
Vina keluar dari ruangannya, dia menuju ruangan Sari yang letaknya bersebelahan dengan ruangan Vina.
Tok tok tok. Vina mengetuk pintu ruangan Sari. Vina sangat yakin kalau Sari sudah balik dari meeting yang dilakukannya dari tadi pagi
Sari yang baru selesai minum itu, berjalan membuka pintu ruangan. Sari sudah tau siapa yang datang. Rencananya tadi, sarilah yang akan menemui Vina, ternyata Vina gerak cepat, sehingga Vina yang akhirnya menemui Sari terlebih dahulu.
"Masuk Vin" ujar Sari membuka pintu ruangannya lebar lebar, meminta Vina untuk masuk ke dalam ruangannya.
Vina berjalan masuk ke dalam ruangan Sari. Dia kemudian memilih duduk di slah satu sofa yang ada dalam ruangan itu. Sari duduk di sofa samping Vina.
"Gimana meeting tadi Sar? Aman nggak?" ujar Vina bertanya tentang meeting yang dilakukan oleh Sari tadi pagi.
"Meetingnya sukses Vin. Mereka menyetujui kerjasama dengan perusahaan kita. Meeting lanjutannya tiga hari lagi. Mereka akan konfirmasi ke gue waktu pastinya kapan untuk meeting lanjutan" kata Sari menjelaskan kepada Vina hasil dari meeting yang dilakukannya tadi pagi dengan salah satu perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan CT Grub.
"Alhamdulillah Sari, gue bener bener senang mendengarnya. Oh ya loe udah makan siang?" tanya Vina yang ingat Sari keluar dari pagi.
"Sudah, tadi langsung makan siang selesai meeting. Oh ya, kita nggak ada kegiatan lagi kan ya?" ujar Sari yang memang sudah ada janji dengan Juan mau pergi jalan jalan berdua.
"Nggak. Semua laporan sudah gue baca. Loe ada janji ketemuan dengan Juan ya?" ujar Vina sambil menggoda Sari yang sudah tersenyum senyum itu.
"Gue janji jemput dia di bandara. Terus mau makan malam berdua, sekalian mau nonton film favorit kami yang baru tayang itu" ujar Sari mengatakan kepada Vina apa rencananya sehingga mau pulang cepat dari perusahaan.
"Ha ha ha ha, oke sip. Loe boleh pergi kok ya. Gue rencananya juga mau ke kafe." ujar Vina yang juga telah menyelesaikan semua pekerjaannya di kantor.
"Sip. Kalau gitu gue ijin duluan bolehkan ya?" tanya Sari sambil menatap Vina dengan tatapan memohon untuk diizinkan.
"Bolehlah. Kalau gitu gue balik ke ruangan dulu" ujar Vina yang langsung berdiri dari kursi yang didudukinya.
"Loe mau ke kafe jam berapa?" tanya Sari yang lupa bertanya kepada Vina jam berapa dia mau pergi ke kafe.
"Jam empat lah. Pas jam pulang kantor." jawab Vina sambil tersenyum kepada Sari.
"Oh oke sip. Gue pulang duluan" ujar Sari lagi sambil mengambil tas tangannya.
Vina dan Sari keluar dari dalam ruangan kerja Sari. Vina kembali ke ruangannya, sedangkan Sari turun menuju lobby perusahaan untuk pergi menjemput Juan.
Vina kembali membaca beberapa laporan dan juga dokumen kerja sama yang baru selesai dipresentasikan oleh Sari. Vina memperbaiki beberapa bagian di dokumen itu sesuai dengan permintaan perusahaan yang menjadi rekanan perusahaan CT Grub.
Vina bekerja dengan sangat tekun. Dia sama sekali tidak pernah komplen dengan pekerjaannya yang banyak. Vina benar benar menikmati pekerjaannya kali ini. Tepat pukul empat sore, Vina merapikan semua barang barangnya. Dia kemudian keluar dari dalam ruangan. Vina menuju lobby perusaan untuk pergi ke kafe milik Maya.
Pak Hans yang melihat Vina sudah keluar dari lobby membukakan pintu mobil. Vina masuk ke dalam mobilnya.
