Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Vina dan Deli


__ADS_3

"apa yang mau kamu ceritakan kepada bunda nak?" tanya Vina yang sudah tidak berat lagi memakai kata ganti bunda saat dia berbicara dengan Deli. Vina sangat bangga dengan dirinya yang memiliki pengendalian diri yang cukup tinggi. Kalau tidak bisa dipastikan Vina akan setiap. Hari ribut dengan semua karyawan yang kelakuannya tidak sesuai dengan kita.


"Jadi begini Bunda" ujar Deli memulai awal ceritanya kepada Vina.


Deli menatap tajam kearah Vina. Deli memang ingin meredamkan isi otaknya yang sudah sangat kusut maksut itu. anak seusia Deli masih belum bisa menerima kedua orang tuanya ribut terus dan akan bercerai. Tapi Deli sudah menyarankan kepada kedua orang tuanya itu untuk bercerai saja. supaya tidak ada lagi yang akan tersakiti atau merasa tersakiti bahkan terzholimi.


"Jadi Deli apa yang mau kamu ceritakan kepada Bunda kue mu ini sayang?" tanya Vina kembali kepada Deli.


Danu hanya menjadi pendengar saja diantara pembicaraan Vina dengan Deli.


"Semoga kalian berdua tambah klop ya. Jadi aku tidak perlu susah susah lagi mengenalkan kamu kepada Vina, bahkan Vina kepada Deli." ujar Danu yang senang melihat keakraban yang terjadi antara Vina dengan Deli dalam waktu yang sangat singkat.


"Bunda mau jawab pertanyaan Deli dulu atau tidak?" tanya Deli kepada Vina.


Deli berharap Vina menjawab Ya. Vina juga berharap Deli mau bertanya tentang suatu hal yang sensitif. Jadi, Vina akan menjelaskan kepada Deli.


"Apa yang mau kamu tanyakan kepada Bunda sayang?" tanya Vina kepada Deli yang masih terbaring di atas kasur itu. Sebelahnya terlihat Danu yang juga duduk bersandar ke kepala ranjang.


"Bunda, apakah bunda mencintai ayah Danu?" Tanya Deli kepada Vina.


Vina kaget mendengar apa yang ditanyakan oleh Deli kepada dirinya. Vina tidak membayangkan hal itulah yang akan ditanyakan oleh Deli kepada dirinya.


"Kenapa kamu menanyakan hal itu kepada Bunda sayang?" Tanya Vina yang ingin tau apa alasan Deli menanyakan hal itu kepada Vina.


"Alasannya gampang bunda. Sangat gampang sekali. Aku tidak mau Ayah menjadi sedih lagi, karena menikah tidak dengan wanita yang dicintainya. Bahkan wanita itu dengan tega mengkhianati ayah yang sudah setia dengan dirinya. E e e e e e e e ternyata wanita itu selingkuh dengan orang yang lebih kaya." Ujar Deli menjawab pertanyaan dari vian dengan belepotan.


"Ya sayang. Bunda mencintai ayah. Cinta bunda ke ayah sama besar dengan cinta ayah kepada kamu" jawab Vina dengan pasti.


Danu yang mendengar apa jawaban dari Vina langsung mengirimkan ciuman virtual dari belakang Deli kepada Vina.


Vina hanya bisa tersenyum melihat kelakuan absurd dari kekasihnya itu.


"Bunda kalau bunda cinta kepana saat itu bunda memilih untuk pergi. Kenapa bunda tidak mau mendengarkan penjelasan dari ayah dulu?" Tanya Deli dengan pertanyaan ya kedua nya.


Vina terdiam cukup lama. Dia tidak tau mau menjawab apa lagi. Tapi Vina sangat tau kalau Deli membutuhkan jawaban darinya.


"Sayang saat itu Bunda kue benar benar panik. Bunda kue tidak tau harus berbuat apa lagi. Makanya yang teringat hari itu adalah menjauh dari ayah." ujar Vina menjawab pertanyaan dari Deli.


"Kenapa bunda main kabur saja. seharusnya kan bunda meminta ayah untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi" ujar Deli kepada Vina sambil menatap wajah cantik Vina.


