
Ejek aja teruz ampe puas." ujar Ivan kepada Ayahnya.
"Jadi Wan, kamu ke sini mau tau dimana Vina?" kata Ayah sambil menatap tajam kearah Iwan.
Iwan menundukkan kepalanya. Dia tau dia salah, semua permasalahan ini tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya. Kenapa juga dia ingin tau dimana Vina sekarang.
"Ngapain nunduk Wan, nggak masalah juga kalau kamu mau tau dimana Vina. Tapi satu hal ya Wan, jangan pernah katakan ke Danu dimana Vina berada. Apa kamu bisa pegang janji?" Ayah menatap wajah Iwan.
"Bisa." jawab Iwan dengan yakin dan membalas tatapan tajam Ayah.
"Oke. Ivan aja yang cerita." ujar Ayah.
"Ayah. Kan ide semua dari Ayah, bukan dari Ivan." kata Ivan menjawab perintah Ayahnya.
Ayah hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya mendengar jawaban dari anak sulungnya itu.
"Kita mulai dari kenapa bisa Ayah yang menjadi dirut di perusahaan." Ayah memulai untuk bercerita.
"Sebenarnya yang seharusnya menjadi dirut adalah Danu. Tetapi pada saat itu dia menikah dengan Ranti. Sehingga pikiran Danu terbelah antara perusahaan dengan perusahaan Ranti."
"Kamu tau kan kalau Papi Ranti berpesan kepada Danu untuk mengurus perusahaannya? Sehingga dia memilih untuk melepas jabatan direktur perusahaan."
"Saat itu Ayah Danu menghubungi Ayah yang sudah berada di negara U untuk memimpin perusahaan. Ayah akhirnya kembali ke negara ini dengan berat hati. Terlebih lagi, saat itu Bunda Ivan baru hitungan bulan meninggal, akhirnya karena desakan demi desakan dari Ayah Danu, Ayah mengalah dan memilih untuk bolak balik negara I dan negara U." Ayah menceritakan awal mula dia menjadi dirut perusahaan.
"Ayah langsung ke inti aja. Ndak usah nostalgia. Lama jadinya." Ivan mengingatkan Ayahnya, Ivan tau Ayahnya ini kalau sudah bercerita masa lalu akan sangat panjang dan menghabiskan cukup banyak waktu.
"Yayayaya. Jadi perkara kenapa Vina dan Maya bisa sampai di negara U, itu semua adalah ide dari Ayah."
"Kok bisa?" tanya Iwan dengan spontan.
"Jadi, hari itu Ayah tidak sengaja mendengar Ranti bercerita kepada selungkuhannya di kafe, dia sudah tau kalau Danu sudah punya pacar. Sehingga dia mau ngelabrak Vina ke rumahnya. Saat itu Ayah sama sekali tidak tau rumah Vina dimana dan Ayah juga tidak tau harus berbuat apa." ujar Ayah.
"Kan nggak lucu tiba tiba Ayah memanggil Vina dan mengatakan kalau dia akan dilabarak seseorang. Makanya saat itu Ayah tidak bisa melakukan apapun." lanjut Ayah.
"Kenapa Ayah tidak ngoming ke Danu?" tanya Iwan.
__ADS_1
"Ke Danu? Kamu tau sendiri Danu seperti apa. Jadi, saat itu akhirnya Ayah membiarkan saja apa yang akan dilakukan Ranti kepada Vina."
"Setelah semuanya terjadi, Ayah memperhatikan Danu sama sekali tidak berusaha menjelaskan kepada Vina, ditambah lagi pada saat itu Deli juga jatuh sakit."
"Ayah akhirnya memutuskan untuk memindahkan Vina ke negara U bekerja di perusahaan Ayah." kata Ayah menceritakan kepada Iwan.
"Kenapa tidak ke anak cabang lainnya aja Ayah pindahkan?" tanya Iwan.
"Ke anak cabang lainnya akan mudah Danu menemukan. Ayah ingin Danu mengambil keputusan yang paling tepat dalam hidupnya. Setelah dia memutuskan apakah akan melanjutkan rumah tangganya atau memilih untuk melanjutkan dengan Vina."
"Setelah dia memutuskan hal itu, barulah Danu akan Ayah pertemukan dengan Vina." kata Ayah sambil tersenyum tipis.
"Wow hanya satu kata untuk Ayah. Keren." ujar Iwan sambil mengangkat kedua jempolnya.
