
Danu yang baru sampai di kantor langsung masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia hari ini memang tidak menjemput Vina seperti biasa. Vina hari ini izin untuk tidak ke kantor karena begitu banyak pesanan yang harus dikerjakannya. Kebetulan sekali semua pekerjaan Vina sudah diselesaikannya kemaren. Jadi walaupun Vina mengambil jatah libur tidak ada pengaruhnya dengan pekerjaannya.
Iwan yang datang kemudian melihat pintu kantor yang terbuka yakin bahwa Danu atau Ifan yang sudah datang. Iwan melihat meja Ifan yang masih belum ada tanda tanda Ifan sudah datang.
"Danu palingan yang datang pagi." kata Iwan sambil pergi ke pantry ruangan untuk membuat kopi kesukaannya.
Kriyuk kriyuk, bunyi perut Iwan yang dari semalam belum diisinya. Iwan malam tadi lembur mengerjakan desain dari sebuah kafe. Kerjaannya baru siap saat jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari. Iwab mengambil ponselnya, dia akan menghubungi Ifan untuk membawakan dirinya sarapan.
"Dan, loe mau dibawakan Ifan sarapan?" tanya Iwan.
"Boleh, gue juga lapar. Kalian berdua makan di ruangan gue aja nanti. Ada yang akan gue diskusikan dengan kalian berdua." kata Danu yang akan menceritakan semua kejadian yang terjadi tadi malam kepada kedua sahabatnya itu.
"Baiklah. Kami akan sarapan di ruangan loe nanti. Loe mau makan apa?" lanjut Iwan.
"Gue mau makan nasi goreng. Telornya mata sapi pake ayam goreng." kata Danu mengatakan menu apa yang diinginkannya.
"Baiklah. Gue telpon Ifan dulu. Semoga aja tu anak belum di parkiran." kata Iwan sambil menutup pintu ruangan Danu.
Iwan menghubungi Ifan untuk memesan sarapan mereka. Sudah tiga kali Iwan menghubungi Ifan sama sekali tidak ada jawaban. Iwan yang mulai kesal meletakan ponselnya di atas meja.
"Dalam lima menit loe nggak telpon. Gue akan pergi beli sendiri. Tapi loe nggak gue lebihin." kata Iwan kepada ponselnya sendiri.
Ifan yang baru ke luar dari dalam kamar mandi, melihat ponselnya yang berkedip kedip tanda ada panggilan atau pesan masuk langsung meraih ponselnya. Dia melihat lima panggilan tak terjawab dari nomor Iwan.
"Wow banyaknya. Ada apa ya?" kata Ifan sambil memandang panggilan tak terjawab dari Iwan.
Ifan kemudian menghubungi Iwan. Ifan merasa kalau ini adalah masalah penting, sehingga Iwan menghubunginya berkali kali. Iwan yang sedang termenung, kaget mendengar bunyi ponselnya yang lumayan berisik itu.
Iwan langsung mengangkat panggilan telpon dari Ifan.
"Woy bro loe dari tadi gue telponin nggak angkat. Dimana loe?" tanya Iwan.
" Di rumah. Pas loe nelpon tadi, gue sedang mandi. Ini baru keluar dari kamar mandi, gue tengok ponsel gue kedap kedip seperti ada yang nelpon gue. Ternyata pas gue lihat elo nelpon gue berkali kali." kata Ifan menjelaskan kepada Iwan kenapa dia sampai tidak mengangkat panggilan dari Iwan.
"Gue kira loe masih tertidur nyenyak Fan."
"Mana ada bang. Kerjaan gue belum siap, ini gue berencana mau siap siap untuk ke kantor. Ada apa loe nelpon gue?" tanya balik Ifan.
__ADS_1
"Nggak biasanya loe nelpon gue berkali kali bang. Ada perlu apa?" lanjut Ifan bertanya kepada Iwan.
"Loe sebelum ke kantor singgah beli sarapan dulu. Gue sama Danu kelaperan di kantor." Iwan mengutarakan maksudnya menghubungi Ifan tadi.
"Oke bang. Mau sarapan apa? Harus di tempat Vina atau bisa beli di tempat menuju kantor saja?"
"Dua nasi goreng pakai ayam serta telornya mata sapi aja." jawab Iwan mengatakan kepada Ifan menu sarapan apa yang diinginkannya.
"Baiklah bang, gue siap siap dulu. Nanti sebelum ke kantor gue singgah membeli sarapan untuk kita." jawab Ifan.
Ifan kemudian bersiap siap.untuk menuju ke kantor. Dia sudah menyandang tas kerjanya. Dia menyambar kunci motor.
Ifan melajukan motornya menuju kantor, dia singgah di sebuah kafe yang menjual sarapan, untuk membeli sarapan pesanan Danu dan Iwan. Ifan menunggu beberapa saat karena nasi goreng pesanan Iwan harus diolah terlebih dahulu. Ifan menunggu selama setengah jam. Setelah semua pesanannya masak, Ifan melanjutkan perjalanannya menuju kantor.
