Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Menggoda Iwan


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Danu akhirnya sampai juga di perusahaan, Tetapi sebelum mereka sampai di perusahaan Danu tadi sempat memberhentikan mobilnya untuk membeli bekal sarapan pagi mereka. Danu dan kedua sahabatnya memang memiliki rencana untuk menikmati sarapan di ruang kerja mereka saja. Mereka bertiga sudah lama tidak menikmati sarapan di ruang kerja terseubt. Suatu hal yang biasanya sering mereka lakukan saat Vina dan Maya masih di negara ini dan selalu menyiapkan bekal untuk mereka bertiga. Danu memarkir mobilnya di bestman tepat di sebelah mobil milik Iwan yang memang tidak mereka bawa pulang semalam. Mereka bertiga kemudian turun dari dalam mobil. Kali ini Danu, Iwan dan Ivan masuk ke dalam ruang kerja mereka melalui pintu lobby perusahaan.


"Loh Bang, tumben lewat lobby?" kata Ivan yang heran kemana arah berjalannya Danu yang sudah diikuti oleh Iwan dari belakang.


"Sekali sekali kita ambil absen. Udah lama pula nggak mendengar mesin itu berkata, selamat datang dan selamat bekerja Pak Danu" ujar Danu memberikan alasannya kepada Ivan kenapa dirinya memilih untuk berjalan masuk ke dalam perusahaan melewati pintu utama atau lobby. Padahal sebenarnya bukan itu. Danu ingin membuat Ivan mengetahui ada sesuatu yang terjadi di saat dirinya ke negara U.


"Oh"


Hanya itu tanggapan yang diberikan oleh Ivan dengan ekspresi tidak percaya dan mulut membulat. Ivan benar benar tidak menyangka kalau itu adalah alasan yang diberikan oleh Danu kepada dirinya.


"Emang menurut loe apa yang bikin gue jalan lewat lobby?" tanya Danu yang penasaran  kenapa ekspresi dari seorang Ivan berubah setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Danu sebentar ini.


"Gue kira tadi, karena akses masuk lewat lobby udah di cabut Bang"


Ivan mengatakan kepada Danu apa alasan yang dipikirkan oleh otaknya saat Danu berjalan mengarah ke lobby perusahaan. Padahal sebenarnya Ivan juga tahu mana mungkin akses Danu dicabut untuk menaiki bestman, yang punya perusahaan adalah dia, Ayah hanya sebagai pengendali sementara sampai Danu siap untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan.


"Haha haha haha, mana ada, siapa yang bisa mencabutnya?" kata Danu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Ivan sambil tertawa ngakak.


"Huft, nyesel"


Ivan mengeluh dan merasa sangat menyesal telah memberikan pertanyaan seperti itu kepada Danu, tidak seharusnya dia mengatakan hal itu kepada Danu. Pada akhirnya apa yang dikatakan oleh Danu membuat Ivan menjadi sedikit kesal walaupun dia sudah menyadari keadaan yang sebenarnya.


Seorang office boy membukakan pintu lobby perusahaan untuk ketiga pria tersebut. Danu, Iwan dan Ivan kemudian masuk ke dalam lobby perusahaan.


Iwan mulai cemas saat dirinya memasuki pintu lobby, dia sudah bisa membayangkan kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya, kejadian yang sudah selama beberapa minggu ini di coba Iwan untuk menghindar. Tetapi saat ini dia tidak bisa menghindar lagi, saat Danu mengetahui apa yang terjadi lewat Frans.


'Fran emang lah ya, bikin hidup gue jadi repot hari ini' kata Iwan memaki sahabatnya Frans yang telah membongkar rahasia itu kepada Danu.


"Tuan Iwan, apa tidak ada yang lupa?" ujar salah seorang resepsionis menyapa Iwan yang sedang berjalan menuju tempat pengambilan kehadiran mereka dan mengacuhkan para resepsionist tersebut.


'Apa yang gue takuti akhirnya terjadi juga' uajr Iwan dalam hatinya saat dirinya di sapa oleh resepsionist itu, manusia yang sudah berminggu minggu berusaha dihindari oleh Iwan.

__ADS_1


Danu, Ivan sontak langsung melihat ke arah kedua resepsionist yang dengan percaya dirinya menyapa Iwan dan mengatakan apa tidak ada yang lupa. Ivan benar benar penasaran dengan apa yang dikatakan oleh resepsionist tersebut.


Ivan memandang ke arah Danu meminta sebuah petunjuk tentang apa yang terjadi sebenarnya sekarang ini. Danu tersenyum tipis saja, dia sudah tahu apa yang terjadi dari terhadap Iwan dari Frans.


Kedua resepsionist itu berjalan mendekat ke arah Iwan. Mereka sudah selama dua minggu mencari cari keberadaan Iwan untuk menagih janji yang pernah dikatakan oleh Iwan kepada mereka berdua. Iwan yang melihat kedua resepsionis yang berjalan ke arahnya itu hanya bisa bersikap pasrah saja lagi.


'Habis gue nanti neh' ujar Iwan dalam hatinya saat melihat kedua resepsionist itu berjalan menuju mereka bertiga.


