
Setelah dua puluh lima hari di rawat di rumah sakit, Danu sudah diizinkan untuk pulang kembali ke mansion. Kesehatan Danu sudah kembali pulih total, tetapi untuk daya ingat kejadian sebelum Danu mengalami kecelakaan, masih belum bisa Danu mengingatnya. Ivan dan Sari yang sudah berkali kali berusaha membantu Danu untuk mengingat semua kisah tentang mereka bertiga sama sekali tidak membantu. Danu sama sekali tidak ingat apa apa. Malahan yang di dapat Danu adalah kepalanya semakin sakit saat berusaha mengingat semua kejadian itu. Kejadian yang akan membuat Danu semakin sakit kepala nantinya.
Keluarga Sanjaya memutuskan untuk mengobati Danu ke negara I. Papi memiliki seorang sahabat di negara I dan Papi menceritakan semua kejadian tentang Danu kepada dia. Sahabat Papi itu meminta Papi untuk datang ke negara I. Dia akan memperkenalkan Papi kepada dokter tersebut.
KAMAR DELI
"jadi Nenek siapa teman Atuk yang meminta Atuk untuk datang ke negara I?" taya Deli yang penasaran dengan teman Atuk nya yang meminta keluarga Sanjaya membawa Danu ke negara I.
"Papi dari bunda kamu sayang" ujar Nenek memberitahukan kepada Deli siapa teman dari Atuk nya itu.
"Hah? Kok bisa Nek?" tanya Deli yang tidak paham dengan situasinya.
"Bisa lah Nak. Dia memang memperkenalkan kami kepada seorang dokter. Dokter itu melakukan terapi kepada Danu. Ayah kamu itu akhirnya bisa mengingat beberapa kejadian yang terjadi." ujar Nenek kepada Deli yang sangat serius mendengarkan kisah yang diceritakan oleh Neneknya itu.
"Terus kenapa Ayah masih tidak ingat dengan Om Ivan dan Tante Sari, Nek? tanya Deli yang sama sekali tidak bisa bersabar itu.
"Karena belum selesai terapi Ayah. Dokter itu menghembuskan nafas terakhirnya. Makanya Ayah tidak sampai selesai terapi" ujar Nenek berkata kepada Deli yang sangat antuis mendengar kisah Ayah terbaiknya itu.
"Terus kenapa Ayah bisa menikah dengan wanita itu Nek?" ujar Deli yang enggan menyebut nama bunda yang telah menyia-nyiakan dirinya selama ini.
"Ayah kamu terikat janji dengan teman atuk itu sayang. Sehingga membuat Ayah harus menerima dan menikah dengan dia" ujar Nenek kepada Deli yang terlihat sudah mulai menguap berkali kali.
"Nah, ceritanya telah selesai. Kamu ke bagian sini nya kan sudah tau ceritanya. Jadi nenek tidak perlu mengulang cerita yang sudah diketahui oleh cucu cantik nenek ini" kata Nenek memuji Deli, cucu satu satunya dari Danu.
"Iya Nenek, ke sini nya Deli udah tau. Kalau begitu Deli tidur dulu ya Nenek. Besok kita akan jalan jalan. Makasi atas ceritanya Nenek" ujar Deli kepada Nenek yang sudah mau menceritakan tentang kisah Ayah Danu yang ternyata cukup menyedihkan itu.
__ADS_1
Pagi harinya Nenek melihat Deli masih dalam keadaan tertidur. Nenek perlahan bangun dan beranjak dari kasur. Nenek akan memasak sarapan di bawah. Nenek ingin sekali membuat sarapan hari ini. Deli yang terlalu nyenyak tidurnya tidak menyadari kalau Nenek sudah bangun dan beranjak dari atas kasur.
"Pagi Mami" sapa Danu yang ternyata bangun sangat pagi kali ini.
"Pagi. Kok pagi banget Dan?" tanya Mami yang heran kenapa Danu bangun pagi sekali.
"Sengaja Mami. Mau bawa Deli keluar rencananya hari ini. Besok aku harus berangkat kembali ke negara kita." ujar Danu memberitahukan kepada Mami kenapa dia bangun sangat pagi sekali hari ini.
