
Aku mencintaimu" ujar Maya kepada Ivan.
"Aku sangat mencintai kamu dan akan selalu mencintai kamu. " jawab Ivan
Sepasang kekasih itu kemudian berpelukan. Mereka telah menyelesaikan masalah yang menerpa mereka saat ini.
Saat sepasang kekasih itu telah menyelesaikan masalah mereka berdua. Tiba tiba pintu kamar diketuk seseorang. Ivan melepaskan pelukannya dari Maya. Ivan membuka pintu kamar.
Vina dan Sari serta Iwan dan Juan masuk ke dalam kamar Maya. Maya yang sedang duduk di atas ranjang menatap Vina. Dia kemudian memeluk Vina.
"Maafkan aku Vin." ujar Maya yang kembali menangis.
Vina memeluk Maya. Seseorang yang sudah dianggapnya menjadi adik kandungnya sendiri. Vina mengusap punggung Maya berusaha menenangkan Maya dari tangisnya.
"Sudahlah Maya. Gue nggak marah sama loe. Kemaren kemaren memang iya. Tapi, tolong jadikan ini pelajaran ya. Jangan ulangi lagi. Kalau ada masalah diskusikan, bukan main kabur kuburan terus posting di media sosial" ujar Vina menenangkan Maya.
Vina kemudian melepaskan pelukannya dari Maya. Mereka duduk di atas ranjang. Sari duduk di dekat Vina.
"Sari maafin gue ya." ujar Maya meminta maaf kepada Sari.
"Gue salah. Nggak seharusnya gue main kabur saja tadi. Seharusnya gue kemaren tidak langsung pergi. Maafin gue ya." Ujar Maya dengan bersungguh sungguh.
"Oke. Tapi lain kali jangan dilakuin lagi. Untung aja loe bukan calon kakak ipar gue. Kalau iya, gue mikir untuk menjadikan loe sebagai kakak ipar gue." ujar Sari sambil melirik Ivan.
Ivan membesarkan matanya kearah Sari. Dia tidak menyangka Sari akan mengatakan hal itu kepada Maya.
"Sudah berhubung semua sudah baikan. Sekarang boleh Abang tanya sesuatu ke Maya. Ini beneran ngeganjel." Ujar Iwan.
"Boleh Bang. Apa? " Tanya Maya menatap Iwan.
"Kamu dari kota P ke sini naik apa? " Tanya Iwan kepada Maya.
"Ooo. Aku sampai di kota P nginap di rumah Dian teman lama aku dan Vina di kampung. Nah, Dian lah yang meminjamkan mobilnya kepada aku." Jawab Maya sambil menatap Ivan dengan tatapan meminta maaf.
Ivan mengangguk, Ivan sudah bisa menerima apa yang dilakukan oleh Maya beberapa hari yang lalu.
"Jadi, sekarang kita akan kemana lagi? Kita habiskan waktu satu hari ini untuk liburan. Nanti malam kita baru on the way ke kota P." ujar Ivan memberitahukan agenda mereka hari ini.
"Ke jenjang seribu" ujar Vina dengan semangat.
"Kebun binatang" Kata Sari yang ntah kenapa punya ide untuk ke kebun binatang.
Ivan dan yang lain langsung menatap ke arah Sari yang dengan santainya mengatakan untuk pergi ke kebun binatang.
"Yakin loe pengen pergi ke kebun binatang? " ujar Vina menatap ke arah Sari.
"Yakin" Jawab Sari yang ternyata sangat bersemangat untuk pergi ke kebun binatang.
"Ya udah, sekarang kita sarapan , nanti selepas sarapan baru kita diskusikan lagi kemana kita pergi." ujar Ivan mengakhiri keributan kemana mereka mau pergi nanti siang.
__ADS_1
"Sekalian kemasi semua barang barang. Kita langsung chek out dan pulang ke kota. Besok pagi kita terbang ke ibu kota." Lanjut Ivan memberitahukan agenda mereka untuk besok.
"Oke siap bos" jawab mereka dengan kompak.
Mereka semua kemudian kembali ke kamar masing masing. Ivan tetap di kamar Maya. Dia sudah membereskan barang barangnya sejak semalam. Nanti saat akan menuju restoran untuk sarapan, dia akan singgah mengambil barang barangnya di kamar.
"Sayang, aku sangat bahagia punya sahabat seperti Vina dan Sari. Walaupun mereka mengatakan kalau mereka marah, tetapi mereka tadi bisa memaafkan aku dengan tulus." ujar Maya memuji kedua sahabatnya itu.
"Itu yang namanya sahabat sayang. Walaupun mereka marah, mereka tetap memaafkan kita. Jadi, jangan pernah sia siakan sahabat seperti itu." ujar Ivan kepada Maya.
"Apa barang barang kamu sudah siap?" tanya Ivan kepada Maya.
"Sudah. Mari kita turun." ujar Maya.
Mereka kemudian menuju tempat parkir. Ivan berencana untuk mengendarai mobil Maya ke kota P.
Ivan dan Maya meninggalkan kamar. Ivan menarik koper Maya, sedangkan Maya membawa paperback belanjaannya.
