Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pengurusan 8


__ADS_3

Danu yang baru terbangun dari tidurnya melihat jam dinding yang terpasang di dinding kamar itu. Danu menatap lama jam dinding tersebut. Danu takut dirinya salah melihat jarum jam.


"Wuis kayaknya enak banget gue tidur udah jam enam ternyata" ujar Danu saat melihat jarum jam menunjukkan angka enam.


Danu mengucek matanya dan merenggangkan semua tubuhnya. Dia benar benar terlihat sangat lelah. Tiba tiba saat Danu menikmati bangun tidurnya. Ponsel milik Danu bergetar dengan cukup keras.


"Siapa pula sepagi ini nelpon gue. Nggak nengok apa masih jam berapa hari baru" ujar Danu dengan kesal saat ponselnya berdering di jam yang tidak tepat itu.


Danu meraih ponselnya yang sedang di charger dia melihat nama Frans tertulis di layar ponselnya.


"Hallo Frans. Loe nggak tau ini jam berapa Frans" ujar Danu langsung menyemprot Frans saat dia baru saja mengangkat telpon tersebut.


"Haha haha haha. Jangan marah marah bro, masih pagi." ujar Frans yang baru tersadar kalau Danu tinggal sendirian.


"Gimana gue nggak akan marah Frans. Gue baru bangun tidur elo udah nelpon aja" ujar Danu yang kesal Frans menghubunginya sepagi ini.


"Sorry bro, gue lupa loe tidur sendiri" ujar Frans yang langsung memukul telak Danu di titik yang sangat tepat.


"Kutu kupret loe Frans. Jadi, loe cuma mau ngomong itu doang pas nelpon gue sepagi ini" ujar Danu memaki maki Frans yang seenak jidatnya saja nelpon hanya untuk mencemeeh Frans.


"Haha haha haha. Sekali sekali gue telpon dan gangguin elo Dan." jawab Frans yang luar biasa senang bisa mengganggu Danu di pagi hari.


"Frans, loe jangan banyak gaya Frans. Gue mau ke perusahaan ini" ujar Danu kepada Frans.


"Danu, loe nanti ada jam senggang" tanya Frans yang sudah mengubah nadanya menjadi nada serius.


"Kenapa Frans?" ujar Danu yang juga sudah mulai serius mendengar apa yang akan dikatakan oleh Frans.


"Gue mau ngajak loe ke pengadilan agama, mendaftarkan gugatan perceraian elo itu" ujar Frans mengajak Danu untuk mendatangi pengadilan agama.


"Tapi elo harus melengkapi semua persyaratan persyaratannya Dan" ujar Frans meminta Danu untuk melengkapi semua persyaratan yang harus disiapkan oleh Danu.

__ADS_1


"Syaratnya apa aja Frans, gue siapin dulu nanti" ujar Danu.


"Gue kirim ke loe lewat chat, kalau bisa loe siapin sekarang. Gue tunggu loe di kantor gue" ujar Frans meminta Danu untuk membawa semua dokumen pengurusan perceraian dirinya dengan Ranti.


"Oke jam sepuluh gue ke kantor loe. Gue harus ke perusahaan dulu" ujar Danu mengatakan jam berapa dia akan datang ke kantor Frans.


"Sip. Gue tunggu elo di kantor. Gue hari ini nggak ada persidangan yang harus gue hadiri" ujar Frans memberitahukan kepada Danu kalau dia tidak ada kegiatan persidangan hari ini.


"Oke. Gue siapin dulu semua dokumen dokumen yang diperlukan untuk mengurus perceraian gue" ujar Danu yang sudah tidak sabar lagi untuk menyiapkan dokumen dokumen tersebut.


"Sip" ujar Frans.


Frans kemudian memutuskan panggilannya dengan Danu. Dia kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa sudah sangat lengket itu.


"Frans kurang teratik. Dia yang nelpon gue eee eee dia juga yang mematikan secara mendadak pula" ujar Danu melihat sambungan telpon mereka sudah diputuskan secara sepihak oleh Frans.


Danu kemudian berdiri dari tempat duduknya, rencananya dia akan membersihkan badan tetapi membatalkan keinginannya itu. Danu kemudian berjalan menuju tempat dia menyimpan semua dokumen dokumen pribadinya.


