Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Danu Curiga


__ADS_3

Mobil bergerak meninggalkan kawasan manjunto menuju tempat yang lainnya. Mereka akan melanjutkan pencarian terhadap Maya.


Sedangkan di ibu kota, Danu terlihat sangat kesal karena Ivan dan Iwan kembali tidak masuk kantor. Dia mengambil ponsel miliknya. Danu mencoba menghubungi Ivan dan Iwan, tetapi sayangnya panggilan Danu hanya diangkat oleh seorang wanita yang langganan berbicara di saat panggilan telpon tidak berhasil tersambung dengan nomor yang dituju.


"Kemana manusia dua itu. Sudah seminggu tidak masuk. Apa mereka nggak mikir kalau kerjaan sedang banyak. Seenaknya saja liburan lama lama." ujar Danu marah marah di dalam ruangan kerja miliknya.


Danu kemudian menghidupkan laptop miliknya. Dia menghilangkan rasa jenuh dan juga sakit kepalanya setelah marah marah sendirian dengan mrmbuka sosial media yang sudah sangat lama tidak dibukanya.


Danu iseng mencari nama Vina di laman sosiak medianya. Tak disangka oleh Danu ternyata Vina tidak membatalkan pertemanan mereka. Danu kemudian melihat postingan Vina yang ternyata Vina dua hari yang lalu berada di kota J di negara ini.


"Hah jadi dia kemaren di kota J. Kenapa gue nggak buka sosial media dari kemaren. Kalau tau kan gue bisa susul dia ke sana." ujar Danu dengan nada yang semakin kesal.


Hari ini hari terberat buat Danu. Permasalahan pertama Ivan dan Iwan yang tidak juga masuk kantor dengan alasan Ivan sakit, sedangkan Iwan harus ke kampung karena ada permasalahan hak waris keluarga. Permasalahan kedua Vina yang ternyata berada di kota J dua hari yang lalu.


"Argh gue bener bener kesal." teriak Danu sambil menarik rambutnya dengan keras.


Saat dia sedang kesal, pintu ruangan Danu terbuka lebar. Terlihat seorang wanita yang sangat dibenci oleh Danu berdiri di depan pintu masuk ruangan Danu. Wanita itu berdiri sambil memegang pinggangnya berpose layaknya pragawati sedang memperagakan baju rancangan terbaru seorang desaigner.


"Ngapain ke sini?" ujar Danu dengan nada dingin


"Apa kedua anak buah Tuan Manager yang katanya pintar ini belum pulang dari liburan ke kota J" ujar Ranti sengaja memancing rasa ingin tahu Danu.


"Maksud Anda apa? Kedua staf saya tidak ada liburan ke kota J. Mereka ada dinas luar ke kota C. Jangan pernah memutarbalikkan fakta." ujar Danu menahan emosinya agar tidak berteriak di depan Ranti.


"Kalau tidak percaya terserah." jawab Ranti.


Ranti kemudian berjalan keluar dari ruangan Danu. Bunyi tumit sepatunya memekakkan telinga Danu.


"Ke kota J ?" ujar Danu mengulang ulang aoa yang dikatakan oleh Ranti tadi.

__ADS_1


"Atau kemaren mereka selesai bekerja di kota C menyempatkan diri untuk liburan ke kota J.?" ujar Danu mencoba mencerna perkataan Ranti tadi.


"Ranti tidak mungkin berbohong. Pasti dia melihat sendiri Ivan dan Iwan di kota J." ujar Danu yang mulai kembali labil dengan apa yang dipikirkannya.


"Kalau mereka di kota J, berarti mereka berdua bertemu dengan Vina. Apa mereka bohong dengan gue?" ujar Danu berbicara sendirian.


"Gue harus tanya Paman." ujar Danu.


Danu berjalan keluar ruangannya. Dia kemudian memasuki lift yang langsung menuju ruangan presiden direktur di lantai paling atas bangunan perusahaan.


Pintu lift terbuka. Danu yang melihat tidak ada sekretaris di mejanya langsung mengetuk pintu ruangan presiden direktur.


Presiden direktur yang sedang membaca media kabar online langsung mendongak melihat siapa yang mengetuk pintu.


