Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Pembukaan Kafe #


__ADS_3

"Ngapain loe buka, biarin aja. Biar tu orang lihat ada namanya di situ" ujar Vina melarang Maya membuka apronnya.


"Bener juga ya Vina. Biar dia tau kalau dia selalu ada dimana aku berada. Hahahahahaha. Lebaynya gue" ujar Maya menertawakan apa yang dikatakannya sendiri.


Maya kemudian berjalan menuju meja Ivan. Maya sendirilah yang akan mengantarkan pesanan kekasih hatinya itu. Maya tidak mau pelayan lain mengantarkan pesanannya.


"Silahkan makan pesanan Anda Tuan paling ganteng" ujar Maya sambil tersenyum dan meletakkan pesanan Ivan di depannya langsung.


"Hem dari wanginya saja sudah bisa tercium kelezatan rasa yang disajikan" ujar Ivan memuji kelezatan dari makanan yang dibuat oleh Maya.


Maya duduk di depan Ivan. Dia memandang Ivan dengan tatapan penuh kekaguman. Ivan balas memandang Maya.


"Hem kalian berdua kira kami ini patung hidup?" ujar Sari protes melihat Ivan dan Maya yang saling pandang pandangan.


"Iri aja" ujar Maya dengan nada kesal dan menimpuk Sari dengan kain lap tangan yang ada di atas meja.


"Bukan iri, tapi tengok tu Bang Iwan, pesanannya belum datang. Padahal dia sama pesan dengan Bang Ivan" ujar Sari sengaja mengatakan hal itu kepada Maya.


"Nona, ini pesanannya" ujar Pelayan datang memberikan pesanan menu untuk Iwan.


"Bang Iwan, silahkan makan pesanannya. Ini yang buat Vina. Tau kan ya bagaimana lezatnya makanan yang dibuat oleh Vina" ujar Maya yang mengetahui Iwan paling suka masakan yang dibuat oleh Vina.


"Serius Vina yang masak?" ujar Iwan yang memang paling suka masakan yang dimasak oleh Vina.


"Tengok sendiri aja Bang. Itu dapurnya terbuka tidak kami letak di bawah" ujar Maya meminta Iwan untuk melihat Vina yang sedang masak di dapur.


Iwan berdiri dan melangkahkan kakinya menuju dapur terbuka yang ada di area kafe. Iwan melihat Vina sedang sibuk memasak di area dapur. Vina begitu telaten memasak di sana.


Iwan kemudian kembali ke meja tempat mereka duduk.


"Benerkan Bang, Vina yang masak?" ujar Maya yang nggak mau dikatakan pembohong oleh Iwan.


"Yup bener. Ternyata memang Vina. Tapi dia wakil direktur May, gimana caranya dia masak di kafe?" ujar Iwan bertanya kepada Maya yang penasaran dengan cara kerja Vina.


"Sekarang aja Bang. Tapi tadi pagi Vina juga ngomong ke aku, kalau dia tidak capek maka dia akan nolong memasak di sini. Tapi kalau dia capek maka dia jadi pelayan aja. Gitu katanya tadi" ujar Maya memberitahukan kepada semua orang yang ada di sana keputusan Vina tadi.


"Eeee gue juga mau lah ikut kerja di sini. Vina ndak ngajak ngajak" ujar Sari yang ternyata Vina sama sekali belum berbincang bincang dengan dirinya.


"Sayang, dimakan lah lagi nasi gorengnya. Aku ke dapur dulu sayang. Kasihan Vina sendirian masak di sana, pengunjung sedang sangat ramai." ujar Maya meminta izin untuk undur diri kembali ke dapur untuk menyiapkan pesanan para pengunjung.


"Aku juga balik kasir dulu." ujar Sari yang langsung menuju kasir.


Sari melihat kasir sedang repot melayani pengunjung yang membayar pesanannya.


"Banyak Vin?" tanya Maya saat dia sudah kembali masuk ke area dapur.


"Banyak banget May. Keteteran gue sama Rina" ujar Vina yang sedang mengolah cah kangkung yang luar biasa banyaknya.


"Meja berapa yang harus gue kerjain?" tanya Maya kepada Vina dan Rina.


