
"Iya Bang ada videonya" ujar Ivan meyakinkan kembali Frans bahwasanya pada saat kejadian itu memang ada video yang tersebar di tengah tengah masyarakat.
"Gaswat" ujar Frans dengan nada lemah.
"Sepertinya ini akan semakin rumit" lanjut Frans
Danu dan Iwan yang mendengar apa yang dikatakan oleh Frans hanya bisa kaget dan melongo saja. Sedangkan Ivan yang sudah bisa menggambar kalau permasalahan ini akan berjalan alot, tidak terkejut sama sekali. Hal ini semakin membuat Frans penasaran dengan siapa Ivan sebenarnya.
'Kenapa ni anak santai saja ya mendengar gue mengatakan gawat dan permasalahan ini semakin rumit. Apa dia belajar tentang hukum juga?' ujar Frans mencoba menebak tentang Ivan.
'Kalau iya maka gue bisa berdiskusi dengan Ivan apa yang harus kita lakukan menghadapi permasalahan yang ternyata semakin kompleks ini' lanjut Frans dalam hatinya.
Frans terdiam cukup lama, hal itu juga terjadi kepada Danu. Danu sangat pesimis dengan jalannya perceraian dirinya dengan Ranti. Danu bisa membayangkan kalau perceraian antara dirinya dan Ranti akan menemui titik buntu kalau Ranti tidak mau bercerai dengan dirinya.
"Frans" ujar Danu memanggil Frans.
"Gue mau pisah Frans. Gue mau Deli" ujar Danu dengan nada yang sangat pelan sekali.
Sangat terlihat kalau Danu dalam posisi frustasi sekarang ini. Danu tidak sesemangat yang tadi dalam mengatakan apa yang diinginkan oleh dirinya. Danu berkata dengan sangat lemah. Danu benar benar seperti tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.
"Hay bro kenapa loe mendadak. jadi tidak bersemangat seperti ini.?"
"Ada apa?" tanya Frans yang heran melihat perubahan sikap yang ditunjukkan oleh Danu kepada mereka semua.
"Gue nggak sanggup pisah dengan Deli. Walaupun Deli bukan anak kandung gue" lanjut Danu yang sudah mengatakan semuanya kepada ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Duar, sebuah bom kembali meletus di pembicaraan itu. Niat Danu semula tidak. mau mengatakan kalau Deli bukan anak kandungnya ternyata harus diceritakan juga oleh Danu. Iwan yang pada dasarnya sudah mengetahui hal itu mengangguk saat melihat Ivan dan Frans menatap ke arah dirinya.
"Sejak kapan loe tau Dan, kalau Deli bukan anak kandung loe?" ujar Frans bertanya kepada Danu tentang sudah berapa lama Danu mengetahui kalau Deli bukanlah anak kandungnya.
"Sudah dua tahun lebih lah gue mengetahui hal itu" jawab Danu yang sudah bertekad bulat untuk menceritakan semuanya kepada Frans dan Ivan.
Ivan yang mendengar kalau Deli bukan anak kandung abangnya itu, semakin menatap bangga kepada Danu. Pria yang kehilangan memori masa kecilnya tetapi begitu mencintai anak yang selma ini dikira anak kandung tetapi ternyata bukan. Berhubung karena sudah cinta dan menyayangi Deli dengan tulus, Danu tetap menganggap kalau Deli itu adalah anak kandungnya sendiri dengan menerima perlakuan yang telah diberikan oleh ibu kandung anak itu sendiri kepada dirinya. Benar benar hati seorang pria yang sangat ikhlas luas dan baik.
"Kenapa bisa loe mengatakan kalau Deli bukan anak kandung loe? Loe sudah lakukan tes DNA?" tanya Frans yang semakin penasaran dengan apa yang baru saja di dengar oleh telinganya langsung saat Danu mengatakan kalau Deli bukanlah anak kandungnya.
"Ya, gue sudah melakukan tes DNA, malahan sudah sebanyak dua kali untuk meyakinkan gue kalau Deli bukan anak kandung gue." jawab Danu menerangkan kepada Frans sudah berapa kali dia melakukan dl tes DNA untuk membuktikan semuanya itu.
