Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Keputusan Danu


__ADS_3

"Lho kenapa?"


"Dasar cewek sialan. Dia bawa selingkuhannya ke rumah gue. Dia ngawe di kamar gue. Gila nggak tu perempuan" kata Danu dengan kesalnya.


"Hah? Serius loe?"


"Gue nangkap basah sendiri. Mereka sedang indehoy di kamar gue. Bayangin di kasur gue." kata Danu makin kesal.


Oe juga yang ogeb, nggak berani ambil keputusan. Sebenarnya apa yang bikin loe takut ambil keputusan. Heran gue" kata Iwan.


"Iya bang. Gue juga heran. Tinggal cerai selesai masalah" kata Ifan mendukung Iwan.


"Loe berdua nggak tau masalahnya cobak"


"Makanya cerita. Kalau diam ya mana kami tau" kata Iwan.


"Jadi sebenarnya. Gue kan dijodohin dari dulu sama Ranti. Bokap gue utang nyawa sama bokap Ranti. Nah pas bokap Ranti sakit parah, Ranti di paksa nikah sama gue. Gue berjanji sama bokap Ranti untuk terus menjaga Ranti"


"Sekarang bokap Ranti kan udah meninggal. Loe bebas dong untuk melepas Ranti"


"Bebas. Cuma Ranti yang nggak mau gue ceraikan"


"Kok?"


"Yup. Kalau Ranti gue ceraikan karena masalah terdapat di Ranti maka warisan Ranti jatuh ke tangan anak gue semuanya. Tapi kalau salah di gue maka harta warisan bagi dua." kata Danu.


"Pelik banget itu. Jadi gara gara itu Ranti nggak mau loe cerei?"


"Yup"


"Kalau gue jadi elo. Gue tetap mintak pisah. Semua harta gue serahin ke dia" kata Iwan.


"Gue mau pisah. Dia yang nggak mau."


"Tapi loe belum ngomong itu kan?"


"Belum" Jawab Danu.


"Makanya bilang aja yang tadi gue saranin. Dia takut hartanya ilang itu." kata Iwan.

__ADS_1


"Gue cobak aja"


Mereka kemudian masuk ke dalam mobil Danu. Mereka berkeliling ibu kota. Setelah lelah berkeliling tanpa tujuan, tiga pria itu langsung pulang ke rumah Iwan. Mereka sepakat untuk beristirahat di sana.


Pagi harinya, Danu yang bangun lebih dulu, langsung mandi dan memakai pakaiannya. Setelah itu Danu membangunkan dua karyawannya. Iwan dan Ifan mandi bergantian.


"Gue duluan ya. Mau jemput Vina" kata Danu.


Iwan dan Ifan kemudian berangkat dengan motor mereka masing masing.


Vina sudah menunggu Danu di depan kontrakan, dia membawa empat kotak bekal sarapan.


Tin tin tin bunyi klakson Danu.


"Nglamun sayang?" kata Danu.


Vina tersenyum dan langsung masuk ke dalam mobil Danu. "Ngelamunin kamu sayang" kata Vina dengan lembut.


"Udah mulai ngegombal sayang?"


"Dikit" jawab Vina.


Danu kemudian melajukan mobilnya menuju kantor. Sampai di kantor Vina lebih dahulu turun dari Danu. Vina tidak ingin ada gosip yang beredar di kalangan karyawan kantor. Danu yang paham dengan pilihan Vina merasa bersyukur Vina memilih jalan itu, jadi Danu tidak perlu menyembunyikan Vina dari semua orang. Vina sendiri yang memilih sembunyi dari orang luar.


"Danu mana Vin?" kata Iwan yang heran melihat Vina masuk sendirian ke dalam ruangan tanpa Danu.


"Biasa kak palingan singgah dimanapun yang dia suka" kata Vina sambil tersenyum.


Vina meletakkan di atas meja ke empat kotak sarapan yang dibawanya dari kontrakan. Vina kemudian membuat tiga cangkir kopi dan satu cangkir teh hijau.


"Dan, nyangkut dimana loe tadi?" kata Iwan.


"Nggaknada nyangkut. Siapa bilang gue nyangkut?"


"Noh Vina. Katanya biasa kak palingan nyangkut dimana. Gitu kata Vina" kata Iwan mengompori Danu.


