Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Kampung


__ADS_3

Danu kemudian pergi meninggalkan mall itu dengan perasaan kesal, marah dan kecewa terhadap dirinya sendiri. Danu menyadari kalau dia adalah pria lempem yang tidak bisa mengambil keputusan bagi hidupnya sendiri.


Danu melakukan mobilnya meninggalkan hiruk pikuk, kebisingan dan kemacetan ibu kota. Danu memilih untuk pergi menemui anak semata wayangnya yang sekarang lebih memilih untuk tinggal dengan atuk dan neneknya di kampung.


Danu sangat butuh melihat dan mendengarkan omongan yang akan dikatakan oleh anaknya. Deli dulu juga sudah pernah meminta kepada Danu untuk memutuskan hubungan dengan Ranti, tetapi sampai sekarang Danu belum juga mengambil sikap. Danu masih tetap bertahan dengan Ranti, ntah apa yang ada di dalam pikiran Danu sudah tidak jelas lagi.


Danu melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi saat meninggalkan ibu kota. Dia ingin cepat sampai dan menemui anak satu satunya itu. Anak hasil pernikahan dirinya dengan Ranti walaupun tanpa landasan cinta dari Ranti.


Setelah menempuh perjalanan selama lebih kurang tiga jam. Danu akhirnya sampai juga di rumah kedua orang tuanya. Danu membelokkan mobilnya masuk ke dalam perkarangan rumah orang tuanya itu. Danu kemudian memarkir mobilnya di sana.


Deli dan kedua orang tua Danu sudah mengetahui siapa yang datang maghrib maghrib begini.


"Sepertinya Ayah kamu galau lagi sayang" ujar Nenek sambil menatap pintu ruang tamu yang sebentar lagi pasti akan terbuka lebar dan menampilkan wajah anak semata wayangnya sedang kusut dan terlihat banyak pikiran.


"Sepertinya gitu Nek. Ntah kapan Ayah Deli akan menjadi dewasa." kata Deli sambil menggeleng geleng kan kepalanya memikirkan tingkah dan sikap Ayahnya yang masih belum juga dewasa itu.


"Sabar aja sayang, kamu do'ain aja Ayah kamu akan dewasa setelah ini. Jadi, dia tidak akan membuat pusing hidupnya sendiri." ujar Nenek sambil menahan senyumnya.


"Semoga aja Nek. Deli kadang ingin Ayah berubah tapi ya gitu, ntah apa yang ada dalam otak Ayah" ujar Deli sambil menatap ke arah pintu masuk rumah.


"Mari kita hitung" ujar Nenek mengajak Deli menghitung kapan pintu akan terbuka lebar.


"Satu" ujar Deli dan Nenek mulai menghitung


"Dua" ujar Deli


Pintu rumah terbuka lebar bertepatan dengan nenek menghitung pas di angka tiga. Danu masuk dengan tergesa gesa. Nenek dan Deli melihat Danu masih memakai pakaian kantornya.


"Sepertinya Ayah kamu belum sempat pulang ke rumahnya untuk berganti pakaian Deli" ujar Nenek saat melihat Danu yang masih memakai pakaian kantor dengan lengkap.


"Deli" ujar Danu berteriak dengan sangat kencang. Danu sengaja berteriak agar semua orang bisa mendengar dirinya yang datang maghrib maghrib tersebut.


"Ayah kenapa harus pake teriak. Ayah kira rumah kita ini hutan, Ayah harus pake teriak teriak nggak jelas gitu" ujar Deli menjawab dari dalam rumah.


"Ayah kira kamu dan Nenek di dalam kamar sayang, makanya Ayah teriak teriak memanggil nama kamu, karena Ayah kangen banget sama kamu" ujar Danu sambil memeluk Deli anak semata wayangnya yang akan selalu berhasil membuat Danu menjadi kembali tenang saat dia berada dalam kondisi seperti saat sekarang ini.


"Deli sayang, bawa duduk dulu Ayahnya. Nggak kasihan nengok Ayah berdiri aja? " ujar Nenek mengingatkan Deli untuk meminta Ayahnya duduk terlebih dahulu baru bercerita.


