Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Danu dan Ivan Galau


__ADS_3

"Ivan, loe beneran nggak ikut makan siang?" tanya Iwan yang melihat Ivan masih sibuk di depan komputer miliknya yang masih menyala dan menampilkan pekerjaan yang memang harus selesai dalam minggu ini.


"Nggak Bang, loe lanjut aja pergi dengan Bang Danu, gue nitip nasi Padang dan es teh aja." jawab Ivan sambil melihat sebentar ke arah Iwan. Walaupun dia sedang serius bekerja, tetapi Ivan tidak akan melupakan tatakrama saat berbicara dengan seseorang, dia tetap akan melihat ke arah lawan bicaranya.


"Masalah nasi Padang masalah gampang, sekarang kenapa loe bersikeras harus menyelesaikan kerjaan itu sekarang, bukannya masih dua hari lagi akan dipresentasikan?" tanya Iwan lagi.


"Ada sesuatu Bang." jawab Ivan yang nggak mau Iwan tau kalau Maya ada di sini sekarang.


"Noh ponsel loe bunyi." ujar Iwan saat melihat lampu ponsel Ivan berkedip.


Ivan membaca pesan chat yang dikirim oleh Maya kepada dirinya, Ivan langsung melongos saat membaca pesan chat itu. Dia mati matian ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya agar bisa pergi dengan Maya, eee tu anak sedang pergi ke kampung Vina yang Ivan tau jauhnya. Apalagi Maya mengatakan akan pergi dalam beberapa hari.


Ivan yang baru saja membaca pesan chat itu langsung menyimpan pekerjaannya dan mematikan komputer miliknya. Iwan hanya bisa melihat dengan keheranan.


'Tadi semangat banget mau kerja, sekarang tiba tiba setelah baca pesan chat langsung down, kayaknya ada sesuatu neh' ujar Iwan di dalam hatinya saat melihat kelakuan Ivan yang absurd itu.


"Ayuk Bang, gue jadi ikut dengan kalian pergi makan siang." ujar Ivan dengan semangat dan langsung memakai jaket miliknya.


"Nah loe, tadi loe nggak mau ikut." ujar Danu yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sekarang mau Bang, gue kehabisan ide untuk mengerjakan desain itu" ujar Ivan yang asal comot alasan saja.


"Okelah kalau gitu, mari kita berangkat." ujar Danu.


Mereka bertiga kemudian pergi menuju rumah makan Padang tempat mereka biasa makan siang semenjak tidak ada Vina ataupun Maya membawakan bekal makan siang mereka.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah makan, para pelayan menghidangkan semua sambal yang ada. Danu tetap dengan sambal favoritnya yaitu dendeng baracik, sedangkan Iwan dengan sambal gulai tunjang dan Ivan dengan gulai itiak lado mudo. Mereka bertiga makan dengan sangat lahapnya


"Dan, gimana dengan rencana direktur yang mau keluar dari kantor, dan bunyinya dia akan memberikan jabatan direktur kepada loe?" tanya Iwan yang mendengar desas desus di kantor.


"Rencananya memang iya Wan, kasihan Paman gue udah kelihatan sangat tua dan kelelahan mengurus perusahaan, saatnya gue yang mengambil alih, tapi sepertinya Paman akan pergi akhir bulan ini. Makanya gue harus mencari satu lagi tambahan karyawan selain yang sudah dicarikan oleh Paman." ujar Danu menjawab pertanyaan Iwan.


"Jadi direktur sama keluar dengan gue dong ya Bang?' ujar Ivan yang sama sekali tidak tau dengan rencana Ayahnya itu.

__ADS_1


"Sepertinya Van, Paman mau kembali ke Negera U berkumpul dengan sepupu gue." ujar Danu memberitahukan kepada kedua sahabatnya direktur mau pindah kemana.


"Oooo. Emangnya sepupu abang sebesar siapa?" tanya Ivan penasaran, apakah Danu masih ingat dengan kedua sepupunya atau tidak.


"Sebesar kamu Van, tapi kami sudah lama tidak bertemu, terakhir bertemu waktu mereka masih bayi, sampai sekarang kami tidak pernah bertemu lagi." ujar Danu menceritakan kapan terakhir dirinya bertemu dengan dua sepupunya.


"Jadi mereka kembar?" tanya Iwan yang dari tadi menyimak pembicaraan antara Danu dan Ivan.


"Yup mereka kembar, namanya Ivan dan Sari." ujar Danu yang masih mengingat siapa nama sepupunya itu.


"Wah sama dengan nama gue ya bang?" ujar Ivan yang sedikit merasa senang, karena Danu masih mengingat nama mereka.


"Iya Van, sama dengan loe. Semoga aja mereka masih ingat dengan gue." ujar Danu.


"Yang namanya Saudara tidak akan saling melupakan Bang, walaupun mereka berjauhan." kata Ivan sambil menatap jauh ke depan.


