.


"Elo aja yang baru kenal keheranan. Apalagi gue kan ya. Kenal dia luar biasa lama."


"Biar aja lah Bang. Kita tunggu aja endingnya. Palingan dia merengek ke kita juga kan ya." kata Ivan yang sudah kehabisan akal dengan tingkah Danu.


"Masuk yuk bang, gue ngantuk." ajak Ivan yang memang sudah ngantuk berat


Mereka berdua masuk kembali ke ruang rawat inap. Mereka benar benar lelah dan berniat untuk beristirahat malam.


Baru neletakan kepala sekitar lima belas menit, mereka berdua langsung tertidur lelap. Sepertinya keletihan pikiran dan fisik sedang mendera mereka berdua.


Pagi harinya semua sudah kembali segar. Vina juga terlihat jauh lebih sehat dari pada hari sebelumnya.

__ADS_1


"Sayang, aku hari ini harus masuk kantor. Kamu nggak apa apakan ya di sini dengan Maya?" ujar Danu sambil merapikan anak rambut Vina.


"Nggak apa apa sayang. Kamu ke kantor aja." jawab Vina.


Ketiga pria tampan itu pergi dari rumah sakit menuju kantor. Vina terpaksa harus ditinggal sendirian karena Maya sedang membuat pesanan dari sebuah perusahaan.


"Sayang aku nggak tau apa yang harus dilakukan lagi. Aku benar benar takut kehilangan kamu sayang. Tapi sayangnya kamu enggan jujur sama aku tentang status kamu." ujar Vina berbicara sendirian.


Iwan dan Ivan yang dari tadi berusaha mendengar semua kegalauan Vina akhirnya terdengar juga. Vina mulai berbicara sendiri tentang nasibnya ke depan.


"Apa yang harus aku lakukan sayang. Kata kata wanita itu sangat pedih. Aku tidak tau apakah aku sudah benar mencintaimu? Atau aku salah karena mencintaimu?" lanjut Vina bermonolog sendirian.


"Aku stress sayang. Di satu sisi aku sangat mencintai mu. Di sisi lain aku nggak mau dicap sebagai pelakor. Bantu aku sayang. Bantu aku membenci dirimu." lanjut Vina.


"Bang sepertinya Viba benar benar frustasi dengan hubungannya. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ivan kepada Iwan.


"Gue juga nggak tau Van. Semua berada di tangan Danu. Apa Danu siap untuk menceritakan semuanya kepada Vina atau dia akan terus memilih untuk diam." jawab Iwan sambil memainkan pulpen yang di pegangnya.


Mereka berdua kembali fokus kepada pekerjaan yang sedang dikejar deadline itu. Ivan kembali serius dengan desain bangunan restoran baru milik Soepomo Grub. Sedangkan Iwan sedang mendesain sebuah bangunan kafe.


"Bang" panggil Ivan


"Apa?" jawab Iwan yang kaget dipanggil Ivan dengan nada agak tinggi.


"Menurut gue kalau Bang Danu nggak menceritakan semuanya kepada Vina secepatnya. Gue takut Vina kok kabur Bang." ujar Ivan.


"Kabur maksud loe?" tanya Iwan yang tertarik dengan perkataan Ivan.


"Iya kabur. Dia pergi dari daerah ini" jawab Ivan.


"Mana bisa, dia terikat kontrak dengan perusahaan kita." jawab Iwan.


"Bang, loe tau kan kita mau buka cabang di daerah lain. Bisa jadi Vina mengajukan diri untuk bekerja di sana." ujar Ivan.


"Bener juga ya Van. Tapi gimana cara kita mengatakan kepada Danu Van?"


"Gue juga nggak tau Bang. Nggak mungkin kita mengatakan kepada bang Danu kalau Vina didatangi Biniknya yang stress itu." jawab Ivan.


Mereka berdua kembali terdiam cukup lama.


"Alah gini ajalah bang. Kita berdua kan udah mengingatkan dia., nah sekarang kita berdua ya jadi pengamat aja lagi. Kalau suatu saat Vina beneran kabur, kita bantu cari aja. Pusing banget bang. Danu nya yang mada ngapain kita yang repot." ujar Ivan yang datang kemalasannya menolong Danu.

__ADS_1


"Oke sip." jawab Iwan.


Mereka berdua kembali fokus ke pekerjaan masing masing. Mereka dikejar kejar deadline yang harus siap cepat.


__ADS_2