Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Belum Saatnya Terbang


__ADS_3

"Jam berapa sih, kok matahari udah keluar aja" ujar Maya yang baru bangun dari tidurnya. Maya tidak sadar sekarang sudah jam berapa.


Maya menggosok gosok matanya dengan punggung tangannya. Mata Maya melihat jam dinding kamar yang ternyata jarum jamnya sudah menunjuk angka sembilan.


"Hah? Serius itu jam? Masak iya udah jam sembilan aja." ujar Maya yang kaget melihat jam dinding kamar nya yang menunjukkan angka sembilan.


"Mati paling itu jam" uajr Maya yang tidak percaya dengan jam dinding di kamarnya. Maya kemudian meraih ponselnya yang ada di nakas. Ternyata memang sudah jam sembilan pagi.


"Makan sereal pun okelah untuk mengganjal perut" ujar Maya yang benar benar dalam keadaan lapar.


"Nona Maya, itu ada nasi uduk, tadi di masak oleh Nona Vina untuk sarapan" ujar Bik Ina memberitahukan kepada Maya kalau ada nasi uduk untuk sarapannya.


"Oh makasi Bik." ujar Maya menaruh kembali sereal yang telah dipegangnya.


"Nona Vina jam berapa berangkat tadi Bik?" tanya Maya yang jelas tidak akan melihat Vina di rumah pada jam seperti ini.


"Seperti biasa Nona. Nona kelihatan sasangat lelah sekali. Apa perlu Bik Ina buatkan air jahe panas Nona?" tanya Bik Ina kepada Maya.


"Bik Ina kasih ajalah aku gula aren nya. Nanti aku buat sendiri di kafe" ujar Maya yang segan merepotkan Bik Ina.


"Biar bibik aja yang buat Non, buatnya bentar juga. Nanti bibik masuki ke dalam termos kecil, biar panas terus" ujar Bik Ina.


"Oke lah Bik" ujar Maya yang tidak bisa menolak keinginan Bik Ina yang kekeh tetap ingin membuatkan Maya air jahe


"Bik Ina, nampak Pak Hans?" tanya Maya yang dari tadi tidak melihat Pak Hans ada di rumah.


"Ada Nona. Pak Hans ada di belakang. Nona mau berangkat ke kafe sekarang?" tanya Bik Ina kepada Maya yang memang sudah terlihat mau pergi ke luar.


"Iya Bik. Tolong panggilkan ya. Makasi banyak atas bantuan bibik" ujar Maya sambil tersenyum kepada Bik Ina.


"Sama sama Nona" jawab Bik Ina.


"Nona, ini air jahenya" ujar Bik Ina memberikan termos berukuran sedang kepada Maya.


"Makasih Bik. Aku merepotkan bibik aja pagi pagi" uajr Maya yang masih menyimpan rasa setannya kepada Bik Ina.


"Jangan banyak gaya Nona. Santai aja" ujar Bik Ina sambil kembali menuju tempat cucian. Bik Ina tadi memang sedang mencuci pakaian.


"Yah gue lupa balas pesan chat Ivan" ujar Maya sambil menepuk keningnya sendiri.


'Sayang, maaf tadi malam aku udah ketiduran saat kamu nelpon. Ini juga bru bangun' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Maya kepada Ivan.


'Aku mau ke kafe lagi. Minggu depan hari senen, rencana kafe akan grand opening. Tapi sayangnya kamu nggak ada di sini sayang. Padahal aku sangat berharap kamu ada di dekat aku' pesan chat


'Kamu pasti tidur. Emang susah ndak sayang, perbedaan waktu negara kita. Aku bangun kamu tidur' ujar Maya mengirim pesan chat selanjutnya.


"Nona, kita berangkat sekarang?" tanya Pak Hans kepada Maya yang terlihat sedang senyum senyum sendiri sambil melihat ke ponsel miliknya.


"Oh iya Pak Hans. Kita berangkat sekarang" ujar Maya yang langsung berdiri dari posisi duduknya.


