Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Makan Malam #


__ADS_3

Sari telah selesai bersiap siap. Dia tampil cantik dengan memakai dress warna ungu muda warna favoritnya selain warna baby pink.


"Cantik kali loe Sar, mau kemana?" tanya Maya kepada Sari.


"Mau keluar bersama Juan. Kamu nggak jadi keluar May?" tanya Sari kepada Maya yang masih belum siap siap.


"Nggak jadi, tadi Ivan ngasih kabar kalau dia ada kerjaan yang harus diselesaikan nya malam ini." Ujar Maya dengan nada ceria.


"Loe kecewa?" tanya Sari.


"Nggaklah. Lagian Ivan kerja juga untuk kebaikan gue kan ya. Ngapain gue marah. Gue udah capek marah marah terus aja." ujar Maya yang sekarang lebih bersikap dewasa dalam mengambil sikap.


"Keren loe. Gue suka dengan pola pikiran loe yang sekarang." ujar Sari memuji Maya yang memang sudah berubah.


Vina yang baru saja bangun melihat Sari yang sudah berpenampilan cantik menatap lama ke arah Sari.


"Mau kemana?" tanya Vina


"Pergi dengan Juan sebentar. Loe gue tinggal dengan Maya ya." ujar Sari.


"Loe nggak jadi pergi?" tanya Vina beralih kepada Maya.


"Nggak. Kata Ivan dia ada kerjaan yang harus diselesaikan nya cepat." ujar Maya menjawab pertanyaan Vina.


"Oh baiklah. Gue kira gue akan tinggal sendirian di sini." Ujar Vina yang tadi memang berpikiran akan tinggal sendirian di rumah Ivan.


"Gue berangkat dulu ya." ujar Sari setelah membaca pesan chat dari Juan yang mengatakan kalau dia telah berada di lobby apartemen.


Sari kemudian turun menuju lobby apartemen. Dia akan menemui Ivan di sana. Mereka berdua akan berangkat menuju apartemen tempat Ayah tinggal.


"Pake apa sayang? " tanya Sari saat sudah bertemu dengan Juan di lobby apartemen.


"Mobil Iwan." jawab Juan memberitahukan dengan apa dia kesini.


"Oh. Ayuk jalan Ayah dan Ivan sudah menunggu. Kamu siap sayang?" tanya Sari kepada Juan.


"Selalu siap sayang." jawab Juan memastikan kepada Sari kalau dia siap untuk bertemu dengan calon Ayah mertuanya itu.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil. Juan memasangkan seltbelt Sari. Setelah memastikan Sari aman, Juan baru melajukan mobilnya menuju apartemen Ayah Sari.


"Kamu cantik" ujar Juan memuji Sari dengan tulus.

__ADS_1


"Kamu juga sangat tampan hari ini." kata Sari belas memuji Juan.


Mobil terus melaju menuju apartemen Ayah.


"Sayang kemana lagi?" tanya Juan saat mereka sampai di persimpangan jalan.


"Lurus aja sayang nggak ada pake acara belok belok. Nanti apartemen Ayah terletak di sebelah kiri. Gedung yang tinggi itu." ujar Sari memberitahukan dimana posisi apartemen Ayahnya.


Juan melajukan mobilnya mengikuti arah yang ditunjukkan oleh Sari.


"Sayang gedung depan masuk. Itu apartemen Ayah." ujar Sari menunjukkan lokasi gedung apartemen Ayahnya berada.


Juan kemudian membelokkan mobilnya masuk ke dalam parkiran gedung apartemen Ayah Sari. Juan memarkir mobil di berteman apartemen.


"Sayang parkir situ aja. Situ tempat parkir milik Ayah." Ujar Sari menunjukkan tempat parkir khusus milik Ayah dan Ivan.


Juan memarkirkan mobil Iwan di tempat parkir yang ditunjukkan oleh Sari. Setelah memarkir mobil di tempat itu, Juan dan Sari kemudian turun dari dalam mobil. Mereka berjalan bergandengan tangan menuju lobby apartemen.


"Selamat malam Nona. Ada yang bisa kami bantu?" ujar resepsionist apartemen.


"Kami mau bertemu dengan Tuan Wijaya, apakah kami bisa langsung masuk atau harus menunggu Tuan Wijaya mengizinkan?" tanya Sari yang melalui protokol cara bertamu di apartemen tersebut.


"Akan saya hubungi dulu Nona. Bisa tolong sebutkan nama lengkap Nona? " tanya resepsionist.


Resepsionist menatap Sari.