"Meja lima belas aja loe ambil May" jawab Vina sambil tetap fokus memasak cah kangkung.


Maya mengambil menu sesuai dengan nomor meja. Maya membaca menu tersebut. Dia kemudian mengolah menu berdasarkan pesanan meja nomor lima belas.


Selesai menyiapkan menu, Maya menaruh di atas nampan dan meletakan nomor meja langsung di nampan agar pelayan tidak salah meletakkan pesanan.


Tepat pukul sepuluh malam kafe di tutup. Mereka kemudian duduk bersama sama. Vina, Maya, Sari, Juan, Ivan dan Iwan. Mereka akan membahas kekurangan dan kelebihan cara mereka melayani tamu pada hari pertama kafe di buka.

__ADS_1


Mereka duduk di tengah tengah kafe. Para pelayan laki laki duduk di luar. Sedangkan yang wanita sudah pulang diantar Pak Hans ke rumah mereka masing masing.


Kasir datang memberikan nota pembayaran para tamu lengkap dengan struk pembayaran. Kasir juga membawa rekapan penjualan hari ini. Serta uang bukti transaksi yang dibayar tunai oleh pengunjung kafe.


"Nona, di situ semua uang dan juga rekap hasil penjualan hari ini. Saya permisi pulang dulu Nona." ujar kasir yang telah di jemput itu.


"Siapa yang jemput?" tanya Vina kepada kasir wanita itu.


"Ayah saya Nona." jawab kasir.


Kasir kemudia keluar dari dalam kafe, dia terlihat naik ke sebuah motor yang memang, pengemudinya terlihat sudah cukup tua. Setelah kasir pergi mereka mulai membahas semuanya.


"Nah May, gimana keadaan di dapur melihat seramai itu pengunjung, apa masih sanggup mulai besok di handle loe dengan Rina saja?" tanya Sari yang memang selalu memiliki perencanaan dan analisa yang bagus.


"Sampai saat ini gue yakin masih bisa gue kendalikan untuk memasak. Tapi kita lihatlah seminggu ke depan, kalau pengunjungnya semakin ramai, maka berkemungkinan akan gue tambah untuk koki. Tapi gue tanyak Rina jugalah nanti. Kalau menurut dia bagus di tambah, maka akan gue tambah" jawab Maya yang telah selesai menganalisa keadaan di dapur.


"Bagian pelayanan bagaimana Hendri, apa harus kita tambah?" kali ini Sari bertanya kepada Hendri yang diminta menjadi pimpinan bagian pelayan.


"Sampai sekarang masih bisa kami handle Nona. Jadi saya rasa, kami masih belum membutuhkan tambahan orang. Kami masih sanggup melakukannya bertiga" jawab Hendri dengan yakin.


"Untuk kasir gue rasa masih bisa sendirian. Lagian semuanya dihitung sudah pakai komputer, jadi nggak akan ribet lagi" ujar Sari yang dari tadi memang duduk di bagian kasir, mengajarkan kasir untuk melakukan transaksi.


"Nah bahan dapur apa yang habis May?" sekarang giliran Vina yang bertanya kepada Maya tentang bahan bahan masak mereka yang sudah menipis karena pengunjung yang membludak itu.


"Kalau untuk bahan baku seperti daging, ayam dan seafood sudah ada pemasok nya Vina. Jadi, besok kita tinggal tunggu saja di sini lagi." ujar Maya menjawab pertanyaan dari Vina.


"Sedangkan untuk yang lainnya, seperti sayur sayuran dan bumbu dapur, kita akan membeli ke pasar tradisional besok. Aku akan pergi shubuh hari ke pasar tradisional dengan Rina." ujar Maya melanjutkan menjawab pertanyaan dari Vina.


"Berarti jelas kan ya, apa yang mau di beli besok pagi. Apa loe butuh bantuan laki laki untuk mengangkat belanjaan?" tanya Sari sambil menatap kakaknya yang akan pulang hari sabtu ke negara I.


"Oh ya sampe lupa. Kapan datang Bang ke sini?" tanya Vina yang memang belum sempat bertanya kepada Ivan dan Iwan kapan mereka datang ke negara U.


"Kami berangkat Minggu pagi Vin." Iwan yang menjawab kepada Vina kapan mereka berangkat dari negara U.


