
[[ Gimana sayang??? Apa suami kamu itu takut dengan apa yang kamu katakan tadi? ]] bunyi pesan yang dikirimkan Dendi kepada Ranti.
[[ Gagal sayang. Dia punya bukti tentang perselingkuhan kita ]] balasan pesan yang dikirim Ranti kepada Dendi.
[[ Terus bagaimana??? ]]
[[ Nggak tau ]] balas Ranti kepada Dendi.
[[ Kamu coba cari tau dimana dia menyimpan semua bukti perselingkuhan kita. ]] Dendi memberikan ide kepada Ranti.
[[ Aku akan coba cari tau dulu, dimana dia menyimpan semua bukti tersebut. ]] jawab Ranti.
[[ Sudah malam mari tidur. Besok aku ada meeting penting. ]] jawab Dendi kepada Ranti.
Sedangkan di kamarnya Danu sudah memindahkan semua barang bukti ke dalam tas kantornya. Dia tidak ingin kehilangan semua barang bukti itu. Danu yakin kalau Ranti memiliki niat jahat kepada dirinya.
"'Ranti jangan kamu kira aku tidak tau kalau kamu mempunyai niat jahat kepada diriku" kata Danu dengan mata yang terlihat merah karena menahan rasa kesalnya.
Danu kemudian naik ke atas ranjang, dia akan tidur dan besok pagi pagi sekali dia harus sudah berangkat ke kantor. Sepertinya dia harus menyerahkan semua buktu dengan cepat kepada pengacaranya. Danu tidak mungkin menunda nundanya lagi.
...----------------...
Pagi pagi sekali Danu sudah membersihkan dirinya dan sudah berpakaian dengan rapi. Danu memilih untuk tidak sarapan di rumah dari pada dia harus bertemh dengan Ranti di meja makan. Danu juga sudah mengunci kamarnya, dia sudah menyimpan semua kunci cadangan rumah.
"Rasakan kamu Ranti. Kamu tidak akan bisa menemukan bukti yang kamu cari. Semua bukti sudah aku simpan dengan aman." kata Danu sambil menatap ke arah kamar mereka yang berada di lantai dua rumah.
"Tuan tidak sarapan dulu?" tanya bik Imah kepada Danu.
"Nggak bik. Bibik nggak usah aja masak sarapan ya. Kalau Ranti tanya katakan saja bibik sudah tidak diberi uang untuk belanja makanan dari saya." kata Danu kepada bik Imah
__ADS_1
"Siap Tuan. Akan saya lakukan Tuan. Sekali sekali Nyonya tidak tau diri itu memang harus di hukun Tuan." jawab Bik Imah yang semangat mau mengerjai Ranti.
"Tuan bagaimana kalau saya pura pura pergi saja Tuan. Saya juga malas masak untuk dia Tuan." kata Bik Imah yang tiba tiba punya ide untuk keluar saja dari rumah pagi pagi.
"Setuju bik Imah. Bibik pergi ke pasar aja, beli bahan makanan untuk seminggu ke depan. Kalau perlu bibik duduk duduk di taman aja. Gimana?" tanya Danu.
"Siap Tuan. Bibik akan siap siap dulu. Bibik males nengok dia Tuan." kata bik Imah yang memilih intuk belanja dan duduk di taman.
"Kalau gitu saya berangkat kerja dulu bik." kata Danu.
"Hati hati Tuan. Saya juga akan bersiap siap dan pergi dari rumah." jawab Bik Imah.
Setelah menutup pintu rumah. Bik Imah kembali menuju kamarnya, dia menukar pakaiannya dan bersiap siap untuk ke pasar dan ke taman. Bik Imah akan menghindar sebisa mungkin dari Nyonya yang satu itu.
"Dasar wanita nggak ada otak dan nggak ada akhlak. Udah selingkuh masih juga pulang kayak nggak ada masalah aja." kata bik Imah memaki maki Ranti di depan cermin.
Setelah selesai merapikan dirinya, bik Imah berjalan menuju pos tempat sopir yang biasa mengantarkan bik Imah ke pasar.
"Siap bik, saya ambil mobil dulu." jawab Pak Imam.
