Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Negara U


__ADS_3

Mami yang berada di mansion sedang memasak sarapan untuk Papi dan Paman yang menjaga Danu di rumah sakit. Mami berencana untuk ke rumah sakit, saat sudah memastikan Ivan dan Sari sudah sarapan dan meminta mereka berdua untuk tidak bermain di kebun maupun pabrik anggur.


"Bibi" ujar Ivan menyapa Mami yang sedang berada di dapur.


Tepat di samping Ivan ada Sari yang berdiri di sebelahnya. Kedua anak itu sudah terlihat rapi dan harum dengan memakai pakaian main mereka.


"Sayang, bolehkah bibi meminta sesuatu kepada kalian berdua?" tanya Mami sambil berjongkong menegang tangan Ivan dan Sari.


Mami menatap mata kedua anak itu bergantian. Mami sangat menyayangi mereka berdua. Rasa sayang Mami sama besar dengan rasa sayang kepada Danu.


"Bibi, katakan saja apa yang bibi inginkan dari kami berdua. Kami akan mewujudkannya untuk bibi" jawab Danu sambil menatap ke arah bibinya.


"Benar Bibi, kami akan mewujudkan apa yang Bibi minta dari kami berdua" kata Sari menguatkan apa yang dikatakan oleh Ivan kepada Bibi mereka.


Bibi tersenyum mendengar jawaban dua anak kecil itu. Mereka benar benar berusaha membuat bibi bahagia dengan cara mereka sendiri. Bibi menatap wajah kedua anak itu dengan kagum.


"Bibi mau kalian berdua memanggil Bibi dengan sebutan Mami. Bukan bibi lagi" ujar Bibi mengutarakan apa keinginannya kepada Ivan dan Sari.


Ivan dan Sari menatap satu dengan yang lainnya. Wajah mereka menunjukkan kalau mereka sangat bahagia mendengar permintaan dari bibi. Permintaan yang sudah lama diinginkan oleh Ivan dan Sari. Akhirnya permintaan itu datang juga dari Bibi langsung.


"bibi kami sangat senang mendengar permintaan dari Bibi. Kami berdua akan memanggil Bibi dengan sebutan Mami. Kami sudah lama sekali tidak memanggil sapaan seperti itu" ujar Ivan dengan air mata yang menetes di wajahnya.


Ivan dan Sari memeluk bibi mereka. Mereka berdua sekarang punya Mami lagi. Bukan hanya sekedar punya Bibi. Kedua anak itu benar benar bahagia dengan kehidupan mereka saat ini. Mereka kembali memeliki seorang ibu kembali. Setelah sekian lama mereka tidak memiliki seorang ibu.


"Panggil dengan kata Mami sayang" ujar Mami meminta Ivan dan Sari memanggil dirinya dengan sebutan itu. Bukan sebutan biasanya Ivan dan Sari memanggil Mami.


"Mami" ujar kedua anak kecil itu dengan riangnya.


Mami kemudian semakin erat memeluk mereka berdua. Mami menciumi pipi mereka bergantian.


"Sayang Mami" ujar Mami sambil tersenyum bahagia.


Mami sangat bahagia melihat Ivan dan Sari yang juga bahagia dengan memanggil Mami dengan sebutan Mami.


"Nah kedua anak Mami sekarang sarapan dulu ya" ujar Mami meminta Ivan dan Sari untuk memakan sarapan mereka berdua.


Sarapan sudah di hidangkan Mami di atas meja makan. Ivan dan Sari menatap hidangan tersebut dengan bahagia. Di meja makan sudah ada nasi goreng, telur mata sapi, dan ayam goreng kesukaan Ivan dan Sari serta Danu.

__ADS_1


Sari terlihat sedih saat melihat ayam goreng itu. Tetapi Danu menendang kaki Sari yang ada di bawah meja. Danu tidak ingin Sari membuat Mami menjadi bersedih saat melihat Sari yang sedang bersedih karena melihat ayam goreng.


"Mari makan" ujar Ivan dengan riangnya.


"mari makan" jawab Mami dan Sari berbarengan.


"Tapi. Bang Ivan harus memimpin doa mau makan dulu ya" ujar Mami meminta Ivan untuk memimpin doa mau makan.


Ivan kemudian mengangkat kedua tangannya. Dia kemudian membaca doa untuk makan. Ivan membaca dengan sangat khusyuk walaupun sebenarnya perutnya sudah keroncongan dan berbunyi minta diisi. Belum lagi harum wangi aroma nasi goreng yang menusuk hidung Ivan.


Setelah selesai berdoa, mereka bertiga kemudian menyantap nasi goreng buatan Mami. Mereka makan dengan sangat lahap sekali. Mereka tidak ada yang berbicara saat sedang makan. Itu semua adalah pesan dari Papi dan Ayah.


"Sayang Mami. Mami mau ke tempat Abang Danu dulu ya setelah ini. Mami mau mengantarkan makanan untuk Papi dan Ayah. Kalian berdua tinggal di mansion dengan semua maid ya." ujar Mami memberitahukan kepada kedua anaknya itu, Mami mau pergi ke rumah sakit.


"Satu lagi. Nggak ada yang boleh ke kebun Anggur apalagi ke pabrik. Ngerti kan ya sayang?" tanya Mami kepada kedua anaknya itu.


Mereka berdua mengangguk memahami apa yang dikatakan oleh Mami. Mereka berdua akan mematuhi semua yang diminta oleh Mami kepada mereka.