"Ayah, ayuk duduk sini, kelihatannya Ayah sedang gundah gulana. Ada apa lagi Ayah?" ujar Deli saat Danu sudah duduk di sofa sebelah Deli.


"Yah anak kecil imut imut Ayah sepertinya udah dewasa. Udah bisa ngomong kalau Ayah sedang gundah gulana" ujar Danu sambil berusaha menggelitiki Deli.


"Ayah jangan Ayah. Geli Deli Ayah" ujar Deli sambil berusaha menahan tangan Danu agar tidak berusaha terus menggelitiki nya.


Danu terus aja berusaha menggelitiki Deli. Deli yang memang tidak bisa menahan geli langsung tertawa terbahak bahak karena kelakuan Ayahnya itu.


"Ayah ampun Ayah. Deli pengen buah air kecil" ujar Deli masih terus tertawa.


Nenek tertawa melihat kelakuan Ayah dan Anak yang sama sama berkelakuan aneh itu. Danu terus saja mengusulkan Deli. Padahal Deli sudah berkali kali meminta maaf kepada Danu. Danu sama sekali tidak punya niat untuk berhenti menggelitiki Deli.


Tok tok tok, terdengar bunyi ketukan dari pintu depan rumah. Nenek yang berada paling dekat dengan pintu rumah pergi membukakan pintu. Ternyata Atuk yang pulang dari mushalla.

__ADS_1


"Atuk tolongin Deli Atuk. Deli disiksa Ayah!!! " ujar Deli meminta pertolongan kepada Atuk nya kali ini.


Atuk melihat ke arah Deli. Ternyata Deli sedang digelitiki oleh Danu. Deli terlihat beberapa kali terdengar ngomong ampun. Tetapi, Danu tetap saja menggelitiki Deli.


"Danu, lepaskan cucu kesayangan Ayah, jangan kamu usilin terus seperti itu. Kamu nggak nengok nafasnya sudah memburu" ujar Atuk yang baru datang dari musholla.


Danu kemudian berhenti menggelitiki Deli. Danu kemudian duduk dengan tenang di sebelah anaknya itu.


"Jadi, ngapain Ayah datang maghrib maghrib begini? Pasti ada masalah baru lagikan ya? " Ujar Deli yang sangat yakin Ayahnya pasti memiliki masalah baru, sehingga membuat Ayahnya harus datang maghrib maghrib ke kampung.


"Sok tau kamu jadi anak" ujar Danu yang tidak mau mengakui kalau dia memang sedang ada masalah baru.


Danu terlihat gengsi untuk mengakui karena ada Deli. Bisa habis Danu nanti di ketawain oleh Deli karena masih belum mampu keluar dari permasalahan yang ada.


"Alah Ayah Ayah. Ayah jangan bohong ke Deli, Atuk dan Nenek lagi. Kami udah hafal dengan gaya Ayah. Jadi, capek pun Ayah ngomong ndak ada apa apa, kami bertiga nggak akan percaya Ayah. Bodoh banget kami kalau percaya sama Ayah." ujar Deli mulai mengusulkan Ayahnya.


Atuk dan Nenek menatap lama ke arah Deli. Mereka berdua tidak menyangka Deli akan berbicara seperti itu kepada Danu.


"Cucu kamu itu Nek, ngomong asal jeplak aja" ujar Atuk kepada Nenek yang terlihat sangat syok mendengar apa yang dikatakan oleh Deli tadi.


"Kamu yang ngajarin, kok jadi aku yang kamu salahin Atuk" ujar Nenek membela dirinya.


Nenek tidak ingin disalahkan oleh Atuk karena gaya berbicara Deli tadi.


"Atuk, Nenek, benerkan apa yang Deli katakan, Ayah Deli ini pasti sedang memiliki masalah makanya datang maghrib maghrib" ujar Deli mengulang apa yang dikatakannya tadi kepada Atuk dan Neneknya.


"Bener banget itu Deli, Ayah kamu ini kalau tidak ada masalah, mana mau ke sini dia. Palingan dia akan mengeram di ibu kota." ujar Atuk membenarkan apa yang dikatakan oleh Deli tadi.