Maya kemudian masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan kalau Maya sudah nyaman duduk di kursinya, barulah Pak Hans mengemudikan mobil menuju kafe.


"Nona Maya, boleh tidak saya menyampaikan pesan Nona Vina untuk Nona?" tanya Pak Hans kepada Maya.


"Boleh Pak. Emang apa pesan Vina kepada Bapak?" ujar Maya kepada Pak Hans. Maya juga pengen tahu apa pesan yang disampaikan oleh Vina kepada Pak Hans. Kenapa tidak Vina langsung yang berbicara kepada Maya, kenapa harus pakai perantara yaitu Pak Hans.


"Kata Nona Vina, Nona Maya tidak boleh terlalu capek. Itu aja pesan Nona Vina tadi saat saya mengantarkan Nona Vina menuju perusahaan" ujar Pak Hans yang telah menyampaikan pesan dari Vina.


"Oh kirain. Sip Pak Hans, aku nggak akan capek capek lagi. Kan angkat angkat yang berat berat udah siap. Kalau yang besar lainnya biar karyawan aja yang angkat lagi" ujar Maya yang paham kenapa Vina melarang dia terlalu letih.


"Vina, Vina ngomong sendiri aja kemaren apa susahnya, ini minta Pak Hans bagai yang ngomong" ujar Maya yang terdengar jelas oleh Pak Hans.


"Nona Maya ini maaf ya. Gimana cara Nona Vina mau ngomong sama Nona Maya. Nona Maya aja belum bangun bangun saat Nona Vina mau pergi ke perusahaan." ujar Pak Hans menjawab perkataan Maya tadi.


"Bener juga ya Pak. Aku bener bener lelah Pak" ujar Maya mengakui kalau dia memang capek banget habis kerja angkat angkat kursi kemaren.


Tak terasa mobil telah berhenti di parkiran kafe. Parkiran yang di set sebegitu nyamannya karena ada pohon pohon yang lumayan tinggi, pohon pohon yang berfungsi sebagai pembatas antara tempat pengunjung duduk dengan kawasan parkiran.


"Pak Hans mau kembali ke perusahaan?" tanya Maya kepada Pak Hans.


"Enggak non. Emang ada apa Nona" Masih ada yang mau dikerjain?" tanya Pak Hans kepada Maya.


"Oh tidak ada apa apa Pak. Malahan saya bersyukur Pak Hans ada di sini sekarang. Jadi saya ada temannya kalau ketiga karyawan itu sibuk dengan kerjaan mereka masing-masing masing" ujar Maya kepada Pak Hans.

__ADS_1


"Asiap Nona. Saya akan selalu ada di sini utnuk membantu Nona Vina dan Nona Maya" ujar Pak Hans.


"Makasi Pak Hans" jawab Maya bersungguh sungguh.


Maya dan Vina sama sama suka berterimakasih kepada siapapun yang telah menolong mereka. Mereka tidak memandang apa dan siapa orang yang menolong, bagi Maya dan Vina setiap orang berstatus sama. Tidak ada yang istimewa.


Mereka kemudian turun dari dalam mobil. Karyawan Maya ternyata sudah melanjutkan pekerjaan mereka kembali. Maya tersenyum bahagia, ternyata dia tidak salah memilih karyawan untuk bekerja di kafe nya itu. Maya tinggal mencari karyawan wanita sebanyak dua orang. Rencana Maya, untuk koki, Maya akan membawa Rina bekerja di kafe mereka, kalau sudah mulai beroperasi.


"Sorry bro, telat bangun" ujar Maya meminta maaf kepada para karyawannya yang sudah bekerja itu.


"Hahahaha, santai aja Nona nggak masalah" jawab salah satu karyawan.


"Kalian sudah sarapan?" tanya Maya kepada karyawannya itu.


"Sudah Nona. Tadi kami sarapan dengan sambal yang Nona buat kemaren." jawab salah satu karyawan yang nganggur bekerja.


