Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Saling Menerima


__ADS_3

Setelah menempuh penerbangan selama lima belas jam ditambah dengan transit tiga jam di UE. Vina dan kedua temannya telah sampai di negara U. Negara yang akan menjadi tempat tinggalnya membuang luka kepedihan di hati Vina.


"Selamat datang di Negara U Nona Vina. Selamat menunaikan tugas baru Anda." ujar Pilot sambil tersenyum kepada Vina dengan senyum terbaiknya.


"Makasi Pak Pilot. Saya turun dulu." jawab Vina sambil turun dari tangga pesawat.


Sebuah mobil sudah terparkir di sana. Semua barang barang Vina dan Maya serta Sari sudah berada di dalam mobil. Mobil siap mengantarkan mereka ke rumah tempat tinggal Vina yang baru.


"Selamat menjalani kehidupan baru Vina." ujar Vina saat pertama kalinya kakinya menapak di tanah negara U.


"Selamat tinggal penyakit. Semoga kedepannya gue bisa menjalani kehidupan gue dengan baik lagi." kata Vina selanjutnya.


Mobil mulai bergerak meninggalkan bandara. Mereka semua akan menuju rumah yang akan ditempati oleh Vina dan Maya.


Sopir berkendara sekitar satu jam dari bandara. Jalanan di negara U tidak sepadat di Negara I. Kendaraan bisa melaju dengan kecepatan tinggi. Sepertinya di negara U inj tidak semua orang membawa kendaraan pribadi. Mereka yang membawa kendaraan pribadi adalah orang orang yang memiliki mobilitas tinggi yang membutuhkan sarana transportasi cepat.


Mobil yang mereka tumpangi berbelok masuk ke dalam salah satu perumahan elit di negara U. Rumah rumah di sana tidak ada yang memakai pagar di depan rumah.


"Wow Vin, sepertinya di sini tidak ada pencurian seperti di negara kita. Tengok aja mana ada di depan rumah yang pake pagar tiggi." ujar Maya sambil menatap rumah rumah yang mereka lewati.


"Di sini memang sangat jarang terjadi dan bisa dikatakan tidak pernah ada pencurian May." jawab Sari yang memang sudah sangat lama tinggal di negara U.


"Keren" jawab Maya.


Sopir kemudian memarkir mobilnya di depan sebuah rumah yang besar. Vina dan Maya heran menatap rumah itu.


"Ini rumah siapa Sar?" tanya Vina dengan menatap Sari.


"Rumah untuk dipakai Nona Vina. Ini adalah kawasan perumahan milik perusahaan. Sepanjang jalan dari depan tadi, itu adalah rumah untuk para manager. Sedangkan ini adalah rumah untuk wakil direktur, yang di depan rumah direktur." ujar Sari sambil melihat ke rumah yang di depan.


"Oh baiklah Sari. Terimakasih atas informasinya."


"Sama sama Nona Vina. Mari kita masuk." ujar Sari.


Dua orang maid keluar dari dalam rumah. Mereka membantu mengangkat semua barang barang milik Vina dan Maya. Sedangkan barang barang Sari masih berada di dalam mobil. Dia akan berangkat ke apartemennya nanti setelah Vina dan Maya diperkenalkan ke para maid yang ada di rumah.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah besar itu. Vina dan Maya memutuskan untuk nanti saja berkeliling rumah. Mereka sadar ada Sari yang membutuhkan istirahat setelah penerbangan selama itu. Mereka berdua juga butuh istirahat.


"Baiklah Maid ini adalah wakil direktur baru kita namanya Nona Vina. Serta yang berdiri di sebelah Nona Vina adalah sahabatnya yang juga harus kalian hormati seperti kalian menghormati Nona Vina. Nama nona ini adalah Nona Maya." kata Sari memperkenalkan Vina dan Maya.


"Kalian berdua pahamkan konsekuensi kalau tidak menghargai seseorang?" lanjut Sari bertanya dengan nada mengintimidasi.


Kedua maid mengangguk paham. Mereka sangat mengerti dengan etika dan penghormatan di perusahaan CT Grub.


"Nona Vina, yang laki laki itu bernama Pak Hans. Dia adalah sopir yang akan selalu mengantar Nona kemanapun yang Nona inginkan." lanjut Sari memperkenalkan seorang laki laki yang ternyata sopir itu.

__ADS_1


"Baiklah Nona silahkan beristirahat terlebih dahulu. Saya permisi kembali ke apartemen. Besok pagi jam enam saya akan kemari. Hari pertama ke kantor kita akan bersama sama Nona." kata Sari memberitahukan agenda kegiatan Vina untuk besok.


"Oke Sari. Saya akan menunggu di sini. Terimakasih atas semua bantuan kamu. Selamat beristirahat." ujar Vina sambil tersenyum.


Sari kemudian pergi dengan mobil yang menjemput ke bandara menuju apartemen dirinya.