"Sayang. Bunda saat itu dalam kondisi tidak baik baik saja. makanya bunda memilih untuk pergi. bunda tidak mau pula ayah menjadi pusing sendiri gara gara bunda. bagi bunda saat itu biarlah bunda pergi dari pada ribut saat bertemu dengan ayah. Deli pahamkan sayang, apa maksud bunda?" ujar Vina kepada Deli.


"Paham bunda" jawab Deli yang memang tergolong anak jenius dan paham keadaan kedua orang tuanya saat ini.


"Ada lagi yang mau ditanyakan sayang?" tanya Vina kepada Deli.


"Bunda, kenapa sekarang bunda memaafkan ayah?" tanya Deli yang ternyata memiliki banyak stok pertanyaan untuk Vina.


"Karena Bunda sudah tau semua kejadiannya. bagi bunda, ayah adalah laki laki terkuat, terbaik dan patut untuk diperjuangkan. " ujar Vina menyebutkan alasannya kenapa bisa berbaikan kepada Deli.


"Berarti ayah Deli kerenkan ya bunda?" tanya Deli kepada Vina.


"ya ayah Deli memang ayah terkeren yang bunda kenal sayang" jawab Vina setuju dengan pilihan kata yang dicari oleh Deli.


"Kalau memang ayah Deli keren bunda, kenapa wanita busuk itu membuang ayah deli? mencampakan ayah deli?" tanya Deli kembali kepada Vina. Vina sudah pusing mencari jawaban yang tepat untuk anak SD


"Ha ha ha ha ha ha. Deli, Deli, Deli. wanita itu akan menyesal karena sudah membuang pria yang baik demi pria jahat." ujar Vina menjawab pertanyaan absudr yang diberikan oleh Deli kepada dirinya.


"Sayang, sekarang bunda yang bertanya boleh? tapi kalau pertanyaan Deli untuk bunda masih ada, silahkan Deli tanyakan dulu. baru nanti setelah itu bunda yang akan bertanya kepada Deli" Ujar Vina memberitahukan kepada Deli kalau dia juga menyimpan pertanyaan untuk Deli.


"Bunda, tanya Deli aja. Deli usah kehabisan stok pertanyaan untuk Bunda" ujar Deli menjawab perkataan dari Vina.


"Deli, Deli marah nggak dengan Bunda Ranti?" tanya Vina sambil menatap Danu.


Danu menganggukkan kepalanya saat Vina bertanya hal itu kepada Deli. Hal yang sebenarnya masuk dalam ranah sensitif. Tetapi Vina tetap ingin tahu jawaban dari Deli.


"Jujur ya Bunda. Deli sangat sangat marah dan kecewa dengan dia. Deli ini udah besar Bunda. Deli tau mana yang salah dan mana yang benar" ujar Deli mulai menjawab pertanyaan dari Vina.


"Tau nggak Bundaa, dia nggak pernah ngurusin Deli, bunda. agak sehari aja tidak pernah dia mengurus Deli. Deli besar dengan bibik saja." ujar Deli memberitahukan kepada Vina apa yang di alaminya.


"Apa Deli nggak boleh marah dan kecewa Bunda?" tanya Deli kepada Vina.


"Deli berhak kok Kak. di saat kita butuh pelukan dari seorang ibu, tetapi tidak diberikannya. kita berhak untuk marah. tapi jangan sampai melawan ya sayang." ujar Vina mulai menasehati Deli.


"Sayang, sebenci benci apapun kita kepada kedua orang tua kita, kita jangan sampai melawan kepada mereka. tantangannya langsung terjun bebas ke neraka. apa kamu mau jalan jalan dulu ke sana?" tanya Vina kepada Deli.


"nggak bun. deli nggak mau masuk neraka. Deli akan sapa dia. kalau tidak dijawabnya maka akan aku biarkan saja lagi. Capek aku harus bersikap begini dan begitu" ujar Deli dengan ekspresi ala anak anak.


"Sayang. Kamu sangat dewasa sekali. Semoga ayah kamu bahagia setelah mendapatkan kamu." ujar Vina sambil menatap kearah Danu.