"Kita kemana Nona? Langsung pulang atau ke kafe Nona Maya dulu?" tanya Pak Hans sebelum dia mengemudikan mobil.
"Ke kafe Maya saja Pak Hans. Saya malas pulang cepat" ujar Vina kepada Pak Hans.
"Siap Nona" ujar Pak Hans yang langsung menghidupkan mobil dan melajukan mobil menuju kafe Nona Maya.
"Oh ya Deli udah minum obatnya belum ya? Mending aku chat dia aja dulu" ujar Vina dengan pelan saat mengingat apakah anaknya itu sudah minum obatnya atau belum.
Vina mengambil ponsel miliknya. Dia melihat tidak ada notifikasi apapun yang masuk ke dalam ponsel miliknya. Vina membuka aplikasi pesan chat miliknya. Dia tadi sudah menyimpan nomor ponsel Deli yang diberikan oleh Danu. Vina mencari nama Deli di ponsel miliknya.
'Hay sayang, udah makan obat belum' ujar Vina mengirim pesan chat kepada Deli.
Deli yang sedang duduk santai sambil memakan buah potong di temani oleh Nenek, meraih ponselnya yang ada di atas meja.
Deli kemudian membaca pesan chat itu. Dia terlihat mengetik sesuatu di sana.
'Udah Bunda kue. Ini Deli sedang makan buah potong sama nenek. Kata nenek, nenek titip salam untuk Bunda' bunyi pesan chat yang dikirim oleh Deli kepada Vina.
Nenek melihat Deli senyum senyum saat membaca pesan chat tersebut.
"Siapa yang ngirim pesan chat sayang? Sehingga bikin kamu senyam senyum begini" ujar Nenek bertanya kepada Deli.
"Bunda kue, nenek yang ngirim pesan chat" ujar Deli menjawab pertanyaan neneknya itu.
Deli menceritakan kepada Nenek apa bunyi pesan chat yang dikirimkan oleh Vina kepada dirinya
'katakan ke nenek juga, Bunda kirim salam ya. Besok kalau Bunda pulang ke negara I, Bunda akan singgah ke rumah nenek' bunyi pesan chat berikutnya yang dikirim oleh Vina kepada Deli.
__ADS_1
'Wah serius Bunda, kapan Bunda pulangnya?' balas Deli dengan sangat cepat.
'Ha ha ha ha belum tau sayang. Bunda usahakan enam bulan lagi Bunda pulang ya' ujar Vina membalas pertanyaan kapan pulang yang diajukan oleh Deli.
'Empat lah Bunda. Enam lama kali' ujar Deli memberikan penawaran kepada Vina.
'Nggak bisa sayang. Maaf ya.' ujar Vina yang tidak mau memberikan harapan palsu kepada Deli.
'Kenapa Bunda?' balas Deli yang penasaran kenapa Vina tidak bisa pulang dalam waktu empat bulan lagi.
'Bunda di sini kerja sayang. Bunda kemaren baru pulang dari sana. Jadi, tentu enam bulan lagi Bunda baru bisa pulang lagi ke negara kita.' bunyi balasan pesan dari Vina kepada Deli.
'Kenapa Bunda nggak mau mengiyakan saja permintaan Deli yang pulang empat bulan lagi' ujar Deli yang memang sudah berpikiran dewasa alias tidak sesuai dengan usianya itu.
'Jawabannya gampang sayang. Bunda nggak mau memberikan kamu harapan palsu. Bunda, tidak mau janji janji yang Bunda tau Bunda nggak bisa menepatinya sayang' balas pesan chat yang dikirim oleh Vina kepada Deli.
'He he he he, oke Bunda. Enam bulan lagi. Bunda, Deli istirahat dulu ya. Ini nenek matanya udah mau keluar' ujar Deli yang melihat neneknya matanya sudah melotot karena Deli masih sibuk dengan ponsel miliknya.
'Sip sayang. Selamat istirahat' balas pesan chat Vina kepada Deli.
Vina memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku balero yang dipakainya. Vina kembali fokus ke jalan. Akhirnya setelah berkendara tidak terlalu lama, karena Vina sibuk dengan ponsel miliknya, akhirnya mereka sampai juga di kafe. Pak Hans memarkirkan mobil di parkiran yang masih kosong.