"Kalu begitu langsung saja Nona, tidak apa apa." ujar resepsionist yang malu karena tidak mengetahui kalau orang yang berdiri di depannya saat ini adalah anak pemilik gedung tempat dia bekerja.


"Makasi mbak." ujar Sari sambil tersenyum.


Sari dan Juan kemudian menuju lift. Sari menekan kombinasi tombol lift yang akan mengantarkan dirinya ke panthouse milik Ayahnya.


"Jadi Ayah tinggal di Panthouse? " tanya Juan.


"Yup. Tapi Ayah nggak akan lama lagi tinggal di sini. Ayah juga akan pindah ke negara U. Aya hanya tinggal menunggu Danu mengambil alih perusahaan yang di sini." ujar Sari bercerita kepada Juan.


"Oooo. Aku kira Ayah masih akan lama lagi tinggal di sini." ujar Ivan.


Ting. Pintu lift terbuka. Sari dan Juan keluar dari lift. Mereka langsung sampai di depan pintu Panthouse milik Ayah.


Sari memasukkan kode untuk membuka pintu Panthouse. Ayah dan Ivan yang tau Sari sudah datang telah menunggu mereka berdua di sofa ruang tamu. Sari dan Juan kemudian masuk ke dalam panthouse.

__ADS_1


"Ayah" ujar Sari berteriak saat melihat Ayahnya yang sedang duduk di sofa.


"Kamu masih sama. Kamu kira rumah Ayah ini hutan pake acara teriak teriak seperti itu." uajr Ayah sambil geleng geleng kepala melihat tingkah anak bontot nya.


"Hehehehehehe." ujar Sari tertawa.


"Ayah perkenalkan ini Juan" ujar Sari memperkenalkan Juan kepada Ayahnya.


"Juan" ujar Juan sambil bersalaman dengan Ayah.


"Ayah" jawab Ayah yang langsung setuju dengan Juan.


"Mari duduk nggak capek pake acara berdiri lama lama? " Kata Ivan mengajak yang lainnya untuk duduk di sofa.


"Ayah, Sari ada beli sesuatu untuk Ayah." ujar Sari sambil mengangkat paperbag yang berisi hadiah untuk Ayahnya.


"Apa?" ujar Ayah yang penasaran dengan hadiah yang diberikan oleh Sari.


"Rencana mau belikan coklat. Tetapi karena Ayah udah terkena diabetes makanya Sari lebih milih membelikan Ayah keripik." ujar Sari sambil memberikan keripik lado yang dibelinya di kota B untuk Ayah.


"Makasi sayang. Kamu memang beneran anak Ayah walaupun kita tidak serumah. Ini ada yang serumah nggak ingat sama sekali membelikan Ayahnya makanan. Ntah apa yang ada di dalam pikirannya" Ujar Ayah menyindir Ivan yang memang tidak ada membawa oleh oleh apapun untuk Ayah.


"Alah sekarang aja ngomong. Aku tinggalin di sini sendirian mau?" Ujar Ivan mulai menakut nakutin Ayah untuk tinggal sendirian di Panthouse.


"Yah pake ngancem dia." ujar Ayah.


"Jadi, Ivan yang membuat Maya kabur Sar?" Ayah mulai kepo dengan apa yang terjadi.


"Iya Ayah. Malahan alasan yang diberikan ke Maya bener bener alasan yang wow." Ujar Sari mulai bergosip dengan Ayah.


Ivan dan Juan saling menatap dan menggeleng geleng kan kepala mereka tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Ayah dan Sari.


"Emang apa alasannya?" Tanya Ayah mulai kepo.


"Katanya dia ada meeting penting sehingga tidak bisa angkat atau balas pesan chat." ujar Sari memberitahukan alasan yang diberikan Ivan kepada Maya.


" Mana ada. Dia aja ngobrol di sini dengan Ayah dan Iwan. Meeting apaa." Ujar Ayah menatap Ivan.


"Hem sekarang bahas aku atau bahas siapa coba" Ujar Ivan yang tidak paham agenda makan malam hari ini untuk membully dirinya atau untuk membicarakan masalah Sari dan Juan.


"Hahahahahaha. Dia kesal" ujar Ayah dan Sari kompak.

__ADS_1


Ayah dan Anak itu kemudian bertos ria karena telah berhasil membuat Ivan menjadi kesal. Jarang jarangnya mereka berdua bisa membuat Ivan kesal. Sekalinya mereka bertemu makan dengan berbagai cara mereka harus bisa membuat Ivan menjadi luar biasa kesal.


__ADS_2