"Mami, kami janji kami tidak akan ke kebun ataupun pabrik Anggur. Kami tidak akan membuat beban pikiran Ayah, Papi dan Mami bertambah" ujar Ivan mewakili Sari mengucapkan janji mereka kepada Mami.


Mami kalau tidak memikirkan begitu banyak karyawan yang mencari makan di kebun dan pabrik itu, Mami sudah menutupnya semenjak kejadian Danu yang terluka di sana. Tetapi, Mami masih memikirkan nasib karyawannya. Sehingga Mami mengambil keputusan untuk meminta Iban dan Sari tidak lagi pergi bermain ke sana.


Mami kemudian mengambil rantang yang sudah disiapkan oleh Mami sejak tadi.


"Maid, tolong jaga Ivan dan Sari ya. Saya mau ke rumah sakit sebentar. Saya akan kembali secepatnya. Jangan sampai mereka ke kebun anggur, bahkan tidak saya perbolehkan mereka ke pabrik Anggur" ujar Mami memberikan pesannya kepada maid yang diperintahkan untuk menjaga Ivan dan Sari.


"Siap Nyonya. Kami akan menjaga Tuan Muda Ivan dan Nona muda Sari" jawab Maid.


"Sayang, kalian berdua main dengan maid dulu ya. Mami hanya sebentar kok ke tempat Papi dan Ayah" ujar Mami yang sudah memutuskan untuk membiarkan Papi dan ayah yang menjaga Danu di rumah sakit.


Mami kemudian masuk ke dalam mobil yang sudah berdiri di depan lobby mansion. Ivan dan Sari melambaikan tangan mereka kepada Mami yang sudah masuk ke dalam mobil itu.


Setelah melihat Mami yang pergi meninggalkan mansion utama. Ivan dan Sari masuk kembali ke dalam mansion. Mereka aka berlian seharian ini di mansion saja, sesuai dengan yang diminta oleh Mami dari mereka berdua.


"Aku akan menjaga mereka berdua. Aku tidak boleh membuat mereka dalam keadaan seperti Danu saat ini" lanjut Mami dengan sangat pelan.


Mobil bergerak menuju rumah sakit tempat Danu di rawat. Pak sopir mengemudikan mobil dalam kecepatan sedang, kendaraan begitu ramai di jalan saat ini. Hal itu membuat sopir tidak bisa bergerak leluasa di jalan.

__ADS_1


"Pak, nanti tunggu saja saya dalam mobil ya. Saya tidak akan lama di dalam" ujar Mami kepada sopir.


"Siap Nyonya besar." jawab sopir.


Tak terasa mobil sudah berbelok masuk ke dalam perkarangan rumah sakit. Sopir menurunkan Mami di lobby depan ICU tempat Danu di rawat.


Mami dengan tegarnya berjalan mask ke dalam ruangan ICU. Mami terus menuju kamar tempat Danu di rawat.


Papi dan Paman yang melihat Mami datang langsung tersenyum melihat wajah mami yang sudah kembali ceria seperti sebelum kejadian.


"Gimana keadaan Danu, Papi?" tanya Mami sambil meletakkan rantang yang dibawa mami ke atas meja.


Mami kemudian melihat keadaan anaknya itu. Mami berusaha keras membuat air matanya untuk tidak turun membasahi pipinya.


Mami kemudian kembali ke dekat Papi. Mami tidak bisa lama lama melihat keadaan Danu. Mami takut dirinya kembali tidak rela melihat kondisi Danu yang seperti itu.


"Bagaimana dengan Danu, Papi?" tanya Mami kembali mengulang pertanyaan yang belum di jawab oleh Papi.


"Tadi kata dokter mereka akan melakukan MRI kembali kepada Danu. Kalau kondisi Danu dalam keadaan baik, mereka akan melakukan operasi besok" kata Papi menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Mami.


"Semoga semuanya berjalan lancar Papi" ujar Mami yang sangat berharap kalau operasi Danu akan berjalan dengan lancar.


"Papi, Mami pulang ke mansion dulu ya. Mami tidak mau nanti Ivan dan Sari ke sana lagi. Mami harus memastikan Ivan dan Sari tida ke sana lagi" ujar Mami berpamitan kepada Papi dan Paman untuk kembali ke mansion.


"Iya Mami. Nanti kalau ada apa apa dengan Danu, Papi akan langsung menghubungi Mami" ujar Papi sambil tersenyum kepada Mami.


"kakak ipar terimakasih sudah mau menjaga Ivan dan Sari" ujar Paman sambil mengagumkan kedua tangannya ke depan dadanya.


"Adik, dalam keluarga tidak ada ucapan terimakasih. Kakak sangat senang bisa menjaga Ivan dan Sari" ujar Mami kepada Paman.


Mami kemudian berjalan meninggalkan ruangan rawat Danu. Paman melihat ke arah Papi.


"biarkan saja Adik. Kakak ipar kamu sedang menebua kesalahannya kepada Danu. Padahal itu bukan kesalahan dia, melainkan kehendak Tuhan. Tapi kalau menurut kakak ipar kamu itu yng terbaik, maka biarkan saja." ujar Papi kepada Adiknya itu.


"baiklah kakak" jawab Paman.


Mereka berdua kemudian menunggu kedatangan dokter dan suster yang akan membawa Danu ke ruangan MRI untuk kembali memeriksa keadaan orak Danu.

__ADS_1


__ADS_2