"Hah kan bener itu Ayah. Atuk aja setuju sama Deli. Ayah mah kalau ada masalah baru ke sini. Jadi, sekarang apa masalah Ayah yang baru." ujar Deli bertanya dengan nada serius kepada Ayahnya di depan Atuk dan Nenek yang sudah menahan senyum melihat gaya Deli yang sudah seperti orang dewasa itu.


Danu cukup lama terdiam. Dia memang sedang memiliki masalah baru. Tapi Danu ragu untuk menceritakan kepada Ayah dan Ibunya.


"Udahlah Danu, cerita aja, dari pada kamu pusing sendiri." ujar Ayah mulai mencemooh Danu secara tidak langsung.


"Atau, masalahnya masih sama dengan yang kemaren? Ranti lagi?" kali ini Ibu yang angkat bicara.


"Jadi sebenarnya gini. Tadi siang aku ke mall ada urusan dengan rekan bisnis. Nah saat itu aku mendengar seorang wanita mengata ngatain wanita lain dengan sebutan pelakor" ujar Danu memulai ceritanya tentang kejadian di mall.


"Terus hubungan dengan Ayah apa? Kan yang ribut perempuan, bukan Ayah dengan perempuan?" ujar Deli menimpali cerita dari Danu.


"Sabar dulu kenapa coba. Kan Ayah belum selesai ceritanya. Kamu main potong kompas aja. Mau Ayah gelitik lagi?" ujar Danu sambil mengangkat jari jarinya seperti ingin menggelitiki Deli.


"Tidak Ayah. Mending Ayah lanjut cerita dari pada gangguin Deli" Ujar Deli menyerah tidak mau digelitik lagi oleh Ayahnya itu.


Deli nggak mau kejadian tadi terulang kembali. Ayahnya kalau sudah menggelitiki dirinya tidak akan berhenti cepat. Ayahnya akan terus menggelitiki Deli sampai puas.


"Danu sudah, jangan mulai lagi dengan Deli. Sekarang lanjutkan saja cerita kamu" ujar Atuk menghentikan keributan antara Ayah dan Anak yang belum di mulai itu.


"Yes, makasi Atuk. Atuk memang terbaik" ujar Deli yang sekarang pindah duduk ke sebelah Atuknya.


Danu kemudian melanjutkan ceritanya yang sempat terputus oleh ulah Deli yang menyambar di tengah tengah Danu bercerita.

__ADS_1


"Jadi, bunda kurang ada di sini. Kok nggak Ayah bawa ke sini. Deli mau bertemu dengan bunda kue" ujar Deli sambil menatap memohon kepada Ayahnya.


"Sayang gimana cara Ayah mau membawa Bunda kue ke sini. Bunda kue masih sangat marah sama Ayah. Ayah menegur saja Bunda kue sama sekali tidak menjawab." ujar Danu menjawab permintaan Deli untuk membawa Vina bertemu dengan Deli.


Mereka semua kemudian terdiam memikirkan apa yang dikatakan oleh Danu tadi. Permasalahan yang sebenarnya tidak terlalu kompleks tetapi menjadi kompleks karena Danu yang tidak bisa mengambil keputusan yang tepat.


"Danu" ujar Ayah memecah kesunyian yang tercipta diantara mereka saat ini.


Danu melihat ke arah Ayah dengan tatapan meminta pendapat dari Ayah tentang permasalahan yang masih sama dari dahulunya.


"Sebenarnya Ayah sudah mengatakan hal ini berkali kali kepada kamu, tapi sayangnya kamu masih belum juga mengambil keputusan yang terbaik menurut kamu sendiri." ujar Ayah mulai berbicara kepada Danu.


Danu menatap lekat ke wajah Ayah. Danu berharap Ayah memberikan masukan yang berguna untuk dirinya.


"Tinggalkan saja dia nak. Buatlah diri kamu dan Deli berbahagia. Kalian berdua berhak bahagia. Jangan hanya karena kamu berjanji ke mertua kamu untuk menjaga anaknya, membuat kamu menjadi lemah. Ayah tidak ingin anak Ayah menjadi lemah di hadapan orang lain." lanjut Ayah berbicara kepada Danu.


"Ayah ingin kamu menggapai kebahagiaan kamu sendiri. Jangan buat hidup kamu dan Deli menderita lagi" lanjut Ayah meyakinkan Danu kalau keputusan yang paling tepat memang berpisah.


