Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Jenang


__ADS_3

"Hahahahahaha. Kasian kita berdua ya Bang Kena marah nggak jelas aja sama Danu gesrek.." ujar Ivan menertawakan nasib mereka yang tiba tiba saja kena marah oleh Danu sang manager yang pusing tidak ada teman.


Iwan mengangguk setuju dengan pendapat Ivan. Mereka berdua lalu tertawa bersamaan menertawakan nasib mereka hari ini yang bener bener luar biasa. Mereka tidak ngapa ngapain tetapi mendapatkan ancaman yang luar biasa dari Danu.


" Dasar manager somplak nggak ada akhlak. Main ancam aja. Apa dia nggak tau gue pergi sama siapa." ujar Iwan sambil meminum kopi sisa tadi pagi.


"Makanya Bang jangan main liburan aja. Ini jelas kerja malah pergi liburan. Mana lama lagi. Wajar aja manager emosi jiwa. Apalagi manager tidak kamu bawa, harusnya kamu bawa, jadi dia nggak emosi jiwa kayak janda lagi pengen." ujar Ivan menggoda Iwan yang sedang jengkel. Ivan sengaja menghangatkan tunggu Iwan. Ivan ingin melihat Iwan emosi jiwa.


"Emang loe pernah nengok janda lagi pengen?" tanya Iwan penasaran dengan perkataan Ivan.


"Ya nggak lah bang. Mana pernah. Gue aja nggak kenal dengan janda. Apalagi janda yang lagi pengen." jawab Ivan yang tadinya ngasal dalam menjawab pertanyaan Iwan.


"Makanya Bang jangan liburan." kata Ivan kembali memanas manasi Iwan.


"Yang ngajak gue liburan jabatan bapaknya lebih keren lagi. Kalau gue tolak makin parah. Makanya ibarat makan buah simalakama gue sekarang. Ditolak permintaan anak CEO, gue yang berabe. Diikutin kehendak anak CEO, gue dimarahin manager. Hidup gue bener bener ngenes luar biasa Van" ujar Iwan mengeluarkan uneg unegnya. Iwan sengaja mengatakan itu karena ingin membully Ivan.


"Hahahahahaha. Mana anak CEO itu cuma mengejar kekasihnya ya Bang. Kita yang kena getahnya." lanjut Ivan.


"Iya, gue bener bener uwow." ujar Iwan sambil memonyongkan bibirnya.


"Kakau gue tau akan menjadi begini ya Van. Gue akan ngomong ke Danu gesrek itu. Gue nggak bisa nolak untuk tidak berangkat, gue takut di pecat. gue butih pekerjaan ini." lanjut Iwan berkata dengan nada yang dibuat selebay mungkin.


"Hahahahahaha. Ada ada aja loe Bang. Jijik gue nengok gaya loe kayak gitu. Gila aja kali gue punya kawan bencong. Ogah gue bang, ogah." kata Ivan yang mendadak geli melihat gaya berbicara Iwan tadi.


Gaya bicara seperti bencong yang sedang pengen sesuatu. Ivan tidak menyangka Iwan bisa berbuat seperti itu


"Loe belajar dari mana Bang gaya kayak gitu?" tanya Ivan lagi.


"Belajar sari Danu gesrek." jawab Iwan mencomot nama Danu.


"Hahahahahaha. Gue nggak nyangka Danu bisa gitu Bang." ujar Ivan pura pura percaya dengan apa yang dikatakan oleh Iwan.


Merwka melanjutkan becandaan nggak mutu itu. Ivan dan Iwan tertawa terbahah bahak mendengar semuanya. Mereka menjadikan Danu sebagai pusat lelocon. Mulai dari gaya bicara Danu sampai dengan gaya jalan Danu. Semuanya dijadikan bahan olok olokan oleh Ivan dan Iwan bergantian. Mereka berdua tidak pernah kehabisan bahan. Selalu aja ada yang terlintas di otak kedua sahabat itu


Tok tok tok tok. Pintu kamar Ivan di ketuk dari luar. Ivan berjalan menuju pintu, dia heran siapa yang mengetuk pintu kamar mereka jam segini. Ivan kemudian membuka pintu kamar. Ivan melihat di depannya berdiri Vina, Maya dan Sari yang sudah berpakaian siap siap untuk berangkat pergi bermain dan berbelanja. Mereka akan menikmati hari terakhir di kota J.