__ADS_1


Danu memberikan dua jempolnya kepada Vina. Vina telah berhasil mengorek ngorek kejadian yang sudah terjadi itu.


"Nah, sekarang pertanyaan ke dua dari Bunda untuk Deli. Apakah Deli sayang dan suka dengan Bunda?" tanya Vina sambil menatap wajah cantik nan imut imut itu. tapi di pipi Deli saat ini membayang semburat merah karena dia sedang dalam keadaan demam.


Deli menatap ke arah Vina. Deli memberikan senyum terbaiknya kepada Vina. Vina melihat senyum itu, senyuman yang sama dengan senyum Ranti. Senyuman itu sedikit mengiris hati Vina. Tapi Vina tidak bisa melawan semua itu, karena Deli adalah darah daging Ranti dan seseorang pria yang Danu tidak kenal apa lagi Vina.


"Kenapa Deli natap Bunda kayak gitu sayang?" tanya Vina kepada Deli.


"Bunda, gimana Deli nggak natap Bunda kayak. gitu. Pertanyaan Bunda aneh sekali, Bunda. Udah jelaslah Deli sayang dengan Bunda, bagaimanapun Bunda adalah Bunda baru bagi Deli." ujar Deli sambil tersenyum kepada Vina.


"Tau nggak Bunda, melalui Bunda lah Deli mendapatkan kasih sayang seorang Bunda." lanjut Deli menjawab pertanyaan dari Vina.


"Lewat Bunda jugalah Deli bisa bercerita banyak hal. Kalau nggak ada Bunda, mungkin Deli nggak akan pernah cerita apapun." kata Deli selanjutnya menjelaskan kepada Vina betapa pentingnya Vina dalam hidup Deli.


"Jadi, Bunda makasi banyak sudah mau hadir dalam hidup Deli dan Ayah. Kami berdua sangat bahagia Bunda ada dalam hidup kami. Walaupun Bunda jauh ntah dimana." lanjut Deli sambil tersenyum kepada Vina.


Vina tersenyum. mendengar apa yang diucapkan oleh Deli. Bagi Vina itu adalah kebahagiaan sendiri karena bisa mendapatkan hati dan perasaan Deli.


"Bunda juga senang sayanh, bisa masuk dalam hidup kamu Ayah. Maafkan bunda ya yang pernah menyakiti perasaan Ayah dan Deli" ujar Vina meminta maaf karena pernah pergi dari kehidupan mereka berdua. Padahal saat itu Vina belum. mengetahui semuanya.


"Tidak apa apa Bunda. Kami mengerti kenapa Bunda pergi. Ayah dan Deli paham betul kenapa Bunda memilih untuk pergi dari kami saat itu" ujar Deli yang memahami keputusan Vina saat itu.


"Makasi sayang, kalau karena Deli dan Ayah sudah mau mengerti bagaimana perasaan Bunda saat itu" jawab Vina yang sangat bahagia karena Deli bisa mengerti dengan keadaannya.


"Sayang, apakah kamu punya ponsel? Jadi, kalau Ayah tidak ada di sana, Bunda masih bisa nelpon dan video call dengan Deli." ujar Vina menanyakan nomor ponsel milik Deli.


"Ada Bunda. Nanti dikirimkan sama Ayah ya. Bunda janji ya video call dengan Deli setiap hari" ujar Deli sambil mengangkat jari kelingking nya untuk membuat perjanjian dengan Vina.


"Janji sayang. Bunda berjanji kepada Deli untuk selalu video call. tiap hari dengan anak cantik Bunda ini. Anak yang paling pintar dan sayang orang tua ini." ujar Vina menjawab permintaan Deli


"Makasi Bunda kue Deli. Besok kalau Bunda udah di sini lagi, Bunda wajib buatkan Deli kue kayak waktu itu. Kue yang sangat lezat" ujar Deli. meminta kepada Vina untuk membuatkan dirinya kue.


"Aman itu sayang. Akan Bunda buatkan kue sesuai dengan permintaan Deli. Bunda tidak akan melupakan hal itu. Mau berapa banyak Deli minta kue, setiap haripun akan Bunda buatkan" ujar Vina sambil menatap ke arah Deli.


