Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Maya cari masalah


__ADS_3

Seminggu telah berlalu, Maya sama sekali belum ada kesempatan untuk berbicara dengan Vina. Vina selama seminggu ini terlalu sibuk dengan semua aktifitasnya di perusahaan. Begitu banyak proyek yang harus dikerjakan mereka. Makanya Maya masih belum ada kesempatan untuk berbicara dengan Vina.


Tapi hari ini Maya sudah membulatkan tekad untuk berbicara dengan Vina. Dia akan menemui Vina di perusahaannya. Maya tidak ingin mengundur waktu lagi, lebih cepat maka lebih baik bagi mereka untuk pergi ke negara I membeli semua perlengkapan.


Vina dan Sari sudah pergi semenjak selesai sarapan hari ini setau Maya dari Sari, Vina tidak memeliki agenda kegiatan keluar dari perusahaan. Dia seharian akan berada diperusahaan.


"Gue akan sogok Vina pakai masakan. Semoga dia mau mengabulkan keinginan gue untuk pergi ke negara I." ujar Maya dengan semangat.


Maya berdiri dari duduknya, dia langsung menuju dapur, terlihat di dapur ada Bik Ima dan Rina yang sedang menikmati sarapan mereka yang tertunda karena ada pekerjaan penting yang harus mereka lakukan tadi pagi.


"Eh Non Maya. Ada apa Non? Perlu bantuan kami?" tanya Rina sambil menatap kearah Maya.


"Nggak Rin santai aja. Aku lagi ingin masak makan siang untuk Vina dan Sari. Udah lama banget rasanya nggak masak makan siang untuk mereka." ujar Maya.


Maya kemudian mengeluarkan bahan bahan masakan yang diperlukannya dari dalam lemari pendingin. Dia ingin memasak ayam mentega saus rica rica ditambah dengan mie goreng dan acar. Maya mengeksekusi semua menu makan siang itu. Maya memasak sambil menari nari kecil di dapur. Dua pelayan rumah dan seorang tukang kebun hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan Nona Muda mereka yang sebentar lagi akan menjadi Nyonya Muda di rumah besar.


Tepat pukul setengah sebelas, semua masakan Maya telah selesai dieksekusi.


"Rina tolong bantu aku untuk memasukkan masakan ini kedalam rantang bekal ya. Untuk kamu dan yang lainnya udah aku tarok ke dalam piring." ujar Maya memberitahukan permintaannya kepada Rina.


"Siap Nona." ujar Rina.


Maya yang sebenarnya tidak suka dipanggil Nona hanya bisa pasrah saja. Sudah berkali kali dia mengatakan panggil Maya saja, tetapi semua orang di rumah ini termasuk orang yang kekeh dengan panggilan mereka. Jadinya Maya terpaksa harus pasrah dengan keadaan.


Maya menuju kamar pribadinya, dia akan menukar pakaiannya yang sudah bau itu dengan pakaian baru yang bersih. Maya juga sudah memesan taksi online untuk menuju perusahaan. Dia tidak ingin menyusahkan Pak Hans dengan kembali lagi ke rumah.


"Waduah aku lupa bekal untuk Pak Hans." ujar Maya sambil menepuk jidatnya.


Maya bergegas menyiapkan dirinya. Dia ingin melihat apakah Rina sudah selesai memasukkan semua masakan ke dalam piring atau belum. Kalau belum maka dia akan meminta Rina untuk memisahkan seporsi guna diberikan kepada Pak Hans.


"Udah loe bungkus semua Rin?" tanya Maya saat melihat rantang bekal sudah rapi di atas meja bar.


"Sudah Nona. Emang ada apa ya?" tanya Rina.


"Apa ada yang salah?" tanya balik Rina.