"Tapi jam sebelas. Hari masih belum jam sebelas juga. Cepat kali kalian datang. Nampak kali nggak sabarannya pengen jalan jalan." ujar Ivan nyerocos nggak berhenti saat melihat ketiga wanita itu sudah berdiri di depan kamarnya.


"Kan udah jam sebelas sayang. Kamu kira sekarang masih jam berapa? Masih jam sembilan pagi? Pasti Bang Iwan juga belum siap." ujar Maya menatap Ivan dengan tatapan kesal. Dia tidak menyangka Ivan tidak melihat jam.


Ivan melihat jam tangannya. Ternyata jam memang sudah menunjukkan pukul sebelas siang. Mereka berdua keasikan ngobrol dan mengolok olok gaya Danu seharian ini dengan Iwan.


"Sorry tadi ada sesuatu yang terjadi. Mari masuk." ujar Ivan mempersilahkan ketiga wanita itu masuk ke dalam kamarnya.


"Tunggu sini ajalah lah." ujar Vina yang malas masuk ke dalam kamar Ivan. Vina tidak mungkin mau masuk ke dalam kamar laki laki. Itu bukanlah kebiasaannya. Bagi Vina dari pada harus masuk ke kamar laki laki biarlah dia tinggal sendiri di luar.


" Tunggu sebentar. Oke." kata Ivan menatap ketiga wanita itu yang siap menerkam dirinya saat dia kedapatan belum bersiap siap.


Ivan kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia tidak ingin menambah marah ketiga wanita yang sudab dalam keadaan marah itu.


"Bang, mereka udah stay di depan. Kita sudah ditunggu mereka." ujar Ivan memberitahukan kepada Iwan, bahwasanya Vina dan kedua sahabatnya yang lain sudah menunggu di depan kamar mereka.


"Hah cepat kali." ujar Iwan protes.


"Belum jam sebelas kok. Janjinya tapi jam sebelas." jawab Iwan masih duduk santai di kasur dan menonton televisi.


"Mana ada cepat kali. Kita janji jam sebelas Bang. Jam udah menunjukkan pukul sebelas siang. Makanya mereka mendatangi kita. Gue tadi juga jawab gitu. Sekarang lie tengok aja Bang, jam berapa hari." ujar Ivan kepada Iwan. Ivan masuk ke dalam kamar mandi. Dia membasuh wajahnya sekilas info.


Iwan melihat jam tangannya, ternyata jam menunjukkan pukul sebelas siang.

__ADS_1


"Hahahahahaha. Ini karena Danu gesrek itu. Kita jadi nggak tau jam." ujar Iwan sambil tertawa ngakak karena menyebutkan Danu gesrek.


Setelah Ivan keluar dari dalam kamar mandi, gantian Iwan masuk. Ivan bersiap siap. Dia tidak mau memunculkan tanduk ketiga dan keempat dari ketiga wanita itu.


Iwan juga memakai kamar mandi dengan kecepatan ultra sonic. Dia dengan ligat beraiap siap. Iwan tidak kuat menerima tatapan tajam membunuh milik ketiga wanita itu.


Setelah yakin dengan tampilan mereka berdua. Ivan dan Iwan kemudian keluar menuju depan kamar, mereka siap untuk menemui ketiga wanita yang sudah tidak sabar lagi akan berburu belanjaan di pasar Bringharjo.


Mereka akan langsung berangkat menuju pasar. Ivan sudah memesan taksi online ukuran besar. Mereka kemudian turun ke lobby. Mereka akan menunggu taksi yang sebentar lagi akan datang.


"Jadi, apa yang terjadi tadi Bang? Kok bisa kalian berdua tidak siap sama sekali. Padahal saat sarapan sudah jelas kita janjian untuk pergi jam sebelas. Eeee kenyataannya kalian berdua sama sekali belum siap." tanya Sari penasaran dengan apa yabg terjadi. Sari sangat tau kalau Ivan bukan tipe pria yang suka telat saat udah berjanji dengan siapapun. Apalagi ini dengan kekasih dan adiknya serta sahabatnya. Sari memiliki pemikiran kalau tadi ada suatu hal yang aneh.


"Oooo. Itu si Danu gesrek nelpon, dia nyuruh kami untuk masuk kantor lusa. Mana kami mau." ujar Ivan memberitahukan apa yang membuat mereka berdua tidak siap saat jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.