"Sabtu? Terus kerjaan gimana Bang?" ujar Vina melanjutkan pertanyaannya.


"Kerjaan, jangan salah kalian bertiga ya. Dari hari senen minggu kemaren udah dipaksa gue nyiapin semua project project kerjasama itu." ujar Iwan memberitahukan kepada ketiga wanita tersebut.


"Malahan sabtu pagi neh ya. Harusnya libur, masih juga ke kantor. Eee yang malangnya kami mau naruh hasil kerja ke atas meja Danu. Tu manager datang dengan wajah galaunya. Ntah apa pula yang terjadi nggak jelas" lanjut Iwan mulai membahas bagaimana bisa mereka pergi ke negara U sedangkan pekerjaan masih banyak.


"Akhirnya nunggu dulu sampe dia pulang. Di kira mau pulang cepat ternyata tu orang ngeram pula di ruangannya sampe sore. Ujungnya ya pasrah aja nunggu sampe dia pulang, baru masuk ke ruangannya dan meletakkan project yang telah selesai dan secarik surat" lanjut Iwan menceritakan kepada Vina, Maya dan Sari.


"Surat? Surat apaan Bang?" giliran Maya bertanya karena Iwan menyebutkan kata kata surat.


"Ya surat. Surat yang isinya, kalau mau project semuanya sudah ada dalam flashdisk." ujar Ivan menyebutkan apa isi dari surat tersebut.


"Keren. Aku bisa ngebayangin bagaimana wajah Danu saat menerima surat itu" ujar Sari dengan raut wajah bahagianya.


"Pasti tu orang ngomel ngomel nggak jelas. Ponsel abang berdua pasti tidak aktif kan ya?" ujar Sari bisa menebak kelakuan Ivan dan Iwan yang akan mematikan ponsel mereka saat pergi dari perusahaan.


"Iyalah. Masak diaktifkan. Bisa bisa dia nelpon terus dan bikin telinga panas dengernya. Jadi, mending di non aktifkan aja lagi. Telinga aman perasaan aman." jawab Ivan sambil melirik Iwan.


"Bener kan Bang" ujar Ivan meminta dukungan pendapatnya dari Iwan.


"Yup, bener banget. Ngapain coba, kita denger dia mete mete dari sekarang. Mending besok aja langsung pas udah pulang. Seminggu lagi. " ujar Iwan yang keceplosan mengatakan berapa lama mereka akan di negara U.


"Sayang jadi kamu di sini selama seminggu dengan Bang Iwan. Serius sayang?" tanya Maya dengan semangat saat mendengar Iwan yang keceplosan mengatakan berapa lama Ivan dan Iwan akan berada di negara U.

__ADS_1


"Serius, padahal rencananya mau ngasih kejutan setiap hari dengan datang ke rumah kamu subuh subuh untuk menemani belanja sayang" ujar Ivan yang rencana suprise nya gagal gara gara Iwan yang keceplosan ngomong berapa lama mereka akan berada di negara U.


"Hahahahahaha. Jadi ambyar ya Bang semua rencana" ujar Sari menggoda kakak satu satunya itu.


"Udah malam, gimana kalau kita pulang? Besok gue ada terbang jam sepuluh pagi ini. Belum lagi dia wanita ini harus pergi meeting besok" ujar Juan yang mengingatkan Vina dan Sari besok mereka ada meeting.


"Nah loe, sejak kapan loe jadi sekretaris mereka berdua Juan. Sampai sampai loe tau kapan mereka berdua akan meeting" ujar Ivan yang terkejut mendengar Juan sampai hafal kapan mereka berdua akan meeting.


"Sejak mereka maksa gue membaca dokumen dokumen perusahaan waktu pulang liburan" ujar Juan sengaja memberitahukan kepada Iban.


Ivan menatap Sari lama.


"maksudnya?" tanya Ivan dengan gerakan mulut kepada Sari.


"Mansion" jawab Sari masih dengan gerakan mulutnya menjawab pertanyaan dari Ivan.


'Huft Juan ember baskom, apa yang harus gue jawab ke Bang Ivan. Ni anak asal ngomong bae' ujar Sari sambil memberikan tatapan tajamnya kepada Juan.