Ifan kemudian masuk kedalam ruang kerja mereka.
"Bang ne pesanannya." kata Ifan memberikan pesanan milik Iwan.
Iwan membawa bungkusan itu ke pantry. Dia akan menyiapkan semua sarapan. Setelah membuat tiga gelas kopi instan, Iwan membawa semuanya ke ruangan Danu.
"Siap bang. Bentar lagi gue kesana. Gue buat minum dulu." jawab Ifan sambil berjalan menuju pantry.
"Udah gue bikin. Tinggal loe bawa ke ruangan Danu." jawab Iwan.
"Asiap" Ifan pergi mengambil minum yang sudah dibuat oleh Iwan. Setelah itu dia langsung menuju ruangan Danu.
Danu dan Iwan sudah duduk di sofa. Di depan mereka sudah ada menu sarapan yang tadi di beli oleh Ifan. Ifan meletakan cangkir cangkir kopi di depan mereka masing masing.
Mereka kemudian menyantap sarapan tersebut. Danu terlihat dengan sangat jelas sedang berpikir. Ifan bertanya kepada Iwan lewat sudut matanya. Iwan menjawab dengan mengakat bahu tanda tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Danu.
Mereka makan dalam diam. Sebenarnya Ifan akan bertanya kepada Danu, tetapi dia masih ragu apakah dia layak untuk bertanya atau tidak. Akhirnya Ifan memilih untuk diam saja. Sampai akhirnya pada suapan terakhir tidak satupun ada percakapan diantara mereka bertiga.
"Dan, tadi loe ngomong akan mengatakan sesuatu kepada kita berdua?" tanya Iwan yang sudah tidak tahan dengan suasana diam diaman seperti ini.
"Itulah, gue nggak tau mau mulai mengatakannya dari mana." jawab Danu yang kembali termenung.
"Ngomong aja Dan. Kami akan mendengarkan setiap yang akan loe katakan. Kalau kami bisa, kami akan membantu loe." lanjut Iwan.
__ADS_1
"Iya bang, kami akan bantu loe. Kalau loe perlu bantuan kami." kata Ifan yang setuju dengan jawaban dari Iwan.
"Gini. Semalam Ranti pulang ke rumah. Dia ngomong dan ngancem gue kalau dia tau gue berhubungan dengan Vina." kata Danu.
"Nah loe dari mana dia tau kalau abang ada hubungan dengan Vina?" tanya Ifan yang penasaran dengan cerita Danu.
"Dia nggak ada ngasih tau gue tau dari mana. Katanya dia sudah tau semuanya kalau gue selingkuh." jawab Danu.
"Haduh tu cewek memang gila ya, yang duluan selingkuh siapa yang disalahin siapa. Memang bener bener sarap tu perempuan." kata Iwan yang mulai emosi.
"Terus apa yang diomonginnya selanjutnya bang?" tanya Ifan yang sikap detektifnya mulai muncul.
"Dia ngomong kalau dia akan mengambil bukti tentang perselingkuhan dia yang gue dapet selama ini." kata Danu.
"Nah bukti itu aman sama gue." jawab Ifan.
"Bukti yang sama gue juga masih ada. Itu gue bawa dari rumah. Rencana mau gue titip sama Iwan." jawab Danu.
"Jangan sama gue. Mending sama Ifan. Kalau sama gue, tu cewek kenal gue, dia pasti akan datang ke rumah gue." kata Iwan yang sudah membaca gelagat Ranti.
"Biar aja dia dapat bukti yang di tangan loe bang. Kita lihat bagaimana permainannya. Gue jadi penasaran tu orang apa maunya." kata Ifan sambil tersenyum.
"Jadi menurut loe gue harus membiarkan dia mendapatkan bukti ini?" tanya Danu meyakinkan pendengarannya.
"Yup bang. Kita akan lihat setelah itu dia mau ngapain. Sekarang abang harus mengatakan kepada Vina status abang yang sebenarnya. Jangan sampai Ranti duluan yang berbicara kepada Vina." lanjut Ifan.
"Perempuan model itu pasti akan melakukan hal seperti itu. Gue sangat yakin." Ifan kembali meyakinkan Danu.
"Gue setuju dengan Ifan. Lebih baik elo cepat mengatakam kepada Vina." Iwan memperkuat pernyataan dari Ifan.
"Baiklah gue akan pergi nanti malam. Nggak mungkin sekarang, kerjaan lagi banyak." jawab Danu.
"Sip. Kami akan temani elo" kata Iwan.
"Terimakasih. Sekarang kembali kerja. Kita tidak boleh lembur hari ini." perintah Danu kepada Iwan dan Ifan.
Mereka kemudian melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Semua kembali serius dengan semua pekerjaan yang ada di depan mata mereka.
__ADS_1