Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Mansion


__ADS_3

"Sayang, jadi kamu kenapa sampai tahu kalau aku di negara ini?" tanya Vina kepada Danu yang serius menyetir mobil menuju mansion utama keluarga Sanjaya yang lumayan jauh dari pusat kota.


"Sesuai cerita Deli itu sayang. Kami maksudnya mau mencari kafe yang sedang ngehits di tengah anak muda negara ini. Nah kami tanya deh akhirnya ketemu kamu" ujar Danu mengatakan kepada Vina bagaimana dia bisa menemukan Vina di kafe itu


"Aku kira tanya Bang Ivan atau Bang Iwan" ujar Vina sambil tersenyum melihat ke arah kekasihnya yang fokus mengemudikan mobil karena hari sudah terlalu larut malam.


"Nggaklah usaha sendiri. Mana ada mau orangnya tapi malas usahanya. Kalau aku tanya mereka berdua sudah sangat lama aku tau keberadaan kamu dimana sayang." kata Danu dan memberikan tabung air mineral kepada Vina untuk minta dibukakan.


"Tapi aku ingin, saat aku menemukan kamu, menjadi sebuah kebanggaan dan kebahagiaan sendiri karena berhasil menemukan kamu tanpa bantuan orang lain" lanjut Danu.


Danu kemudian meminum air mineral yang telah dibukakan oleh Vina.


"Makasi sayang" ujar Danu dan tersenyum kepada Vina.


"Sama sama sayang" jawab Vina membalas senyuman yang diberikan oleh Danu kepada dirinya.


Mereka berdua terdiam sejenak. Perjalanan masih ada sekitar satu jam lagi. Perjalanan yang lumayan jauh untuk sampai ke mansion keluarga Sanjaya.


"Jadi, besok pesawat jam berapa?" tanya Vina memecah kesunyian yang sempat terjadi di antara mereka berdua.


"Pesawat jam sepuluh pagi. Jadi kita dari sini jam tujuh aja besok" ujar Danu menjawab pertanyaan dari Vina.


"Terus nyampe sana siang?" ujar Vina memegang tangan Danu dengan belaian hangatnya.


Tangan pria yang sudah sangat lama tidak pernah di pegang oleh Vina. Kali ini tangan ini sudah bisa dipegang oleh Vina kembali. Vina berjanji tidak akan melepaskan yang benar benar mencintainya.


"Nggak tau juga sayang. Takutnya delay lama tentu malam sampe sana" jawab Danu yang memang akan transit dua kali sebelum sampai ke negara I.


"Emang berapa kali transit sayang?" ujar Vina yang memang belum pernah naik pesawat komersl menuju negara U.

__ADS_1


"Dua kali katanya. Belum lagi delay kalau ada. Jadi ya dinikmati aja perjalanannya" kata Danu sambil meremas tangan Vina dengan gemas. Danu menumpahkan semua rasa cinta yang dimilikinya di sana.


"Atau mau aku temani?" ujar Vina menggoda Danu.


Danu yang mendengar apa yang dikatakan oleh Vina langsung saja menatap ke arah Dina. Danu tidak menyangka Vina akan mengatakan hal itu kepada dirinya.


"Yakin? Tu yang di belakang yakin nggak akan ngamuk?" ujar Danu sambil melirik Deli yang tertidur di kursi penumpang dari kaca spion mobil.


"Haha haha haha bener juga ya sayang. Udah pasti dia akan ngamuk" jawab Vina dengan melihat ke belakang.


Calon anak tirinya itu sedang tertidurtertidur nyenyak.


"Untung dia nggak denger apa yang kita bicarakan sayang. Kalau denger bisa ngamuk ngamuk dia ke kita berdua" ujar Danu yang sudah bisa membayangkan bagaimana mengamuknya Deli saat mendengar kalau Vina akan menemani Danu ke negara mereka.


"Sayang, masih jauh?" tanya Vina saat melihat daerah pantai sudah lewat.


"Sedikit lagi sayang. Kalau nggak salah sekitar empat puluh kilo lagi" ujar Danu mengatakan berapa jauh lagi jarak yang harus mereka tempuh berdua.