"Terus?" kata Sari penasaran dengan kelanjutan cerita dari Ivan. Dia yakin itu hanya permulaan saja. Pasti akan panjang rentetan setelah itu.


"Kami bilang aja, kami pulang lusa jadi masuk kantor besoknya." lanjut Ivan menceritakan isi telepon mereka dengan Danu.


"Terus tanggapan Danu Gesrek gimana?" tanya Sari yang ikut ikutan memanggil Danu dengan sebutan Danu Gesrek.


"Diam aja. Kayaknya kesal." lanjut Ivan.


"Hahahahahaha." Sari tertawa.


"Sekali sekali buat dia kesal tidak masalah." lanjut Ivan lagi.


"Terus kok bisa telat banget, mana nggak siap siap juga lagi." sekarang giliran Maya bertanya kepada kedua pria yang hari ini telat.


"Setelah telpon dari Danu terputus, kami berdua mengolok olok gaya Danu. Mulai dari dia panik karena marah, terus dia makan, gaya dia bicara sampai dengan gaya jalan. Semuanya kami cobakan berdua. Makanya kami sampai lupa waktu" ujar Ivan menceritakan semuanya kepada semua sahabatnya itu. Ivan mengatakan hal itu dengan rasa bangga yang luar biasa tingginya.


Saat mereka mengobrol membahas Danu, Vina terlihat bermain ponsel miliknya. Dia tidak ingin mendengar dan mengingat nama Danu lagi. Vina takut rasian kembali nanti malam seperti malam itu. Vina tidak mau lagi membuat malu dirinya sendiri di hadapan semua sahabat sahabatnya. Cukup sekali itu saja Vina dibuat malu oleh nama Danu. Vina berusaha membuat dirinya nyaman saat semua sahabatnya bercerita tentang Danu. Vina tidak boleh egois jangan karena dia, sahabat sahabatnya kehilangan momen untuk bercanda.


Iwan yang melihat perubahan dari sikap dan tindakan Vina, menendang kaki Ivan. Ivan menatap ke arah Iwan hendak protes dengan apa yang dilakukan oleh Iwan kepada dirinya. Tetapi semua itu tidak jadi saat Ivan menerima sebuah kode.


Ivan melirik ke arah Vina. Dia juga melihat Vina yang sudah tidak nyaman saat semua sahabatnya berbicara tentang Danu. Ivan kemudian mengode Sari supaya diam dan tidak lagi membahas tentang Danu. Sari ikut diam. Maya juga dikode oleh Ivan, serta membuat Maya juga ikut diam.


Tin tin tin tin. Bunyi taksi online yang tadi di pesan oleh Ivan. Mereka semua masuk ke dalam taksi. Vina dan Saei memilih kursi paling belakang. Di depan mereka duduk Ivan dan Maya. Sedangkan di sebelah sopir adalan Iwan.


"Jadi kita kemana duluan?" tanya Iwan saat mereka semua sudah berada di dalam taksi online.


"Ke pasar. Tapi makan jenang dulu." ujar Sari yang ingin makan jenang yang mereka makan waktu pertama kali sampai di kota J. Sari sangat susah move on dari jenang yang satu itu


"Oke kita makan Jenang terlebih dahulu, setelah itu baru kita melanjutkan membeli barang barang yang diperlukan oleh Maya." kata Vina yang sebenarnya juga menginginkan jenang yang dikatakan oleh Sari.


Mereka turun di depan pintu gerbang pasar, setelah itu mereka berjalan menuju penjual jenang yang terdapat di dalam pasar. Sepanjang jalan Maya melihat lihat pernak pernik. Tetapi tidak ada satupun yang berhasil memikat hati Maya.


Tidak berapa lama berjalan mereka sampai di tempat penjual jenang.


"Yah tutup" ujar Sari melihat tidak ada penjuak jenang yang mereka tuju berjualan di sana. Mereka sangat yakin kalau tempat itu adalah benar. Apalagi Sari menandai tempat itu melalui aplikasi ponselnya.


"Pindah atau nggak jualan?" tanya Vina lagi dengan tatapan kecewa. Impiannya memakan jenang pupus sudah, bersamaan dengan Ibuk Ibuk penjual jwnang tidak diketemukan.


Iwan berjalan menuju penjual di sebelah penjual jenang.


"Misi buk, ibuk penjual jenangnya kemana ya buk?" tanya Iwan kepada penjual itu.


