
Akhirnya berkat kesabaran Danu yang menunggu Deli untuk bangun dari tidurnya itu membuahkan hasil juga. Deli terlihat sudah bergerak gerak ingin bangun. Deli akhirnya bangun dengan sendirinya. Deli melihat ke Ayah dan Bunda kuenya yang sedang mengobrol dengan Om Ivan dan Tante Maya di sofa ruangan itu.
"Loh Ayah, apa kita nggak jadi pergi ke tempat pengamen itu? Deli sangat penasaran dengan penampilan mereka Ayah. Kenapa Ayah dan Bunda kue masih duduk duduk santai juga" tanya Deli saat melihat Ayah dan Bunda kuenya masih duduk di sofa rumah sakit.
"Ayah pasti ingin menipu Deli bukan ya. Makanya Ayah dan Bunda kue masih betah duduk di sini. Ayah dan Bunda kue ingkar janji. Deli nggak suka" lanjut Deli dengan nada marah yang lumayan tinggi.
Danu dan Vina saling pandang pandangan. Mereka tidak menyangka Deli akan langsung marah marah saat dia baru saja bangun tidur.
"Gimana mau pergi Deli. Kamu aja dari tadi tidur. Kamu kan yang sangat luar biasa ingin menyaksikan pertunjukan itu. Makanya Ayah dan Bunda kue menunggu kamu bangun dulu baru kita akan pergi ke sana" jawab Danu yang tidak terima disalahkan oleh Deli. Danu nenatap dengan tatapan sedikit marah kepada anaknya itu.
"Bunda sama Ayah yang seharusnya marah ke Deli karena Deli tidak menepati janji" lanjut Danu yang ingin memberikan pelajaran kepada anaknya itu.
Deli memang memiliki kebiasaan menyalahkan orang lain, walaupun sebenarnya dia yang salah bukanlah orang yang disalahkan nya itu.
"Kata Deli kita akan berangkat selepas maghrib. Ini udah mau isa, Deli baru bangun tidur. Jadi, siapa yang seharusnya marah, Ayah atau Deli?" tanya Danu sambil menatap ke mata anak perempuannya itu.
"Maafkan Deli Ayah. Deli nggak sengaja tertidur. Tadi Deli bener bener mengantuk Ayah" jawab Deli sambil menatap ke arah Bunda kue meminta pertolongan dari kemarahan Danu.
Bunda kue menggeleng. Dia sama sekali tidak mau membantu Deli. Bunda kue membiarkan Deli menyelesaikan masalahnya sendiri. Bukan dengan cara meminta tolong kepada orang lain untuk menyelesaikan masalah kita sendiri.
"Jadi, Deli lama banget tidur tadi ya Yah?" ujar Deli bertanya kepada Ayahnya yang sekarang terlihat sedikit kesal karena pertanyaan dari Deli tadi.
"Nggak lama sayang, tapi sampe empat jam." jawab Danu menatap ke anak semata wayangnya itu.
"Maafkan Deli ya Ayah, Deli janji nggak akan mengulanginya lagi. Maafkan Deli Ayah" ujar Deli berkata kepada Ayahnya sambil memohon mohon supaya ayahnya tidak memarahi dia.
Danu melihat ke arah Vina. Vina mengangguk kepada Danu.
__ADS_1
"baiklah sayang. Kali ini Ayah memaafkan kamu Ayah harap ke depannya tidak kamu ulangi lagi" kata Danu sambil melihat ke arah Deli.
"Deli janji Ayah. Deli tidak akan mengecewakan Ayah lagi" jawab Deli sambil menatap ke mata Ayah yang paling disayanginya itu.
Danu membalas tatapan dari Deli. Dalam pikiran Danu, dipeluk oleh anak angkat saja bisa seenak ini. Apalagi kalau yang meluk adalah anak kandung, pasti rasanya akan berbeda.
Danu berharap kalau pernikahannya dengan Vina terjadi, dia sangat ingin memiliki anak kandung hasil dari kerja keras dia dan Vina. Bukan hasil dari kerja keras orang lain.