"Kenapa?" tanya Danu saat melihat Vina terdiam di dalam mobil.


"Nggak ada" jawab Vina sambil tersenyum ke arah Danu.


Vina tidak mau Danu berpikiran aneh aneh kepada dirinya. Vina tidak ingin Danu mengatakan kalau Vina adalah cewek matre.


"Ayuk turun. Deli dibangunin atau digendong?" ujar Vina melihat ke arah Deli yang terlalu nyenyak tidurnya.


"Gendong aja. Dibangunin ngamuk ngamuk dia nanti tuh" ujar Danu yang sangat tahu bagaimana tabiat asli anaknya yang ntah bisa datang dari mana sifat mengamuknya itu.


Vina dan Danu turun dari dalam mobil. Vina membawakan makanan yang dibawa dari kafe. Sedangkan Danu menggendong Deli untuk masuk ke dalam mansion.

__ADS_1


"Mau di bantu?" tanya Vina kepada Danu.


"Haha haha haha. Nggak usah aja sayang. Kamu bawa makanan itu saja. Aku masih kuat untuk membawa Deli ke atas" jawab Danu sambil menatap ke wajah anaknya yang tertidur nyaman itu dalam gendongan Danu.


Vin berhenti di depan pintu mansion. Dia menunggu Danu untuk membuka pintu utama itu.


"Buka aja sayang. Nggak apa apa. Mami dan Papi kayaknya juga belum tidur. Mereka akan tidur kalau Deli udah balik ke rumah" ujar Danu memberitahukan kepada Vina kebiasaan kedua orang tuanya itu.


Vina membuka pintu utama mansion. Ternyata Mami dan Papi memang benar belum tidur. Mereka berdua terlihat sedang menunggu kedatangan Deli dari luar.


Mami dan Papi menatap ke arah Vina. Mereka tidak mengenal sama sekali wanita yang dibawa masuk oleh Danu ke dalam mansion utama. Vina juga melihat ke arah Mami dan Papi. Danu mengerti arti tatapan dari Mami dan Papinya itu.


"Mami nanti aku kenalin ya. Aku antarkan Deli ke kamar dulu" ujar Danu sambil berjalan menuju kamar Deli yang ada di lantai dua mansion.


"Silahkan duduk Nak. Jangan berdiri aja" ujar Mami kepada Vina.


"Oh ya Mami. Vina ada bawa kue. Dimana dapur ya Mami, biar Vina taruh kuenya di piring" ujar Vina yang terlihat grogi dengan pandangan Papi dan Mami kepada dirinya.


Jadi sambil menunggu kedatangan Danu dari mengantarkan Deli ke kamarnya. Vina lebih memilih untuk memindahkan kue kue yang dibawanya dari kafe ke dalam piring.


"Grogi banget gue gilak. Pandangan Papi dan Mami bener bener menatap dengan tajam banget ke gue" kata Vina sambil melirik ke arah Papi dan Mami.


"Nggak tau gue harus ngomong apa ke mereka berdua" ujar Vina sambil mengambil cangkit teh yang ada di atas kepalanya.


Vina kemudian membuat empat cangkir teh hijau untuk menemani mereka makan kue yang dibawa dari kafe. Vina mengaduk dengan sedikit pelan. Vina melakukan seperti itu supaya saat dia selesai membuat teh hijau Danu juga turun dari lantai dua mansion.


Danu yang telah selesai membaringkan Deli di atas kasur. Kembali keluar kamar, Danu berjalan menuju lantai satu mansion tempat Papi dan Mami duduk. Danu tidak melihat ada Vina diantara kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.


"Mami, mana Vina Mi?" tanya Danu yang sama sekali tidak melihat Vina di sana.

__ADS_1


"Tu sedang bikin teh dan menyalin kue di dapur" ujar Mami memberitahukan dimana keberadaan Vina.


Vina yang melihat Danu sudah berada di dekat Papi dan Mami, membawa teh dan kue ke meja ruang keuarga. Danu tersenyum melihat Vina yang ternyata sudah bersikap sangat luwes di mansion. Padahal kalau Danu tahu alasan Vina berbuat seperti itu, Danu akan tertawa ngakak saat tahu alasannya.


__ADS_2