
"Nenek, kenapa Ayah sampai tidak tahu dan tidak mengenal kalau om Ivan adalah sepupu kandung Ayah sendiri Nenek" ujar Deli yang tidak mengerti dengan keadaan Ayahnya itu.
"Bukannya seharusnya Ayah mengenali om Ivan. Atau Ayah memang tidak pernah bertemu dengan om Ivan sebelumnya, karena om Ivan tinggal di negara I sedangkan Ayah di negara U" lanjut Deli semakin bertanya dengan sangat rinci dan seperti seorang detektif kepada neneknya itu.
Mami terdiam mendengar apa yang ditanyakan oleh Deli. Deli benar benar bertanya diluar nalar dia sebagai seorang anak kecil.
Mami kemudian memberikan senyuman penuh rasa bangga kepada cucunya itu. Mami semakin yakin kalau cucunya memiliki kemampuan yang sangat jauh dibandingkan anak normal seusia Deli.
"Nenek, kenapa Nenek diam lagi. Kalau Nenek terus saja diam seperti ini, Deli jadi tidak tau ceritanya Nenek. Deli jadi hanya bisa menebak nebak saja jalan cerita yang akan nenek beritahukan kepada Deli" ujar Deli yang sudah tidak sabar lagi mendengar cerita dari Neneknya yang sekarang dalam posisi tersenyum kepada Deli.
Deli kemudian menatap ke arah Neneknya itu. Ingin rasanya Deli mencubit mulut nenek yang sedang tersenyum tersebut. Tetapi Deli takut juga dengan dosa. Sehingga Deli hanya bisa menyabarkan hatinya untuk tidak berbuat seperti itu kepada Nenek.
Deli terpaksa menyabarkan dirinya menunggu Nenek mau membuka mulutnya kembai. Rasa ingin marah dalam diri Deli pasti ada. Tetapi dia tidak mau memarahi neneknya dan mendesak neneknya itu. Jadi, Deli hanya bisa menyabarkan hati dan pikirannya menghadapi nenek yang sedang menarik ulang memory kejadian yang sudah terlampau sangat lama dan ingin dilupakan oleh keluarga Sanjaya.
"Jadi sayang, kenapa Ayah kamu tidak ingat dengan kedua sepupunya walaupun mereka sudah bertemu karena, Ayah kamu kehilangan memory masa kecilnya sayang" ujar Nenek akhirnya berhasil mengatakan hal tersebut kepada Deli.
"Hah? Maksud Nenek, Ayah lupa ingatan?" tanya Deli meyakinkan pendengarannya sekali lagi.
"Iya sayang, Ayah kamu hilang ingatan." jawab Nenek meyakinkan Deli atas apa yang dikatakan oleh Nenek tadi.
"Kok bisa Nek? Apa Ayah mengetahuinya?" tanya Deli yang sudah sangat haus akan informasi itu.
"Jadi, ceritanya begini sayang" ujar Nenek akan memulai cerita penyebab Danu bisa menjadi amnesia.
FLASHBACK 20 TAHUN YANG LALU
"Papi, Mami, Danu ke kebun Anggur dulu sama Ivan dan Sari, Mi" ujar Danu meminta izin kepada Papi dan Mami untuk membawa kedua sepupunya itu bermain di kebun Anggur.
"Hati hati ya sayang. Jaga kedua sepupu kamu dengan baik" lanjut Mami menjawab izin yang dikatakan oleh Danu.
"Asiap Mami" jawab Danu sambil memberikan salam hormat kepada Mami.
__ADS_1
"Kemana mereka bertiga kakak ipar?" tanya Paman kepada Mami yang sedang sibuk memasak pancake kesukaan Danu, Ivan dan Dari.
"Katanya ke kebun Anggur" jawab Mami sambil serius memasak pesanan ketiga anak kecil yang sedang asik bermain tersebut.
"Oh. Ini pasti pesanan mereka kan ya kakak ipar?" tanya Paman kepada Mami.
"Siapa lagi. Mereka menuntut untuk membuatkan pancake kesukaan mereka" jawab Mami sambil melihat kearah Paman sebentar dan tersenyum.