"Orang seperti Danu memang harus diberi pelajaran. Kalau tidak dia akan lemah seperti itu terus. Sekali sekali dikerjai asik juga. Apalagi saat melihat dia panik mencari Vina, itu sesuatu yang wow." kata Ayah yang malahan membuat Iwan tercengang.
"Ngomong ngomong apa kalian sudah makan?" tanya Ayah yang melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan.
"Gimana mau makan, dari tadi kan ngobrol terus." jawab Ivan.
Iwan memandang Ivan.
"Tenang aja Bang, palingan nanti loe mencret terus muntah muntah setelah makan masakan Ayah. Gue aja pernah dirawat seminggu di rumah sakit karena makan masakan Ayah." ujar Ivan.
Iwan bergidik ngeri.
"Ayah, apa tidak sebaiknya kita pesan makanan atau makan di luar aja?" kata Iwan yang takut mengambil resiko jadi sakit hanya karena makan masakan Ayah dan mengakibatkan pekerjaannya terbengkalai.
"Coba aja dulu Wan. Kalau nanti kamu sakit, Ayah antar ke rumah sakit dan di rawat di ruangan VVVIP. Mau berapa V nya terserah kamu aja nanti." ujar Ayah semakin membuat Iwan kalang kabut.
Iwan terdiam sesaat. Dia sudah tidak ada akal lagi untuk menolak memakan masakan Ayah. Mau kabur lebih tidak mungkin lagi, akhirnya jalan satu satunya Iwan ikut saja makan malam.
Ayah mengeluarkan semua bahan bahan yang diperlukannya untuk masak. Setelah itu Ayah menyiapkan semuanya. Ayah terlihat sangat cekatan dalam mengolah semua bahan. Ayah seperti orang yang telah lama bergelut dengan yang namanya memasak. Iwan jadi curiga kalau dia tadi sudah ditipu oleh Ivan tentang cerita masakan Ayah.
Saat Ayah sibuk memasak di dapur, Ivan dan Iwan juga sibuk bermain ponsel mereka. Apalagi Ivan yang terlihat senyum senyum sendiri saat melihat ponsel miliknya.
__ADS_1
"Apa yang bikin loe senyum senyum sendiri?" tanya Iwan penasaran dengan isi ponsel milik Ivan yang sukses membuat Ivan senyum senyum sendiri.
"Mau tau aja atau mau tau sekali? Hahahahaha" Ivan geli sendiri mendengar apa yang diucapkannya.
"Mau tau sekali Bang. Ayolah Bang." ujar Iwan menjawab dengan gaya genitnya.
"Ih jijik gue denger." kata Ivan sambil mengusap usap tengkuknya yang nggak gatal sama sekali.
Ivan memberikan ponsel miliknya kepada Iwan. Tapi belum sempat Iwan melihat video tersebut.
"Makan malam siap. Cepat." ujar Ayah berteriak dari meja mini bar.
"Nanti aja Bang. Loe akan melihat teriakan lebih menggelegar lagi kalau kita tidak datang secepatnya." ujar Ivan sambil mengambil ponselnya dari tangan Iwan.
"Serius Loe?" tanya Iwan.
"Serius gue Bang." jawab Ivan sambil berjalan menuju mini bar.
Iwan mengikuti langkah Ivan. Dia melihat di atas meja udah terhidang berbagai macam makanan yang terlihat luar biasa lezatnya.
"Jangan ketipu dari tampilannya Bang. Nggak menjamin." ujar Ivan mulai menakut nakuti Iwan.
"Mari makan." kata Ayah.
Ivan terlihat mengambil potongan daging steak paling kecil. Iwan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Ivan. Sedangkan Ayah mengambil daging yang besar.
Iwan dengan ragu memasukkan potongan stek itu ke dalam mulutnya. Ivan mengunyah dengan ragu. Tapi betapa kagetnya Iwan dengan rasa yang ditemuinya.
"Ini wow. Loe ngerjai gue?" ujar Iwan kepada Ivan.
"Hahahahaha. Sorry Bang." ujar Ivan.
Ayah hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan anaknya itu. Ivan selalu melakukan hal yang sama kepada siapapun yang baru datang untuk mencicipi makanan yang dibuat Ayah.
Iwan mengambil potongan stek yang besar. Dia tidak mau dikerjai oleh Ivan lagi.
__ADS_1
Sedangkan di kampung, Vina, Sari dan Maya sedang bermain di ladang Vina.