"Janji lagi?" tanya Deli sambil mengangkat jari kelingking nya.


"janji lagi sayang" ujar Vina sambil membalas mengangkat jari kelingking nya.


"Oh ya sayang, apa kamu sudah minum obat?" tanya Vina kepada Deli. Vina ingat kalau Deli sedang sakit, makanya Vina menanyakan hal itu kepada Deli.


"Belum Bunda. Di sini masih subuh sekali. Ayah bangun cepat karena harus kembali ke ibu kota. Kalau tidak maka Ayah belum akan bangun Bunda" ujar Deli sambil memperlihatkan jam dinding kamarnya yang masih menunjukkan pukul setengah enam subuh.


"jadi, bunda sekarang sedang kerja? Tentu Deli mengganggu Bunda ya? Kalau gitu tutup aja panggilan kita ini Bunda. Biar Bunda bisa konsentrasi lagi bekerjanya" ujar Deli yang tidak mau mengganggu Vina yang sedang bekerja itu.


"Nggak kok sayang. Kamu nggak gangguin Bunda. Malahan Bunda sangat senang kamu menghubungi Bunda" ujar Vina sambil menatap Deli dan tersenyum bahagia.


"Akhirnya Deli sangat bahagia Bunda. Deli sekarang punya Bunda yang sayang sama Deli. Deli bener bener bahagia. Bahagia sekali Bunda" ujar Deli bersorak kegirangan karena akhirnya dia memiliki seorang Bunda.


"Ha ha ha ha ha. Sayang, Bunda juga bahagia punya anak seperti kamu. Anak terpintar yang paling berharga bagi Bunda." ujar Vina tersenyum kepada Deli.


"Oh ya sayang, tapi Ayah mau pergi ke ibu kota. Kita udahin dulu ya telponnya. Besok kita sambung lagi. Bunda yang akan hubungi kamu besok ya" ujar Vina sambil menatap ke arah Deli.


"Oke Bunda, Deli juga mau makan dulu. Setelah itu Deli minum obat dan istirahat lagi" ujar Deli kepada Vina.


"Oke sayang. Bunda tutup dulu telponnya ya." ujar Vina meminta izin untuk menutup telpon dengan Deli.


"Bunda, Ayah mau ngomong sama Bunda" ujar Deli berkata kepada Vina, kalau Danu mau berbicara dengan Vina.


"Oke sayang. Kasihkan ponselnya kepada Ayah ya" ujar Vina yang setuju untuk berbicara dengan Danu. Vina juga kangen dengan kekasihnya itu.


Deli memberikan ponselnya kepada Danu. Danu kemudian menatap Vina yang berada di seberang sana melalui sambungan telpon.


"Hay sayang, sedang ngapain?" tanya Vina kepada Danu yang sedang duduk di kursi.


"Ini mau sarapan. kamu sedang ngapain sayang?" tanya Danu balik bertanya kepada Vina.


"Ini sedang duduk. Rencana mau ada kegiatan, tapi ternyata Sari mau pergi sendiri. Makanya aku jadi bisa duduk santai sambil ngobrol dengan Deli dan kamu" jawab Vina mengatakan kegiatannya hari ini.


"Jam berapa kamu mau balik ke ibu kota?" ujar Vina balik bertanya kepada Danu.


"Rencana jam setengah tujuh sayang. Aku nggak ada meeting. Jadi, bisa santai dikit" jawab Danu mengatakan kepada Vina jam berapa dia mau berangkat ke ibu kota.


"Oooo. Tu kamu sampe siang banget di ibu kota? Kamu nggak balik lagi ke kampung kan ya?" ujar Vina yang takut kalau Danu akan balik lagi ke kampung untuk melihat keadaan Deli.


"Nggak sayang. Aku malam ini tidur di sini aja. Besok baru balik lagi, kalau Deli masih belum sehat" jawab Danu memberitahukan kepada Vina kegiatannya hari ini dan besok.


"Oke sayang. Kamu lanjut sarapan dulu ya. Nanti siap itu aku baru telpon kamu lagi. Bagaimanapun kamu adalah kesayangan aku. " ujar Vina kepada Danu, Vina menatap Danu.