"Kakak ipar selalu memanjakan mereka. Oh ya kakak dimana?" tanya Paman yang ingat tujuannya datang ke mansion kakaknya itu.
"Biasa, di pabrik anggurnya. Kemana lagi dia pergi. Perusahaan tidak mungkin. Dia tidak minat di situ" ujar Mami menjawab pertanyaan Paman tentang dimana keberadaan Papi saat itu.
"Pasti ketiga anak itu akan kesana" jawab Paman.
"Aku ke sana dulu kakak ipar. Takutnya mereka akan mengganggu para pekerja yang sedang sibuk" ujar Paman menjadikan alasan ketiga anak kecil itu untuk bisa ke kebun Anggur.
"Jangan jadikan mereka alasan Adik. Kamu lanjut aja ke sana. Nanti kalau semua pancake ini sudah siap. Kakak juga akan menyusul ke sana" ujar Mami sambil menatap ke arah Paman.
Paman melihat ketiga anak kecil tersebut sedang berlari larian di area perkebunan Anggur.
"Hay, kalian bertiga hati hati. Lihat lihat saat berlari. Ayah takut kalian bertiga nanti jatuh" ujar Paman menyoraki ketiga anak yang sedang sibuk berlari larian di antara petak petak tanaman anggur.
"Oke Ayah. Kami akan hati hati saat berlari" jawab mereka bertiga dengan kompaknya.
Paman kemudian masuk ke dalam pabrik Anggur. Dia mencari keberadaan kakaknya yang ternyata sedang berada di ruang pengujian rasa.
Papi dilihat Paman sedang membagi dengan sangat penuh konsentrasi setiap anggur yang selesai diolah itu. Paman menatap kagum kearah kakaknya itu. Papi hanya dengan menghirup aroma dari Anggur yang telah selesai diolah, bisa tau itu anggur enak atau tidak.
"Kakak" ujar Paman menyapa kakaknya yang sedang terlihat serius itu.
"Hay Adik. Kapan datang" tanya Paman sambil meletakkan Anggur yang tadi sudah dihidup aromanya itu.
__ADS_1
"Barusan, tadi aku dari mansion bertemu dengan kakak ipar yang sedang membuat pancake. Terus aku bertanya kepada kakak ipar dimana kakak berada" ujar Paman menceritakan kenapa dia bisa berada di pabrik ini.
"Pasti kakak ipar kamu mengatakan aku sedang berada di tempat favorit aku bukan" ujar Papi yang sudah sangat hafal apa jawaban dari istri tersayangnya itu.
"Haha haha haha. Benar sekali, memang itu selalu jawaban yang diberikan kakak ipar kepada aku setiap bertanya dimana kakak berada" ujar Paman menyetujui apa yang dikatakan oleh Papi.
"Dia tidak akan mengubah jawabannya" jawab Papi.
"Anak anak mana, Adik?" tanya Papi yang sama sekali tidak melihat satupun anak anak di dekat adiknya itu.
"Ada di kebun" jawab Paman sambil melihat koleksi Anggur yang sudah di produksi oleh pabrik tersebut.
"Ooo. Mereka sama Danu kan ya?" tanya Papi yang tidak ingin hanya Ivan dan Sari saja yang bermain di kebun.
"Iya kak, ada Danu yang mengawasi mereka" jawab Paman.
Papi kemudian melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Paman kembali melihat lihat koleksi Anggur yang ada di sana. Paman membaca semua tanggal kapan anggur itu dibuat.
Tiba tiba ada teriakan dari arah luar dengan suara yang sangat lantang sekali.
"Tuan besar, tuan besar, tuan besar" teriak karyawan pabrik sambil berlari kencang.
Papi dan Paman membuka pintu ruang kerja. Dia melihat seorang karyawan dengan setengah berlari dan sesak nafas memanggil manggil mereka berdua.
"Ada apa?" tanya Papi sambil melihat ke arah karyawan itu.
"Anak anak bapak" ujar karyawan kepada Papi dan Paman.
"Ada apa dengan anak anak" tanya Papi
"Ikut saya aja tuan" jawab Karyawan pabrik.
__ADS_1
Papi dan Paman yang mendengar nama anak anak langsung pergi mengikuti karyawan pabrik.