
"Bang, loe bisa kan berangkat besok?" tanya Ivan kepada Iwan yang terlihat masih mengerjakan tugas kantornya. Padahal sudah hampir setiap malam mereka berdua tidak tidur sama sekali untuk menyelesaikan project project yang harus selesai cepat itu.
"Pergilah, udah berapa malam gue diskon tidur karena hanya ingin ikut dengan elo Van. Eee masak di detik detik terakhir gue gagal berangkat. Ya nggak bisa Van" ujar Iwan yang hampir selesai mengerjakan tugasnya.
"Oh ya Van, kita kasih tau Danu atau tidak? Atau kayak kemaren lagi menghilang tanpa jejak dan mati alat komunikasi?" tanya Iwan yang baru ingat dengan izin ke Danu atau tidak sama sekali.
"Kita izin Ayah saja Bang. Tadi gue udah ngomong sama Ayah. Ayah oke aja." ujar Ivan mengatakan kalau dia memang sudah membicarakan hal ini dengan Ayah dan Ayah mengizinkan Ivan dan Iwan untuk berangkat dan ambil libur selama seminggu.
"Tapi, Ayah ngasih syarat kalau semua project sudah kita kerjakan, maka kita berdua bisa berangkat." ujar Ivan kepada Iwan yang sedang serius memberikan sentuhan akhir kepada project nya itu.
"Makanya gue nanyak ke elo, apa project yang elo bikin udah selesai Bang" lanjut Ivan menjelaskan kepada Iwan syarat yang diberikan oleh Ayah untuk mendapatkan izin pergi selama seminggu.
"Neh baru selesai. Nanti gue pindahin ke flash dan kasihkan ke Danu. Punya loe gimana? Udah kasih ke Danu?" tanya Iwan yang melihat Ivan sudah menyelesaikan semua project yang ditanganinya.
"Pindahin ke flash sudah. Tapi kasih ke Danu belum. Nanti ajalah pas mau pulang. Kalau dari sekarang dikasih ke Danu, maka Danu akan banyak tanya Bang. Gue malas jawabnya" ujar Ivan yang tau bagaimana tipe Danu kalau sudah bertanya. Nggak akan ada habisnya pertanyaan pertanyaan diberikan oleh Danu kepada Ivan.
"Jadi jam berapa berangkat besok?" tanya Iwan yang sama sekali tidak tahu tujuan mereka mau kemana. Ivan selalu merahasiakan, Iwan akan tahu saat dirinya menerima tiket pesawat saja.
"Jam delapan Bang. Kita dijemput sama Juan. Nggak akan naik pesawat komersil" ujar Ivan yang sudah meminta kepada Sari untuk mengirimkan pesawat menjemput dia dan Iwan ke negara I.
"Wow, kalau di jemput Juan, gue udah tau kemana kita akan pergi. Sepertinya gue harus tukar isi ransel gue." ujar Iwan yang sudah tau mereka akan pergi kemana besok pagi.
"Hahahahahaha. Jadi, loe baru sadar Bang, kalau kita akan pergi kemana?" ujar Ivan yang mengira kalau Iwan sudah mengetahui mereka akan pergi kemana, walaupun dia tidak memberitahukan kepada Iwan.
"Iya, baru ngeh gue karena loe ngomong pergi dengan Juan." jawab Iwan meyakinkan Ivan.
Mereka kemudian melanjutkan pekerjaan. Besok pagi pagi mereka sudah harus terbang ke negara U. Ivan ingin menyaksikan pembukaan kafe yang telah lama dicita citakan oleh Maya. Ivan tidak mau melewatkan hari spesial itu.
"Van, sepertinya aroma aroma kurang sedap dari Danu. Kita tarok di ruangannya aja langsung flashdisk saat dia sudah pulang. Terus di atasnya kita kasih surat kecil, kalau flashdisk itu adalah berisi project project yang akan dipresentasikan" ujar Iwan memberitahukan kepada Ivan kalau suasana hati Danu sedang tidak dalam kondisi oke.
__ADS_1
"Hem. Sip Bang. Dari pada kena semprot tenk baja. Mending kita tunggu dia pulang baru tarok flasnya." ujar Ivan yang setuju dengan idenya Iwan.
Mereka berdua kembali melanjutkan pekerjaan. Saat sore tiba, Danu keluar dari dalam ruangannya.
"Kalian berdua lembur lagi?" tanya Danu sambil menatap Ivan dan Iwan.
"Nggak Dan. Bentar lagi mau pulang. Loe duluan aja" ujar Iwan mengusir Danu secara harus.
"Oke gue duluan" ujar Danu kepada Ivan dan Iwan.
Ivan melihat Danu yang sudah menghilang ditelan lift. Iwan langsung menuju ruangan Danu dan meletakkan flashdisk tersebut di tempat yang bisa dengan mudah ditemukan oleh Danu. Iwan juga menaruh secarik aurat untuk Danu.
"Sip Van. Mari pulang. Kita ambil barang gue dulu. Siap itu baru ke rumah ayah" ujar Iwan.
"Oke Bang" Ivan setuju dengan pendapat Iwan. Mereka akan pergi ke rumah Ayah setelah menjemput barang Iwan.
Mereka berdua juga meninggalkan kantor. Kali ini mereka akan pergi selama seminggu. Jadi, Ivan membawa motornya kembali ke rumah. dia tidak mungkin meninggalkan motornya di perusahaan. Tapi kalau di rumah Iwan, Ivan bisa meninggalkan motornya itu dengan tenang
Dua hari setelah kejadian pesan chat yang tertunda balas itu, hubungan antara Vina dan Danu kembali merenggang karena ada pesan chat yang masuk ke dalam ponsel Vina. Sebenarnya bukan Vina mengelak untuk membalas, tetapi perasaan dan pikiran Vina kembali bercabang dua.