Sebelum menuju parkiran Ivan singgah ke kamarnya terlebih dahulu. Ivan akan mengambil tasnya.
"Gue duluan ke parkiran. Nanti gue tunggu aja di restoran" ujar Ivan kepada Iwan.
"Oke" jawab Iwan.
Ivan dan Maya kemudian menuju lift. Mereka akan langsung menuju parkiran.
Ivan menatap ke arah Maya.
"Apa?" tanya Ivan
"Taragak." jawab Maya.
Ivan menatap Maya. Ivan tidak paham apa makna kata yang diucapkan Maya barusan.
"Artinya? " ujar Ivan
"Kangen" ujar Maya sambil tersenyum.
"Hahahaha. Jadi, sekian hari pergi satu kosa kata itu yang berhasil di dapatkan." ujar Ivan membalas menatap Maya.
"Iya. Hanya satu itu aja." jawab Maya sambil tersenyum.
"Hahahahaha. Ada ada aja." kata Ivan tersenyum.
Mereka akhirnya sampai di parkiran. Ivan memasukkan koper dan paperback ke dalam bagase mobil Maya.
"Sahabat lama kamu baik kali sayang, mau minjemin mobil kepada orang yang nggak pernah tau keadaan jalan di kota B." ujar Ivan tersenyum.
"Aku bersyukur sayang, dikelilingi orang orang baik. Dian juga yang membelikan baju sekoper itu. Saat aku pergi dari ibu kota hanya bawa tas kecil ini saja." ujar Maya mengangkat tas kecil miliknya yang hanya muat dua stel baju aja.
__ADS_1
"Dasar keras kepala." ujar Ivan.
"Tapi cintakan." Ujar Maya.
"Syukur masih cinta. Kalau tidak udah aku buang." jawab Ivan sambil mengacak rambut Maya.
Mereka berdua kemudian bergandengan tangan masuk ke dalam lift. Mereka akan sarapan di lantai dua hotel tersebut.
Ivan dan Maya masuk ke dalam restoran hotel, bersamaan dengan Iwan dan yang lainnya.
"Dari mana Maya? " tanya Sari yang melihat Maya bersamaan datangnya dengan mereka.
"Masukin barang ke mobil." jawab Maya.
Mereka kemudian mengambil sarapan masing masing. Setelah itu mereka memilih membawa sarapan ke balkon restoran. Mereka akan makan di sana. Terlihat tempat itu juga indah dan tepat untuk melihat pemandangan.
Mereka semua menikmati menu sarapan yang telah dipilih. Vina dan yang lain makan sambil diselingi canda tawa diantara mereka.
Setelah makan, Ivan dan Maya menunggu yang lainnya di lobby. Ivan sengaja belum melakukan chek out kamar. Ivan menunggu tiga kunci kamar lainnya. Nanti baru dia akan chek out ke empat kamar sekaligus.
Setelah kunci di terima Ivan barulah Ivan melakukan chek out. Ivan tidak membiarkan Maya membayar tagihan kamarnya sendiri.
Setelah melakukan chek out. Mereka menuju parkiran. Barang barang dinaikkan ke atas mobil Maya. Setelah selesai, barulah kedua mobil itu pergi meninggalkan kota B.
'Jadi kita kemana? ' tanya Maya mengirim pesan chat kepada Vina.
"Sari, Maya nanyak kita kemana? " ujar Vina memberitahukan kepada Sari.
"Langsung ke kota P aja. Malas pergi pergi." ujar Sari yang merasa kasihan dengan Juan.
Besok pagi Juan harus melakukan penerbangan. Kalau mereka masih main hari ini, sudah bisa dipastikan Juan akan merasa terlalu letih. Walaupun Juan akan mengatakan tidak letih, tapi Maya tidak mungkin tega dengan Juan.
Vina menghubungi Maya. Dia malas mengetik pesan.
"May, katakan ke Ivan, kita langsung ke kota P saja. Kami malas jalan jalan." ujar Vina memberitahukan keputusan yang diambil mereka di mobil.
"Oke sip" jawab Maya.
"Sayang, kata mereka kita langsung ke kota P saja. Mereka tidak ingin main kemana maan." ujar Maya.
"Oke sip." jawab Ivan.
"Jadi, saat kamu mengemudikan mobil sendiri kemaren, siapa yang jadi penunjuk jalan? " tanya Ivan yang penasaran kok bisa Maya kemana mana dengan mobil di kota B padahal dia tidak tau jalan.
"Pakai map lah. Kan ada di sini." ujar Maya sambil menunjuk aplikasi map yang tersedia di mobil Dian.
"Oooo. Pantesan." jawab Ivan lagi.
Mereka berdua kemudian melanjutkan obrolan ringan antara mereka berdua. Ivan dan Maya menikmati perjalanan berdua mereka. Besok mereka akan terbang ke ibu kota. Lusa mereka akan terbang ke negara Untuk. Hari bertemu hanya dua hari lagi. Maya bertekad ingin menggunakan hati yang dua hari itu dengan sebaik baiknya.
__ADS_1