Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Perjalan Panjang ke Kota B


__ADS_3

Sopir kembali melajukan mobilnya menuju kota B. Kota yang akan menjadi tempat liburan selanjutnya bagi Vina dan yang lainnya. Tujuan mereka pertama mencari Maya sudah berubah menjadi acara liburan. Mereka muak dengan gaya Maya yang seperti anak kecil itu.


"Tuan di depan ada tempat makan sate yang terkenal sangat enak. Apa kita akan berhenti di situ terlebih dahulu tuan? Atau langsung menuju kota B? " Tanya sopir yang memang selalu merekomendasikan tempat tempat yang terkenal di sepanjang jalan menuju kota B.


"Berhenti dulu aja Pak. Kami lapar. " Ujar Sari yang menjawab pertanyaan sopir dari bangku paling belakang.


Sari saat ini memilih duduk dengan Juan dibandingkan dengan Vina. Sari ingin bercengkrama dengan kekasih hatinya itu.


"Gimana Tuan? " Tanya Sopir kepada Ivan.


"Ikuti aja apa maunya. " Jawab Ivan yang sebenarnya juga udah lapar tetapi malas untuk berhenti.


Sopir membelokkan mobil masuk ke dalam parkiran warung sate syukur yang sangat terkenal di kota dingin itu. Sate yang memang terasa lezat di lidah para wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri.


Ivan dan yang lainnya serta sopir duduk di sebuah meja panjang. Sari menatap lama ke sebuah kerupuk yang luar biasa besarnya.


"Sayang apa itu? " Tanya Sari kepada Juan.


"Sayang, kamu lupa, kita sama sama besar di luar negeri. Apalagi aku yang nggak ada darah negara ini sedikitpun. Syukur aku masih bisa berbicara dengan bahasa orang sini. " Ujar Juan menjawab pertanyaan Sari.


"Hehehehehe. Lupa aku sayang. " Jawab Sari sambil tertawa renyah.


"Itu namanya karupuak jangek kalau urang sini mengatakan Nona. Tapi kalau orang kota, mereka memberi nama dengan kerupuk kulit." Ujar sopir memberitahukan kerupuk apa yang tersaji di atas meja dengan ukuran yang luar biasa besar besarnya.


"Bukannya kerupuk kulit kecil kecil? Di kota juga ada, tapi nggak sebesar ini." Ujar Iwan yang sangat luar biasa menyukai kerupuk kulit.


" Ciri khas sate sini ya kerupuk ini Tuan Iwan. Mereka selalu menyajikan kerupuk yang lebar lebar. Jadi saat Tuan mencolek kan kerupuk ke kuah sate, tangan Tuan tidak kotor. " Ujar sopir menjelaskan kenapa di tempat sate itu kerupuknya besar besar.


"Udah bahas kerupuknya. Satenya aja makan. " Ujar Sari yang langsung memakan sate yang telah dihidangkan oleh pelayan.


"Nah itu kok ada yang dagingnya di pisah? " Sekarang giliran Vina yang bertanya.


"Kalau Nona merasa kurang satenya, maka Nona bisa nambah dengan yang itu. Nanti dihitung pertusuk saat melakukan pembayaran" Ujar sopir kembali menjelaskan.


"Pak, kamu sopir tour and travel atau sopir perusahaan? Semuanya tau. " Ujar Ivan yang heran dengan sopir yang diberikan oleh perusahaan kepada dirinya.


Tapi Ivan jadi bersyukur karena berkat sopir itu mereka jadi tidak pernah nyasar kemana mana dan menemukan tempat tempat yang lezat.

__ADS_1


"Saya terbiasa membawa tamu perusahaan Tuan. Saya juga banyak memiliki teman sopir bus pariwisata. Jadi, sedikit banyaknya saya tau tempat tempat wisata dan tempat tempat makan yang lezat lezat. " Ujar Sopir menjawab pertanyaan Ivan yang bernada keterangan.


"Oooo pantesan. " Ujar Ivan.


Mereka melanjutkan memakan sate yang tersedia. Semua yang ada di atas meja habis tandas dari anak manusia yang baru sekali itu mencoba sate yang ternama di kota hujan.


Ivan membayar semua tagihan makan mereka hari ini. Setelah Ivan selesai mereka semua kembali masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan menuju kota B.


"Gimana Tuan Nona rasa sate tadi? " Tanya Ivan.


"Sadis." Jawab Iwan.


"Hahahahaha. Saking enaknya nggak bisa diungkapkan dengan kata kata ya Bang. " Ujar Vina yang langsung tertawa mendengar jawaban dari Iwan yang spontan itu.


Mobil kembali mengarah ke kota B. Sopir melakukan mobil dalam kecepatan biasa saja. Sopir ingin semua Tuan dan Nona di atas mobilnya bisa menikmati pemandangan yang disajikan oleh alam.


"Tuan, apa pernah minum kawa daun dan bila? " Tanya sopir kembali. Sekarang mobil akan memasuki daerah yang terkenal dengan bila yang lezat.


