
"Sari pelankan sedikit laju mobilnya" kata Vina meminta kepada Sari untuk sedikit memelankan laju mobil yang dikendarainya itu.
Vina melihat kalau kecepatan mobil sudah mencapai angka seratus kilo meter per jam.
"Kamu tenang saja Vina, kan sudah aku katakan kalau mobil ini adalah mobil yang paling teraman di kelasnya" ujar Sari menegaskan kembali kepada Vina kalau mobil yang dikendarainya itu adalah mobil teraman di kelasnya.
"Aman sih aman Sari, tapi ini kecepatannya tinggi sekali. Gue takut kita kenapa kenapa nati" ujar Vina yang akhirnya mengatakan juga kepada Sari apa yang ditakutkan oleh dirinya saat ini.
"Kalau loe nggak menurunkan pijakan gas elo, gue teriak ne, biar semua orang mengira kalau gue loe culik" kata Vina memberikan sedikit ancaman kepada Sari.
Sari yang mendengar apa yang dikatakan oleh Vina memilih untuk sedikit menurunkan pijakan gasnya. Sari tidak mau kalau Vina semakin panik dan akhirnya berteriak teriak tidak jelas untuk meminta menghentikan mobil di tengah jalan. Sari tidak bisa membayangkan kalau hal itu akan dilakukan oleh Vina, makanya Sari memilih untuk memelankan laju mobilnya.
Vina tersenyum saat merasakan kalau laju mobil sudah sedikit pelan. Ancaman yang diberikan oleh Vina berhasil membuat Sari menurunkan pijakan pedal gasnya. Sehingga mobil tidak melaju sekencang tadi. Sekarang Vina bisa dengan nyamannya duduk di kursi sebelah Sari.
"Gimana buk bos, apa sekarang kecepatan mobil sudah bisa dikatakan aman?" tanya Sari kepada Vina yang sudah bisa duduk dengan nyaman di kursi penumpang.
"Sudah, kecepatan segini sangat bagus bagi jantung dan pikiran saya" ujar Vina sambil membetulkan posisi duduknya supaya lebih nyaman lagi.
Posisi Vina saat baru naik mobil sampai dirinya mengeluarkan ancaman kepada Sari tadi, benar benar posisi yang sangat tragis. Bisa dikatakan posisi yang benar benar akan membuat siapapun yang melihat bagaimana Vina duduk mengatakan kalau Vina sedang bermain bom bom car, karena pegangan dengan sangat kuat ke pegangan yang ada di mobil.
Maya yang sekarang masih dipeluk oleh Deli sebenarnya sudah sangat merasakan rasa lapar yang sudah sangat mendera dirinya. Padahal tadi rencananya Mya, saat dirinya dan Deli sampai di kafe, dia akan langsung memasak menu makan siang untuk mereka berdua. Tetapi ternyata oh ternyata itu hanyalah rencana tinggal rencana. Deli tiba tiba mengambek dan sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya dari Maya. Deli masih tetap memeluk Maya mulai sejak mereka sampai di kafe sampai saat sekarang ini.
Sari dengan kecepatan yang masih bisa di toleransi oleh Vina, langsung saja membelokkan mobilnya masuk ke dalam parkiran kafe. Vina dan Sari kemudian langsung turun dari dalam mobil, padahal posisi mobil di parkir oleh Sari sesuka hatinya saja. Sari kemudian memberikan kunci mobilnya kepada vallet yang ada di sana untuk memarkirkan mobilnya di tempat parkir pemilik kafe.
Vina dan Sari kemudian melangkah dengan lebar lebar menuju ke dalam kafe. Mereka berdua mencari dimana keberadaan Deli saat ini.
__ADS_1
"Deli sayang, ini Bunda Nak. Dimana kamu sayang?" ujar Vina saat dirinya sudah berada di depan pintu kafe.
Para pengunjung yang mendengar bagaimana cara Vina memanggil Deli langsung saja menatap ke arah Vina. Rata rata semua pengunjung tahu kalau Vina belum punya suami. Makanya mereka kaget saat mendengar Vina mengatakan dirinya bunda dan memanggil Deli dengan kata ganti nak.
Deli yang sedang di peluk oleh Maya mendengar suara yang sudah dirindukannya itu. Deli kemudian melepaskan pelukannya dari Maya.
"Bunda" teriak Deli dengan sangat kuat.