Setelah mengambil semua dokumen yang dibutuhkan, Danu berjalan menuju kamar mandi. Dia akan membersihkan tubuhnya. Setelah itu dia baru akan ke perusahaan.


Danu selesai mandi hanya dalam waktu lima belas menit. Dia kemudian memakai pakaian kantor.


"Sip. Gue uda siap. Saatnya mengurua yang harus diurus. Gue akan izin nanti ke Paman. Paman pasti senang mendengarnya" ujar Danu berbicara dengan dirinya sendiri di depan cermin kamarnya.


Danu memasukkan semua dokumen yang dibutuhkan oleh Frans ke dalam sebuah map. Setelah itu Danu menyimpan map itu ke dalam tas kerjanya.


Danu kemudian berjalan menuju lantai satu rumah dan menuju meja makan. Danu melihat sudah ada sarapan yang dihidangkan oleh Bibik di atas meja makan berupa nasi goreng lengkap dengan semua menu tambahan lainnya.


"Tuan Danu, silahkan makan" ujar Bibik kepada Danu yang sudah duduk di kursinya.


"Bik, aku nanti mau memasukkan gugatan perceraian aku ke pengadilan agama. Aku akan buat bibik sebagai saksi. Apakah bibik bersedia?" tanya Danu menanyakan hal yang sama sekali lagi kepada Bibik.

__ADS_1


"Mau Tuan. Saya mau menjadi saksi untuk persidangan perceraian Tuan dengan Nyonya" ujar Bibik menjawab pertanyaan dari Danu.


"Makasi Bik. Saya akan menulis nama Bibik di bagian saksi" ujar Danu kepada bibik karena sudah bersedia menjadi saksi dalam gugatan perceraian antara dirinya dengan Ranti.


Danu menikmati sarapan paginya yang sangat lezat itu. Besok saat dia menikah dengan Vina, maka akan setiap saat Danu menikmati makanan makanan yang lezat lezat.


"Bik, aku berangkat ke perusahaan dulu. Hati hati di rumah Bik" ujar Danu berpamitan untuk pergi ke perusahaan.


Danu berjalan menuju mobil, dia kemudian mengemudikan mobilnya menuju perusahaan. Danu melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul setengah delapan.


"Telat gue gara gara makhluk ajaib itu" ujar Danu mengomel karena dia telat untuk ke perusahaan gara gara telpon dari Frans yang mengganggunya tadi pagi saat baru bangun tidur.


Danu mengemudikan mobilnya dalam kecepatan agak tinggi. Dia tidak mau telat terlalu lama. Danu harus bisa memberikan contoh yang baik kepada semua karyawan di perusahaan. Dia sebentar lagi akan menjadi presiden direktur di perusahaan itu, sehingga mau tidak mau, Danu harus memberikan contoh yang baik kepada semua karyawan.


Tepat pukul delapan lewat seperempat, Danu sampai juga di perusahaan, dia memarkir mobilnya di tepat di sebelah mobil presiden direktur. Tempat biasanya Danu memarkir mobil miliknya.


"Sepertinya Paman sudah datang. Gue harus menemui dia terlebih dahulu, baru ke ruangan" ujar Danu yang melihat mobil milik presiden direktur sudah terparkir dengan rapi di sebelah mobil Danu.


Danu kemudian masuk ke dalam lift yang khusus hanya bisa digunakan oleh Danu dan Presiden direktur. Danu menekan tombol lantai paling atas.


Tok tok tok. Danu mengetuk pintu ruangan Presiden direktur.


"Masuk" jawab presiden direktur dari dalam ruangan.


Danu membuka pintu ruangan dan langsung berjalan ke dalam menemui pamannya itu. Presiden direktur yang melihat siapa yang datang langsung tersenyum. Presiden direktur kemudian duduk di sofa ruangannya.


"Duduk Dan" ujar Presiden direktur mempersilahkan Danu untuk duduk.


"Ada apa Dan?" tanya Presiden direktur.


Danu terdiam sesaat. Dia menatap Pamannya itu. Paman yang sebagai ganti Papi oleh Danu saat dia berada di perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2