
Ivan, loe bisa lacak manives pesawat terbang atas nama Vina?" Danu bertanya sambil mondar mandir menunggu panggilannya diangkat oleh manager HRD.
"Bisa Bang." jawab Ivan yang langsung menuju meja kerjanya untuk mengambil laptop.
Ivan kembali dalam sekejap. Danu sudah meremas rambutnya dengan keras. Danu benar benar seperti orang frustasi yang tidak tau apa yang mau dikerjakannya lagi.
"Bang, manives sebulan yang lalu harus kita cek?" tanya Ivan lagi.
"Semenjak Vina keluar dari kantor cek. Aku penasaran kemana dia perginya." ujar Danu.
Ivan mulai mengetikkan nama Vina dalam situs yang dia retas. Setelah menunggu selama satu jam karena harus membaca nama nama orang selama sebulan, tidak ditemukan manives penerbangan atas nama Vina. Sedangkan nama Maya ada ke negara H.
"Maaf Bang, sama sekali tidak ada manifes atas nama Vina. Manifes yang ada atas nama Maya ke negara H." ujar Ivan memperlihatkan semua bukti bukti yang di dapatnya.
"Apa mungkin dia ke kampungnya kali ya?" ujar Iwan.
"Bisa jadi. Loe berdua ikut gue sekarang. Kita cari Vina ke kampungnya." perintah Danu kepada kedua sahabat sekaligus staff nya itu.
"Terus kerjaan kantor bagaimana?" tanya Ivan.
"Semua kerjaan sudah kita selesaikan. Tidak ada yang tertinggal lagi. Jadi kita akan pergi selama tiga hari. Gue akan ngasih tau ke direktur dulu." ujar Danu sambil berjalan keluar menuju ruangan Direktur.
Disepanjang jalan menuju ruangan adik ayahnya itu Danu berpikir keras. Apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Vina kenapa Vina mendadak pengen pergi.
Danu sampai di ruangan direktur. Terlihat sekretaris sudah menunggu kedatangan Danu.
"Pagi Nyonya, apa Pak Direktur sedang sibuk?" tanya Danu.
"Tuan direktur ada di dalam kebetulan sekali beliau sedang tidak ada pekerjaan." jawab sekretaris.
Danu masuk ke dalam ruangan direktur. Pamannya sekaligus Bosnya itu sudah menunggunya dari tadi. Dia sangat yakin Danu akan ke ruangannya setelah tau apa yang terjadi.
"Silahkan duduk. Bagaimana kabar cucu dan abang aku yang nggak mau ngurus perusahaan itu?" tanya Direktur.
"Hahahaha. Deli dan Papi baik baik saja paman." ujar Danu.
"Jadi ada kabar angin apa yang membawa kamu masuk ke ruangan Paman saat hari pertama ngantor?" tanya Direktur pura pura tidak tau apa penyebabnya.
__ADS_1
"Aku mohon izin untuk membawa dua staff aku ke kampung Vina. Aku benar benar sudah tidak tau lagi dia kemana." ujar Danu yang mendadak mencurahkan isi hatinya kepada Pamannya itu.
"Boleh bawa saja mereka. Lagian pekerjaan mereka sepertinya juga sudah selesai. Tapi Danu boleh paman mu ini bertanya sesuatu?" tanya Direktur sambil menatap Danu.
Danu menganggukkan kepalanya. Dia tidak mungkin lagi menyimpan rahasia ini lagi. Dia harus berbagi kepada Pamannya itu.
"Apa kamu benar benar mencintainya?" tanya Direktur sambil menatap Danu.
"Apa Paman sudah tau semuanya?" tanya balik Aris.
"Jangan pertanyaan di jawab dengan pertanyaan." ujar Direktur menegur Danu
"Maaf Paman. Ya aku sangat mencintainya. Luar biasa sangat." ujar Danu sambil membalas menatap Pamannya.
"Terus kenapa kamu tidak bisa memperjuangkannya?" tanya Paman selanjutnya.
"Paman, aku sedang memperjuangkannya. Mungkin terlihat tidak. Tapi aku sedang mengurus semua surat surat. Saat aku mengurus musibah itu datang. Delli terbaring koma. Pamankan tau bagaimana berharganya Delli bagi aku. Kesalahan aku, aku tidak memberikan kabar kepada Vina." ujar Danu.