Tujuan dari kedua resepsionist itu sangatlah jelas, yaitu Iwan. Tidak Danu maupun Ivan yang berdiri di sebelah dirinya saat ini.


"Pak Iwan, kenapa menghilang selama dua minggu?"


"Kami sudah menunggu janji yang Pak Iwan katakan" ujar resepsionist yang memang dari pertama Iwan meminta tolong kepada mereka berdua, resepsionist yang satu inilah yang paling vokal berbicara kepada Iwan.


"E e e eh maaf, kemaren ini saya sedang sibuk. Jadi tidak bisa memenuhi janji yang telah saya buat" jawab Iwan sambil melihat ke arah satu resepsionist yang memang sudah melekat wajahnya di dalam hati dan pikiran Iwan. Resepsionist yang menghabiskan hari hari Iwan untuk melamunkan dirinya.


'Kenapa pandangan mata Bang Iwan ke resepsionist yang diam aja itu ya?'


Tiba tiba ide iseng seorang Ivan muncul.


"Hay mbak resepsionist yang cantik, namanya siapa ya?" ujar Ivan mengajak resepsionist yang dari tadi diperhatikan oleh Iwan untuk berkenalan.


Iwan yang melihat Ivan meminta berkenalan dengan resepsionist incarannya langsung saja kaget melihat apa yang dilakukan oleh Iwan sebentar ini.


Iwan dengan refleks langsung saja menginjak kaki Ivan. Ivan yang kakinya dengan sengaja diinjak oleh Iwan langsung saja menatap protes kepada Iwan, dia sangat tidak menyangka sekali kalau Iwan akan melakukan hal itu kepada dirinya.


Tetapi akibat refleks yang diberikan oleh Iwan sebentar ini Ivan dan Danu menjadi sangat yakin kalau Iwan memiliki sebuah rasa kepada resepsionist tersebut.


"Ya ya ya, gue paham sekarang"


"Apa loe paham sekarang Bang?" tanya Ivan kepada Danu yang berdiri tepat di sebelah Ivan

__ADS_1


"Paham, kita hanya mengatakan selamat berjuang" ujar Danu menambahkan apa yang dikatakan oleh Ivan sebelumnya kepada Iwan.


Danu dan Ivan sama sekali mengacuhkan kedua resepsionist itu. Tadi Ivan sempat meminta berkenalan dengan salah satu resepsionist karena hanya ingin memancing reaksi dari seorang Iwan. Ternyata reaksi dari seorang Iwan memang benar benar terjadi, sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Ivan.


"Bang cepat selesaikan aja urusan dengan respsionist ini." kata Ivan meminta Danu untuk secepatnya menyelesaikan pembicaraan dengan resepsionist tersebut.


Iwan menyelesaikan urusannya dengan resepsionist. Iwan kembali memperpanjang janji janjinya kepada kedua resepsionist itu. Hal ini dilakukan oleh Iwan dengan mengambinghitamkan pekerjaan yang sedang banyak banyaknya dan harus mereka selesaikan dalam waktu singkat. Para resepsionist yang memang tahu kalau perkejaan di bidang Iwan memang sangat banyak, mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Iwan.


Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam lift. Lift membawa mereka bertiga menuju lantai tempat mereka bekerja.


"Bang, ngapain loe injak kaki gue tadi, saat gue berbicara dan mengajak resepsionist yang satunya lagi berkenalan. Loe aneh Bang" ujar Ivan mengutarakan protesnya kepada Iwan yang tadi main injak kaki Ivan saja saat Ivan mengajak resepsionist berkenalan.


"Mana ada gue nginjak kaki loe. Loe ngarang" ujar Iwan yang langsung berjalan menuju pantry untuk membuat minum pagi mereka bertiga.


"Jadi siapa yang nginjak kaki gue tadi ya Bang?" ujar Ivan bertanya kepada Danu sambil tersenyum miring mengejek Iwan yang sangat terlihat grogi itu.


"Hantu kali Van" jawab Danu sambil duduk di sofa yang ada di ruangan bagian luar itu.


Danu sengaja tidak langsung masuk ke dalam ruangannya karena ingin menyaksikan bagaimana Ivan terus menggoda Iwan. Ivan tujuannya hanya satu, dan Danu tidak mau ketinggalan moment tersebut.


"Ye hantu yang menatap ke salah satu resepsionist ye Bang. Tu hantu pinter banget milih Bang" lanjut Ivan kembali menggoda Iwan yang dari tadi hanya diam saja tidak menggubris apa yang dikatakan oleh Ivan dan Danu.


"Berarti hantu zaman sekarang udah memiliki rasa suka Bang."


"Udah ada peningkatan tu hantu"


Lanjut Ivan semakin menjadi menggoda Iwan.


Iwan masih dengan sikap pura pura tidak mendengarnya itu. Padahal di pantry sana dia mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan dengan suara yang sengaja dilebih keraskan volumenya dari pada biasanya.


Hal ini sengaja dilakukan oleh Ivan supaya Iwan mendengar dengan sangat jelas apa yang dikatakan oleh dirinya dan juga Danu. Iwan yang sedang dalam mode pura pura tuli itu sama sekali tidak berhasil menjalankan rencananya, karena suara Ivan dan Danu amatlah sangat keras.

__ADS_1


__ADS_2