
Mereka berdua kemudian melanjutkan obrolan ringan antara mereka berdua. Ivan dan Maya menikmati perjalanan berdua mereka. Besok mereka akan terbang ke ibu kota. Lusa mereka akan terbang ke negara U. Hari bertemu hanya dua hari lagi. Maya bertekad ingin menggunakan hari yang dua hari itu dengan sebaik baiknya.
"Sayang, menurut kamu, apakah hubungan Danu dengan Vina bisa diperbaiki?" tanya Maya kepada Ivan yang sedang serius membawa mobil.
"Kenapa kamu tanya hal itu?" ujar Ivan kaget Maya menanyakan hal itu kepada dirinya.
"Nggak ada cuma nanyak aja. Kayak kita berdua kan masih bisa kita memperbaiki hubungan berdua. Apa mereka tidak bisa melakukan hal yang sama dengan kita?" ujar Maya menyampaikan pemikirannya.
"Sayang, kalau permasalahan kita berdua masih bisa kita atasi, karena permasalahan kita tidak seberat permasalahan mereka. Kamu sendirikan tau bagaimana permasalahan mereka." ujar Ivan menjawab pertanyaan Maya.
"Itulah sayang. Aku kasihan dengan Vina. Saat kami di negara U, Vina lebih banyak termenung, Vina terlihat masih terpikir masalah dirinya dengan Danu.
" Sayang, sekarang semuanya berada di tangan Danu. Apakah Danu masih plin plan untuk mengambil keputusan mengakhiri hubungan dengan Ranti, kalau masih, ya Danu harus bersedia kehilangan Vina." kata Ivan
"Semoga Danu mengambil keputusan yang tepat sayang. Kasihan Vina." ujar Maya yang sangat mengetahui bagaimana sepak terjang percintaan Vina.
Mereka kemudian terdiam. Perjalanan menuju kota P, sebentar lagi akan sampai.
"Kita ke hotel dulu ninggalin barang barang, baru setelah itu kita ke tempat teman lama kamu mengembalikan mobilnya, gimana? " tanya Ivan kepada Maya.
"Setuju. Lagian segini banyak barang barang gimana mau bawanya. Jadi, mending kita antar dulu ke hotel, siap itu baru kita anterin mobil Dian." kata Maya yang setuju dengan apa yang dikemukakan oleh Ivan.
Ivan melajukan mobilnya menuju HS Hotel. Hotel yang biasa digunakan mereka semua.
"Sayang, apa nggak bosen setiap nginap selalu di HS Hotel?" tanya Maya yang heran Ivan selalu menginap di hotel yang sama setiap kali keluar kota.
"Hahahaha. Nggak sayang, mana ada bosan. Kan udah berkali kali aku ngomong, kalau nginap disitu asik. Tempatnya keren dan bagus. Ditunjang dengan view yang disajikan. Bagi aku yang terpenting pelayanan mereka yang sangat keren." ujar Ivan yang memang selalu menginap di hotel yang sama setiap kali berpergian ke luar kota.
"Yayayaya. Kalau masalah itu semua aku sangat yakin hotel HS keren. Aku juga seneng nginap di sana." jawab Maya yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ivan.
Dua mobil itu memasuki kawasan hotel HS. Ivan sudah melakukan booking tiga kamar. Jeri yang dari pertama menginap tidak pindah pindah sudah menunggu kedatangan Juan untuk memberitahukan pekerjaan yang diminta oleh Juan untuk dilakukan Jeri tadi siang.
__ADS_1
Mereka semua kemudian turun dari dalam mobil. Sopir dibantu bellboy menurunkan barang barang dari bagasi mobil Maya. Sedangkan pemilik barang sudah berada di lobby hotel menunggu Ivan yang sedang chek in kamar.
"Sayang, aku harus ke bandara sebentar." ujar Juan kepada Sari yang sedang memainkan ponsel miliknya.
"Ngapain sayang?" tanya Sari sambil meletakkan ponsel ke atas meja.
"Ada sesuatu yang terjadi dengan pesawat?" tanya Sari sambil menatap Juan.
"Nggak sayang. Pesawat dalam kondisi oke. Cuma harus memastikannya saja." ujar Juan yang tidak ingin membuat Sari semakin cemas.
