Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Penyelesaian Masalah Ivan dan Maya


__ADS_3

Nggak apa apa. semoga dia sekarang sedang berpikir. " ujar Sari.


Mereka berdua kemudian beristirahat. Besok mereka berencana untuk pergi main, menikmati kota B. Sebelum kembali ke Negara U dua hari lagi.


Pagi harinya Maya sudah bangun terlebih dahulu. Dia sudah selesai bersiap siap dan merias wajahnya sedikit. Pagi ini juga Maya berencana untuk langsung chek out dari hotel. Dia akan langsung membeli oleh oleh untuk Dian dan suaminya. Maya sudah menyusun rencananya untuk hari ini.


"Gue harus lebih dahulu dari pada mereka untuk sarapan pagi. Gue nggak mau bertemu mereka dulu. Mereka sengaja memanas manasi gue, agar gue yang menemui mereka sekarang. " Ujar Maya berkata di depan cermin.


"Gue akan menemui mereka saat sudah sampai di ibu kota. Gue harus bertanya kepada Vina apakah dia memang tidak akan membawa gue ke Negara U. Kalau memang tidak, maka gue akan berusaha sendiri kembali di ibu kota. Gue akan memutuskan kontak gue dengan mereka semua, setelah gue mendapatkan kepastian jawaban dari Vina." Ujar Maya sambil menatap tajam ke depan cermin meja rias nya.


Maya terkadang memiliki sifat yang terlalu dewasa dalam mengambil keputusan. Tetapi kali ini dia sama sekali tidak menunjukkan hal itu. Maya lebih mengedepankan egonya untuk pagi ini. Padahal semalam dia sempat berpikir dengan cara dewasa. Ntah apa yang terjadi kepada Maya sama sekali tidak diketahui siapapun. Hanya Tuhan dan Maya yang tau apa sebenarnya keinginan Maya.


Setelah selesai semuanya. Maya membuka pintu kamar. Maya membawa koper kecil dan beberapa paperbag di tangannya.


"Mau kemana? " Tanya Ivan saat Maya membuka pintu kamar.


"Mau pulang." Jawab Maya yang kaget Ivan sudah berdiri di depan dia saat ini.


"Ooo. Apa nggak ada yang perlu di jelaskan? " Ujar Ivan kepada Maya.


Maya menatap Ivan dengan pandangan tidak mengerti atas pertanyaan Ivan. Ivan kemudian menarik tangan Maya untuk kembali ke dalam kamar. Ivan harus menjelaskan kepada Maya semuanya, biar Maya bisa mengerti dengan tindakan yang diambil Ivan dan juga Vina.


"Kenapa harus main tarik seperti ini? " Tanya Maya yang protes tangannya di tarik Ivan.


"Kamu nggak mau nurut, tentu harus aku tarik untuk masuk ke dalam kamar lagi." Ujar Ivan sambil menatap Maya.


"Kamar kamu pakai balkon?" Tanya Ivan.


Maya menggeleng.


"Nggak mampu nyewa yang pake balkon." Jawab Maya dengan suara pelan.

__ADS_1


Mereka kemudian duduk di atas ranjang. Ivan mengambil tangan Maya dan menggenggamnya dengan sangat erat sekali, seperti tidak akan bisa dilepaskan lagi.


"Kenapa?" tanya Ivan sambil menatap Maya.


"Aku pergi?" tanya Maya kepada Ivan.


Ivan mengangguk.


"Karena kamu nggak balas chat aku. Aku berkali kali mengirimkan chat, sama sekali tidak kamu balas. Waktu itu aku tau kok, kamu sedang marah ke aku, gara gara kejadian Sari ngomong kami mau pulang naik bus malam dari kota J." ujar Maya mulai bercerita.


"Saat itu aku nggak ngejar kamu karena aku berpikir percuma saja. Kamu akan tetap marah ke aku. Makanya, aku lebih memilih diam dan akan menghubungi kamu esok hari saat kami udah di hotel ibu kota." lanjut Maya bercerita sambil menahan supaya air matanya tidak berlarian turun.


"Ternyata apa yang aku anggap benar itu menjadi salah. Kamu beneran marah ke aku, sampai sampai nggak mau balas chat aku lagi." lanjut Maya menjelaskan semuanya.


"Waktu itu aku hanya punya satu pemikiran. Aku lebih baik pergi menenangkan diri dulu. Makanya tanpa pikir panjang, aku pesan tiket ke pulau S provinsi SB. Aku nggak tau mau kemana lagi." ujar Maya yang akhirnya air matanya turun juga walaupun sudah berusaha di tahannya mati matian.


