Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Deli Marah


__ADS_3

"Hay sayang ada apa? Kalau Deli nggak jawab pertanyaan Mami, apa yang akan bisa Mami bantu sayang" ujar Maya yang kembali bertanya kepada Deli tentang kenapa bisa Deli sesedih ini sekarang.


Deli masih saja diam, dia sama sekali tidak memberikan respon apa apa atas pertanyaan yang diajukan oleh Maya kepada dirinya. Deli masih tetap memeluk Maya dengan sangat kuat. Deli seperti tidak ingin melepaskan pelukannya dari Maya.


Maya berniat untuk merenggangkan pelukan Deli terhadap tubuhnya. Tetapi Deli semakin kuat memeluk Maya. Deli seperti tidak ingin melepaskan pelukannya dari Maya. Maya yang melihat Deli benar benar bersedih karena tidak ada Vina di kafe saat dia datang langsung memberikan kode kepada kasir yang masih setia berdiri di dekat Maya dan Deli.


Kasir mengangguk dan mengerti dengan kode yang diberikan oleh Maya kepada dirnya. Kasir kemudian menuju meja kerjanya kembali. Dia akan menghubungi Nona Vina seperti arahan yang diberikan oleh Nona Maya kepada dirinya sebentar ini.


************************************************************************************************************************


Vina yang sedang berada di perusahaan dan membaca beberapa dokumen yang harus diselesaikan oleh dirinya saat itu juga langsung kaget saat mendengar bunyi nada ponselnya yang ntah sejak kapan di stel sekeras itu.


"Waduh kenapa bisa sekeras ini nada deringnya?" ujar Vina yang kaget saat mendengar nada ponsel milik dirinya sendiri.


Vina kemudian melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata telpon itu adalah telpon yang berasal dari kafe milik dirinya dan juga Maya..


"Hallo" ujar Vina menyapa seseorang yang berada di kafe tersebut.


"Nona Vina, maaf ini saya Dina dari bagian kasir." ujar kasir memperkenalkan dirinya.


"Oh ya Dina ada apa? Apa ada masalah yang terjadi di kafe?" ujar Vina yang langsung saja berpikiran kalau ada sesuatu yang terjadi di kafe saat ini sehingga bagian kasir harus menghubunginya di jam kerja seperti sekarang.


"Kafe dalam keadaan baik baik saja Nona. Lagian Nona Maya juga sudah berada di kafe" ujar Dina menjawab pertanyaan Vina yang sedang khawatir dengan keadaan kafe saat Dina menghubunginya itu.


"Terus kenapa kamu menghubungi saya? Saya sedang membaca dokumen dokumen yang harus selesai saya baca hari ini Dina" kata Vina yang sedikit kesal kepada Dina karena Dina sudah menghubungi dirinya pada saat dia sedang sibuk bekerja.

__ADS_1


Sebenarnya para pegawai di kafe diperbolehkan kapanpun menghubungi Vina walaupun Vina dalam keadaan bekerja. Tetapi, itu diperbolehkan kalau ada keadaan darurat dan Maya tidak berada di kafe.


"Maafkan saya Nona. Tetapi ini ada kaitannya dengan Nona Deli" ujar Dina si kasir memberikan alasan kenapa dirinya menghubungi Vina saat Vina sedang dalam waktu bekerja di perusahaan.


"Deli, kenapa dengan Deli?" ujar Vina yang semakin panik saat Dina mengatakan nama Deli kepada Vina.


Apalagi Dina menghubungi Vina dengan alasan Deli. Pikiran Vina menjadi ntah kemana mana saat itu. Dia sudah tidak konsentrasi lagi. Vina langsung memutuskan sambungan telponnya dengan Dina kasir dari kafe.


"Sari" teriak Vina memanggil Sari dari intercom ruangannya.


Sari yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi, langsung saja berlari menuju ruangan Vina, saat mendengar Vina berteriak dengan sangat keras dan dengan nada cemas.


"Ada apa Vin?" ujar Sari langsung bertanya kepada Vina saat dirinya membuka pintu ruangan Vina dan melihat Vina sudah bersiap siap untuk berangkat.


"Loe ikut gue ya. kita ke kafe." ujar Vina meminta Sari untuk ikut dengan dirinya menuju kafe.


Padahal Vina tahu kalau pekerjaan mereka sedang sangat banyak, ntah kenapa Vina mengajak dirinya untuk ke kafe. Itu yang membuat Sari sama sekali tidak mengerti dengan keinginan Vina.


