Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Vina pertama kali ke kantor


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan dengan perasaan yang tidak enak. Vina sampai juga di perusahaan yang telah lima hari tidak dikunjunginya.


Vina mejadi pusat perhatian pra karyawan dan karyawati yang lain. Mereka menatap sinis ke arah Vina.


Vina yang sudah terbiasa menerima tatapan seperti itu mengacuhkan saja mereka semua. Bagi Vina dia tidak peduli dengan anggapan orang lain terhadap hidupnya, selagi dia tidak merugikan orang lain. Vina menekan tombol lift untuk menuju lantai kamarnya. Dia menunggu dengan perasaan jengah akibat tatapan tatapan karyawan yang lain. Setelah menunggu sekian menit, akhinya lift tersebut datang juga. Vina langsung masuk ke dalam lift.


Vina berharap di dalam lift hanya ada dirinya saja. Tetapi harapan tinggal harapan, saat Vina masuk ternyata rombongan karyawati penggosip juga masuk.


"Hay tau nggak, ternyata ya ada loh salah satu karyawan di kantor ini yang sengaja mau ngehancurin rumah tangga bosnya." ujar salah satu dari wanita penggosip.


"Seriusan loe? Jadi pelakor ghitu?" tanya temannya yang lain.


"Iyes pelakor. Is kayak nggak laku aja tu perempuan. Atau jangan jangan dia juga usdah jadi sugar daddy kali ya? Makanya dia sekarang menjelma jadi pelakor biar dia bisa hidup nyaman." ujar wanita yang memulai gosip tak bermakna itu.


Vina yang sadar dirinya yang sedang disindir hanya berusaha menyabarkan hatinya.


"Emang kamu tau siapa orangnya?" tanya temannya yang lain.


"Nggak juga. Aku hanya denger gosip doang." jawab wanita yang tadi memulai percakapan.


"Yeee......... Kami kira loe tau. Kalau ternyata nggak bener loe jadi ghibah. Jadi gosip." ujar salah satu temannya yang masih bisa dikatakan rada normal.


"Waduah iya juga ya. Maaf maafin gue ya Tuhan. Gue nggak lagi akan ngegosip, gue kan udah tobat kemaren." ujar wanita tersebut.


Ting, lift sampai ke lantai tujuan Vina. Dia melangkah keluar dari dalam lift yang penuh omongan itu. Vina melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan bagian tempat dia bekerja. Vina membuka pintu ruangannya dengan perlahan.


"Vina, loe udah keluar dari rumah sakit" ujar Iwan yang nggak tau harus menyapa bagaimana ke Vina.


"Udah bang kemaren siang." jawab Vina yang langsung duduk di meja kerjanya.


"Oh ya hampir lupa. Ini Van ada kiriman dari Maya." ujar Vina memberikan bingkisan sarapan untuk Ivan.


"Untuk gue Vin?" tanya Iwan yang tidak diberikan bingkisan.


"Ada bang, tapi bukan dari Maya ya." kata Vina sambil memberikan bingkisan untuk Iwan.


Ivan dan Iwan menyantap sarapan mereka. Mereka berharap Vina tidak bertanya kemana perginya Danu. Mereka tau Danu tidak pergi menjemput Vina saat keluar dari rumah sakit. Hari itu Danu ada rapat dengan dewan direksi. Sedangkan sekarang Danu harus pulang ke rumah Maminya karena ada yang terjadi dengan Deli.


"Oh ya kak, apa yang harus aku kerjakan. Aku jadi nggak tau job aku karena libur kemaren." kata Vina yang sama sekali tidak tau apa yang harus dikerjakannya.

__ADS_1


"Kamu tolong bikin perencanaan pembangunan gedung ini aja Vin. Ini proyek terbaru kita." kata Iwan memberikan sebuah proposal kerjasama pembangunan gedung kantor baru.


"Oke bang." Vina kemudian membaca proposal kerjasama itu dengan sangat teliti. Dia tidak mau terjadi kesalahan saat menghitung berapa anggaran yang harus digunakan untuk pembangunan gedung tersebut.


Iwan dan Ivan saling tatap. Mereka berdua tidak menyangka kalai Vina tidak akan bertanya tentang Danu kepada mereka.