"Kalau begitu ayuk Ayah, kita langsung saja pergi ke sana. Lagian nanti kita juga harus kembali ke mansion yang jauh itu. Ayah besok kan pulang, jadi harus pamit sama Nenek dan Atuk dulu" ujar Deli dengan nada yang sangat luar biasa seperti orang yang sudah dewasa. Bukan seperti anak seusia Deli sekarang ini.
Deli melihat Ayah dan Bunda kuenya masih duduk di sofa. Deli yang melihat hal itu langsung memutuskan untuk turun dari ranjang rumah sakit Maya.
"Sepertinya harus main kekerasan" ujar Deli menahan sedikit rasa emosinya kepada Ayah dan Bunda kue.
"Ayolah cepat. Masih duduk juga baru" ujar Deli kepada Ayah dan Bunda kue.
Deli menarik tangan Ayah dan Bunda kue untuk pergi dari ruang rawat Maya. Danu dan Vina saling memandang. Mereka tersenyum melihat kelakuan Deli yang benar benar tidak terpikirkan oleh Danu dan Vina.
"Kalau mau pergi dari rumah saudara atau orang lain, kita harus ngapain?" tanya Vina kepada Deli.
Vina memandang mata calon anak angkatnya itu. Vina mengangguk kepada Deli. Vina memberikan kode kepada Deli untuk melakukan hal yang sudah Deli ketahui itu.
"Tante Maya, Om Ivan. Deli pamit dulu ya. Besok Deli akan datang lagi." ujar Deli yang sudah berada di depan Ivan dan Maya.
"Deli mau kemana sayang?" tanya Ivan kepada keponakannya yang manis dan lucu serta sangat pintar itu.
"Mau tengok pengamen jalanan yang kata Ayah sangat bagus pertunjukkan nya" jawab Deli sambil melihat ke arah Ivan dan Maya bergantian.
__ADS_1
"Deli, sebelum Deli pulang, boleh Tante Maya minta sesuatu?" tanya Maya kepada Deli.
"Boleh, apa? Tapi jangan es krim ya. Belum boleh masih sakit" ujar Deli berkata kepada Maya.
"Haha haha. Nggak es krim sayang. Deli kira Tante Maya anak kecil yang minta es krim" ujar Maya sambil tertawa ngakak mendengar apa yang dikatakan oleh Deli kepada dirinya.
"Jadi apa dong?" tanya Deli kepada Maya yang juga penasaran apa yang diinginkan oleh Maya.
"Tante minta, bolehkah Tante mengecup pipi tembem kamu itu sayang?" tanya Maya yang berharap Deli memperbolehkan dirinya untuk mencium pipi Deli.
"Haha haha haha, bolehlah. Masak nggak" jawab Deli sambil mengangguk kepada Maya.
Maya kemudian mengecup pipi Deli berkali kali. Deli menatap protes dan meminta tolong kepada Ivan. Ivan tersenyum kepada Deli.
"Sayang sudah. Kasihan Deli udah nyengir kuda dari tadi karena terus kamu ciumi sayang" ujar Ivan sambil menatap ke arah Maya yang sudah berhenti menciumi Deli.
"Besok besok nggak mau dicium lagi. Habis pipi Deli sama tante Maya. " ujar Deli menatap ke arah Maya.
"Maaf sayang" ujar Maya yang keasikan menciumi pipi Deli.
"Oke tante" jawab Deli sambil memberikan kode oke kepada Maya.
"Kami pamit dulu ya. Cepat sembuh Maya. Gue pulang besok Van. Loe kapan?" tanya Danu kepada Ivan.
"Dua hari lagi dari besok" ujar Ivan menjawab kapan dia akan pulang ke negara I.
"Oke sip. Kalau begitu kami bertiga jalan dulu ya." kata Danu berpamitan kepada Ivan dan Maya.
__ADS_1
"Oke hati hati di jalan ya" jawab Ivan.
Danu, Vina dan Deli kemudian keluar dari ruang rawat Maya. Mereka bertiga akan menuju tempat para pengamen tadi berada. Deli sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Ayahnya tadi. Deli ingin memastikan apakah yang dikatakan ayahnya itu benar atau hanya omongan belaka saja. Makanya, Deli sangat ingin melihat pertunjukan itu.