Vina kemudian turun dari dalam mobil. Dia melihat Ivan yang sedang sibuk mengantarkan pesanan para pengunjung.
"Hay Bang. Sibuk banget nampaknya?" ujar Vina menyapa Ivan.
"Pengunjung sedang ramai Vin. Lagian cape juga duduk dari tadi, makanya bantuin para pelayan aja lagi" ujar Ivan sambil meletakkan nampan yang digunakan untuk mengantar pesanan para pengunjung.
"Aku ke dapur dulu Bang" ujar Vina yang langsung berjalan menuju dapur tempat Maya yang terlihat sedang sibuk mengolah pesanan yang telah dipesan para pengunjung kafe.
"Hay May. Ada yang bisa gue bantu?" tanya Vina sambil melihat kegiatan Maya dan Rina serta satu orang koki tambahan di dapur itu.
"Janganlah Vin. Loe istirahat dulu aja. Atau loe bantu bantu yang bikin minuman sana." ujar Maya yang tau Vina lelah habis bekerja di perusahaan.
"Bener, gue di suruh ke bagian minuman?" tanya Vina sambil mengedip ngedipkan matanya kepada Maya.
"Beneran. Loe di bagian minuman aja. Biar gue dibagian sini" ujar Maya meyakinkan Vina untuk membantu bagian yang membuat minuman.
"Hem sama aja. Mending bantu bantu Ivan meletakkan pesanan ke meja meja" ujar Vina yang menuju ke dekat Ivan.
Vina duduk di sebelah Ivan.
"Loh tapi mau masak?" tanya Ivan kepada Maya.
"Dilarang sama Maya Bang, katanya di bagian minuman aja. E e e e ternyata di situ juga udah ada dua orang yang bikin minum. Nggak mungkin juga kan aku di situ berdiri" ujar Vina menceritakan kenapa dia tidak jadi memasak di dapur.
"Ha ha ha ha ha sabar aja Vin. Maya tau kamu capek habis kerja. Makanya dia tidak memperbolehkan kamu untuk bekerja di dapur" ujar Ivan yang tau alasan Maya yang tidak memperbolehkan Vina masak di dapur saat pulang kerja.
"Oh ya mana Bang Iwan Bang?" tanya Vina yang sama sekali tidak melihat ada Iwan di kafe.
"Oooo. Dia di rumah Juan. Katanya tadi nanti mau ke sini sore" jawab Ivan saat Vina bertanya Iwan dimana.
Mereka berdua melanjutkan obrolan ringan tentang berbagai hal terutama tentang bisnis. Vina tanpa disadarinya telah melaporkan semua kerja dia di perusahaan kepada CEO sekaligus presiden direktur CT Grub tempat dia bekerja.
Danu yang berada di negara I, terlihat sedang sibuk membaca beberapa laporan dan juga dokumen kerjasama DM yang diajukan oleh beberapa perusahaan. Dia benar benar dibuat sibuk oleh semua pekerjaan yang harus dilaksanakannya.
"Ah capek. Video call dengan Vina dulu lah" ujar Danu mengambil ponsel miliknya.
Vina yang meletakkan ponselnya di atas meja, menjadi kaget saat melihat ada panggilan video masuk ke dalam ponsel miliknya. Ivan yang kaget juga melihat ke ponsel Vina.
"Danu? Oh oh udah baikan ya Vin. Nggak ngomong ngomong" ujar Ivan mengejek Vina yang terlihat malu malu mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan.
"Mayan Bang. Gue ke sana dulu ya"
Vina berjalan menuju tempat persembunyiannya. Dia akan mengangkat panggilan video itu di sana.
"Hay sayang" sapa Vina kepada Danu saat Vina baru mengangkat panggilan video itu.
"Hay, kamu sedang di mana?" tanya Danu saat melihat Vina tidak lagi di kantor.
__ADS_1
"Lagi di kafe Maya."
Vina memutarkan kameranya memperlihatkan kepada Danu, pengunjung yang begitu ramai datang ke kafe.
"Wuis ramai sekali sayang. Kamu juga kerja di situ kalau malam?"
