Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Anggara Pusing


__ADS_3

" jadi kamu sama sekali tidak bertemu dengan dia sayang?" Kata Anggara menanyakan tentang apakah Ranti bertemu dengan Danu di perusahaannya


" belum sayang. Sampai sekarang aku belum bertemu dengan dia. Tapi mungkin selepas makan siang ini dia akan pulang ke kantor" kata Ranti menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Anggara


" jadi kamu akan menunggu dia di situ sekarang?"


Anggara ingin memastikan Apakah nanti akan datang ke kantornya saat jam makan siang atau berhenti akan tetap berada di perusahaan Danu. Sambil menunggu Danu kembali ke kantornya


" Iya sayang ke Palang tanggung menunggu. Aku akan menunggu sampai pukul 03.00 sore. Kalau dia tidak datang sampai jam segitu, maka aku akan langsung pulang ke kantor kamu" kata Ranti menjawab dan memberitahukan kepada Anggara Sampai jam berapa dia akan menunggu Danu di perusahaannya ini


" sayang bukannya ini masih jam efektif untuk bekerja ya? Kenapa dia tidak ada di perusahaannya?" Kata Anggara yang ingin tahu lebih dalam siapa sebenarnya Danu dan apa posisinya di perusahaan tersebut


" ya memang masih jam efektif kantor sayang, tetapi Danu di sini adalah manajer bagian perencanaan pembangunan. Jadi dia bisa pergi atau keluar dari perusahaan sesuka hati dirinya saja" kata Ranti menjawab dan menjelaskan kepada anggaran siapa sebenarnya Danu dan apa posisi Danu di perusahaan tersebut


" Wow Manager?" Kata Anggara yang tidak menyangka kalau suami dari seorang Ranti adalah seorang manajer yang memiliki kedudukan sangat penting di perusahaan tersebut


" baiklah sayang aku akan menunggu dia kembali, kamu lanjutkan saja kembali membaca dokumen-dokumen yang sedang kamu baca tadi" kata Ranti yang sudah tidak tahu lagi mau membicarakan apa dengan Anggara melalui sambungan telepon itu


" Oke sayang kamu juga hati-hati ya" kata Anggara yang akhirnya bisa lepas dari sambungan telepon yang dilakukan oleh Ranti saat dirinya sedang sibuk bekerja


Ranti kembali duduk di sofa yang ada di dalam ruangan kerja Danu. Ranti akan kembali menunggu Danu seperti saat dia baru datang.


Sedangkan Anggara sedang berpikir keras dengan semua bukti-bukti yang didapatnya dari ucapan-ucapan yang dikatakan oleh Ranti kepada dirinya


" suaminya saja seorang manajer yang memegang jabatan cukup penting di perusahaan itu, Kenapa dia pada akhirnya memilih untuk bercerai ya?" Kata Anggara sambil berpikir keras dengan alasan-alasan yang dikatakan oleh Ranti selama ini kepada dirinya.

__ADS_1


" apa Ranti bohong ya ke gue?" Lanjut Anggara mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini


" kalau dia bohong ke gue bisa dipastikan gue akan kalah lagi melawan Frans."


" gue nggak bisa menahan malu lagi untuk kalah lagi Dan berkali-kali Lagi saat melawan Frans di persidangan"


" Apa keputusan gue udah tepat untuk bersedia menjadi pengacara pada kasus perceraian Ranti ini?" Kata Anggara yang sudah mulai goyah untuk menjadi pengacara pada perceraian Ranti


" atau gue Mundur aja kali?"


" tapi kalau gue mundur tentu gue nggak akan bisa menikmati lagi kehangatan pada malam hari seperti yang diberikan oleh Ranti kepada gue"


" ini benar-benar berat"


Kata Anggara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Anggara Berada di posisi yang sangat rumit saat sekarang ini. Pilihan yang sangat berat antara memilih untuk tetap menjadi pengacara Ranti dengan imbalan kehangatan pada malam hari serta kekalahan yang akan dihadapinya saat persidangan melawan Frans.


