Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pembicaraan Dua Negara


__ADS_3

** PERUSAHAAN**


"Ayah sudah lama kenal dengan dia Van. Tetapi Ayah sama sekali tidak ada melakukan kerja sama bisnis dengan dia." jawab Ayah " Dia juga tidak mau menjalin bisnis dengan Ayah, karena dia sangat tahu Ayah paling alergi dengan kata mafia." lanjut Ayah menjelaskan kepada Ivan bagaimana persahabatan yang terjalin antara Ayah dengan teman mafianya itu.


"Oh. Terus mana yang lebih kuat, teman Ayah atau Wijaya?" ujar Ivan bertanya kembali.


"bukan urusan Ayah Van, jadi Ayah tidak bertanya sampai ke sana" jawab Ayah dengan santainya


"Bagi Ayah kamu sudah tidak berurusan dengan keluarga Wijaya, itu yang paling penting" jawab Ayah sambil melihat ke arah anak laki lakinya.


"Siap Ayah, nggak bakalan mau berurusan dengan mafia" jawab Ivan


Mereka bertiga kemudian melanjutkan obrolan singkat seputar pekerjaan yang masih harus dikerjakan oleh Ayah sebelum Ayah memberikan tanggung jawabnya kepada Danu saat Danu sudah selesai urusan perceraiannya dengan Ranti.


**NEGARA I **


'Frans, gue udah jalan ke kantor elo' bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Danu kepada Frans yang sekarang sedang berada di pengadilan dan sama sekali tidak mengetahui kalau Danu mengirimkan pesan kepada dirinya.


"Kok ni anak masih belum baca pesan chat dari gue, kemana tu anak ya?" ujar Danu saat melihat ponselnya masih belum menunjukkan tanda tanda ada seseorang yang membalas pesan chat yang dikirim oleh Danu.


"Kalau gue langsung ke kantor dia nggak ada, mau ngapain gue di sana coba?" ujar Danu yang mulai ragu apakah akan langsung ke kantor Frans atau harus ke pengadilan dulu.


Danu yang ragu memilih berhenti di persimpangan jalan yang bercabang empat itu. Arah kantor Frans dengan kantor pengadilan agama tempat Frans bekerja hari ini tidak satu jalur yang sama. Danu melihat ponselnya, masih sama pesan chat yang dikirim oleh Danu kepada Frans sama sekali belum dibaca oleh Frans.


"Gila ne anak, sama sekali belum baca pesan chat dari gue." kesal Danu yang terpaksa harus berhenti di persimpangan itu. Danu tidak bisa memilih harus ke kanan atau lurus.


Saat Danu berada di dalam kebimbangan yang sangat membuat dia pusing tidak tahu harus berbuat apa apa itu mendadak ponselnya bergetar sebentar saja. Sebuah pesan chat masuk ke dalam ponsel Danu. Danu mengambil ponsel miliknya itu dan membaca pesan chat yang masuk ke dalam ponselnya itu.

__ADS_1


"Dari tadi kek" ujar Danu yang akhirnya sudah menemukan titik terang dia harus kemana sekarang ini.


Danu mengambil jalan lurus, dia akan menuju kantor pengadilan agama pergi menemui Frans di sana. Danu melajukan mobilnya dalam kecepatan lumayan tinggi, jalanan masih terlihat sepi karena para pegawai belum istirahat siang, jadi jalanan masih sepi, Danu bisa agak sedikit menggeber laju mobil sport keluaran terbaru yang baru saja di belinya seminggu yang lewat.


Frans sudah menunggu Danu di pintu masuk pengadilan agama itu. Frans rencananya akan membawa Danu kehadapan panitia yang akan mendampingi mediasi perceraian antara Danu dengan Ranti yang akan dilakukan oleh Danu besok.


"Kita mau kemana Frans?" ujar Danu saat melihat Frans kembali berjalan ke dalam ruang pengadilan agama.


"Ikut bentar aja" ujar Frans yang tidak mengatakan kepada Danu kemana dia akan membawa Danu pergi saat memilih untuk masuk kembali ke dalam kantor pengadilan agama.


"Emang gue sekarang kabur?" ujar Danu saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Frans kepada dirinya.