Danu menatap ke Ibunya yang selalu bijak dan dewasa dalam berpikir.


"Nak ibu juga sama dengan Ayah, bagi Ibu lebih baik kamu mundur sekarang daripada kamu mundur setalah semua terjadi" Ujar Ibu memberikan masukan dan sarannya kepada Danu.


"Deli setuju Nek, apa gunanya lagi Ayah" ujar Deli juga ikut bersuara.


Danu kemudian berpikir kembali. Danu mempertimbangkan semuanya dengan baik baik. Dia tidak mungkin mengambil keputusan dengan tergesa gesa.


"Ayah, Ayah pikirkan aja terus, yang capek juga Ayah. Sedangkan dia tidak memikirkan Ayah lagi" ujar Deli berkata sambil menepuk pundak Ayahnya.


"Bener Nak, silahkan kamu berpikir untuk mengambil semua keputusan itu. Tapi satu hal yang pasti, dia saja tidak memikirkan kamu. Kenapa kamu harus memikirkan dia" ujar Ayah.


"Kami ke kamar dulu, kamu silahkan tidur setelah memikirkan semuanya dengan baik. Ibu dan Ayah setuju dengan semua keputusan yang kamu ambil." ujar ibu kepada Danu.


Atuk, Nenek dan Deli kemudian masuk ke dalam kamar mereka masing masing. Sedangkan Danu masih duduk di ruang tamu sendirian.


Kriuk kriuk bunyi perut Danu. Danu memang belum makan dari siang sehingga, cacing cacing di dalam perutnya berontak ingin diberi makanan.


Danu kemudian berjalan menuju meja makan. Danu membuka tudung saji dan di bawah tudung saji itu, Danu melihat sambal yang menggugah selerasa. Danu kemudian mengambil piring, dia kemudian mengambil nasi dan lauk. Danu akan makan sebelum dia kembali berpikir keras dengan keputusannya kali ini.


Danu makan dalam diam. Pikirannya tidak terfokus kepada satu masalah saja. Tapi ke banyak masalah. Danu benar benar di buat pusing oleh semuanya.


Setelah selesai makan, Danu kemudian menuju kamarnya. Dia tidak bisa berpikir lagi. Danu benar benar letih dengan semua ini. Danu akan menyerahkan semua keputusan kepada Deli anaknya itu.


"Biarlah Deli yang mengambil semua keputusan. Aku menurut saja" ujar Danu pelan.


Danu kemudian berjalan menuju kamarnya, Dia akn menginap di rumah orang tuanya untuk malam ini. Besok selepas shubuh baru dia akan berangkat kembali ke ibu kota.


Danu kemudian membersihkan dirinya, setelah selesai mandi, Danu memakai pakaian ganti.


Setelah memakai pakaian gantinya, Danu berjalan menuju kamar anak satu satunya itu. Deli terlihat sudah tidur dan memeluk bantal guling kesayangannya.


Danu kemudian berjalan mendekat ke arah Deli. Dia memandang wajah anaknya yang sedang tertidur tersebut. Danu sangat menyayangi Deli, apapun yang terjadi bagi Danu, Deli adalah hal pertama yang harus dibahagiakan oleh dirinya. Tidak ada yang lain selain Deli. Bagi Danu pusat kebahagiaannya sekarang adalah Deli. Apapun yang diminta oleh Deli, Danu pasti akan mengabulkannya.

__ADS_1


"Sayang, Ayah akan mengikuti apa yang kamu sarankan tadi. Ayah janji akan membuat hidup kita berdua bahagia. Ayah juga janji akan membawa Bunda kue kehadapan kamu sayang. Doakan Ayah ya" ujar Danu berkata kepada Deli yang sudah tertidur lelap itu.


Setelah berkata dengan Deli, Danu kembali menuju kamarnya, dia kemudian langsung naik ke atas ranjang untuk beristirahat. Danu akan tidur dan melupakan semuanya kalau dia bisa. Tapi sayangnya hal itu tidak akan mungkin terjadi. Danu akan tetap mengingat semua kejadian tersebut.


__ADS_2