
Matahari yang dari siang menyinari dengan sangat terik bumi ini, sudah kembali keperaduannya. Matahari telah melakukan serah terima tugasnya dengan bulan untuk bergantian menjaga bumi.
Vina yang baru saja masuk ke dalam kamarnya melihat ponsel miliknya yang tergeletak di atas kasur. Dia melihat sekali lagi aplikasi pesan chat itu. Dia berharap ada pesan masuk yang dikirim oleh Danu kekasih hatinya. Tetapi yang namanya harapan hanya tinggal harapan. Vina tidak mendapati satupun pesan yang dikirim oleh Danu ke ponsel miliknya.
"Bener bener lah ni orang. Tengok aja besok saat di kantor aku akan diam aja. Tunggu pembalasan gue Danu. Gue bikin loe panas dingin karena sikap gue. Harusnya loe baik baikin gue, ini malahan nyuekin gue." ujar Vina memaki maki Danu.
Vina meraih boneka miliknya yang biasanya sudah tersingkir karena boneka yang diberikan Danu. Tapi untuk kali ini boneka yang diberikan oleh Danu yang disingkirkan oleh Vina.
Vina mulai masuk ke alam mimpinya.
"Bunda, ini Deli... Bunda jangan marah dengan Ayah Danu ya. Ayah Danu itu orang baik Bunda. Orang jahatnya Bunda Ranti." ujar seorang anak perempuan kecil sambil menggenggam tangan Vina.
"Kamu siapa sayang. Kenapa manggil tante Bunda?" kata Vina sambil menatap heran ke anak perempuan itu.
"Nama aku Deli Bunda. Aku anak ayah Danu." jawab anak kecil itu dengan senyum cantik nan polosnya.
"Anak Danu?" tanya Vina dengan menatap heran anak perempuan itu.
"Iya Bunda. Aku anak ayah Danu. Kalau Bunda nggak percaya Bunda boleh tanya Om Iwan dan Om Ivan." jawab anak perempuan dengan tatapan penuh keyakinan kepada Vina.
"Jadi kamu beneran anak Danu?" tanya Vina sekali lagi untuk meyakinkan dirinya.
Anak perempuan itu mengangguk dengan pasti. Vina merasakan begitu sesak di dadanya. Dia benar benar tidak menyangka dengan semua ini. Vina berusaha membuka matanya. Tetapi ntah kenapa mata Vina terasa dihimpit batu besar yang serasa siap untuk membunuhnya.
"Jangan tinggalkan Ayah Deli. Ayah Deli tidak bersalah. Semua salah wanita itu." ujar Deli.
Deli kemudia berjalan menuju kabut tebal. Vina mengejar anak kecil itu. Tetapi Vina sama sekali tidak berhasil menggapai Deli.
"Anak itu kemana?" ujar Vina.
"Deli, Deli, Deli" teriak Vina dengan sangat kuat.
Maya yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar teriakan Vina berlari cepat menuju kamar sumber teriakan itu.
"Vin, Vina bangun Vin." guncang Maya dan berteriak memanggil nama Vina.
"Deli, Deli" teriak Vina kembali.
"Deli? Siapa?" ujar Maya yang tidak tau siapa yang masuk ke dalam mimpi Vina.
Maya mengambil gelas minum milik Vina. Dia mencipratkan air ke wajah Vina. Maya berharap Vina langsung bangun karena wajahnya yang terkena cipratan air.
Vina yang merasa wajahnya terkena air perlahan membuka matanya. Dia mengusap wajahnya yang terkena air.
__ADS_1
"Loe kenapa nyipratin air ke wajah gue, May?" tanya Vina yang sama sekali dia tidak sadar kalau dari tadi sudah berteriak teriak seperti orang setengah gila.
"Jadi loe nggak sadar dari tadi udah teriak teriak kayak orang setengah gila?" tanya Maya lagi.
"Mana ada gue teriak. Gue tidur juga." jawab Vina lagi.
"Oh ya sudahlah. Maaf gue udah nyipratin muka loe" ujar Maya lagi.
Maya tidak ingin menambah beban Vina lagi. Dia akan cari tau lewat Ivan siapa Deli yang di sebut sebut Vina dalam mimpinya tadi.
"Sepertinya nama Deli tadi sangat penting. Sampai Vina berkali kali memanggil nama itu dalam mimpinya." ujar Maya sambil memegang ponselnya. Dia sudah mengetik chat untuk Ivan.
"Ah mending ketemu aja besok siang. Vina kan ke kantor." ujar Maya yang kembali menghapus pesan chat yang sudah tinggal tekan tembol kirim itu.
Maya menarik kembali selimutnya. Dia akan kembali tidur. Sedangkan Vina masih terjaga. Dia masih mengingat tentang mimpinya tadi.
"Kenapa anak itu katakan kalau Danu tidak bersalah. Sedangkan yang bersalah adalah wanita yang bernama Ranti." kata Vina sambil menatap langit langit kamar.
"Dan lagian kenapa anak itu datang ke dalam mimpi ku. Aku benar benar pusing dengan semua ini." ujar Vina lagi.
Vina mulai merasakan kepalanya sedikit pusing. Dia kemudian memilih untuk menutupi badannya dengan selimut. Vina memilih untuk berusaha memejamkan kedua matanya. Dia harus tidur sebelum kembali jatuh sakit.