FLASHBACK
'Elo masih berharap Danu untuk menceraikan gue? Nggak akan pernah bisa pelakor sayang. Danu terikat janji dengan kedua orang tua gue' bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Ranti kepada Vina. Ranti kembali mulai meneror Vina. Sepertinya ganjaran yang diberikan oleh Sari masih belum memberika efek yang mengejutkan kepada Ranti. Makanya Ranti kembali mencoba mengganggu Vina.
'Lagian, loe tau sendirikan ya, kalau kami sudah punya anak, jadi, nggak akan mungkin Danu mau menceraikan aku' bunyi pesan chat yang lainnya.
'Danu itu sangat sayang dengan anaknya. Jadi, loe nggak usah mengkhayal ketinggian' lanjut pesan chat dikirim oleh Ranti kepada Vina.
Vina sama sekali tidak membalas pesan chat dari Ranti. Dia hanya membaca saja. Vina masih percaya dengan Danu. Vina masih yakin dengan janji Danu yang akan memperjuangkan cinta mereka untuk kembali bersatu.
__ADS_1
'Loe nggak yakin, kalau gue dengan Danu nggak mungkin berpisah. Gue kirimin fotonya' lanjut Ranti mengirim pesan chat yang lainnya kepada Vina.
Pesan chat dari Ranti hanya dibaca saja oleh Vina. Vina sama sekali tidak menanggapi semua pesan chat dari Ranti. Ranti jadi kesal sendiri kepada Vina, karena Vina sama sekali tidak membalas pesan chat dari dirinya.
"Ini anak bener bener keterlaluan. Berani beraninya nyuekin pesan chat dari gue" ujar Ranti dengan murka. Ranti tidak menyangka Vina aka n diam saja menerima pesan dari dirinya
Ranti kemudian masuk ke dalam kamar Danu. Dia melihat Danu masih tertidur di atas ranjang.
"Moment yang sangat pas. Ngapain nggak kepikiran dari tadi ya untuk masuk kamar. Begok gue" ujar Ranti sambil memukul keningnya sendiri.
Ranti dengan perlahan lahan dan mengendap endap masuk ke dalam selimut Danu. Danu kebetulan menghadap ke arah Ranti. Ranti sangat senang dengan moment ini. Dia kemudian mengambil fhoto dirinya dengan Danu di atas ranjang itu. Ranti tidak lupa mengaktifkan watermark tanggal dan waktu kapan fhoto di ambil.
Ranti melihat fhoto nya dengan Danu. Ranti mengambil dua fhoto lagi. Dia tidak ingin Vina meragukan bukti fhoto itu.
"Mending gue juga ngambil video gue dengan Danu di ranjang ini. Jadi, dia akan semakin yakin kalau ini adalah kejadian sebenarnya bukan editan" ujar Ranti yang benar benar menyusun rencana dengan sangat matang.
"Ah ya, bekas peperangan semalam masih ada. Gue buka sedikit aja. Untung pakai kemeja, jadi bisa gue buka setengah ke bawah" ujar Ranti yang benar benar ingin membalaskan dendamnya kepada Vina.
Ranti kemudian membuka kemejanya. Dia kemudian berpose dan merekam semua kejadian itu. Ranti juga dengan sengaja menyorot kebagian bekas peperangannya semalam dengan pria lain. Hal itu sengaja dilakukan oleh Ranti, agar Vina semakin marah dan muak dengan Danu.
Setelah mengambil fhoto mereka berdua dan juga merekam dirinya yang sedang terbuka bajunya itu, Ranti kemudian keluar dari dalam kamar Danu. Ranti tidak mau Danu mendapati nya berada di dalam kamar Danu.
"Gue harus gerak cepat. Bisa habis gue kalau dia tau gue ada di dalam kamarnya, apalagi ada di atas ranjangnya" ujar Ranti yang memakai kembali pakaiannya dengan tergesa gesa.
Setelah memastikan pakaiannya sudah terkadang dengan sempurna, Ranti kemudian bergegas keluar dari dalam kamar Danu. Dia tidak mau ketahuan oleh Danu kalau berada di rumahnya, apalagi sampai ketahuan berada di dalam kamar Danu. Bisa habis Ranti dibuat oleh Danu.
Ranti kembali ke lantai bawah rumah itu. Dia akan langsung pergi dari rumah. Tak satupun orang rumah yang tau kalau Ranti masuk, kecuali satpam. Ranti malahan berbohong kepada satpam kalau dia diminta datang oleh Danu ke sana.
Vina membuka pesan chat yang dikirim oleh Ranti berupa fhoto dan video tersebut. Vina melihat fhoto fhoto yang dikirim oleh Ranti. Setelah itu Vina melihat video. Dimana Ranti sengaja membuka kancing atas bajunya dan memperlihatkan bekas bekas peperangan antara laki laki dan perempuan itu.
__ADS_1
Vina menghentikan rekaman video itu. Dia kemudian meletakkan kembali ponsel miliknya. Dia tidak mau membahas hal itu untuk hari ini. Vina menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Kalau Tuhan berkehendak dia akan terus dengan Danu, maka Tuhan akan menunjukkan jalannya, tetapi kalau Tuhan tidak berkehendak hubungan dia dengan Danu kembali lagi, Vina juga meminta kepada Tuhan untuk memperlihatkan juga.