Vina yang tahu dari masa arah asal suara itu langsung berlari menuju tempat tersebut. Ternyata dugaan Vina benar, Deli sedang berada di sana. Di tempat yang sudah Vina yakinkan kalau Deli memang benar di sana.
"Deli"
Panggil Vina sekali lagi dengan pelan.
Vina berdiri di dekat Deli. Maya yang melihat hal itu langsung berdiri dari duduknya. Tetapi tiba tiba saja Deli memegang kaki Maya.
"Mami mau kemana?" tanya Deli sambil menatap Maya.
"Mami masak bentar ya sayang. Mami dan Tante Sari lapar. Kita kan belum makan siang. Jadi Mami akan masak dulu, kamu sama Bunda dulu di sini ya" ujar Maya mengatakan kepada Deli dia akan pergi kemana.
"Tapi......" ujar Deli yang terlihat enggan ditinggalkan oleh Maya.
"Anak Mami harus bisa mengemunikasikan kepada Bundanya apa yang dia rasakan. Mami tidak mau anak Mami yang cantik ini marah dengan Bundanya."
"Apa, anak cantik Mami ini mau berdosa, karena sudah marah kepada Bundanya sendiri?" tanya Maya kepada Deli sambil menatap ke arah Vina dan memberikan kode dengan mulutnya kalau Deli sedang merajuk dan butuh dibujuk oleh Vina.
__ADS_1
Vina menganggukkan kepalanya kepada Maya. Dia paham sekarang, kenapa Deli bisa diam seperti itu kepada dirinya. Dia harus bisa membujuk Deli supaya tidak lagi merajuk kepada dirinya.
"Boleh ya Mami masak sebentar. Kasihan tante Sari yang sudah kelaperan itu" ujar Maya sambil menatap Sari dan meminta pertolongan kepada Sari untuk meyakinkan Deli kalau Sari memang sedang dalam keadaan lapar saat ini.
"Benar sayang, tante sedang kelaperan sekarang. Makanya tante membawa mobil ke sini dengan kecepatan tinggi. Sehingga membuat Bunda kamu teriak teriak seperti orang gila" ujar Sari yang sekarang akan membantu Vina untuk membuat Deli tidak marah lagi kepada Vina.
"Bunda teriak kenapa tante?" ujar Deli yang mulai penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Sari.
Deli sebenarnya mau menyapa Vina dan memeluk Vina, tetapi rasa ego dan marah Deli membuat dirinya bertahan untuk tidak memeluk bundanya itu.
"Tau nggak kamu apa kata Bunda kepada tante?" tanya Sari sambil duduk di sebelah Deli.
Vina yang melihat Deli sudah nyaman mulai tenang kembali, Anaknya ternyata tidak apa apa, hanya dalam keadaan marah kepada Vina. Vina akan berusaha membujuk anak gadisnya itu nanti. Sekarang Vina membiarkan Sari berbagi cerita dengan Deli. Sedangkan Vina kali ini hanya bagian mendengarkan saja. Bagi Vina yang paling penting sekarang Deli sudah aman dan nyaman kembali, barulah nanti dia akan menjelaskan kepada Deli apa yang terjadi dan membuat Vina tidak bisa memenuhi janjinya kepada Deli.
"Emang apa kata Bunda Tante?" tanya Sari yang penasaran apa yang diteriaki oleh Vina tadi saat Sari membawa mobil dalam keadaan di atas normal itu.
"Bunda kamu teriak mengatakan kalau, dia belum mau mati cepat karena kamu masih kecil" ujar Sari mengatakan kepada Deli apa yang dikatakan oleh Vina saat dirinya berteriak tadi di atas mobil.
"Is tante pasti boong" ujar Deli sambil menatap ke arah Sari.
"Serius sayang. Ngapain tante boong sama kamu. Boong itu dosa sayang" jawab Sari meyakinkan Deli kalau dia sama sekali tidak berbohong kepada Deli
"Tapi kalau Bunda memang sayang sama Deli, kenapa Bunda tadi boong, Bunda tidak ada di sini saat Deli sampai" kata Deli yang akhirnya menceritakan kepada Sari apa yang membuat dirinya marah kepada Vina saat ini.
Vina tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh anaknya itu. Tebakan Vina memang benar, Deli merajuk gara gara dia tidak ada di kafe saat Deli dan Maya sampai di kafe dari mengantarkan Ivan ke bandara.
__ADS_1