
"Tuan Danu?"tanya pelayan kepada Danu.
"ya saya Tuan Danu" jawab Danu sambil melihat ke arah pelayan yang sepertinya pelayan itu yang akan melakukan pelayanan kepada Danu dan juga ketiga sahabatnya nanti saat mereka makan siang di ruangan yang telah di pesan oleh Iwan.
"sya adalah pelayan yang akan melayani Anda dan rekan rekan Anda saat makan siang nanti" ujar Pelayan tersebut memperkenalkan diri dan tugasnya kepada Danu.
"Oh baiklah" jawab Danu dengan ringkas dan padat.
"mari ikuti saya Tuan. Saya akan mengantarkan Tuan ke ruangan VVIP nya" ujar pelayan berkata kepada Danu, Iwan dan Ivan.
Pelayan meminta Danu dan kedua sahabatnya untuk mengikuti dirinya masuk ke dalam restoran. Pelayan akan mengantarkan Danu dan kedua sahabatnya masuk ke dalam ruangan VVIP yang telah di pesan oleh Iwan. Ivan yang memang tidak pernah untuk menatap lurus saja saat sedang berjalan menjalarkan matanya kemana mana, setiap penjuru restoran di sisir oleh mata elang Ivan. Ivan menilai gaya arsitektur dari bangunan restoran mewah tersebut. Bangunan tua yang diberi sentuhan kekinian.
Tiba tiba saja Ivan melihat sebuah pemandangan yang sebenarnya sudah biasa, tetapi pada kondisi seperti ini bukanlah sebuah hal yang biasa melainkan hal yang sangat luar biasa. Bagaimanapun juga hal seperti itu benar benar tidak diperbolehkan, apalagi pada saat mau bercerai.
"Apa yang kamu lihat Van?" ujar Iwan yang mendadak menghentikan langkah kakinya pada saat menyadari kalau Ivan tidak lagi sejajar dengan dirinya.
"Itu Bang" ujar Ivan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Iwan.
'Apa yang itu, yang jelaslah kalau ngomong. Masak ngomong sambil kumur kumur ya nggak jelas ujungnya"
Iwan memaksa dan memberikan pengertian kepada Ivan kalau saat bebicara harus jelas apa yang disampaikan agar orang orang yang mendengarnya tidak salah dalam mengambil informasi yang disampaikan oleh siapapun
Iwan kemudian melihat ke arah yang ditunjukkan oleh Ivan memakai bibirnya itu.
"Hah serius tu orang, udah mau cerai masih aja menunjukkan kalau dia bebas." ujar Iwan mengomentari siapa yang dilihatnya sedang duduk di sudut restoran sambil bermanja manja kebetulan sekali restoran dalam ke adaan sepi, jadi apapun yang dilakukan tidak akan ada yang melihatnya.
"Itulah memang dasar wanita gatel" mata Ivan mengumpat mepada Ranti yang terlihat begitu mesra dengan seorang pria di restoran mewah itu.
"Apa mereka nggak mampu ngambil ruangan VVIP atau minimal VIP lah. Ranti kan bos sebuah perusahaan" ujar Ivan yang heran kenapa mereka berdua mau maunya terlihat mesra di depan orang ramai.
"Mampu, tapi kan nggak keren" jawab Iwan dengan santainya.
"Bener"
__ADS_1
"Gue harap kita berjalan terus di depan dia Bang" ujar Ivan yang ingin tetap berjalan di depan Ranti yang terlihat sedang mesra mesranya dengan Anggara di sebuah meja makan bagian pojok restoran mewah itu.
tiba tiba saja, saat Ivan baru mengatakan niatnya, pelayan kafe sudah berhenti tepat di depan pintu ruangan VVIP yang dipesan oleh Iwan.
"Yah batal deh" ujar Ivan dengan nada kecewanya.
Iwan hanya bisa geleng geleng kepala mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan sambil berbisik tersebut.
"Silahkan masuk tuan" ujar pelayan kafe sambil membukakan pintu ruangan VVIP kafe tersebut.
Danu, Iwan dan Ivan masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan yang sangat luas dilengkapi dengan proyektor dan juga peredam suara.