"Wah jelas nyangkut lah. Nyangkut di resepsionis. Resepsionis baru yang cantik itu" kata Danu sambil menatap Vina.


"Bang Iwan nanti aku mau ke ruangan marketing ya. Katanya manager baru yang tampan itu barusan masuk" kata Vina tidak kalah semangatnya.

__ADS_1


"Serah kalian berdua aja. Gue nurut aja" kata Iwan.


Mereka kemudian menyantap sarapan yang sudah dibawakan Vina. Mereka makan dengan sangat laHap. Vina selalu bisa memasak masakan yang nikmat. Contohnya hari ini, Vina membuat bubur ayam yang luar biasa enak.


"Dan, loe kalau nikah dengan Vina, gue jamin loe akan gendut. Kayak babi bunting loe." kata Iwan


"Setuju bang. Tapi kita juga aman bang. Sarapan di traktir. Makan siang juga. Mayan hemat dua kali makan bang" kata Ifan.


Mereka selesai sarapan, kemudian kembali bekerja. Kerjaan hari ini sangat banyak. Tidak ada waktu untuk berleha leha bagi karyawan bagian perencanaan.


Danu terlihat bermenung, dia memikirkan perkataan Iwan semalam. Setelah lelah berpikir dan memutuskan akhirnya Danu sudah membulatkan tekat akan menyelesaikan masalh itu sekarang juga. Danu kemudian mengambil kunci mobilnya.


"Sayang mau kemana?" kata Vina yang melihat Danu memasang jas kerjanya.


"Mau ketemu dengan utusan perusahaan Z. Mau ikut?"


"Nggak ah. Kerjaan ku banyak. Sayang nanti kalau kerjaan ku udah selesai, kamunya belun balek kantor, aku pulang naik taksi aja ya?"


"Di antar Iwan sama Ifan aja" kata Danu.


"Wan, loe nanti antar Vina pulang. Gue ada meeting di luar" kata Danu memerintah Iwan.


Iwan menyipitkan matanya tanda heran, setau Iwan hari ini tidak ada meeting apapun dengan perusahaan manapun. Danu mengangkat ponselnya sebagai tanda aku beritahu lewat pesan.


"Siap" kata Iwan menjawab dua perintah dari Danu.


"Hati hati pulang naik motor sayang. Kamu doakan aja aku sukses ya" kata Danu.


"Selalu sayang. Semoga kamu selalu sukses dalam pekerjaan mu" kata Vina.


Danu kemudian melangkahkan kakinya dengan keteguhan hati yang sudah bulat. Dia tidak ingin membuat masalah ini makin hari makin parah. Danu sudah harus mengambil sikap. Danu sudah memutuskan kalau dia akan bercerai. Masalah harta dia akan menyerahkan keseluruhan kepada Ranti. Dia tidak akan mengambil satu sen pun.


"Emang ada meeting ya bang sekarang? Aku rasa nggak ada." kata Vina yang merasa heran dengan alasan Danu tadi.


"Kayaknya ada perubahan kegiatan Vin. Aku aja baru tau sebentar ini." kata Iwan menutupi kebohongan Danu.


"Oh" jawab Vina yang masih ragu dengan jawaban Iwan.


Tapi Vina tidak mungkin meragukan Danu. Danu selalu jujur kepada Vina. Vina kemudian langsung duduk di kursi kerjanya kembali. Dia akan kembali menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda itu. Mereka bertiga kembali serius berdiskusi tentang rancangan sebuah taman bermain. Vina yang paling antusias. Dia merancang sebuah taman bunga sesuai dengan impiannya. Iwan yang melihat Vina serius mengerjakan pekerjaannya. Berdoa di dalam hatinya.

__ADS_1


"Semoga Danu cepat menyelesaikan permasalahannya Vin. Jadi status kamu menjadi jelas. Semoga saja kamu mengetahui status Danu saat Danu sudah menyelesaikan masalahnya. Kalau nggak, tidak terbayang oleh kami bagaimana marah mu kepada kami bertiga" kata Iwan.


Ifan kemudian menatap Iwan. Iwan mengedipkan matanya. Ifan langsung paham kalau Danu sedang pergi menyelesaikan masalahnya dengan istrinya. Ifan pun berdoa semoga Danu cepat menyelesaikan masalahnya dan Vina memiliki status yang jelas.


__ADS_2