"Muach" ujar Danu mencium virtual Vina.

__ADS_1


Vina kemudian menutup panggilan telponnya. Mereka kemudian melanjutkan kegiatan masing masing. Vina akan membaca dokumen dokumennya. Sedangkan Danu akan sarapan. Nanti Danu akan menghubungi Vina kembali saat dia telah selesai makan pagi dengan keluarga besarnya.


Papi, Mami dan Deli serta Danu sudah duduk di meja makan. Mereka sudah mengisi piring masing masing dengan menu sarapan yang telah disiapkan oleh Mami.


"Siapa yang nelpon kalian berdua pmsubuh tadi. Suaranya bener bener kedengaran setiap Nenek lewat depan pintu kamar" ujar Mami yang penasaran dengan siapa Deli dan Danu menelpon tadi pagi.


"Sama Bunda Kue Nenek" jawab Deli sambil tersenyum bahagia.


"Jadi, Bunda kue kamu itu sudah baikan dengan Ayah yang masih plin plan ini?" tanya Mami kepada Deli.


Mami perlu diyakinkan oleh Deli kalau memang bener Vina sudah berbaikan dengan Danu. Mami menatap Danu dengan tajam. Mami meminta penjelasan kepada Danu.


"Bener Nenek. Ayah dengan Bunda kue udah damai. Aku saksinya. Aku sangat senang Bunda kue mau jadi Bunda aku. Malahan sama nenek ini ya, Bunda kue udah minta nomor ponsel aku" ujar Deli bercerita dengan penuh semangat.


"Tu cucu nenek bahagia banget sekarang ya?" tanya Mami kepada Deli. Mami tersenyum bahagia melihat Deli yang sudah kembali bahagia. Deli memang membutuhkan sosok ibu dalam hidupnya. Selama ini Deli tidak mengenal sosok ibu yang bisa menjadi tempat Deli berkeluh kesah.


"bahagia sangat nenek. Deli sangat bahagia bisa punya bunda sebaik bunda kue. nggak seperti bunda yang itu tu" ujar Deli tersenyum kepada Nenek dan atuk nya.


Papi menatap cucu satu satunya itu. Cucu perempuan yang selama ini sudah menanggung penderitaan karena sama sekali tidak menerima kasih sayang seorang Ibu. Dengan kembalinya Vina, akhirnya Deli bisa kembali menerima dan merasakan bagaimana kasih sayang seorang ibu


Deli sama sekali tidak menutup nutupi kebahagiaannya itu. Deli benar benar memperlihatkan kepada semua orang kalau dia benar benar sedang dalam keadaan bahagia sekali.


"Danu, jadi bener kamu sudah baikan dengan Vina?" tanya Mami kepada Danu


Danu hanya bisa senyam senyum saja melihat anaknya yang sedang dalam keadaan berbahagia itu, karena bisa mendapatkan Bunda seperti Vina. Bunda yang sangat perhatian dan bisa mengajak Deli berbincang bincang selama ini.


Kasih sayang seorang ibu yang tidak di dapat Deli selama ini dari Ranti, istrinya yang juga ibu kandung dari Deli.


"Bener Mi. Vina sudah memaafkan aku. Kami berbaikan dari kemaren. Makanya tadi pagi dia menghubungi Deli. Kata Vina dia kangen dengan Deli" ujar Danu menjawab pertanyaan dari Mami.


"Kalau memang sudah baikan, kenapa nggak kamu bawa dia ke sini Danu. Mami ingin berbincang bincang dengan Vina" ujar Mami yang penasaran ingin berbincang bincang dengan Vina.


"Nggak bisa Nenek. Bunda kue dia sudah pergi ke luar negeri. Bunda kue tidak ada di negara ini lagi" ujar Deli memberitahukan kepada Mami kalau Bunda kuenya sudah pindah ke negara lain.


Mami menatap ke arah Danu. Danu mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Deli tadi.


"Vina sudah pindah keluar negeri Mami. Dia pindah karena hari itu Ranti melabrak nya ke kontrakan. Ranti memaki maki dia di sana. Sehingga Vina menjadi masuk rumah sakit. Dirawat selama seminggu" ujar Danu memberitahukan kepada Mami.