"Nggak, aku lupa untuk Pak Hans." ujar Maya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


"Oh untuk Pak Hans. Jangan khawatir Nona, Pak Hans sudah disiapkan oleh istri tercintanya. Nona tinggal tolong bawakan saja." ujar Rina sambil menunjuk rantang kecil yang ada di sebelah rantang bekal untuk Vina.


"Wah tipe istri penyayang suami itu Bik Ima." ujar Maya sambil tersenyum.


Dari halaman depan terdengar klakson mobil.


"Aku duluan Rin. Taksi onlinenya udah sampe." ujar Maya sambil menenteng kedua rantang yang sudah disiapkan oleh Rina tadi.


"Nona Maya naik taksi online?" tanya Rina sambil menatap Maya.

__ADS_1


"Yup. Sekali sekali nggak apalah naik taksi online. Males ngerepotin Pak Hans." ujar Maya.


"Hati hati Nona." ujar Rina.


Maya kemudian masuk ke dalam taksi online yang tadi dipesan olehnya. Rina kemudian masuk kedalam rumah besar itu kembali.


"Perusahaan CT Grub Nona?" tanya sopir taksi memastikan tujuan Maya sesuai dengan tujuan diaplikasi pemesanan.


"Bener Pak. Mohon agak cepat sedikit ya Pak." ujar Maya saat melihat jam tangan miliknya sudah menunjukkan angka setengah dua belas.


"Oke Nona." jawab sang sopir.


Sopir menginjak pedal gas mobilnya sedikit lebih dalam. Dia tidak ingin mengecewakan penumpangnya yang terlihat sangat ingin cepat sampai itu. Tidak membutuhkan waktu lama mobil telah sampai di depan perusahaan CT Grub. Maya turun dari taksi, dia menyerahkan ongkos dan melebihkan sedikit untuk uang tips sang sopir.


"Loh Nona Maya kenapa nggak telpon saya kalau mau ke sini. Jadi sayakan bisa jemput Nona." ujar Pak Hans terkejut melihat Maya yang datang memakai taksi online.


"Santai aja Pak Hans. Tidak masalah juga kale. Oh ya ini ada titipan dari istri tercinta Pak Hans." ujar Maya sambil menyerahkan rantang bekal milik Pak Hans.


"Maaf istri saya merepotkan Nona." ujar Pak Hans yang sedikit terlihat marah ke Bik Ima.


"Jangan marah ke Bik Ima Pak Hans. Saya yang nyuruh Bik Ima untuk menyiapkan bekal Pak Hans." ujar Maya yang nggak ingin Pak Hans marah ke Bik Ima.


"Makasi Nona sudah direpotkan oleh Saya dan istri saya." ujar Pak Hans.


"Nggak ada yang repot Pak Hans. Saya masuk dulu ya." ujar Maya.


Vina dan Sari yang sedang menunggu lift mereka heran saat melihat lift sedang naik menuju lantai ruangan.


"Siapa yang datang Sar?" tanya Vina yang heran melihat semua itu.


"Gue juga nggak tau Vin. Rasanya nggaknada agenda meeting hari ini." ujar Sari yang juga menatap heran lift tersebut.


Saat mereka berdua terheran heran dengan siapa yang berada di dalam lift. Saat itu pintu lift terbuka ternyata yang keluar adalah seseorang yang tidak mereka sangka akan datang saat jam makan siang dengan rantang besar berada di tangannya. Vina dan Sari menatap Maya dengan tatapan tajam dengan maksud yang sama yaitu marah.


"Pakai apa ke sini?" tanya kedua wanita cantik itu bersamaan.


"Waduah kompak banget. Apa jangan jangan punya kekasih yang sama juga ya? Atau gebetan yang sama." ujar Maya berusaha mengalihkan amarah orang berdua yang sekarang berdiri terlihat luar biasa menjulang di depannya.


"Jangan pengalihan masalah. Loe ke sini pakai apa?" tanya Vina dengan nada tinggi.