"Oh baiklah. Kita lanjut kebut kerja hari ini ya. Saya akan masak makan siang dulu, setelah itu baru saya bantu kalian. Nanti akan ada datang lagi perabotan yang lainnya." ujar Maya memberitahukan kepada karyawan kalau masih ada perabotan akan datang sebentar lagi.


"Nona, barang barang yang Nona beli di negara I kapan mau kita bongkar?" tanya salah satu karyawan yang dipercaya untuk menjadi pimpinan di kelompok mereka yang bernama Hendri.


"Kalau nggak ada kerjaan lagi, bongkar sekarang aja. Di situ ada lampion yang bisa dipasang ke lampu lampu yang ada di bagian luar kafe" ujar Maya menyebutkan apa isi dari sekian banyak. peti peti yang dibawa dari negara I.


"Sedangkan yang piring, gelas dan peralatan makan lainnya, tolong susun di dapur aja. Jadi, nanti selesai masak saya atau koki, kita bisa langsung sajika saja di atas piring piring itu" lanjut Maya menjelaskan kepada Hendri dan beberapa karyawan lainnya.


"Dalam itu ada juga pernak pernik lucu lucu. Taruk di meja bagian dalam saja. Terus ada tempat tisu yang juga lucu lucu" lanjut Maya memberi arahan kepada karyawannya tentang isi dalam peti tersebut.


"Kemudian di sana juga ada lukisan. Nah kalian pasang aja di dinding. Baik di dalam maupun di luar" ujar Maya memberikan arahan kemana lukisan itu akan dipajang oleh karyawannya.


"Lukisan taruh di luar? Hilang gimana Nona?" tanya salah satu karyawan yang takut lukisan mereka di curi orang.


"Kan gerbang di kunci. Lagian negara ini terkenal tidak ada pencurinya. Jadi, santai ajalah. Niat baik pasti hasilnya baik" ujar Maya menjawab keraguan dari karyawannya untuk meletakkan lukisan di luar.


"Nona, kalau kami tidak paham, apa bisa kami bertanya lagi?" tanya Hendri kepada Maya.


Maya memberikan instruksi kepada mereka sangat luar biasa banyaknya. Sehingga membuat mereka gagal paham dengan semua perintah Maya. Mereka takut salah mengerjakan, makanya Hendri bertanya seperti itu kepada Maya.


"Bisalah, masak nggak. Saya kan nggak otoriter Hendri" ujar Maya menjawab pertanyaan dari Hendri.


"Gampang itu, nanti saya akan masak banyak, biar bisa untuk kalian besok pagi, yang penting kerja selesai" ujar Maya kepada semua karyawannya.


"Kalau itu pasti Nona. Kami cari duit di sini. Jadi, kami juga ingin kafe ini maju dan ramai." ujar karyawan lainnya.


Mereka kemudian melanjutkan menata kafe. Sedangkan Maya memasak menu makan siang mereka.


Vina yang telah sampai di lantai tempat ruangannya berada menuju ruangan Sari. Vina mengetuk pintu ruangan, tetapi sama sekali tidak ada sahutan dari dalam. Vina mencoba membuka pintu ruangan Sari, Vina melihat ke dalam ruangan.


"Sepertinya Sari belum datang. Gue pergi meeting dengan siapa nanti ini ya. Mana Pak Hans udah gue suruh pula buat bantu Maya. Seandainya Sari nggak datang, apa mungkin gue pake taksi online pergi merting?"ujar Vina sambil menutup pintu ruangan Sari. Vina tidak melihat adanya Sari di dalam ruangannya itu. Vina melihat belum ada tanda tanda Sari di dalam, meja kerja Sari masih terluhat sangat rapi.


"Bikin malu aja kalau gue harus pergi meeting dengan taksi online. Mending gue minta manager personalia untuk menyiapkan mobil kantor" ujar Vina yang sadar kemudian kalau dia tidak mungkin pergi meeting dengan taksi online. Bisa hancur reputasi perusahaannya nanti.