"Banyak gaya plus bacot loe" ujar Frans sambil menoyor kepala Danu dengan tangannya.


Untung saja saat Frans menoyor kepala Danu, keadaan di sekitar dalam keadaan sepi, tidak ada orang yang lewat. Kalaulah sempat ada bisa dibayangkan bagaimana malunya Danu saat itu karena di toyor kepalanya oleh Frans, seperti seorang anak yang sedang kena marah orang tuanya karena ketahuan cabut saat jam pelajaran sekolah.


Frans membuka sebuah pintu ruangan yang jelas di sana tertulis ruang mediasi. Danu menatap Frans.


Frans mengetuk pintu ruangan itu, terdengar sahutan dari dalam ruangan yang meminta Frans untuk masuk ke dalam ruangan. Frans membuka pintu ruangan karena telah mendapatkan izin dari orang yang berada di dalam ruangan. Frans dan Danu kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Ruangan yang besok Danu akan kembali ke sana tetapi tidak dengan orang yang sama yang menanti Danu di dalam ruangan itu besok sesuai dengan jadwal mediasi Danu dan Ranti.


NEGARA U


"Bunda semalam aku mimpi menakutkan" ujar Deli mulai bercerita kepada Vina saat mereka sedang duduk di kursi untuk sarapan pagi.


Vina yang mendengar apa yang dikatakan oleh Deli langsung menatap ke arah anak perempuannya itu.


"Mimpi buruk?" ujar Vina mengulang apa yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya.

__ADS_1


"Ya Bun, mimpi buruk" jawab Deli sekali lagi meyakinkan Vina kalau dirinya memang benar benar malam tadi bermimpi buruk.


Sari dan Maya yang baru sampai di ruang makan, langsung duduk dan menatap ke arah Deli.


"Mimpi buruk apa Deli?" ujar Sari bertanya kepada Deli.


Sari penasaran mendengar pernyataan yang dikatakan oleh Deli kepada Vina. Deli mengalami mimpi buruk,


"Berkaitan dengan siapa sayang mimpi buruknya?" ujar Sari bertanya selanjutnya kepada Deli.


"Tentang Bunda sama Ayah, Aunty" jawab Deli lagi.


"Emang kamu mimpi apa sayang?" ujar Sari kembali bertanya.


Vina yang mendengar kalau mimpi Deli berkaitan dengan dirinya dan Danu langsung menatap ke arah Deli. Vina penasaran sekali dengan mimpi buruk Deli yang berkaitan dengan dirinya itu.


Deli kemudian menceritakan kepada Vina, Maya dan Sari tentang mimpi buruknya itu. Mereka bertiga menyimak dengan sangat serius mimpi buruk yang diceritakan oleh Deli. Mereka bertiga sama sekali tidak menjeda atau memotong cerita Deli. Mereka membiarkan saja Deli menceritakan perihal mimpinya itu.


"Sayang, apa kamu kepikiran dengan mimpi itu?" ujar Vina bertanya kondisi Deli sesaat setelah Deli selesai menceritakan mimpi buruknya kepada Vina, Maya dan Sari.


"Sedikit Bunda, tetapi Deli berusaha untuk tidak memikirkannya." jawab Deli sambil memberikan senyumannya kepada Vina, Maya dan Sari.


"Deli sangat yakin kalau Bunda dan Ayah pasti akan menikah, serta Deli akan memiliki keluarga yang utuh kembali." jawab Deli yang sangat yakin dengan apa yang dikatakan oleh dirinya.


Bagaimanapun Deli sangat yakin kalau Ayah dan Bundanya itu pasti akan menikah. Insting seorang anak yang sangat menginginkan kasih sayang orang tua yang lengkap, membuat Deli sama sekali tidak memikirkan lagi tentang mimpi buruknya semalam.


Vina memeluk Deli.

__ADS_1


"Sayang, kamu harus yakin kalau kita akan menjadi keluarga" ujar Vina sambil tersenyum


Vina sudah bertekad apapun halangan dan rintangannya, dia akan tetap menikah dengan Danu, demi Deli dan demi cintanya.


__ADS_2