"Ini keren" jawab Danu saat melihat seperti apa ruangan VVIP itu.
Biasanya Danu kalau meeting hanya menyewa ruangan VIP saja, tetapi kali ini ntah dirinya yang salah sebut jenis ruangan, ntah Iwan yang salah denger. Tetapi basing bae, pokoknya mereka nyaman dan aman di sini.
"Silahkan di minum Tuan" ujar pelayan sambil menghidangkan welcome drink yang memang selalu tersedia untuk tamu VVIP maupun tamu VIP.
"apakah makan siangnya akan kami hadirkan sekarang?" tanya pelayan kepada Danu.
"Kalau begitu saya akan tunggu di luar Tuan. Permisi"
Pelayan tersebut pamit dan berjalan menuju keluar dari ruangan VVIP itu.
"Mana Frans nya Dan? Tumben pria itu telat" ujar Iwan yang heran dengan Frans kali ini.
"Biasanya itu anak tidak pernah telat" lanjut Iwan mengutarakan keheranannya kepada Danu.
"Yup, gue juga heran. Nggak biasanya tu anak telat kayak gini kalau janjian"
Danu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul satu siang. Frans telat setengah jam daripada biasanya.
"Macet kali Bang. Sabar"
__ADS_1
I"sok sok sabar lu bray. Padahal dalam hati loe ntah apa yang mau dikatakan"
Kali ini Iwan yang menjawab perkataan dari Ivan. Iwan sangat kenal bagaimana sosok Ivan. Seorang pria yang sangat tidak menyukai orang telat.
Danu mengeluarkan ponsel miliknya. Dia berencana menghubungi Frans menanyakan dimana posisi Frans saat ini.
Tapi sebelum Danu menghubungi Frans, pintu ruangan VVIP telah terbuka dengan lebar. Terlihat seorang pria tampan masuk ke dalam ruangan.
"Sorry bro, gue telat"
Frans langsung saja meminta maaf kepada Danu, Iwan dan Ivan. Frans bisa melihat kalau ketiga orang yang sedang menunggu dirinya itu sudah mulai berubah raut wajahnya. Frans memutuskan untuk meminta maaf terlebih dahulu sebelum semua terlanjur menjadi permasalahan yang baru.
"Tumben loe telat, ada apa?" ujar Danu yang kaget melihat Frans bisa datang terlambat padahal biasanya Frans adalah manusia yang tepat waktu tidak pernah terlambat sedikitpun.
"Jadwal sidang gue molor"
"Kasus yang bener bener rumit"
Ujar Frans menjawab pertanyaan ketiga sahabatnya itu. Frans yang memang sudah terlihat sangat lelah langsung saja duduk sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Gue bener bener capek" jawab Frans.
"Gue nggak nyangka aja, kok bisa persidangan kali ini bikin gue semaput"
"Padahal udah gue takar kalau permasalahan kali ini tidak akan membuat gue bekerja keras. Ternyata oh ternyata gagal"
Lanjut Frans berkata sambil melihat jauh ke depan.
"Apa ada kemungkinannya kalau persidangan Danu juga akan seribet itu?" tanya Iwan yang ntah kenapa bisa bertanya akan hal tersebut.
Padahal seharusnya Iwan tidak menanyakan hal itu.
"Tergantung. Kalau semua bukti sudah Oke, maka masalah itu akan cepat selesai. Tetapi saat masalah itu kurang Oke, maka ya akan seperti tadi" jawab Frans sambil meminum welcome drink yang disediakan oleh pelayan restoran.
__ADS_1
"Apa bukti bukti dari pihak loe tidak cukup kuat sehingga persidangan itu berjalan alot sekali?" ujar Danu yang terbayang kalau bukti bukti mereka tidak cukup kuat maka peluang untuk bercerai dengan Ranti akan menyempit.
"Bukti paling kuat itu adalah video. Kalau sudah ada itu gue jamin deh. Hakim nggak akan bisa bertanya banyak banyak. Apalagi kalau sudah dibuat surat keaslian bahwa video itu adalah asli. Maka tidak perlu diragukan lagi, semua akan selesai dalam waktu cepat" ujar Frans menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Danu kepada dirinya.