"Bik dan Pak Hans, bisa kita duduk di ruang tamu sebentar?" ujar Vina yang ingin temu ramah dengan dua orang maidnya, satu tukang kebun dan seorang sopir.


"Bisa Nyonya." jawab mereka serempak.


Empat orang maid serta Vina dan Maya menuju ruang tamu. Vina dan Maya duduk di sofa sedangkan empat orang maid hanya berdiri saja.


"Bik silahkan duduk nggak usah berdiri seperti itu." perintah Vina.


Keempat maid duduk di sofa berseberangan dengan Vina dan Maya.


"Nah bik dan bapak, perkenalkan nama saya Vina dan ini sahabat saya Maya. Di sini saya cuma mau ngomong, dengan saya tidak usah terlalu formal, kita seperti keluarga saja yang saling membutuhkan, jadi saya mohon kerjasamanya." kata Vina yang memang tidak ingin ada batas antara dirinya, Maya dengan maid.


Semua maid pandang pandangan, mereka tidak menyangka kalau bos mereka ini akan menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga, bukan sebagai atasan dan bawahan.


Pak Hans yang dipercaya sebagai kepala maid di rumah besar itu memperkenalkan ketiga temannya.


"Nona Vina, Nona Maya izinkan saya memperkenalkan ketiga rekan saya ini. Bibik yang paling ujung itu namanya Bik Imah, sebelahnya Bik Rina, sebelah Bik Rina namanya Pak Ujang dia bagian bersih bersih taman, kolam, sedangkan saya sendiri sebagai sopir nama saya Pak Hans. Kami semua berasal dari negara I "


"Wow berarti kita satu negara. Betapa senangnya bisa hidup dengan teman teman yang satu negara." ujar Maya sambil tersenyum bahagia.


"Nona Vina, setiap minggu saya akan memperlihatkan menu makanan untuk selama seminggu. Akan saya perlihatkan di ujung minggu." ujar Bik Imah.


"Sip Bik Imah. Bik Imah lanjutkan saja seperti apa biasanya. Tapi kalau masalah menu dan kebutuhan rumah tangga Bik Imah dan yang lainnua boleh ke Maya saja. Saya kurang paham akan hal hal itu." kata Vina yang juga ingin memberikan peran kepada Maya sebelum Maya sibuk dengan kafe mereka nantinya.


"Baiklah kalau begitu saya rasa perkenalannya cukup segini saja, seiring berjalannya waktu kita semua pasti akan saling kenal. Saya dan Maya permisi untuk beristirahat dulu ya Bik." ujar Vina yang sudah merasakan kantuk dan lelah yang luar biasa.


Vina dan Maya kemudian menuju kamar mereka masing masing yang berada di lantai dua rumah itu.


Vina langsung berkeinginan untuk membersihkan dirinya, dia benar benar merasakan lelah, saat ini dia hanya mengkhayal bisa berendam di dalam bathup.


Saat Vina masuk ke dalam kamar mandi yang luas itu membuat Vina kaget karena di sana ada bathup.


"Wow khayalan gue terkabul. Gue akan berendam dulu, baru setelah itu mandi. Betapa senangnya ne hati gue bisa berendam." ujar Vina.


Vina kemudian mengisi bathup dengan air dan memberikan sabun aroma terapi. Vina benar benar ingin merilekskan otak otaknya yang tersumbat itu. Setelah bathup penuh, Vina masuk ke dalam bathup. Dia merasakan merilekskan badannya di dalam bathup. Vina memejamkan matanya. Tanpa sadar ternyata Vina tertidur di dalam bathup.


Tanpa sadar ternyata Vina sudah tidur di bathup sampai air panas yang diisinya tadi sudah menjadi sangat dingin. Vina merasakan dingin yang luar biasa menerpa badannya. Vina kemudian terbangun, dia tidak sadar bahwasanya dia dari tadi sudah tertidur lama di dalam bathup.


"Wow karena nggak pernah mandi pakai bathup, gue sampai harus tertidur lama di sana. Dasar anak kampung. Hahahahahaha" ujar Vina berbicara sendirian lewat kaca yang ada di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Vina melanjutkan mandinya. Dia menyabuni semua tubuhnya menghilangkan jejak jejak keringat akibat penerbangan lama. Setelah merasa tubuhnya sudah bersih kembali. Vina keluar dari kamar mandi. Dia kemudian memakai pakaiannya.


Tepat setelah Vina selesai bersiap siap. Pintu kamarnya diketuk seseorang dari luar. Vina yang memang sudah selesai langsung berjalan untuk membuka pintu kamarnya. Terlihat Bik Rina sudah menunggu di depan pintu kamar.


"Maaf Nona saya mengganggu istirahat Nona. Saatnya makan malam Nona. Nona Maya sudah menunggu Nona di meja makan." kata Rina mengatakan tujuannya menemui Vina di kamar.


