
Papi, Mami, Paman, Danu dan Deli sudah duduk di kursi meja makan. Mereka akan makan pagi bersama kali ini. Ini adalah kali pertama Paman datang ke rumah lama tempat masa kecil sampai masa remaja Paman tinggal di sana.
Mereka kemudian sarapan dalam suasana hening. Mereka sangat menghargai makanan yang sudah disajikan oleh Mami dan Deli. Saat semua sudah selesai menikmati sarapan mereka, barulah Papi membuka suaranya.
"Mami, Deli, Atuk mau berbicara sebentar. Apakah kalian bersedia mendengar apa yang akan Atuk bicarakan?" tanya Papi sambil menatap ke arah Mami dan Deli sejenak.
"Ada apa Pi? Sepertinya penting sekali" ujar Mami menatap ke arah Papi. Mami tidak pernah melihat Papi dalam mode serius seperti sekarang ini.
"Sepertinya ada masalah berat yang sedang kita hadapi Pi" lanjut Mami memberondong Papi dengan pertanyaan pertanyaan yang mengandung ketidak sabaran dalam diri Mami.
"Penting sekali Mami." ujar Papi menjawab pertanyaan dari Mami.
"Ada apa Atuk?" sekarang giliran Deli yang bertanya kepada Atuknya itu. Deli juga sudah tidak sabar lagi ingin mendengar apa alasan Atuk nya sehingga mengatakan ada masalah penting yang harus mereka bahas.
Papi kemudian menjelaskan semuanya kepada Mami dan Deli. Papi sama sekali tidak ada melewatkan satu informasi pun kepada Mami dan Deli. Papi menceritakan semuanya kepada Mami dan Deli.
"Atuk kalau seperti itu, aku mau kok untuk tidak tinggal di sini lagi. Aku nggak mau rencana Ayah untuk menceraikan Bunda menjadi gagal. Aku tidak ingin dia menjadi Bunda aku lagi" ujar Deli yang menjawab perkataan dari Atuk nya.
"Ayuk lah Atuk. Kita pergi sekarang aja. Aku udah nggak mau tinggal di sini lagi Atuk. Aku ingin kita pindah saja lagi dari sini." lanjut Deli mendesak Atuk nya untuk pergi dari rumah itu.
"Nanti kalau kita lama lama di sini dia bisa datang dan mengambil aku. Aku tidak mau itu terjadi Atuk. Aku nggak mau hidup sama dia. Aku mau sama Ayah saja" ujar Deli mulai meneteskan air matanya.
Deli terlihat menangis. Paman yang berada di sebelah Deli langsung memeluk gadis kecil itu.
"Sayang jangan menangis lagi ya. Kita di sini semuanya berjuang untuk kebaikan Deli. Deli jangan bersedih lagi ya. Kalau Deli bersedih, maka Ayah Deli juga akan bersedih sayang" ujar Paman menasehati Deli untuk tidak menangis lagi.
Danu berjalan ke arah putri tunggalnya itu. Danu menggendong anak semata wayangnya yang sedang bersedih tersebut.
__ADS_1
"Sayang, Deli mau ikut sama Ayah atau sama Nenek dan Atuk?" tanya Danu kepada Deli putrinya itu.
"Nenek sama Atuk aja. Ayah kerja aja. Ayah urus semua urusan Ayah biar cepat selesai. Deli akan baik baik saja tinggal sama Nenek dan Atuk" jawab Deli sambil memeluk Danu.
"Kalau Deli mau Ayah menyelesaikan semuanya. Deli nggak boleh bersedih seperti ini. Ayah akan jadi kepikiran nanti sayang" ujar Danu memberikan pengertian kepada anaknya itu.
"Deli mau kan ya, Ayah bisa menyelesaikan urusan Ayah ini. Terus kita akan hidup bersama lagi seperti dulu?" tanya Danu kepada Deli.
Danu sangat berharap putri satu satunya itu paham dan mengerti dengan apa yang diinginkan dan sedang dilakukan oleh Danu.
"Deli mau Ayah. Deli akan ikuti semua yang Ayah, Atuk dan Kakek rencanakan. Bagi Deli sekarang yang penting adalah, Ayah bisa bercerai dengan dia. Deli hanya mau itu. Terus kita berdua akan tinggal bersama lagi" ujar Deli mengatakan apa keinginannya kepada Danu.