Danu menatap kagum ke kafe Maya yang ber suasana sangat asik untuk nongkrong. Danu bisa memastikan kalau kafe itu menyediakan makanan dan minuman yang enak enak seperti warung Maya dan Vina waktu di negara I.
"Nggak sayang. Mana kuat aku. Pagi kerja kantoran, malam kerja kafe. Aku nggak cari cepat kaya sayang"
Vina berkata sambil melihat ke wajah Danu yang terlihat sangat lelah itu
"Wajah kamu lelah banget. Kenapa?"
"Gimana nggak akan lelah sayang, aku kerja sendirian. Ivan dan Iwan liburan. Ee e e e presiden direktur juga pulang ke negara U. Capek lah aku kerja sendirian"
Danu curhat kepada Vina tentang begitu banyak kerjaan yang harus dilakukannya sendirian. Padahal dia ingin juga menikmati liburan seperti Ivan dan Iwan yang suda dua kaki ambil cuti dalam waktu yang berdekatan.
"Haha haha haha, sabar sayang. Gimana kalau mereka pulang, giliran kamu yang ambil cuti. Kamu bisa main ke negara E."
"Negara E?" tanya Danu heran mendengar nama negara E disebutkan oleh Vina.
"Ya negara E. Aku rencananya mau ke negara E bulan besok. Ada kegiatan dari perusahaan. Kalau kamu mau, kita bisa bertemu disana."
"Serius, kapan tepatnya?"
Danu terdengar begitu senang, saat mendengar Vina mengajaknya bertemu di negara E. Apapun halangan yang akan merintangi kepergian Danu ke negara E. Danu akan menghadangnya. Danu sangat sangat ingin bertemu dengan Vina. Dia tidak perduli dengan hal apapun, keinginannya hanya satu bulan besok pergi ke negara E bertemu dengan Vina.
"Berapa lama kamu di sana?"
"Lumayan lah sayang seminggu. Tapi kalau kamu datang aku bisa nambah jadi sepuluh hari. Aku ingin melepaskan rasa kangen aku sama kamu"
"Ye mulai bisa ngegombal. Yakin kangen sama aku?"
"Yakinlah sayang. Kalau nggak yakin, mana mau aku ngajak ketemuan sama kamu. Mending aku pergi sendiri aja ke negara E" kata Maya sambil menatap dan mensayukan matanya kearah Danu.
Danu hanya bisa geleng geleng kepala saja melihat kelakuan Vina yang sudah ada peningkatan yang sangat luar biasa itu.
"Sayang kendalikan mata kamu, jangan memandang aku seperti itu. Membuat sesuatu di bawah sana menjadi berdiri"
"Masak iya berdiri sayang, hanya denger suara aku saja. Sedangkan Ranti saja yang cantik berada di dekat kamu dia tidak berdiri"
"Sayang, kamu nggak percaya sama aku, mau aku lihatin?"
Danu menantang Vina untuk menunjukkan sesuatu yang berdiri itu.
"Mana?" uajr Vina menantang Danu untuk menunjukkan kepada dirinya.
Danu mengarahkan kamera kebagian itu. Vina hanya bisa menutup mulutnya karena kaget saat melihat sesuatu yang ternyata sesuai dengan yang dikatakan oleh Danu tadi.
"kenapa diam?"
"sayang ternyata beneran. Aku jadi kaget sayang"
"Haha haha haha, makanya sayang jangan remehkan aku. Kalau Ranti memang aku nggak minat. Kalau kamu, denger suara kamu yang aneh dan melihat wajah kamu yang mulai aneh, membuat dia berdiri" ujar Danu menggoda Vina.
"Vina Vina,"
Maya teriak teriak manggil Vina.Dia sudah berada di belakang Vina.
"Hay Bang. Gue pinjam Vina bentar ya. Nolong masak. Nanti lanjutin lagi Vc nya. Boleh ya bang" kata Maya sambil tersenyum kepada Danu.
"Oke Boleh. Kamu bantu Maya dulu sayang. Nanti aku telpon lagi"
"oke sip. Aku bantu Maya dulu ya. Bay Sayang"
"Bay sayang"
"Hem sayang" ujar Maya menggoda Vina dan Danu.
__ADS_1
"Gangguin aja" kata Vina sambil menonjok bahu Maya