Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kejahilan Iwan


__ADS_3

Iwan yang berjalan dengan santai menuju meja resepsionis akhirnya telah sampai di sana. Iwan menatap tersenyum ke arah dua orang resepsionis yang sedang duduk menatap layar komputer. Mereka berdua sedang membuat laporan kedatangan para pegawai dan juga tamu yang datang ke perusahaan.


"Hay dua nona cantik yang luar biasa cantik sekali, apa saya bisa meminta tolong kepada Anda berdua? Saya sangat butuh bantuan anda berdua kali ini" tanya Iwan kepada kedua resepsionis yang memang sangat cantik itu.


Kedua orang resepsionis itu memandang ke arah Iwan. Tidak biasanya salah satu arsitek yang terkenal dingin itu menyapa mereka dengan begitu ramahnya. Apalagi dengan memakai pujian seperti tadi.


"Mau ya" ujar Iwan kembali berusaha membujuk kedua resepsionis itu untuk mau menolong dirinya melancarkan aksi yang sebentar lagi akan dilakukan oleh Iwan.


kedua resepsionis saling memandang. mereka memang sudah sangat lama ingin disapa oleh Iwan. tetapi sayangnya Iwan seperti sangat dingin kepada mereka berdua.


"Kami mau nolong Tuan Iwan. Tapi jawab dulu, pertanyaan kami berdua" ujar resepsionis memberikan penawaran berikutnya kepada Iwan.


Iwan menatap mereka berdua. Iwan kemudian menarik satu alisnya ke atas dan memberikan senyum tipisnya. Kelakuan Iwan ini sukses membuat kedua resepsionis pusing dan menjerit di dalam hatinya karena melihat tingkah konyol Iwan yang menjadi tanda tanya di kehidupan mereka.


"Jadi mau tanya apa?" ujar Iwan sambil menatap kedua resepsionis itu dengan tatapan seperti orang mau memakan kedua resepsionis tersebut.


"Kenapa selama ini Tuan Iwan tidak pernah menyapa kami? Kemudian kenapa sekarang tiba tiba Tuan Iwan menyapa kami?" ujar salah seorang resepsionis kepada Iwan sambil membalas menatap Iwan dengan tatapan tajamnya.


"Itu bukan satu pertanyaan cantik tapi dua" ujar Iwan sambil mengangkat dua jari ke depan wajah kedua resepsionis cantik itu.


"Satu bonus tampan" ujar resepsionis yang tadi mengajukan pertanyaan kepada Iwan.


"Oke bonus satu" jawab Iwan yang langsung setuju dengan pengajuan yang diberikan oleh kedua resepsionis tersebut.


"Bukan tidak mau menyapa. Saya paling takut menyapa wanita cantik. Tetapi kalau menyapa wanita biasa mah gampang" jawab Iwan yang ntah dari mana mendapatkan ide seperti itu untuk menjawab pertanyaan dari kedua resepsionis tersebut.


"Hahahaha. Tuan Iwan bisa aja ngasal jawabnya" ujar resepsionis yang tadi memberikan pertanyaan kepada Iwan.

__ADS_1


"Jadi apa bisa saya minta bantuan kepada kalian berdua?" tanya Iwan kepada kedua resepsionis sambil menatap dengan tatapan memohon untuk di kabulkan permintaannya itu.


"Oke. Kamu bantu. Apa yang bisa kami bantu untuk Tuan Iwan yang terkenal dingin selama ini?" ujar resepsionis yang dari tadi hanya dia saja yang berbicara. Sedangkan temannya yang satunya lagi hanya diam saja tanpa berbicara sama sekali.


"Aku mau kalian berdua mengunci ruangan aku sekarang. Itu aja. Gampangkan?" ujar Iwan mengemukakan kepada kedua orang itu apa yang diinginkannya dan mau disampaikanbya kepada kedua resepsionis.


Kedua resepsionis memandang ke arah Iwan. Pandangan mereka menyiratkan pertanyaan yang memang sudah diketahui oleh Iwan sejak sebelumnya.


"Memang ada wanita di dalam ruangan kami. Tapi wanita itu luar biasa ngeyel saat aku mengatakan kalau Tuan Danu tidak ada di tempat" ujar Iwan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kedua resepsionis melalui tatapan mata yang diberikan kepada Iwan.