"Cerita berikutnya kamu tau sendiri." ujar Maya mengakhiri ceritanya kenapa dia sampai di kota ini.


'Dia masih milikku' ujar Maya dalam hatinya.


"Kamu pengen nangis?" tanya Ivan.


Maya mengangguk.


"Silahkan. Tapi mulai sekarang sampai ke atas jangan ada tangis penyesalan lagi ya." ujar Ivan.


Maya menangis sampai terisak isak di dalam pelukan Ivan. Ivan membiarkan saja Maya menangis. Ivan tidak menenangkan Maya, Ivan membiarkan saja Maya mengeluarkan semua rasa kesedihan yang disimpannya beberapa hari ini.


Setelah puas dengan mengeluarkan rasa sedih di hatinya, Maya mengangkat kepalanya dan mengecup sekilas bibir Ivan. Hal pertama sekali berani dilakukan oleh Maya. Ivan tersenyum, Ivan tidak berkomentar apapun atas apa yang dilakukan oleh Maya tadi.


"Makasi" ujar Maya sambil memandang Ivan dengan pandangan penuh kerinduan.

__ADS_1


"Sama sama. Sekarang apa aku boleh cerita kenapa aku pergi saat itu dan tidak membalas pesan chat?" tanya Ivan kepada Maya.


Ivan ingin meluruskan semua kesalahpahaman yang terjadi kepada Maya. Ivan tidak mau Maya beranggapan yang tidak tidak kepada dirinya.


Maya mengangguk. Dia juga ingin tahu ada apa sebenarnya sehingga membuat Ivan mengabaikan pesan chat dan pergi saat itu.


"Pertama kenapa aku tidak membalas pesan chat kamu waktu itu, karena lagi meeting penting. Kamu taukan aku udah lama liburan ke kota J. Jadi, pekerjaan luar biasa banyaknya. Pas hari itu ponsel aku tertinggal di dalam tas. Makanya tidak aku balas. Aku meeting sampai malam." kata Ivan mulai bercerita.


"Nah malamnya, saat aku baru selesai meeting, Vina nelpon menanyakan kamu dimana. Karena kamu pergi mengatakan kepada Jeri kalau pergi dengan aku. Saat itulah aku tau kamu pergi dan dalam keadaan marah." ujar Ivan selanjutnya.


"Aku dan Juan berusaha melacak dimana kamu berada melalui data pribadi kamu. Tapi kamu benar benar mengelabui kami dengan membeli lima tiket penerbangan dan semuanya kamu lakukan cuekin berkali kali." kata Ivan sambil mengacak rambut Maya yang sudah tertata rapi.


"Akhirnya Vina ingat kalau kamu pernah mengatakan sangat ingin ke kabupaten pes. Makanya kami ke sana, kiranya kamu sudah memperhitungkan semuanya. Kamu mengubah tujuan kamu ke kota B." Kata Ivan menceritakan semua kejadian kepada Maya agar Maya mengerti.


Ivan terdiam sejenak. Untuk bercerita bagian yang ini akan membuka luka di hatinya yang perlahan sudah mulai sembuh. Maya dapat melihat kesakitan itu di mata Ivan. Maya tidak ingin membuat Ivan menjadi sedih karena harus bercerita hal yang tidak ingin diceritakan Ivan.


"Sayang, kalau memang berat dan tidak mungkin diceritakan hal yang ini aku tidak masalah. Kapan kapan saja saat kamu siap." Ujar Maya sambil mengusap pipi Ivan.


"Maafkan aku sayang. Intinya kamu tidak boleh kemana mana sendirian dan naik angkutan umum. Itu batas keras aku sayang." ujar Ivan menyampaikan kepada Maya.


Maya mengangguk setuju dengan apa yang diminta oleh Ivan.


"Jadi, saat aku pergi kemaren kamu kalut dan takut tidak? " Tanya Maya dan menatap Ivan dengan tatapan menggoda.


"Jangan tanya lagi. Kamu sudah tau jawabannya." Ujar Ivan sambil mencubit hidung Maya.


"Aku mencintaimu" ujar Maya kepada Ivan.


"Aku sangat mencintai kamu dan akan selalu mencintai kamu. " jawab Ivan


Sepasang kekasih itu kemudian berpelukan. Mereka telah menyelesaikan masalah yang menerpa mereka saat ini.

__ADS_1


__ADS_2