"Oooooo. Dia nggak jualan di sini lagi Den. Ibuk itu pindah ke gank sebelah. Coba aja lihat ke sana. Di sana semua penjual jenang berkumpul." ujar ibuk ibuk tersebut sambil menujuk ke arah mana Iwan dan yang lain harus berjalan agar bertemu dengan penjual jenang itu.


"Makasi buk." kata Iwan.

__ADS_1


Iwan kembali menuju sahabat sahabatnya yang telah menunggu berira dari Iwan.


"Gimana bang?" tanya Sari yang paling tidak sabaran.


"Pindah ke gang sebelah. Ayok jalan." kata Iwan menyampaikan berita yang dibawanya dari penjual di sebelah penjual jenang.


Mereka berlima berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh penjual itu. Mereka menatap kiri dan kanan. Mereka melihat ada tulisan papan pengumuman dengan tulisan jenang, menunjuk ke arah belok kanan mereka. Mereka kemudian mengikuti petunjuk arah itu.


"Belok kanan Bang." ujar Sari yang sudah tidak sabar lagi ingin menikmati jenang yang rasanya sudah ada di tenggorokan dirinya.


"Sabar Sar." ujar Vina.


"Gayanya, padahal dia juga nggak sabar." balas Sari mengejek Vina.


"Hahahahahahahaha." Vina tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Sari.


Mereka kemudian masuk ke dalam gank yang dimaksud, ternyata di sana banyak terdapat penjual jenang. Kiri kanan hanya penjual jenang yang terlihat. Vina dan yang lainnya mengamati setiap wajah penjual jenang itu.


"Ini seperti lautan jenang. Saking banyaknya." ujar Sari kepada Vina.


"Setuju" jawab Vina.


Mereka tidak mau salah masuk warung. Mereka tidak mau berspekulasi dalam menikmati jenang. Mereka ingin yang pasti pasti saja.


"Itu ibuknya." ujar Sari menunjuk penjual jenang waktu itu.


Mereka menuju lapak yang terlihat pembelinya antri mengular. Vina dan keempat sahabatnya lalu ikut antri di belakang pembeli yang lain. Mereka tidak ingin telat ambil antrian.


"Panjangnya." ujar Sari melihat antrian yang luar biasa mengular itu.


"Kayak antrian mobil beli solar." balas Maya.


"Emang solar antri? Rasanya ndak." jawab Sari membantah ucapan Maya.


"Ye di kota P di pulau S antri. Makanya baca berita." ujar Maya yang memang karena siap membaca berita dia bisa mengatakan hal itu kepada sahabat sahabatnya.


Akhirnya setelah menunggu selama setengah jam saking panjangnya antrian, akhirnya tiba juga giliran mereka.


"Mau yang mana Neng?" tanya penjual.


"Mau semuanya bikin jadi lima porsi Buk e." jawab Vina.


Penjual membuatkan pesanan jenang Vina. Jenang campur sebanyak lima porsi besar. Vina dan yang lainnya menerima setiap porsi yang telah selesai dibuatkan oleh penjual. Mereka makan di emperan emperan penjual jenang. Mereka makan dengan lahap. Mereka tidak segan dengan orang orang yang juga makan di sana.


"Lihat sini." ujar Sari.


Sari mengarahkan kamera ponselnya ke arah mereka semua. Sari mengambil beberapa pose mereka. Mulai dari yang makan sedang jongkok sampai mereka menyuap jenang ke dalam mulut.


"Wow." ujar Maya.


"Nambah Buk." kata Maya kepada penjual jenang.


Seorang pria muda menatap ke arah Maya. Maya acuh saja. Dia tidak peduli orang lain selagi belum Ivan yang melarang dia makan, maka Maya tidak akan berhenti sampai perutnya kenyang.


"Nambah Buk." sekarang giliran Sari meminta tambah kepada penjual.


Penjual mengambilkan seporsi lagi untuk Sari. Mereka kemudian kembali makan jenang yang sudah diambilkan lagi oleh ibuk ibuk penjual jenang.


"Sudah belum?" tanya Vina sambil menatap dua sahabatnya yang masih sibuk makan jenang.

__ADS_1


"Dikit lagi" ujar Sari dan Mira kompak.


Setwlah selesai makan jenang, mereka kemudian pergi menuju toko penjual aksesoris. Mereka akan kembali membeli segala kebutuhan kafe.


__ADS_2