"ake ruangan aja dulu, pikirkan di sana aja nanti mau pergi meeting memakai apa. Sekarang aku harus mempelajari bahan meeting yang belum sempat aku baca itu." ujar Vina yang masih berharap Sari datang saat dia mau menuju ruangannya.


Vina kemudian melangkahkan kakinya menuju ruangannya sendiri. Dia harus kembali mempelajari bahan bahan yang akan dibawa meeting nantinya.


Vina mencari file tersebut di atas mejanya. Tetapi Vina sama sekali tidak menemukan file tersebut. Malahan Vina membuat meja kerjanya seperti kapal pecah diamuk badai.


"Dimana file untuk meeting itu ya. Gue kan sama sekali belum baca tu bahan. Please gue mohon jangan hilang, jangan bikin panik gue dong" ujar Vina panik karena dia sama sekali belum membaca bahan untuk meeting tersebut.


Vina sangat tidak mau dia berangkat meeting tetapi tanpa modal apapun. Vina tipe perkerja yang perfect jadi setiap apapun pekerjaan yang diterima oleh Vina, akan dilakukan dan dilaksanakan oleh Vina dengan tanggung jawab yang tinggi. Itulah Vina, makanya CT Grub semakin berjaya saat berada di dalam tangan Vina dan Sari. Dua wanita tangguh yang dalam bekerja tidak setengah setengah, melainkan turu full sampai titik darah penghabisan terakhir.


"Gue harus nanyak ke Sari, dimana dia menaruh dokumen dokumen yang akan dibawa untuk meeting hari ini." ujar Vina yang sudah frustasi mencari dokumen itu di tumpukan dokumen dokumen yang selesai dibaca Vina di rumah semalam.


Vina mengambil ponsel miliknya yang dari tadi di dalam tas. Vina melihat ada pesan chat masuk dari Danu. Pesan chat yang sebenarnya sangat dinantikan kedatangannya oleh Vina, tetapi Vina tidak ingin terlihat terlalu menginginkan Danu.


'Pagi Vina. Jangan paksakan betul untuk bekerja, jaga kesehatan, itu paling penting. Satu hal lagi, jangan lupa untuk sarapan sebelum memulai aktifitas' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Danu.


'Makasih atas sarannya. Aku menomorsatukan kesehatan mental dan jiwa. Makanya memilih pergi dari ibu kota' bunyi balasan pesan chat dari Vina untuk Danu dengan terang terangan menyindir Danu. Setelah mengetik balasan pesan yang menohok untuk Danu, Vina meletakan ponselnya kembali di atas meja. Dia melanjutkan mencari file meeting yang dibutuhkan olehnya saat ini.


Danu yang membaca balasan pesan chat dari Vina, merasa tertampar oleh ucapan Vina itu. Danu terdiam dan termenung membacanya. Dia menjadi sangat yakin kalau Vina memang benar benar marah. Makanya Vina melepaskan sedikit sedikit kepada Danu.


'Maafkan aku, aku janji akan menyelesaikannya cepat. Supaya aku bisa mencari kamu secepatnya' bunyi pesan chat balasan dari Danu.Danu menyesal telah melakukan semua itu kepada Vina. Danu tidak menyangka kalau Vina akhirnya akan sesakit ini. Sakit teramat sakit yang susah untuk disembuhkan.


'Oke. Semoga kamu mengambil keputusan yang tepat kali ini' balas Vina kepada Danu. Vina menatap layar ponselnya. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Danu saat membaca pesan chat itu.

__ADS_1


'Kesempatan kedua hanya datang satu kali, tidak ada pengulangan' lanjut pesan chat yang dikirim oleh Vina kepada Danu.


'Aku yakinkan kamu, kalau kamu akan menjadi milik aku. Biarlah sekarang kepahitan sebuah cinta. Besok kemanisan sebuah cinta' balas pesan chat dari Danu kepada Vina.