Anggara terkenal tidak pernah menang melawan Frans di persidangan baik pada kasus perceraian maupun kasus-kasus lain yang mereka tangani


" mana yang harus gue pilih coba"


" Gue bener-bener nggak tahu harus berbuat apa"


Kata Anggara yang hanya bisa memikirkan apa yang harus dilakukannya pada saat ini. Tetapi pikiran anggaran sekarang sedang menemui jalan buntu sehingga dia sama sekali tidak bisa mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya


tok tok tok tok

__ADS_1


pintu ruangan Anggara diketuk dari luar. dia memandang lama ke arah pintu yang tertutup itu.


" Perasaan hari ini nggak ada Janji temu dengan klien, Siapa coba yang berani-beraninya mengetuk pintu ruangan ini" kata Anggara yang mengingat-ingat kalau dia sama sekali tidak ada janji temu dengan kliennya pada hari ini


tok tok tok tok. orang yang berada di balik pintu itu kembali mengetuk pintu ruangan Anggara dengan ketukan yang sudah menandakan tidak sabaran lagi


Anggara yang mendengar bunyi pintu yang diketuk seperti tidak sabaran itu akhirnya memutuskan untuk membuka pintu ruangannya itu. Anggara berjalan dengan langkah yang lemas dan terlihat tidak pasti dan masih menerka-nerka Siapakah gerangan orang yang sedang mengetuk pintu ruangannya


Anggara kemudian membuka pintu ruangannya. ternyata di balik pintu itu adalah salah satu rekan sesama pengacara yang juga berkantor di Firma hukum tersebut


" masuk Bro gue istirahat tadi Siapa yang mengetuk pintu ruangan gue ini. Masalahnya gue saat ini sudah ada Janji temu dengan klien. makanya gue terlambat membukakan pintu ruangan" kata anggaran menjelaskan kepada rekannya itu kenapa dirinya sangat lama sekali membuka pintu ruangan


" lo mau ngajak gue bercerita di depan pintu aja gitu" kata teman Anggara sambil melihat ke dalam ruangan Anggara


" hahaha haha haha Mari kita masuk. kita akan berbincang-bincang di dalam ruangan gue aja" kata Anggara sambil membuka pintu ruangannya dengan lebar-lebar supaya batang pengacaranya itu bisa masuk ke dalam ruangan Anggara


"Loe mau minum apa?" ujar Anggara kepada sahabatnya.


"air mineral aja" jawab rekan Anggara tersebut yang sama sekali memang tidak suka dengan minuman manis dan berwarna.


Anggara kemudian membuka almari pendingin yang ada di ruangannya itu. Dia mengambil dua botol air mineral yang semalam dimasukkan eh dirinya ke dalam almari pendingin itu.


Anggara juga tidak lupa membawa cemilan untuk teman ngobrol mereka berdua. Anggara sebenarnya sangat penasaran dengan tujuan kedatangan rekan kerjanya itu ke ruangannya saat ini. Mereka berdua terkenal tidak berteman dekat. Tiba tiba hari ini rekannya itu datang menemui Anggara langsung ke ruangan Anggara. Suatu hal yang memang harus dipertanyakan oleh Anggara tujuan dan maksud kedatangan dari rekannya itu.


Anggara kemudian berjalan kembali menuju sofa tamu yang ada di ruangannya itu. Anggara menaruh semua yang dibawanua tadi ke atas meja tamu. Anggara memang sama sekali tidak memiliki asisten untuk bisa hilir mudik di dalam ruangannya. Anggara memang memiliki asisten tetapi hanya sebatas mengurus pekerjaannya saja. lain dari pada itu Anggara mengurus sendiri tanpa bantuan seorang asisten.

__ADS_1


"Jadi, ada apa kamu kemari? tumben tumben nya datang ke ruangan gue" ujar Anggara yang main langsung to the point saja kepada rekannya itu.


__ADS_2