"saat itu, Vina mendapatkan kesempatan untuk bekerja di luar negeri, Vina tidak menyia nyiakan kesempatan itu. Dia mengambil kesempatan bekerja di sana." ujar Danu melanjutkan ceritanya.


"kenapa kamu nggak menemui dia ke sana. Bawa dia kemari" ujar Mami kepada Danu.


"Aku nggak tau dia di negara mana Mami. Lagian aku juga belum mau tahu dia dimana. Aku ingin menyelesaikan masalah aku dengan Ranti terlebih dahulu, baru siap itu aku mencari Vina" ujar Danu sambil menatap Deli anak kesayangannya.


"Kalau itu Papi setuju. Selesaikan dengan Ranti, baru cari Vina. Jangan lukai lagi hati wanita yang baik itu. Dia sudah mau mengalah dan menerima kamu kembali. Jadi jagalah perasaan dia." ujar Papi yang akhirnya angkat bicara saat Danu mengatakan akan menyelesaikan urusan dirinya dengan Vina terlebih dahulu. Baru dia akan mencari keberadaan Vina dimana.


Danu melihat jam dinding yang ada di ruang makan. Ternyata sudah pukul tujuh pagi. Dia kemudian memakai jasnya kembali.


"Papi, Mami, Aku berangkat dulu ya. Titip Deli, kalau dia semakin demam, telpon aku aja langsung ya" ujar Danu berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Papi dan Mami mengangguk menjawab perkataan Danu. Mereka tetap akan menjaga Deli sampai mau memisahkan jiwa raga mereka.


"Sayang, Ayah pergi dulu ya. Besok ayah akan datang lagi. Cepat sembuh ya" ujar Danu kepada Deli sambil mencium puncak kepala anak kesayangannya itu.


"ayah hati hati ya. Deli sayang sama Ayah" ucap Deli memeluk Ayahnya itu.


"Ayah sayang dan cinta Deli" jawab Danu.


Mereka semua mengantarkan Danu menuju pintu gerbang rumah. Hari ini Danu akan pergi kembali ke ibu kota untuk bekerja. Besok Danu akan kembali ke kampungnya.


Danu masuk ke dalam mobil, Deli melambaikan tangannya ke mobil Danu.


"ayah hati hati jangan ngebut" ujar Deli memberikan ucapan perpisahan kepada Danu.


Danu tersenyum dan menekan klakson mobilnya. Mobil yang dikemudikan oleh Danu bergerak meninggalkan rumah. Danu akan kembali menuju ibu kota.


"Pas jalan besar ajalah telpon Vina" ujar Danu yang memang berencana untuk menghubungi Vina menemani dirinya dalam perjalanan pulang menuju ibu kota.


"Nenek, Bunda kue janji sama Deli kalau dia akan setiap hari video call dengan Deli. Malahan ya Nek, Bunda kue janji akan mengajarkan Deli membuat kue" ujar Deli menceritakan kepada Nenek dan Atuk nya apa yang dibicarakan oleh dirinya tadi dengan Vina.


"Oh sangat bagus itu sayang. Jadi, Deli bisa cerita apapun ke Bunda kue. Deli senang sayang punya bunda?" tanya Mami sambil menatap ke arah Deli.


"Senang Nenek. Sangat senang malahan" jawab Deli yang memang sangat senang dan tidak bisa menutupi kebahagiaannya itu.


"duduk sini yuk." ajak Mami kepada Deli.


Mereka berdua duduk di teras depan. Sedangkan Atuk sudah masuk ke dalam rumah. Atuk rencana nya mau menghubungi adiknya.


"Terus apa lagi sayang, yang kamu ceritakan dengan bunda kue?" ujar Mami.

__ADS_1


Nenek dan cucu itu terlihat mengobrol asik di kursi teras depan. Deli menceritakan apa saja yang dia obrolan dengan Vina tadi subuh. Mami menyimak semuanya, Mami baru kali ini melihat Deli sebahagia dan sesemangat seperti ini. Mami ikut bahagia dengan kebahagiaan dari Deli.


__ADS_2