'Buktiin aja. Aku Terima bukti sekarang bukan janji manis lagi. Capek bro dijanjiin terus' balas chat dari Vina.


Danu tersentak membaca balasan chat dari Vina. Sekali lagi Danu tertampar oleh perkataan Vina. Vina benar benar memberikan tamparan tamparan kecil kepada Danu setiap dia bisa melakukannya. Vina tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang untuk memperbaiki kesalahannya yang kemaren kemaren.


'Maafkan aku, saat semua sudah kembali normal, aku akan pastikan kamu menjadi perempuan paling bahagia di atas bumi' ujar Danu membalas pesan chat dari Vina.


'Ini adalah janji seorang laki laki yang juga berhak untuk bahagia.' lanjut Danu mengirim pesan kepada Vina.


Vina tidak mendengar pesan chat dari Danu. Dia kembali sibuk mencari file yang dibutuhkannya untuk meeting hari ini. Vina sama sekali tidak mengingat ponsel kalau pekerjaan telah memanggilnya untuk bekerja.


"Cari apa loe Vin?" tanya Sari yang baru sampai di perusahaan jam setengah sembilan dengan kantung mata yang terlihat sangat jelas di wajah cantiknya itu kali ini.


"Cari file untuk meeting. Gue lupa dimana gue tarok" jawab Vina sekenanya saja dan melirik sekilas ke arah Sari. Tetapi Vina kembali menatap Sari, Vina mendapati satu hal yang menarik terdapat di wajah Sari kali ini.


"Loe begadang semalam?" tanya Vina kepada Sari.


"Yup.Ini nyiapin untuk presentasi hari ini. Untung aja Juan mau membantu, kalau nggak. Bakalan nggak bangun gue" jawab Sari sambil duduk di sofa dan meminum air mineral yang ada di atas meja.


"Jadi, file presentasi itu sama elo? Gue kira sama gue Sar. Gue udah mabok mencarinya di atas meja kerja." ujar Vina mulai lega saat mendengar kalau semua file untuk meeting sudah di bawa oleh Sari dan juga sudah diselesaikan oleh dia.


Sari melihat ke arah meja kerja Vina yang sudah seperti kapal pecah itu. Beberapa file terlihat berserakan di sana. Ini adalah kali pertama Sari melihat meja kerja Vina yang berantakan tidak beraturan seperti ini. Biasanya meja kerja Vina rapi dan tertata dengan sangat indah. Tidak terlihat kalau di atas meja itu tadi siang telah terjadi pertumpahan pembacaan file file dan dokumen dokumen yang cukup menyita waktu dan juga menyita pikiran Vina.


"Ternyata meja kerja loe bisa juga berantakan Vin. Gue kira hanya meja kerja gue aja yang berantakan" ujar Sari menyuarakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


"Ya bisalah Sar. Gue kan juga manusia yang ada khilafnya" jawab Vina mencomot asal pembendaharaan kata kata yang dimiliki di memory otaknya.


"Jam berapa meeting Sar?" tanya Vina yang harus berhitung dengan jam.


"Jam setengah satu siang katanya. Jadi, kita meeting sekaligus makan siang" ujar Sari menjawab pertanyaan Vina tentang jam berapa meeting akan dilakukan.


"Oh masih lama. Kirain jam sepuluh" ujar Vina yang dari tadi sudah tidak konsentrasi karena takut kalau meeting jam sepuluh sedangkan file untuk meeting tidak diketemukan oleh dirinya


"Makanya tengok tu pesan chat. Gue kan udah ngirim dari jam delapan tadi pesan chat ke elo, kalau meeting jam setengah satu dan filenya gue yang bawa." ujar Sari yang memang sudah memberitahukan kepada Vina melalui pesan chat.


"Mana ponsel loe cobak?" lanjut Sari yang tidak melihat Vina memegang ponsel miliknya.


