Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Cerita Ranti


__ADS_3

Mami dan Deli sedang asik mengobrol di teras depan rumah mereka. Mereka mengobrol tentang Vina. Bahkan Mami mengajarkan kepada Deli saat Ayahnya datang, Deli harus mengigau mengatakan Ayah harus pisah dengan Ranti. Deli tidak suka dengan Ranti. Ayah harus menikah dengan Bunda kue. Deli yang memang sangat menyayangi dan menyukai Deli langsung menyetujui apa yang dikatakan oleh neneknya itu. Tanpa berpikir panjang Deli main iyakan saja keinginan dari neneknya itu.


Danu yang sudah sampai di jalan besar, mengambil ponsel miliknya yang berada di dalam saku jasnya. Dia kemudian melakukan panggilan kepada nomor ponsel Vina. Panggilan video call di pilih oleh Danu.


Vina yang sedang duduk duduk di sofa ruangannya, meraih ponsel yang diletakkannya di atas meja. Vina melihat di sana nama yang muncul adalah nama Danu. Vina mengangkat panggilan video itu.


"Hay sayang, udah dimana?" tanya Vina saat dia baru mengangkat panggilan video call dari Danu.


"Ini baru mau masuk tol sayang." ujar Danu saat melihat pintu tol di depannya.


"Sayang bentar ya. Aku bayar tol dulu" uajr Danu kepada Vina.


Danu melakukan pembayaran dengan memakai etol. Dia tidak memakai uang tunai lagi untuk melakukan pembayaran.


"Hay, kamu sedang ngapain?" tanya Danu melihat Vina yang sedang duduk santai di sofa.


"Ini sedang duduk aja. Siap baca ini" ujar Vina mengangkat dokumen yang baru selesai dibacanya.


Danu melihat dokumen itu. Dia membaca cover dari dokumen yang diangkat oleh Vina tadi.


"CT Grub" ujar Danu dengan pelan.


"Terus udah siap kamu bacanya?" lanjut Danu bertanya kepada Vina.


"Udah sayang, sekarang aku lagi nunggu makan siang aku sampe." jawab Vina yang memang sudah meminta office boy untuk pergi membeli makan siang untuk Vina.


"Aku aja baru selesai sarapan, kamu udah mau makan siang aja sayang" kata Danu sambil menatap Vina.


"Perbedaan waktu sayang" ujar Vina sambil menatap ke arah Danu.


"Sayang, kita sambung cerita kemaren ya. Aku pengen tahu gimana awalnya kamu bisa menikah dengan Ranti" ujar Vina bertanya kepada Danu tentang kisah cinta antara Ranti dengan Danu.


"Bagian yang mana yang mau diceritakan sayang?" tanya Danu kepada Vina.


"Semuanya sayang" jawab Vina sambil tersenyum kepada Danu.


"Is banyaknya semuanya" jawab Danu yang sebenarnya malas untuk mengungkapkan ceritanya kepada Vina.


"Ayuk lah sayang tolong ceritakan kepada aku semuanya" ujar Vina kepada Danu.


Danu menatap Vina. Dia benar benar tidak tau harus memulai cerita dari mana.


"Aku pengen tau mulai dari awal kamu bisa menikah dengan dia sampai kamu bisa seperti ini dengan dia" ujar Vina kepada Danu.


"oke sayang. Akan aku kasih tau ke kamu." jawab Danu memandang Vina.


Danu terdiam cukup lama. Dia memandang ke arah Vina.


"Sayang, kamu di tol ngambil jalur lambatkan ya?" tanya Vina yang takut kalau Danu mengambil jalur biasa saja.


"Jalur lambat sayang. Kenapa? Kamu takut terjadi sesuatu kepada aku?" tanya Danu kepada Vina.

__ADS_1


"Hem jangan ditanya." jawab Vina menatap Danu.


"Sayang, jangan kemana mana ceritanya. Aku ingin tau gimana hubungan kamu dengan Ranti" lanjut Vina menatap Danu.


"Sayang, hubungan aku dengan Ranti itu pada dasarnya adalah hubungan yang dijalin karena perjodohan. Bener bener murni karena perjodohan." Ujar Danu mulai membuka ceritanya.


"Apa kamu dengan dia tidak saling mengenal sayang?" tanya Vina yang agak ragu mendengar cerita dari Danu.