Sebelum subuh menjelang Vina dan Maya sudah terlihat kembali sibuk di dapur di bantu dengan seorang asisten yang malam sudah di telpon Maya untuk datang sebelum subuh. Mereka bertiga terlihat sangat sibuk menyiapkan semua pesanan yang sudah di terima oleh Maya.
"Vin, jadi ke kantor hari ini?" tanya Maya yang melihat Vina sudah bersiap siap selesai memasak tumpeng pesanan konsumen.
"Hahahahaha. Santai aja kelez jangan natap gue kayak gitu."
"Udah sana bungkusin sarapan untuk sang pujaan hati. Nanti gue tolong bawain ke kantor. Nggak kasian loe tu anak makan makanan yang nggak sehat terus?" tanya Vina yang sebenarnya bermaksud untuk menggoda Maya.
"Yeyeyeye. Ini udah gue bungkusin. Tiga malahan. Gue takut yang dua lagi juga makan makanan yang nggak sehat, makanya gue inisiatif buat bungkusin juga." ujar Maya sambil mengedipkan matanya ke arah Vina.
"Yalah kena juga gue akhirnya." ujar Vina.
"Hahahahahahahahahahaha" dua sahabat itu tertawa bersamaan karena keanehan mereka sendiri.
"Udah sana sarapan, loe mau telat. Udahlah masuk jarang pake acara telat pula loe nanti." ujar Maya sambil mengangkat kue kue yang sudah di susun rapi di nampah untuk di bawa ke warung depan rumah kontrakan.
Sedangkan satu asisten yang diminta Maya untuk datang tadi sedang membereskan warung depan.
Vina yang telah selesai sarapan, memilih untuk menunggu taksi online yang sudah dipesannya tadi di warung depan. Dia juga sekalian melihat keadaan warung yang sudah rami pembeli itu.
"Nona Vina udah sembuh?" tanya salah seorang pengunjung warung.
__ADS_1
"Alhamdulillah sudah Bu." jawab Vina masih dengan tersenyum.
"Oh jadi Nona Vina masuk rumah sakit gara gara dilabrak istri sah ya? Saya dengernya begitu. Maaf ya Nona Vina." ujar ibu ibu tersebut sambil menatap sinis ke arah Vina.
"Maksud ibu?" tanya Vina lagi.
"Iya. Kemaren ada Nyonya nyonya ke sini, dia cari Nona Vina. Dia mengatakan kalau dia adalah istri sah dari kekasih Nona Vina." lanjut ibu ibu itu.
Perkataan ibu ibu tukang ghibah itu langsung menjadi pusat perhatian dari semua pengunjung warung.
"Aduh Nona Vina cantik cantik, pinter, punya usaha sendiri, kok mau maunya jadi pelakor. Pria bujangan masih banyak Nona." ujar ibu ibu tadi melanjutkan perkataannya.
Ibu ibu itu bermaksud membuat semua orang yang ada di sana menjadi terprovokasi untuk memarahi Vina.
Tiba tiba Maya yang mendengar semua itu langsung maju ke depan Vina.
"Maaf ya Bu, kalau ibu tidak tau masalah sebelumnya Ibu jangan asal tuduh saja." bela Maya.
"Asal tuduh maksud kamu? Kamu mengatakan kalau saya asal bicara gitu? Uwow kamu salah Nona saya berbicara fakta bukan gosip." ujar ibu ibu membela diri.
"Oke ibu ibu terpercaya. Ini apa?" ujar Maya.
Maya memperlihatkan video ibu ibu itu menerima uang dari Nyonya Nyonya yang dikatakannya sebagai istri sah kekasih Vina.
"Iti itu" ujar Ibu ibu tadi dengan sangat gugupnya. Dia tidak menyangka kalau Maya mendapatkan rekaman itu. Rekaman saat dia menerima uang dari orang suruhan Ranti.
"Itu apa?" ujar Maya lagi dengan sedikit keras.
Ibu ibu tadi menundukkan kepalanya sedalam dalamnya.
"Apa? Kenapa diam?" kata Maya dengan emosi jiwanya.
"Sekarang ibu minta maaf ke sahabat saya." perintah Maya.
Ibu ibu tukang gosip yang ketahuan kena sogokan itu meminta maaf kepada Vina. Dia benar benar malu oleh kelakuannya sendiri. Vina hanya bisa tersenyum menerima maaf ibi ibu itu.
"Maaf buk, sekarang silahkan pergi dari watung kami ini. Ibuk memang manusia tak tau terimakasih. Sudah sekian kali ibuk datang ke sini dengan tidak membawa uang dan mengatakan anak ibuk tidak makan dari semalam, kami memberikan makanan untuk ibuk. Sekarang ibuk berbuat hal menyedihkan seperti ini. Jadi maaf ibuk, hati saya tidak semulia hati sahabat saya. Jadi sekarang silahkan pergi" ujar Maya mengusir ibu ibu tersebut.
"Huuuuuuuuuuuuuuuuuu." semua pengunjung warung menyoraki ibu ibu yang membawa gosip tadi.
"Udah miskin nggak tau diri pula lagi." ujar seorang ibu ibu.
"Udah di bantu malah ngegigit. Binatang aja nggak sekejam itu jadi binatang." ujar ibu ibu yang lain.
__ADS_1
Setelah kejadian drama menyedihkan dipagi hari itu Vina berangkat ke kantor naik taksi online yang sudah menunggunya.
"Pagi hari baru udah ada aja yang bikin hati ini sedih. Sampai kapan aku akan menanggungnya" ujar Vina dengan tersenyum menyedihkan.