"Udah yuk balik kantor, kerjaan masih banyak." ujar Danu mengajak ke dua karyawannya balik ke kantor.


"Hay, suamiku, gimana kabar pacar kamu yang sok alim yang ternyata oh ternyata." ujar Ranti dengan gaya mengejeknya.


Danu hanya diam saja, dia tidak mau melayani Ranti.


"Nggak bisa jawab ya, karena udah ditinggalkan demi pengusaha yang sangat kaya raya." lanjut Ranti berusaha mengompori Danu.


"Maksud loe apa?" tanya Danu yang akhirnya termakan umpan Ranti.


'Hahahaha. Kepancing juga loe' ujar Ranti dalam hatinya.


"Maksud gue, beberapa hari yang lewat gue nampak dia dengan pacar staff loe ini serta satu orang wanita lagi. Oh loe tau nggak gayanya, pakaiannya udah seperti sosialita banget. Udah kayak orang kalangan atas." kata Ranti mulai menghangatkan suasana.


"Kalau menurut analisa gue ya, dia sekarang pasti menjadi simpenan om om kaya luar negeri." Ranti melanjutkan ceritanya dan makin memanas manasi Danu.


"Loe ketemu dimana?" tanya Aris lagi.

__ADS_1


"Gue ketemunya di bandara khusus pruvet jet di Negara Uea. Nah loe bayangin aja, orang kayak dia bisa punya privet jet. Nggak mungkinkan dia nyewa privet jet hanya untuk jalan jalan doang. Mana ada dia uang." lanjut Ranti dengan nada yang terlihat sangat jelas untuk membuat Danu marah.


"Negara UEA?" tanya Danu tidak percaya mendengar apa yang dikatakan Ranti.


"Yup bener. Malahan gue sempat ribut dengan dia, saat gue menanyakan dia dapat uang dari mana sehingga bisa berpakaian bermerk semua dan pergi dengan privet jet. Tau nggak loe, dia emosi, marah marahin gue. Kalau dia nggak simpanan om om kaya, ngapain dia marahkan ya ke gue. Dia bisa jawab baik baik." ujar Ranti yang memutar balikkan fakta dalam percakapannya dengan Danu.


"Eeee kutu kupret, mana ada Vina bisa ngata ngatai orang. Kalau Anda gue percaya bermilyar milyar persen kalau Anda mampu mengata ngatai orang." sambar Ivan yang sudah panas mendengar apa yang dikatakan oleh Ranti.


Ivan mengetahui semua kejadian, karena Sari sudah menceritakan kepada dirinya, saat kejadian itu baru saja selesai. Tambah lagi saat dia menjemput Vina dan yang lain ke Bandara, Maya juga sudah menceritakan cerita sebenarnya.


"Dasar loe, loe yang simpenan om om, eeeee sekarang balik ngomongin orang. Udah deh simpenan teriak simpenan. Loe kira kami goblok." lanjut Ivan menyerbu Vina.


"Loe sekarang simpanan bandot tua dari perusahaan Z kan, supaya perusahaan loe nggak bangkrut." ujar Ivan langsung membuat wajah Ranti memerah.


"Asal aja loe." ujar Ranti lagi.


"Gue jarang ngasal karena gue bukan tukang membalikan fakta kayak elo. Kalau elo memang tukang membalikan fakta. Loe mau bukti??? Nah gampang itu. Mau gue kirim sekarang atau besok??" tanya Ivan dengan menggertak Ranti.


"Oh nggak asik sekarang, pas agenda sidang loe aja kali ya. Agar sahabat gue ini bisa bersih kembali namanya. Jadi sabar ya Nyonya simpenan, semua akan ke bonglar di pengadilan." ujar Ivan sambil mencolek pipi Ranti.


Ivan yang selesai mencolek pipi Ranti langsung menyemprot tangannya dengan handsanitaizer.


"Ngapain loe?" tanya Iwan heran.


"Virus bang. Takut nular. Makanya harus dibasmi." ujar Ivan sambil menahan tawanya.


"Hahahahahaha. Bakteri kali tu orang." ujar Iwan.


Ranti yang tadi ingin membuat malu Vina langsung berbalik arah. Serangan kembali mendarat kepada dirinya. Dia benar benar nggak habis pikir dengan staff Danu yang satu itu. Manusia yang selalu bisa membuat serangan Ranti berbalik kepada Ranti kembali.


"Udah ayuk balik.ke perusahaan." ujar Danu.


Semenjak mendengar kata kata Ranti tadi, Danu berubah menjadi murung. Ingin sekali.Ivan mengatalan yang sebenarnya, tetapi dia tidak ingin mempermudah jalan Danu. Ivan ingin Danu berjuang mendapatkan cintanya. Mengubah kepahitan Cinta menjadi Manisnya Merengkuh Cinta.

__ADS_1


__ADS_2