Ranti yang baru bangun dari tidurnya langsung keluar dari kamar. Dia merasa sedikit haus dan lapar. Ranti langsung menuju meja makan. Dia melihat tidak satupun sarapan yang disajikan di atas meja. Ranti mencoba mencari cari di lemari pendingin roti arau apapun yang bisa dimakannya. Tetapi tidak satupun cemilan yang bisa dimakan yang ditemukan oleh Ranti.
"Kenapa rumah semewah ini tidak ada satupun makanan yang bisa di makan." kata Ranti sambil menghempaskan pintu lemari pendingin.
Ranti kemudian mengambil gelas, dia berencana untuk meminum air lebih banyak. Dia berharap air bisa mengganjal perutnya sampai dia tidak merasakan lapar lagi. Minimal air bisa mengganjal perutnya sampai dia bisa membeli makanan di luar.
Ranti menuju dispenser dia menekan dispenser dengan maksud mengisi gelasnya dengan air. Tetapi air tidak keluar dari kran dispenser tersebut. Ranti membuka tempat galonnya, ternyata air di dalam galon juga tidak ada. Ranti menendang dispenser tersebut dengan cukup keras.
"Aw" teriak Ranti yang kakinya sakit karena menendang dispenser dengan kekuatan penuh.
__ADS_1
"Rumah gila air nggak ada makanan juga tidak ada." lata Ranti dengan penuh emosi.
Ranti kembali ke kamarnya, dia harus cepat cepat mandi, Ranti tidak ingin dia lama lama di rumah ini. Rumah yang akan membuat dia menjadi cepat stress. Ranti membuka semua pakaiannya. Dia berjalan ke bawah showet. Ranti menghidupkan shower dan bersiri di bawah shower. Ranti mengambil sabun dan mengusapnya ke seluruh badannya. Saat semua badan sudah tersabuni, air dari shower tidak ada yang keluar satu tetespun. Ranti menggoyang goyang shower, tapi hasilnya sama saja, tidak ada air yang keluar.
"Wah kenapa gue begitu sial. Tadi makanan tidaknada, kemudian air yang habis. Sekarang shower yang mati. Nyesel gue pulang ke sini" teriak Ranti dari dalam kamar mandi.
Ranti terpaksa melap semua busa dengan handuk yang dipakainya. Dia benar benar tidak habis pikir dengan semua kejadian dan keadaan di rumah ini.
"Kenapa semua begini? Apakah Danu tidak memperhatikan keadaan rumah lagi?" tanya Ranti kepada dirinya sendiri.
Ranti memakai semua pakaiannya kembali. Dia harus pulang ke apartemen untuk membersihkan badannya yang masih lengket karena sabun yang masih ada di badannya. Ranti turun dari kamar lantai dua. Dia menghempaskan dengan kuat pintu utama rumah. Setelah itu Ranti menuju mobilnya. Ternyata kesialan Ranti tidak berakhir di situ. Ranti melihat ban mobilnya sudah kempes sebelah.
"Sial pakai bocor lagi." kata Ranti.
"Pak Imam" teriak Ranti.
Tapi tidak ada sahutan dari sopir pribadi rumah itu. Ranti melihat ternyata tidak ada mobil yang biasa dipakai oleh Pak Imam di garasi.
"Sial bener bener sial gue" kata Ranti.
Ranti yang sama sekali tidak tau cara mengganti ban dengan ban serap. Terpaksa meninggalkan mobilnya di rumah Danu. Dia memesan taksi online saja agar cepat sampe apartemen.
Bik Imah dan Pak Imam yang melihat semuanya dari ruangan cctv hanya bisa tertawa dengan bahagia melihat Ranti yang sudah sangat frustasi dengan semua keadaan di rumah itu.
"Makanya jangan suka mengkhianati orang kalau tidak ingin dikhianati" kata bik Imah.
"Bener mbok. Sukurin" kata Pak Imam.
"Sudah sana. Hidupkan lagi shower. Terus air dispenser isi lagi. Mbok mau narok semua bahan makanan ke dalam lemari pendingin lagi." kata Bik Imah memberi perintah kepada Pak Imam.
__ADS_1
"Sip." jawab Pak Imam