"Masuk" ujar Presiden direktur sambil melipat surat kabar yang sedang dibacanya itu.


Danu kemudian membuka pintu ruangan direktur. Dia kemudian masuk dan langsung duduk di kursi depan meja kerja presiden direktur. Presiden direktur menatap Danu yang terlihat sedikit sedang dalam kondisi tidak baik itu.


"Begini Paman. Aku bertanya bukan antara manager dengan presdir. Tetapi antara paman dan keponakan." ujar Danu memakai kekeluargaan dalam perbincangannya kali ini.


"Oke. Ada apa?" tanya Paman.


"Apakah wakti Ivan dan Iwan Paman katakan dinas luar membantu anak perusahaan di kota C memang benar?" tanya Danu sambil menatap tajam mata Pamannya.


"Ya benar. Emang ada apa?" tanya Paman mulai curiga kalau Danu mengetahui sesuatu.


"Tadi Ranti ke ruangan aku. Dia mengatakan kalau dia berjumpa dengan Ivan dan Iwan di kota J saat mereka melakukan dinas luar ke kota C." ujar Danu menceritakan kepada Pamannya tentang informasi yang diberikan oleh Ranti tadi kepada dirinya.


"Hahahahaha. Danu danu. Sekarang paman yang tanya sama kamu. Berapa kali kamu dibodohi oleh Ranti?" tanya Paman kembali membalikkan pertanyaan kepada Danu.

__ADS_1


"Sudah nggak terhitung berapa kalinya bukan? Sekarang kamu percaya kalau dia melihat Ivan dan Iwan di sana saat mereka melakukan kegiatan dinas luar kota?" ujar Paman mulai mensterilkan otak dan pikiran Danu dari perkataan Ranti.


"Kalau kamu lebih percaya Ranti dari pada staff kamu sendiri apa boleh buat. Paman tentu akan ikut juga." ujar Paman dengan santainya.


"Atau mereka memang benar pergi ke kota J setelah pekerjaan mereka selesai. Apa salahnya kan ya. Mereka kita beri cuti empat hari, mereka mengerjakan pekerjaan mereka dalam satu hari. Tentu hari yang tiga bisa mereka manfaatkan dengan mengunjungi kota lain." ujar Paman memberikan penguatan dan menghapus racun yang ditanam Ranti tadi.


Danu terlihat berpikir dan menganalisa apa yang dikatakan Paman kepada dirinya. Semua yang dikatakan Paman ada benarnya juga. Danu terlihat mulai tenang kembali.


"Gimana? Apa kamu masih bimbang?" tanya Paman memastikan apakah dia berhasil atau tidak menghilangkan racun itu.


"Sudah tidak ragu lagi Paman. Itu hak mereka mau jalan jalan kalau pekerjaan mereka sudah selesai." lanjut Danu berkata sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang didudukinya.


Danu masih terlihat memiliki beban di pikirannya.


"Apalagi? Masih ragu untuk mengurus cerai?" tanya Paman yang kasihan melihat keponakan satu satunya yang terlihat merana itu.


Danu menggeleng lemah. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk bercerai dari Ranti. Semua bukti sudah dikumpulkannya. Dia tinggal mencari waktu untuk pengajuan berkas berkas ke pengadilan agama.


"Jadi apa lagi?" tanya Paman yang sudah mulai kepo itu.


"Vina dua hari yang lalu upkiad fhoto kalau dia sedang berada di kota J." ujar Danu berbicara dengan santainya.


Paman yang sedang minum langsung tersedak saat mendengar apa yang dikatakan Danu.


"Di kota J? Samperin aja sana." ujar Paman memberikan solusi.


"Yah captionnya aja mengatakan sampai jumpa kota J." ujar Danu mengatakan bunyi caption yang ditulis oleh Vina sebagau caption fhoto dirinya yang berada di kota J


"Berarti udah pergi dia." ujar Paman lagi.

__ADS_1


Danu mengangguk. Dia kemudian panit kepada Paman untuk kembali ke ruangannya. Dia masih penasaran dengan kedua staffnya yabg kompak mengambil libur. Danu curiga kalau mereka berdua pergi liburan tanpa dirinya.


__ADS_2