'Apa dia marah kali Van, makanya nggak ada tanya tentang Danu' bunyi chat yang dikirim Iwan ke Ivan.


'Bisa jadi bang, marah karena nggak dijemput kemaren' balas Ivan.


'Kita biarin aja dulu. Nanti kalau dia tanya kita baru jawab kalau Danu pulang kampung' balas Iwan.


'Sip'


Mereka berdua kemudian saling tatap dan sama sama menganggukkan kepalanya. Semua kelakuan dua orang itu menjadi perhatian oleh Vina. Tapi Vina masih belum ingin berkomentar. Dia masih serius dengan pekerjaannya.


Tak terasa waktu makan siang telah masuk.


"Vin, loe makan siang nggak?" tanya Ivan.


"Iya Bang. Gue nebeng ya pergi makan siang." jawab Vina yang mengambil ponsel dan dompetnya dari dalam laci meja.


"Van, Vin, kita makan di kafe depan aja." kata Iwan memberikan solusi tempat makan siang mereka.


"Oke sip. Kita makan di sana aja bang. Rasa masakannya juga enak banget." jawab Vina yang memang pernah merasakan makan di kafe tersebut.


Mereka bertiga pergi meninggalkan kantor untuk makan siang bersama. Berhubung hari itu Iwan membawa mobil jadilah mereka bertiga naik mobil menuju kafe yang dikatakan Iwan.


"Bang, kalau bawa mobil ke warung Maya aja lah Bang." ujar Ivan yang mengubah rute makan siang mereka menjadi ke warung Maya.


"Bilang aja kangen pake alasan bawa mobil pula." jawab Iwan sambil menggoda Ivan.


Iwan memutar arah mobilnya menuju warung Vina. Mereka membatalkan niatnya untuk makan di kafe yang tadi. Ivan sangat senang akhirnya dia bisa bertemu dengan Maya hari ini.


Tidak beberapa lama mereka akhirnya sampai di depan warung Maya. Iwan memarkir mobilnya di seberang jalan. Mereka bertiga turun dari dalam mobil. Ivan manusia yang paling pertama menyebrang.


"Wow udah nggak sabar dia sepertinya." ujar Iwan berbicara kepada Vina.


"Makanya bang, pacaran biar tau rasanya seperti apa." jawab Vina sambil tersenyum menggoda Iwan.

__ADS_1


"Dasar ya kamu anak kecil." ujar Iwan sambil mengacak rambut Vina.


Ivan yang datang mendadak memeluk Maya dari belakang. Maya yang kaget ada yang tiba tiba memeluknya langsung memberikan hukc kiri ke perut Ivan.


"Ow" teriak Ivan yang menahan sakit terkena huck kanan dari Maya.


Maya yang mendengar suara teriakan dari Ivan langsung membalikan badannya.


"Sayang maaf aku" ujar Maya sambil memeluk Ivan.


"Kamu tega sayang" jawab Ivan.


"Siapa suruh ngagetin aku. Main asal peluk aja."


"Tapi kamu keren sayang. Siapa yang meluk kamu pasti akan terbang" ujar Ivan sambil menggandeng tangan Maya.


"Kamu sama siapa ke sini?" tanya Maya lagi.


"Iwan dan Vina"


"Oh"


Mereka berdua menuju meja Iwan dan Vina.


"Pesan apa Vin?" tanya Maya sambil tersenyum.


"Gue pengen makan nasi sote yang bikin tadi pagi."


"Aku mau nasi goreng."


"Kamu sayang?" tanya Maha kepada Ivan.


"Mau makan nasi goreng pakai mie." jawab Ivan.


"Minumnya apa Vin?" tanya Maya.


"Jus jeruk aja semuanya May" jawab Vina mewakili mereka bertiga.


Maya pergi menyiapkan menu makanan yang pengen dinikmati oleh mereka bertiga. Setelah semua pesanan datang, mereka menyantap sambil bercerita ringan. Tak terasa makanan yang tadi mereka pesan telah habis di santap. Mereka bertiga kembali pulang menuju kantor.

__ADS_1


__ADS_2