"Aduh kalian berdua bener bener kebangetan ya. Bukannya nyuruh gue masuk ke dalam malah diintrogasi di depan pintu. Nggak nengok apa gue capek bawain kalian bekal." ujar Maya sambil mengangkat rantang bekal yang dibawanya dari rumah.


"Udahlah capek bawain bekal. Eeeeee malah dimarahin. Kalian nggak sopan." ujar Maya dengan nada yang dibuat buat seperti sedang kesal.


Maya yang tangannya udah kebas karena membawa rantang bekal makan siang, langsung saja menerobos masuk ke dalam ruangan Vina.


"Kalian kalau masih mau marah, silahkan marah ke tembok." ujar Maya dari dalam ruangan Vina.

__ADS_1


Vina dan Sari kemudian masuk kedalam ruangan Vina kembali. Mereka berdua benar benar nggak habis pikir dengan keputusan yang diambil oleh Maya. Vina dan Sari duduk di sofa yang masih kosong. Mereka berdua menatap tajam ke arah Maya yang sudah menyiapkan bekal makan siang.


"Oke oke oke. Gue ke sini naik taksi online karena nggak mau ngerepotin Pak Hans. Kasian dia harus meter muter. Loe kira nggak capek harus hilir mudik aja tiap hari." ujar Maya.


"Udah udah sekarang makan aja lagi. Gimanapun gue laper nengok ayam yang menggugah selera ini." ujar Sari sambil menunjuk ayam mentega yang terlihat begitu lezat.


"Hem nampak ayam langsung semangat. Eee tadi juga semangat ngasih tatapan membunuh. Nasib gue emang begitu banget." ujar Maya sambil menatap Sari dan Vina.


"Loe ulang sekali lagi gue bener bener marah lagi Maya. Loe bisakan nelpon Pak Hans untuk minta jemput. Ini negara asing Maya sayang, kalau loe kenapa kenapa gimana kata Bapak dan Ibuk ke gue." ujar Vina sambil menatap Maya.


"Iya maaf Vin. Besok nggak gue ulang lagi." ujar Maya sambil menautkan kedua jarinya di depan wajah Vina.


"Kalau loe ulang?" tanya Vina.


"Gue pulang ke negara I." ujar Maya sambil tersenyum.


"Mau loe." jawab Vina kesal.


"Hahahahahaha." Maya tertawa bahagia saat melihat wajah kesal Vina.


Mereka melanjutkan makan siang mereka yang tertunda karena kelakuan Maya yang main pergi ke perusahaan naik taksi online.


"Vin ada yang mau gue omongin ke elo." ujar Maya dengan nada serius.


"Apa?" ujar Vina.


"Pembangunan kafe udah hampir selesai. Kita hanya tinggal membeli furnitur saja lagi. Jadi...." ujar Maya sengaja menggantung ucapannya.


"Jadi apa?" tanya Vina.


"Ya jadi." jawab Maya kembali.


"Jadi kapan ke negara I kan ya?" tanya Sari.


"Top." ujar Maya mengangkat kedua jempolnya untuk Sari.


"Dua hari lagi ya Maya cantik. Besok ada meeting nah besoknya kita berangkat." ujar Vina yang sebenarnya semangat untuk pergi tetapi masih sedikit menyimpan luka di hatinya.


"Nggak gue ikut." ujar Vina yang tidak mungkin membiarkan Maya sendirian ke negara I.


"Nah itu baru keren." ujar Maya.


"Gue juga ikut ya" Sari menawarkan dirinya untuk ikut ke negara I.


"Boleh." jawab dua wanita itu dengan serentak.


Setelah selesai makan siang bersama. Vina dan Sari kembali bekerja. Mereka hari ini memang tidak ada agenda keluar. Tetapi pekerjaan di dalam masih banyak. Terlebih dua hari lagi mereka akan ke negaraI sekitar satu minggu. Jadi semua pekerjaan harus mereka selesaikan dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2