"Kenapa harus sampai dua kali?" tanya Ivan yang semakin kaget dengan apa yang dilakukan oleh Danu. Pemeriksaan tes DNA yang harus dilakukan sampai dua kali untuk membuktikan semuanya itu.
"Karena pengen meyakinkan gue saja kalau Deli memang bukan anak kandung gue. Itu aja sebenarnya." kata Danu sambil menatap langit langit ruangan VVIP restoran tersebut.
"Apa istri loe yang gesrek itu mengetahui kalau Deli bukanlah anak kandung elo?" tanya Frans yang berharap jawaban yang diberikan oleh Danu adalah jawaban yang ada di dalam pikirannya saat ini.
"Tidak setahu gue dia tidak mengetahui kalau Deli bukan anak kandung gue" jawab Danu memberitahukan apa yang diketahuinya kepada Frans.
"Alah tahu pun dia. Juga nggak akan ada pengaruhnya sama tu orang. Jelas jelas dia hanya mikirin tentang dirinya aja. Mana ada dia mikirin tentang anaknya" ujar Ivan yang sudah sangat emosi kepada Ranti.
'Kalau nggak mandang Danu udah dari lama gue hancurin tu cewek' kata Ivan dalam hati dan pikirannya berkata.
'Dasar wanita nggak tau diri. Bener bener nggak tau diri. Heran banget gue'
__ADS_1
Ivan terus saja memaki maki Ranti. Ivan terlihat sangat jengkel dan marah dengan apa yang dilakukan Ranti terhadap sepupunya itu. Kelakuan yang sudah tidak bisa ditoleransi lagi, tetapi karena ada anak di dalam pernikahan mereka dan ternyata bukanlah anak kandung Danu membuat Danu harus bertahan.
"Kalau memang Ranti tidak tahu dengan status Deli yang sebenarnya, maka kita bisa aman. Tetapi kalau dia sebenarnya tahu dan pura pura tidak tahu, ini yang akan membuat kita menjadi tidak aman" lanjut Ivan menjelaskan kepada Danu apa resiko kalau sebenarnya Ranti mengetahui akan hal itu.
"apa resiko terberatnya Bang?" kali ini Ivan yang bertanya.
Danu sudah semakin berwajah kusut saja. Dalam pikiran Danu kali ini hanya ada Deli Deli dan Deli.
"Resiko terberat ya udah sama sama kita tahulah ya. Deli akan diasuh oleh Ranti" jawab Frans melemparkan jawaban yang ditakuti oleh Danu itu.
"Hah? Gue nggak mau itu Frans. Loe harus bisa buat Deli tidak berpisah dari gue" ujar Danu yang langsung histeris saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Frans kepada dirinya.
"Gue mana bisa hidup tanpa Deli Frans. Gue nggak akan bisa" lanjut Danu meyakinkan Frans untuk bisa memenangkan hal asuh Deli supaya jatuh ke tangan Danu.
"Kita hanya punya satu pilihan kalau Ranti tahu akan hal yang sebenarnya" jawab Frans dengan nada berat.
"Apa?" ujar Danu, Iwan dan Ivan kompak bertanya dengan kata apa kepada Frans.
"Kompak bengat loe bertiga. Kayaknya kalian bertiga sangat mencintai Deli" ujar Frans menggoda ketiga sahabatnya itu.
Frans seperti melihat senar gitar yang mau putus dari wajah wajah mereka. Wajah wajah yang terlihat sangat menyayangi Deli dengan sepenuh hati mereka. Frans yang melihat hal itu tidak tega untuk mengatakan kalau peluang mendapatkan Deli menjadi hak asuh di tangan Danu sudah habis.
"apa yang harus kami lakukan Frans?" tanya Danu.
"Gue akan melakukan semuanya Frans. Terpenting Deli di tangan gue" lanjut Danu yang sudah tidak sabaran lagi untuk mengetahui apa yang harus dilakukan oleh dirinya.
__ADS_1
"Gampang, tapi ini memang di luar kemauan kita." ujar Frans berkata sambil menatap kearah ketiga sahabatnya itu bergantian.
"Apa Bang? Jangan bikin penasaran" ujar Ivan yang sudah tidak sabaran lagi ingin mengetahui rencana apa yang masih tersisa untuk menyelamatkan Deli dari Ranti.