"Nggak sayang. Sama sekali tidak. Aku kenal dengan Ayahnya. Aku bekerja di perusahaan ayahnya karena aku tidak mau bekerja di perusahaan milik Ayah dan Paman." kata Danu menjawab pertanyaan dari Vina.


"Nah saat itulah, Ayah Ranti menemui Papi untuk menjodohkan kami berdua." papar Danu kepada Vina.


"Ayah Ranti menjadikan sakitnya sebagai alasan untuk menjerat aku ke jurang dalam ini" kata Danu kepada Vina.


"Aku dan Ranti menikah dengan rasa penyesalan di dada masing masing." lanjut Danu mulai berbagi dengan Vina.


"Terus apa kamu waktu itu menyatakan cinta ke Ranti?" ujar Vina kepada Danu.


"Ha ha ha ha sayang sayang. Jangankan mengatakan cinta, tidur satu kamar saja tidak sayang" ujar Danu kepada Vina.


"lah terus, tidurnya sendiri sendiri gitu?" tanya Vina kepada Danu.


"Mana ada sayang, orang suami istri tapi tidurnya pisah pisah" lanjut Vina menatap Danu dengan tatapan tidak percaya.


"Ada sayang, tu aku. Aku tidak pernah tidur seranjang dengan Ranti. Sama sekali tidak pernah. Aku tau siapa Ranti sayang." ujar Danu menjawab keraguan dari Ranti.


"Kamu tau tidak sayang. Aku dari bujangan nya sudah tau kalau Ranti itu pemain. Makanya aku saat menikah dengan dia sama sekali tidak memakai rasa" lanjut Danu menceritakan kalau dia memang tidak memiliki rasa kepada Ranti.


"Sayang, waktu itu aku sempat pulang dalam keadaan sakit kepala. Ranti kemudian memberikan aku obat. Nah, saat aku bangun, aku sudah tidak memakai pakaian lagi. Ranti juga sama, dia memeluk aku" ujar Danu menceritakan kejadian saat itu kepada Vina.


"Aku terbangun dalam keadaan kaget. Ranti kemudia tersenyum kepada aku. Dia mengatakan waktu itu kalau permainan aku sangatlah bagus." lanjut Danu.


Danu menatap wajah Vina. Danu melihat Vina sedikit memerah wajah cantiknya itu.


"Jangan marah sayang. Saat itu aku yakin aku tidak melakukan apa apa kepada Ranti. Tapi, aku tentu tidak mau membuat Ranti malu. Bagaimanapun juga sayang, dia adalah istri aku pada saat itu. Makanya aku hanya mengiyakan saja pada saat dia mengatakan kalau dia hamil anak aku" lanjut Danu bercerita tentang Danu yang pada awalnya sudah tau kalau Deli bukan anak kandungnya.


"Sayang, berarti dia waktu ngasih kamu obat itu pasti udah hamil anak orang itu" ujar Vina mengutarakan apa yang ada dalam pikirannya.


"Yup. Dia sengaja melakukan itu, karena dia tahu, kalau dia dalam keadaan sadar maka, aku tidak akan pernah mau menggauli dirinya" lanjut Danu mengatakan kepada Vina tentang kehidupan sebenarnya rumah tangga dia dengan Ranti.


"Jadi sayang, saat itu kamu memang tidak sama sekali menyentuh dia?" tanya Vina kepada Danu.


"Tidak sama sekali sayang. Kamu jangan ragukan aku akan hal itu. Aku ini masih pria suci sayang. Aku belum pernah mencelupkan jaluk aku ke dalam gua milik seorang wanita" kata Danu sambil tersenyum kepada Vina.


"Hem gaya, oh ya sayang, apa rasanya punya istri tapi nggak bisa kahtun kahtun?" tanya Vina kepada Danu sambil senyum senyum penuh makna.


"Maksud kamu apa sama kata kata kahtun kahtun" ujar Danu menggoda Vina dengan gaya khasnya.


"Gini gini sayang" ujar Vina sambil memperagakan dengan gaya kedua jari tangannya yang saling berhimpitan itu.


" Ha ha ha ha ha. Mau gimana lagi sayang. Sejujurnya sakit kepala juga, tapi ya mau gimana lagikan ya. Orangnya nggak bikin itu aku jadi berdiri." kata Danu mengungkapkan rahasianya kepada Vina.

__ADS_1


"Hah? Serius itu kamu tidak berdiri sama sekali sayang?" tanya Vina yang penasaran dengan ucapan Danu.