"Tu di meja. Oh ya Sar, apa semua dokumen yang loe bawa ke rumah udah selesai loe baca?" tanya Vina yang ingat dengan dokumen dokumen yang sangat banyak yang harus dibaca oleh Sari.


"Udah. Juan yang nyelesaikan. Gue mah nyampe rumah baca satu dokumen langsung ketiduran. Makanya yang dua lagi Juan yang baca. Sedangkan presentasi meeting hari ini aja Juan yang buat" ujar Sari mengatakan kalau dokumen yang menjadi tanggung jawab dia telah selesai dibaca dan diolah. Vina hanya tinggal membaca sekilas info saja.


"Gue balik keruangan dulu Vin. Nanti kita berangkat sama mobil gue aja. Loe kayaknya nggak ditungguin Pak Hans" ujar Sari memberitahukan kalau berangkat meeting akan berangkat dengan mobilnya.


"Juan mana?" tanya Vina yang tidak melihat Juan hari ini.


"Mau terbang ke negara J, kalau tidak salah. Mengirimkan produk produk kita ke sana." ujar Sari memberitahukan kepada Vina kemana Juan sehingga tidak kelihatan oleh Vina.


"Gue ke ruangan dulu Vin. Nanti gue yang akan presentasi. Sepertinya elo sedang kurang Oke untuk presentasi" ujar Sari yang melihat Vina sedang dalam keadaan kurang Oke untuk melakukan presentasi di depan klient baru mereka kali ini.


"Oke sip. Gue rasa kurang enak badan aja hari ini. Sepertinya mau demam" ujar Vina menyetujui kalau yang akan presentasi hari ini adalah Sari.


"Sari tunggu, kantung mata loe kelihatan banget hari ini. Kalau loe nggak kuat begadang jangan, nanti loe bisa sakit" ujar Vina mengatakan kalau Sari tidak sanggup begadang maka tidak usah dari pada Sari menjadi seperti sekarang.


"Ah udah biasa Vin. Lagian kantung mata aja. Bisa di tutup dengan make up Vina. Nggak usah segan gitu" ujar Sari menjawab perkataan Vina. Sari sudah terbiasa kerja lembur saat Vina belum masuk ke dalam perusahaan mereka.


"Gue ke ruangan dulu" ujar Sari pamit kembali kepada Vina.


Vina balas mengangguk kepada Sari. Mengizinkan Sari untuk kembali ke ruangannya sendiri.


Sari keluar dari dalam ruangan Vina. Sari menuju ruangannya sendiri. Sedangkan Vina saat melihat Sari sudah keluar, masuk ke dalam ruangan pribadinya. Vina merebahkan badannya ke atas kasur empuk itu. Dalam sekejap Vina sudah terlelap dan masuk ke alam mimpinya.


Sedangkan di negara I, Danu yang tersentak terbangun dari tidurnya, menunggu balasan pesan chat dari Vina. Tapi sampai rasa kantuk Danu hilang, pesan balasan chat sama sekali tidak ada masuk ke ponsel Danu.


"Apakah dia marah?" ujar Danu berkata sendirian.


"Gue harap tidak" lanjut Danu bermonolog sendirian.


Danu sangat takut kalau Vina kembali marah. Danu baru merasakan bebannya sedikit terangkat saat Vina sudah mau mengangkat panggilan telpon dari dirinya dan membalas pesan chat dari dirinya. Makanya Danu sangat menjaga perasaan Vina. Segala hal yang Vina katakan karena kejadian yang lalu, tidak digubris dan ditanggapi oleh Danu. Danu hanya minta maaf saja sebagi jawabannya atau balasan pesan chat tersebut.


Danu merebahkan kembali badannya. Dia melihat masih jam empat pagi. Masih ada dua jam lagi untuk dia menikmati istirahatnya. Nanti jam delapan paling lambat dia sudah harus mulai memeras otak dan tenaga kembali.

__ADS_1


__ADS_2