Vina yang melihat Sari terdiam paham dengan apa yang ada di dalam otak Sari sekarang ini. Sari pasti tidak akan beranjak dari tempatnya kalau Vina tidak mengatakan alasan yang akan membuat Sari untuk ikut dengan dirinya sekarang juga menuju kafe. Vina sudah tidak bisa menahan nahan lagi untuk tidak pergi ke kafe sekarang juga.


"Ini berkaitan dengan Deli. Lebih lengkapnya nanti di mobil gue cerita" ujar Vina mengatakan kepada Sari, alasan apa yang membuat dirinya mengajak Sari untuk pergi menuju kafe saat itu juga.


Sari yang mendengar nama Deli di sebut oleh Vina yang menjadi alasan Vina untuk gerak cepat menuju kafe langsung saja berbalik dengan cepat menuju ruangannya.


Sari melangkahkan kakinya dengan lebar lebar menuju ruangannya. Dia akan mengambil tas tangan miliknya dan semua barang barang milik Sari yang sedang bertebaran di atas meja kerjanya itu.

__ADS_1


Vina yang melihat Sari langsung gerak cepat saat mendengar kata Deli langsung tersenyum, kecemasan terhadap kondisi Deli saat ini sedikit terobati karena semua orang sangat peduli dengan Deli.


"Sari saja yang tidak ada tali saudara dengan dirinya, bisa langsung pergi saat mendengar nama Deli. Kenapa wanita itu bisa tidak perduli dengan anaknya ya?" ujar Vina yang ntah kenapa bisa teringat dengan Ranti.


"Ayok Vin" ujar Sari yang sudah siap dan menunggu Vina di depan pintu ruangan Vina.


Kedua wanita cantik dan petinggi perusahaan itu berjalan berdua dengan langkah lebar lebar. Siapapun yang melihat ke dua petinggi perusahaan itu sangat yakin kalau mereka dalam kondisi yang tidak baik baik saja. Sehingga membuat kedua wanita itu harus melangkah dengan cepat dan lebar lebar meninggalkan ruangan kerja mereka.


"Siang Nona" sapa beberapa karyawan yang berselisih jalan denga Vina dan Sari.


Vina dan Sari kali ini sama sekali tidak menjawab sapaan yang diberikan oleh karyawan mereka. Vina dan Sari hanya menganggukkan kepala mereka saja. Mereka berdua sekarang fokus bagaimana supaya bisa cepat berada di dalam mobil dan bisa dengan cepat sampai di kafe Maya. Keadaan Deli benar benar menghantui dua wanita cantik itu.


"Pakai mobil gue aja Vin" ujar Sari saat melihat Vina mau masuk ke dalam mobilnya.


"Oke" jawab Vina yang tidak mau ribut dengan Sari menentukan mobil siapa yang akan mereka pakai menuju kafe.


Mereka berdua kemudian masuk ke dalam mobil. Sari yang telah yakin Vina dan dirinya sudah duduk dengan betul dan sudah memasang seltbelt dengan benar langsung menginjak pedal gas mobil dengan dalam. Mobil sport keluaran terbaru dari logo kuda jingkrak warna merah itu langsung menderu dengan kencang. Mobil dengan sangat cepat meninggalkan parkiran perusahaan. Beberapa karyawan langsung menjadi kaget saat melihat bagaimana cara Sari mengemudikan mobilnya kali ini.


"Sari, jangan ngebut banget" ujar Vina yang agak sedikit takut melihat bagaimana cara Sari mengemudikan mobil menuju kafe.


"Nggak akan apa apa Vina. Ini mobil teraman di dunia" jawab Sari yang sudah sangat penasaran dengan apa yang terjadi kepada Deli sekarang ini.


Sedangkan di kafe, Dina yang tadi menghubungi Vina langsung terdiam saat Vina dengan sepihak mematikan sambungan telpon dirinya. Dina menatap lama gagang telpon tersebut. Dia kemudian berjalan menuju Maya yang masih setia di peluk oleh Deli.


"Maaf Nona, Nona Vina sudah dalam perjalanan ke kafe" ujar Dina sang kasir menyampaikan kepada Maya kalau Vina sudah dalam perjalanan menuju kafe.

__ADS_1


Maya menganggukkan kepalanya. Kemudian dia mengucapkan terimakasih kepada Dina karena sudah mau membantu menghubungi Vina yang masih berada di perusahaan.


"Tinggal menunggu Vina lagi. Semoga dengan hadirnya Vina di sini bisa membuat Deli tidak seperti ini lagi" ujar Maya dengan pelan sambil mengusap kepala dan juga punggung anak gadis kecil yang sudah merasakan pahitnya hidup.


__ADS_2