"Secantik itu Ranti, masak iya, itu kamu tidak berdiri sayang? Kasian banget dia" lanjut Vina yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Danu.


"Serius sayang. Ngapain juga pake boong. Beneran nggak berdiri dia" kata Danu yang tidak ingin diragukan oleh Vina akan kejujurannya.


"Ya ya ya ya sayang. Aku percaya sama kamu. Terus kamu kok bisa tahu kalau dia selingkuh itu dari siap?" tanya Vina yang penasaran kenapa Danu sampai mengetahui kalau Ranti selingkuh dari dirinya.


"Bentar sayang, aku ke luar tol bentar. Aku ambil jalur pelan dulu ya" kata Danu yang kemudian mengarahkan mobilnya ke jalan jalur lambat.


Vina menunggu Danu selesai memposisikan mobilnya di bagian jalan yang aman.


"Tadi kamu tanya apa sayang?" tanya Danu kepada Vina.


"Tadi aku tanya ke kamu, kenapa kamu sampai mengetahui kalau Ranti selingkuh" ujar Vina mengulang pertanyaannya.


"Ooo. Aku bisa tahu saat itu, Iwan dan Ivan memergoki Ranti dengan selingkuhannya duduk berdua di sebuah kafe" kata Danu mulai menceritakan kenapa dia sampai tahu kalau Ranti memiliki selingkuhan.


"Bang Iwan dan Bang Ivan. Keren banget mereka bisa tahu kalau Ranti selingkuh." ujar Vina memuji Iwan dan Ivan.


"Jangan salah kamu sayang, kami bertiga pernah mengintai Ranti sampai ke hotel." ujar Danu menceritakan kisah pengintaian mereka bertiga.


"terus ketemu?" tanya Vina penasaran.


"Ketemu sayang, malahan kami bertiga nginap di hotel itu. Kami nginap pas tepat di depan kamar mereka berdua" ujar Danu mengatakan kepada Vina.


"Terus, apa kalian bertiga dengar ah uh ah uh" ujar Vina sambil menahan tawanya.


"sayang, kamu mulai ya. mulai aneh." ujar Danu melihat tingkah aneh Vina.


"Sekali sekali sayang. Lagian aku genitnya hanya ke kamu saja. Nggak ke yang lain" ujar Vina membela dirinya.


"Hem masih ya. Kalau genit ke aku nggak masalah. Kalau ke yang lain jangan." kata Danu melarang Vina untuk tidak genit kepada yang lain.


"Jadi denger nggak sayang, suara suara aneh itu?" tanya Vina penasaran dengan tanggapan dari Danu.


"ya nggak denger lah sayang. Emang mereka melakukannya di ruangan terbuka ya di kamar lah" ujar Danu menjawab keingintahuan Vina.


"Terus rasa hati kamu gimana sayang, saat mengetahui kalau Ranti selingkuh dan nginap di hotel dengan selingkuhannya" tanya Vina yang penasaran dengan tanggapan dan perasaan Danu saat memergoki Ranti sedang dengan selingkuhannya.


"Saat itu aku tidak merasakan apa apa sayang. Gimana aku bisa merasakan cemburu dan sejenisnya. Aku sama sekali tidak memiliki rasa apa apa sama dia. Tapi kalau kamu yang aku temui. Aku bisa langsung marah marah di tempat sayang" ujar Danu sambil tersenyum.


"Yakin kamu kalau aku bisa selingkuh?" tanya Vina sambil menatap Danu.


"nggak sayang. Aku nggak yakin kalau kamu bisa selingkuh. Aku sangat tau kamu bagaimana" jawab Danu sambil tersenyum kepada Vina.


"Sayang, kayaknya Sari udah datang. Aku meeting sama dia dulu ya. kamu hati hati di jalan ya" ujar Vina kepada Danu.


"Oke sip. Nanti kalau aku sampai, aku kasih tau kamu ya" ujar Danu.


Vina memutuskan panggilan telponnya dengan Danu. Vina akan menemui Sari yang baru selesai meeting. Mereka berdua akan membahas tentang hasil dari meeting Sari dengan perusahaan yang mau bekerjasama dengan perusahaan mereka. Sedangkan Danu melanjutkan perjalanannya menuju ibu kota untuk menuju perusahaan mereka. Dia akan memeriksa beberapa dokumen yang akan dijadikan bahan meeting besok pagi

__ADS_1


__ADS_2