"Pasti Tuan Iwan tidak suka dengan dia" ujar resepsionis yang dari tadi bertanya kepada Iwan.


"Ya sama sekali tidak suka. Apa kalian berdua bisa membantu Aku?" lanjut Iwan bertanya kepada kedua resepsionis itu.


"Yup bisa. Kami berdua bisa membantu Tuan Iwan. Kami berdua juga sangat jengkel dengan gaya sombongnya tadi" lanjut resepsionis yang sekarang memiliki kesempatan untuk membalas kesombongan Ranti dengan lunas melalui rencana Iwan.


"Oke Tuan Iwan, akan kami lakukan" ujar resepsionis dengan semangat.


Resepsionis itu kemudian menekan sebuah tombol yang terletak di atas meja kerjanya. Dengan seketika tanpa diketahui oleh orang dari dalam ruangan tempat pintu yang akan ditutup, pintu langsung tertutup sendiri, orang yang berada di dalam ruangan tidak akan menyadari kalau pintu ruangannya sudah terkunci dari luar.


Iwan yang melihat rencananya berhasil, kemudian memberikan senyuman terbaiknya kepada kedua resepsionis tersebut. Iwan sangat puas dengan apa yang terjadi.


"Kalian berdua memang yang terbaik. Besok akan aku ajak makan ke luar saat jam istirahat kantor" ujar Iwan sambil menatap sekilas ke sebelah resepsionis yang dari tadi hanya diam saja


Iwan sangat penasaran dengan suara indah resepsionis yang satu itu. Tetapi sayangnya dari tadi dia hanya diam saja. Tidak satupun kata kata ke luar dari bibir indahnya itu.


"Yah besok saya libur Tuan. Bagaimana kalau lusa?" ujar resepsionis yang dari tadi terus berbicara kepada Iwan.

__ADS_1


"Yah saya yang nggak bisa karena harus pergi meeting" jawab Iwan sambil melihat ke arah resepsionis tersebut.


"Berarti belum jodoh" lanjut resepsionis tersebut menjawab perkataan yang diajukan oleh Iwan kepada dirinya.


"Kapan kapan aja lagi"


"Besok saat kamu bisa,,, kabari aku,, biar kita makan bersama" lanjut Iwan yang tidak mau dikatakan hanya memanfaatkan mereka saja.


"Asiap Tuan Iwan"


"Kami akan memberitahukan kepada Tuan Iwan,, kalau jadwal kita cocok" kata resepsionis yang sebenarnya sangat menyesal tidak bisa hadir besok.


Mereka bertiga kemudian berbincang sebentar. Iwan terlihat beberapa kali melihat ke arah jam tangannya. Dia terlihat sudah ingin berangkat dari tempat itu. Tetapi sayangnya, kedua wanita itu masih belum juga menyelesaikan apa yang diceritakan oleh mereka bertiga.


Resepsionis yang dari tadi diam saja memberikan kodenya kepada rekannya untuk diam, karena Iwan sudah ingin berangkat dari tempat itu.


"Oh Tuan Iwan mau jalan?" kata resepsionis sambil melihat ke arah Iwan.


"Ya, saya jalan dulu" kata Iwan meminta izin untuk meninggalkan mereka berdua.


Iwan kemudian berjalan menuju mobilnya. Dia masih penasaran sekali dengan resepsionis yang dari tadi diam saja. Ingin rasanya Iwan mengajak resepsionis itu untuk mengobrol, tetapi karena Iwan masih memikirkan gengsi dia laki laki, sehingga membuat dia mengurungkan niatnya untuk berbicara dengan resepsionis tersebut.


Iwan kemudian mengambil ponsel miliknya dari dalam saku celana. Dia kemudian mencari nomor ponsel Danu. Iwan mau menceritakan semua kejadian yang terjadi hari ini kepada Danu.


Iwan kemudian menekan nomor tersebut. Dia menunggu panggilannya diangkat eh Danu yang sedang berada di negara U. Iwan sudah tidak sabar lagi untuk menceritakan hal yang terjadi saat ini kepada Danu.


Iwan sangat yakin kalau Danu pasti akan tertawa mendengar apa yang akan diceritakan oleh dirinya sebentar lagi.

__ADS_1


__ADS_2