"Baiklah sayang, bagi Ayah yang terpenting juga kebahagiaan Deli. Jadi, sekarang kita akan susun rencana dengan atuk untuk pindah dari sini ke suatu tempat yang hanya Atuk saja yang mengetahuinya." ujar Danu memberikan pengertian kepada Deli.
Danu kemudian duduk di kursinya kembali. Deli berada dalam pangkuannya. Deli akan mendengarkan semua pembicaraan orang besar itu.
"Ada dua tempat yang Papi rekomendasikan untuk tempat tinggal kita yang baru. Pertama mansion di negara U. Satu lagi mansion di negara J, Mami dan Deli mau di negara mana?" tanya Papi menawarkan kedua tempat itu kepada istri dan juga anaknya.
"Deli mau kemana sayang?" tanya Mami memberikan keputusan kepada Deli untuk memilih kemana mereka akan pindah dari negara ini.
Deli melihat ke arah Ayahnya.
"Terserah Deli mau kemana" jawab Danu juga menyerahkan keputusan kepada Deli.
Deli terlihat berpikir sesaat, dia harus memikirkan kemana dia akan memilih untuk pergi dan menetap di sana sebentar.
"Negara U saja Atuk" jawab Deli.
__ADS_1
Paman yang mendengar negar yang dipilih oleh Deli hanya bisa tersenyum saja.
'Sepertinya Tuhan memang sudah menakdirkan untuk kalian bertiga berkumpul menjadi keluarga.' ujar Paman dalam hatinya.
'Deli saja langsung meminta untuk ke negara U, pilihan yang sangat tepat' lanjut Paman dalam hatinya berbicara sendiri.
"Baiklah, karena sudah diputuskan, kita akan pindah ke negara U. Sekarang mari kita siap siap. Danu kamu pesan tiket pesawat hari ini juga, kita akan berangkat ke negara U" ujar Papi memberikan perintah kepada Danu.
"Kamu juga harus ikut dengan kami ke negara U. Masalah perusahaan ada Iwan yang akan menjalankan perusahaan." ujar Papi meminta Paman untuk ikut juga menuju negara U.
"Tapi kakak, beberapa hari ke depan ada beberapa meeting dengan perusahaan lain untuk membahas kerja sama. Aku tidak bisa meninggalkan perusahaan." ujar Paman menolak untuk ikut
"Aku janji setelah meeting itu aku selesaikan, Aku akan datang ke negara U. Aku janji akan hal itu" ujar Paman meyakinkan Papi untuk mengizinkan Paman tidak ikut ke negara U sekarang ini.
"Baiklah adik kali ini kamu selamat. Tapi besok saat setelah semua pekerjaan kamu selesai, kamu wajib untuk datang ke negara U" ujar Papi memberikan perintahnya kepada Paman
"Siap.Kalau Danu silahkan pergi. Kamu bisa pergi selama tiga hari. Kamu harus cepat kembali ke sini untuk mengurus perceraian kamu." ujar Paman yang memberikan Danu izin untuk tidak masuk kerja selama tiga hari dan lima hari paling lama.
"Oke Paman. Aku akan kembali cepat. Aku juga ingin cepat menyelesaikan hubungan aku dengan dia. Aku tidak mau larut dalam permasalahan ini" ujar Danu kepada Pamannya yang sudah berbaik hati memberikan izin kepada Danu untuk tidak masuk kerja.
Mami, dan Deli sudah selesai menyiapkan semua barang barangnya dalam beberapa koper. Danu juga sudah memesan empat buah tiket kelas bisnis untuk mereka sekeluarga.
Paman sama sekali tidak bisa meminta bantuan Juan untuk menjemput keluarganya itu ke negara I. Danu sampai sekarang masih belum tahu kalau dia memiliki keluarga di negara U.
Papi dan Paman serta Danu menaruh semua koper ke dalam dua mobil. Papi sengaja membawa mobilnya pergi dari rumah, supaya Ranti yakin kalau mereka tidak tinggal lagi di rumah itu.
Dua mobil kemudian melaju menuju bandara. Danu sudah meminta Iwan untuk menunggu dirinya di bandara dan membawa beberapa pakaian Danu dari rumah. Iwan dengan senang hati membantu Danu.
__ADS_1