"Loh kok cepat? Tapi lima hari kamu akan di sini. Ini baru hari kedua" ujar Mami yang kaget mendengar kalau Danu harus kembali ke negara mereka besok pagi.
"Ya Mami. Tadi Ivan nelpon kalau Ranti marah marah di pengadilan agama. Dia tidak mau bercerai dengan aku Mami" ujar Danu kepada Mami.
"Ih baiklah Nak. Lebih cepat kamu mengurus perceraian itu akan lebih baik untuk kamu dan Deli. Mami dan Papi mendukung kamu" ujar Mami sambil tetap meneruskan memasak sarapannya.
"Apa Deli sudah bangun Mami?" tanya Danu yang tidak melihat anak kesayangannya membantu Mami di dapur hari ini.
"Kamu bangunkan aja Deli ke kamarnya Nak" lanjut Mami meminta Danu untuk membangunkan Deli agar mereka bisa pergi lebih cepat.
"Oke Mi" jawab Danu sambil sudah berjalan menuju lantai dua mansion dimana Deli tidur sekarang ini.
Danu membuka dengan perlahan pintu kamar Deli. Danu melihat anak perempuannya itu masih tertidur di atas ranjangnya dengan berselimut tebal.
Danu berjalan mendekat ke arah Ranjang Deli. Danu duduk di sisi ranjang Deli. Danu perlahan menyingkap selimut yang menutupi kepala Deli.
"Hay sayang Ayah, bangun. Kamu mau pergi jalan jalan tidak dengan Ayah?" ujar Danu sambil membangunkan anak kesayangannya itu.
__ADS_1
Anak yang paling disayangi oleh Danu walaupun itu bukan anak kandungnya sendiri. Tapi karena Danu yang merawat semenjak kecil, rasa sayang itu tidak akan bisa terhapuskan oleh hal apapun.
Deli yang merasa ada seseorang membangunkannya dari tidur, perlahan dan pasti membuka mata indahnya yang berbola mata warna zamrud itu.
"Ayah, ada apa?" tanya Deli saat melihat Ayahnya yang ternyata telah membangunkan Deli dari tidur.
"Bangun ayuk, kita pergi jalan jalan. Ayah besok harus kembali ke negara kita" ujar Danu yang tidak terbiasa menyimpan masalah apapun dari Deli.
"Kok cepat, bukannya lima hari ya Ayah di sini?" tanya Deli yang kaget mendengar Ayahnya akan pulang besok.
"Ayah harus mengurus perceraian Ayah dengan dia. Deli mau kan kalau Ayah cepat bercerai dari dia?" kata Danu menceritakan kepada Deli hal apa yang membuat dirinya harus cepat kembali ke negara mereka.
"Mau Ayah. Siap itu Ayah nikah sama Bunda Kue. Wah Deli makin senang Ayah" ujar Deli bersemangat sekali ingin Ayahnya segera menikahi Bunda kue.
"Haha haha haha. Sekarang bangun, cepat mandi. Kita akan pergi sarapan keluar" ujar Danu kepada Deli yang terlihat sudah sempurna membuka mata indahnya itu
"Ee ee kita sarapan di mansion dulu Ayah" uajr Deli sambil mengambil handuknya.
"Kenapa?" tanya Ayah penasaran dengan permintaan dari Deli.
"Ayah taukan mansion kita ini letaknya cukup jauh dari kota. Mana tahan perut Deli menahan lapar Ayah" kata Deli menjelaskan kenapa dia ingin makan di mansion terlebih dahulu.
"Kamu bungkus aja ya. Biar Ayah minta tolong ke nenek untuk membungkuska bekal sarapan untuk kamu" ujar Danu yang memiliki ide brilian, sebenarnya Danu sudah tidak tahan ingin ke kafe Maya. Dia ingin bertemu dengan Vina sekarang juga. Danu sudah kangen banget sama Vina.
"Atur aja Ayah" ujar Deli yang sudah berada di depan kamar mandi.
__ADS_1
"Ayah tunggu di meja makan. Jangan lama lama" ujar Ayahnya memberitahukan kepada Deli untuk tidak lama lama mandi.
Deli yang sangat tau tipikal Ayahnya yang akan selalu bersikap tergesa gesa, memilih untuk cepat selesai mandi dari pada dia didatangi berkali kali oleh Ayahnya ke kamar.