"Belum. Kita berhenti di situ aja. Kawa daun talago." Sekarang giliran Vina yang minta berhenti.


"Kok tau Vin? " Tanya Sari.


"Siap Nona. Sebentar lagi kita akan sampai di kawa daun talago. " Ujar sopir kepada Vina.


Tak berapa lama sesuai yang dikatakan oleh sopir. Mereka telah sampai di tempat yang dituju. Yaitu kawa daun talago seperti yang diminta Vina. Sopir memberhentikan mobilnya di tempat parkir yang disediakan pihak warung.


Mereka semua turun dari dalam mobil. Kebetulan sekali saat mereka datang pengunjung sedang sepi. Jadi, Vina dan yang lainnya bisa duduk di depan talago tersebut.


Pelayan kemudian datang membawakan enam kawa daun dan enam piring bila yang satu piringnya berisi dia bila bakar yang tercium aromanya yang luar biasa lezat.


"Nah loe tempat minumnya dari batok kelapa" Ujar Sari sambil mencoba minuman yang dihidangkan.


"Enak" Kata Sari.


Vina dan yang lainnya menunggu reaksi Sari saat mencoba minuman yang baru pertama kali ini mereka coba. Saat Sari mengatakan enak, barulah mereka berlima mencoba minuman itu, yang ternyata memang lezat.


Sopir mencontohkan cara makan bila. Vina dan yang lainnya ikut ikutan makan bila seperti yang diajarkan oleh sopir.

__ADS_1


"Ini enak juga." Kata Sari sekali lagi.


"Loe kan memang selalu mengatakan semua makanan enak." Ujar Ivan yang memang selalu mendengar Sari mengatakan enak kepada setiap makanan walaupun kadang makanan itu tidak enak.


"Hahahahahaha. Bang yang namanya makanan berdosa kita kalau mengatakan dia tidak enak. Jadi aku nggak mau berdosa makanya aku bilang semuanya enak dan aku habiskan." Ujar Sari menjawab perkataan Ivan.


Mereka kemudian meminta sopir untuk mengabadikan fhoto mereka saat berada di kawa daun talago. Sopir mengambil beberapa fhoto. Malahan sopir juga mengambil beberapa fhoto candid Vina dan yang lainnya.


Setelah selesai menikmati makanan dan minuman di kafe kawa daun talago, sopir kembali melakukan mobilnya menuju kota B.


"Nggak ada berhenti lagi ya. " Ujar Ivan kepada Vina dan Sari.


"Siap" Jawab mereka berdua kompak.


"Memang nggak ada tempat pemberhentian lagi Tuan." Jawab sopir kepada Ivan.


"Oo" Ujar Ivan yang ternyata telah salah meminta kepada kedua wanita itu.


Vina dan Sari menahan tawanya saat melihat wajah Ivan yang telah berubah saat mendengar apa yang dikatakan oleh sopir.


Mobil telah memasuki kota B. Kota yang juga terkenal sangat dingin itu.


" Kita ke HS Hotel Tuan? " Tanya sopir kepada Ivan.


"Ya" Jawab Ivan.


Sopir mengarahkan mobil menuju HS Hotel seperti yang diinginkan oleh Ivan. Setelah sampai di depan hotel, mereka semua turun. Sopir membantu menurunkan barang barang milik Tuan dan Nonanya. Setelah semua barang turun, sopir kemudian pergi ke belakang untuk memarkir mobilnya. Parkiran HS Hotel kota B dengan kota P sangat jauh berbeda.


Ivan melakukan cuekin dia kamar HS suit. Ivan sengaja mengambil kamar suit, karena mereka akan lama menginap di sana. Ivan berencana untuk menginap selama tiga hari.


Setelah melakukan cuekin, Ivan memberikan satu kunci kamar kepada Vina. Dua orang bellboy mendekat ke arah mereka. Bellboy meletakkan koper koper ke atas kereta dorong. Mereka akan mengantarkan barang barang milik Vina dan yang lainnya ke kamar.


Vina dan yang lain masuk ke dalam lift. Mereka akan menuju kamar dan akan beristirahat sebelum melanjutkan aktifitas yang lain.


Maya masuk ke lobby hotel HS, bertepatan dengan pintu lift yang ditumpangi Vina dan yang lainnya menutup.


Maya kemudian melakukan transaksi cuekin dengan resepsionit. Maya ternyata menempati lantai yang sama dengan kamar Vina dan yang lainnya. Tetapi bedanya adalah belokan. Vina berbelok ke kanan dan paling ujung. Sedangkan Maya belok ke kiri dan paling ujung pula.

__ADS_1


Mereka semua kemudian beristirahat di kamar masing masing. Mereka berencana untuk keluar saat makan malam. Sekarang waktunya beristirahat setelah lelah berkendara lama dari kota P ke kota B. Lamanya gara gara Sari dan Vina banyak minta berhenti.


__ADS_2