"Apa kamu sudah cerita ke Vina kalau kamu sudah beristri dan sudah punya anak satu?" lanjut Paman bertanya.
Paman melihat Danu yang sudah syok dan menyesal dengan semuanya. Paman sekarang yakin kalau Danu benar benar mencintai Vina. Tapi Paman tidak akan memberitahukan keberadaan Vina. Biarkan Danu mencari jalannya sendiri.
"Terus sekarang bagaimana hubungan kamu dengan wanita kurang ajar itu?" tanya Paman mengingat Ranti.
"Aku berencana besok akan memasukkan surat gugatan cerai." jawab Danu.
"Apa kamu sudah yakin?" tanya Paman kembali.
"Sudah Paman. Aku sudah tidak bisa lagi membiarkan semua ini seperti ini. Aku menyesal kenapa tidak dari kemaren kemaren aku mengambil keputusan ini." ujar Danu menatap langit langit ruangan kerja direktur.
"Danu, tidak ada kata terlambat untuk semua kebaikan. Paman mendukung kamu untuk mengambil langkah ini."
"Baiklah Paman terimakasih atas izinnya. Aku akan berangkat mencari Vina. Aku harus berjuang untuk menemukannya. Aku bener bener butuh dia Paman." ujar Danu sambil nerdiri dari kursinya.
"Hati hati Danu. Semoga berhasil. Ingat satu hal, niat yang baik langkah yang baik akan mengjasilkan sesuatu yang baik." kata Paman memberikan motivasi dan dukungan kepada Danu.
Danu berjalan keluar dari ruangan direktur dengan langkah gontai.
__ADS_1
"Pak Danu maaf sebelumnya. Apa saya bisa meminta waktu Bapak sebentar?" tanya sekretaris Direktur.
"Ada apa Nyonya?" tanya Danu.
"Maaf sebelumnya Pak. Saya bukan bermaksud ingin ikut campur urusan Bapak dengan Vina. Tapi sebelum Vina keluar dari perusahaan Vina sempat bercerita sedikit kepada Saya kenapa dia minta mundur." ujar Sekretaris membuka pembicaraan.
"Apa yang dikatakan Vina kepada anda Nyonya?" ujar Danu penasaran.
"Nona Vina mengatakan kalau dia terakhir masuk ke rumah sakit karena kedatangan istri Anda ke kontrakan. Dia memaki maki Nona Vina dan mengatakan kalau nona Vina sebagai perebut suami orang." ujar sekretaris memberitahukan apa yang diceritakan oleh Vina.
"Jadi Vina sudah tau semuanya?" tanya Danu kepada sekretaris.
"Yap. Nona Vina sudah tau semuanya. Sepertinya itu penyebab Nona Vina pergi dari perusahaan." ujar sekretaris.
Danu semakin kacau dibuatnya. Dia benar benar tidak menyangka Vina sudah mengetahui rahasia terbesar Danu. Danu tidak membayangkan rahasia ini akan sampai kepada Vina tanpa melalui dirinya. Vina tau dari orang lain, apalagi itu dari Ranti sendiri.
"Makasi Nyonya atas informasinya. Saya kembali keruangan dulu." ujar Danu.
Danu masuk ke dalam lift. Iwan dan Ivan sudah tidak sabar menunggu kedatangan Danu.
Danu masuk dengan tergesa gesa ke dalam ruangannya. Iwan dan Ivan yang melihat, merasa heran dengan tingkah Danu. Mereka yakin pasti ada yang terjadi dengan Danu.
"Ada apa Dan?" tanya Iwan.
"Gue udah tau penyebab Vina pergi." jawab Danu sambil duduk dan menyandarkan badannya ke sandaran kursi.
"Apa?" tanya Iwan yang penasaran.
"Vina sudah tau semuanya. Malahan Vina tau dari Ranti langsung." ujar Danu.
"Serius loe? Kapan kejadiannya?" tanya Ivan yang terkejut dan tidak menyangka Danu akan mengatakan hal itu.
"Kejadiannya waktu siang hari sebelum Vina ditemukan dalam keadaan pingsan. Ternyata penyebab Vina sakit adalah Ranti dengan segala ocehannya." jawab Danu.
"Gue jadi makin pusing." lanjut Danu.
Mereka semua terdiam, mereka tidak menyangka hal ini akan terjadi begitu cepat. Betul kata orang orang, penyesalan itu datang terakhir, kalau di awal namanya pendaftaran.
__ADS_1