"Oh baiklah Rina, saya akan turun ke bawah." ujar Vina yang langsung menutup pintu kamarnya.


Dia berjalan di depan Rina. Vina langsung menuju meja makan. Perutnya juga sudah prites minta di isi makanan.


Vina melihat Maya yang sudah duduk di meja makan. Vina duduk tepat di sebelah Maya.


"Bik Imah, Rina ayuk sekalian makan bareng saya saja." ajak Vina kepada kedua pembantu rumah tangganya.


"Tidak usah saja Nona, kami akan makan dibelakang nanti saat Nona sudah selesai makan." jawab Bik Imah.


"Tapi makanan untuk kalian sudah dipisahkan bukan? Maaf sebelumnya kalian tidak makan makanan yang telah kami ambil ini kan?" ujar Vina berusaha memilih kata kata yang tidak akan menyakitkan hati siapapun.


Kedua bibik itu terdiam. Mereka berempat memang memakan makanan yang berlebih dari makanan Tuan mereka.


Vina yang melihat kedua bibik tersebut diam, langsung tau dengan jawaban mereka. Viba kembali berdiri dari kursi makannya. Dia berjalan menuju dapur. Vina mengambil enam buah piring. Vina membawa keenam piring tersebut ke meja makan.


Vina kemudian memindahkan tiga perempat dari hidangan yang ada di atas meja ke atas enam piring. Maya yang melihat langsung tersenyum, dia paham dengan maksud Vina. Sedangkan kedua bibik itu hanya bisa terpaku tidak percaya. Mereka kali ini tidak makan sisa sambal dari Tuan mereka.


"Nah selesai. Bik Imah mulai besok jangan letakan semua sambal yang bik Imah masak ke atas piring untuk saya dan Maya. Kami berdua makan sangat sedikit sambal. Jadi letakanlah yang sesuai dengan porsi kami. Sedangkan kelebihannya langsung bik Imah tarok di piring untuk Bik imah dan teman teman." ujar Vina menatap Bik Imah dan Rina.


"Sekarang silahkan bawa ke enam piring ini ke belakang. Sekarang juga Bik Imah dan yang lainnya harus makan. Tidak usah menunggui kami makan. Paham ya Bik?" tanya Vina.


"Paham Nona. Makasi banyak Nona." ujar Bik Imah dan Rina serempak


Kedua pembantu rumah tangga itu membawa semua piring yang berisi sambal ke saung belakang tempat para pembantu biasa makan. Semua teman Bik Imah sudah menunggu di sana. Termasuk Pak Hans.


"Loh kok cepat sekali. Lagian piringnya juga nggak kotor." ujar Pak Hans bertanya kepada Bik Imah.


"Kita tidak makan sambal sisa. Tapi ini sambal diparo langsung oleh Nona Vina. Lebih banyak ke kita dari pada untuk ke dua Nona itu. Mereka benar benar baek." ujar Bik Imah memuji ketulusan hati Vina.


"Ya mereka memang baik. Makanya Tuan besar menempatkan mereka di sini." jawab Tuan Hans yang sudab tau siapa Vina dan Maya dari Tuan besar mereka.


Kedua Nona muda itu dan empat orang pembantu rumah tangga makan bersamaan walaupun berbeda tempat. Mereka sama sama senang karena sama sama saling menerima keberadaan mereka.


Selesai makan malam Vina dan Maya menuju kamsr mereka kembali untuk beristirahat. Kelelahan habis penerbangan yang luar biasa lama itu masih belum terbayar lunas. Makanya selesai makan mereka kembali masuk ke kamar masing masing untuk beristirahat.


Sedangkan ke empat pembantu rumah tangga menyelesaikan pekerjaan mereka yang belum selesau, setelah itu barulah mereka akan beristirahat ke kamar masing masing.


"Rina ternyata kedua Nona itu sangat baik ya. Kemaren saat Tuan besar mengatakan kalau yang akan datang adalah fua Nona yang masih muda, bibik kira mereka sombong dan arogan, ternyata oh ternyata mereka sangat luar biasa baik." ujar Bik Imah memuji kebaikan kedua Nona baru mereka.

__ADS_1


"Benar Bik. Aku juga berpikir demikian saat mendengar kalau yang akan dua Nona muda. Tapi ternyata mereka sangat baik. Semoga mereka lama di sini ya Bik. Jarang jarangnya kita dapat majikan yang luar biasa baik seperti ini." kata Rina yang juga memuji kebaikan Vina dan Maya.


Setelah pekerjaan mereka selesai kedua bibik itu beranjak ke kamar mereka yang terletak di paviliun belakang. Mereka berdua akan beristirahat karena besok sebelum shubuh mereka sudah harus bangun untuk memasak sarapan dan membersihkan rumah utama.


__ADS_2