Juan tersenyum kepada Sari. Juan tau kalau Sari komplen kepada dirinya. Juan juga sengaja melakukan hal itu, Juan memiliki tujuannya sendiri.


"Yuk udah malam, mari kita pulang. Gue ngantuk" ujar Sari yang sudah nggak sabar akan menjelaskan kepada Ivan apa yang terjadi sebenarnya.


"Sayang, kamu nginap di hotel mana?" tanya Maya kepada Ivan.


"Nginap di rumah Juan sayang. Ngapain di hotel. Ngabis ngabisin uang aja. Ada yang gratis ya dimanfaatkan" ujar Ivan menjawab pertanyaan dari Maya.


"Bener sayang. Malahan ya kalau tidur rumah Juan. Selain tidur gratis, makan juga gratis" ujar Maya sambil tersenyum kepada Ivan dan menjulurkan lidahnya kepada Juan.


"Besok tunggu aku di rumah aja sayang. Biar Juan yang ngantar aku subuh subuh ke rumah kamu" ujar Ivan yang nggak mau Maya datang ke rumah Juan dan tidak mendapati dirinya tidur di sana.


"Jelaslah sayang, aku mana tau rumah Juan dimana. Kalau Juan pasti tau rumah kami dimana" jawab Maya kepada Ivan yang sangat setuju kalau Ivan datang ke rumah mereka.


"Sayang, kalau perlu bawa mobil dua ya. Kalau satu nanti gimana Vina ke kantor. Kan nggak mungkin Pak Hans bolak balik" ujar Maya kepada Ivan.


"Aman" jawab Ivan.


"Aku nggak nganter ke rumah ya. Kamu malam ini pulang dengan Pak Hans dan Vina aja dulu. Kasihan Juan besok dia mau terbang" ujar Ivan yang ingat tadi Juan mengatakan besok dia akan terbang jam sepuluh pagi.


"Nggak apa apa sayang. Besok shubuh jangan lupa ujar Maya kembali mengingatkan Juan untuk datang ke rumahnya subuh. Mereka akan berbelanja ke pasar tradisional di negara U yang seperti supermarket di negara I saking bersih dan tertata nya. Bedanya kalau di supermarket tidak bisa di tawar, sedangkan di pasar tradisional di negara U bisa di tawar.


Dua mobil bergerak meninggalkan kafe. Para pelayan laki laki kemudian menutup pintu gerbang kafe dan pintu kafe serta mematikan semua lampu lampu kafe. Mereka juga akan beristirahat setelah lelah bekerja seharian. Hari pertama kafe di buka pengunjung begitu ramai dan membludak. Mereka tidak menyangka kalau pas pembukaan kafe bisa seramai itu. Apalagi Maya yang dari pertama membuka kafe niatnya adalah untuk menghabiskan waktu dan memberikan lapangan pekerjaan kepada orang lain. Hal berbeda terjadi kepada Sari, Sari sangat yakin kalau kafe mereka akan ramai kalau sempat di buka. Ternyata apa yang dikatakan oleh Sari benar terjadi. Kafe itu begitu ramai, sampai sampai untuk memasak Vina langsung turun tangan. Kalau Sari juga bisa masak, maka Sari juga akan turun tangan langsung mengolah masakan yang dipesan.


Vina dan Maya telah sampai di rumah mereka. Mereka berdua kemudian membersihkan diri dan menukar pakaian dengan pakaian tidur. Setelah itu mereka langsung naik ke atas ranjang besar masing masing. Dalam sekejap mungkin karena kelelahan Vina dan Maya langsung tertidur lelap.


Sedangkan di mansion, Sari, Ivan dan Juan sudah duduk di ruang kerja Ivan. Mereka akan berbincang bincang sebentar. Sedangkan Iwan sudah masuk ke dalam kamar dan bersiap siap untuk tidur.


...****************...


**Apakah pembicaraan yang akan dibahas oleh Ivan, Sari dan Juan.


Stay cun di sini ya kakak. Jangan kemana mana. Mulai hari ini up nya akan double.


singgah juga di


My Affair


Suamiku Bukan Milikku**

__ADS_1


__ADS_2