"Aku kira kenapa kenapa sayang. Kamu hati hati pergi ya. Sampe kasih kabar." ujar Sari sambil memberikan senyumannya kepada Ivan.
"Nanti aku ke bandara, kita akan pergi membeli buah tangan untuk ke rumah Ayah besok saat kita sampai di ibu kota." ujar Sari berbisik di telinga Juan.
"Oke. Aku tunggu di bandara aja." ujar Juan.
Juan kemudian pergi ke bandara dengan Jeri. Mereka berdua akan memastikan kembali keadaan pesawat sebelum terbang besok.
Vina dan yang lainnya masuk ke dalam kamar, mereka akan beristirahat sebelum memulai kembali aktifitas mereka nanti sore.
"Pak, saya sendiri saja yang mengendarainya. Bapak tunggu di sini saja. Saya akan pergi dengan Juan." kata Sari yang akan membawa mobilnya sendirian menuju bandara.
Sari melajukan mobilnya dalam kecepatan sedang. Dia akan menuju bandara menjemput Juan. Mereka berdua akan berjalan jalan seputaran kota P.
Sari memberhentikan mobilnya di lapangan parkir. Juan ternyata sudah menunggu Sari dari tadi.
Sari menghubungi Juan.
"Sayang dimana?" tanya Sari saat Juan mengangkat panggilan telpon dari dirinya.
"Ini di depan pintu masuk ke berangkatan dalam negeri Sayang." ujar Juan memberitahukan dimana posisi dia berdiri sekarang.
__ADS_1
"Oh baiklah. Aku ke sana sekarang." ujar Sari yang kembali melajukan mobilnya menuju tempat Juan berada.
"Sayang" ujar Sari memanggil Juan yang berdiri di sebelah mobilnya.
"Turun. Aku yang bawa mobil" ujar Juan yang selalu tidak mau disupiri oleh Sari kemanapun mereka pergi selama ini.
"Hahahaha. Iya sayang iya. Aku tau kebiasaan kamu seperti apa. Jangan tinggi emosi ya." ujar Sari yang langsung turun dari dalam mobil.
Sari masuk ke kursi penumpang, sedangkan Juan langsung duduk di kursi sopir. Juan melajukan mobil menuju pusat kota. Mereka berdua akan menghabiskan waktu hanya berdua saja tanpa ada sahabat sahabat mereka yang sekarang sedang beristirahat.
"Kemana? " tanya Juan menatap Sari.
"Makan dulu aja. Aku lapar. Tadi hanya makan cemilan saat menunggu sore." ujar Sari yang memang sama sekali belum makan semenjak mereka dari kota B.
"Oke. Kita makan di rumah makan ikan bakar aja gimana?" ujar Juan yang memang pernah mencoba makan di sana.
"Terserah aja sayang. Terpenting enak. Laper ini." ujar Sari sambil memegang perutnya.
"Hahahahaha. Kamu memang lucu sayangku. Nggak ada satupun yang kamu tutup tutupi dari aku." Ujar Juan yang sangat suka dengan sikap Sari yang ini. Sari sama sekali tidak pernah menutup nutupi sikapnya dari Juan. Sari selalu bersikap apa adanya.
Juan memarkir mobilnya di depan warung ikan bakar. Juan dan Sari turun dari dalam mobil, mereka masuk ke dalam restoran dengan bergandengan tangan.
"Bang, ikan bakar dua" ujar Juan memesan menu ikan bakar untuk mereka makan sore hari ini.
Pelayan menghidangkan pesanan Juan dan Sari. Mereka kemudian makan makanan yang sudah mereka pesan.
"Kemana lagi?" ujar Juan menatap Sari.
"Ngalor ngidul ajalah. Nggak jelas juga mau kemana." ujar Sari yang sama sekali tidak dapat gambaran mau pergi kemana hari ini.
"Hahahahaha. Raun raun aja tuh?" ujar Juan.
__ADS_1
"Yup. Kita nggak tau mau kemana, makanya pergi raun raun aja." jawab Sari.
Akhirnya mereka berdua kembali masuk ke dalam mobil dan menikmati beraun raun di sepanjang jalan yang ada. Mereka sama sekali gak tau mau kemana hari ini.