
Sayang, Ayah akan mengikuti apa yang kamu sarankan tadi. Ayah janji akan membuat hidup kita berdua bahagia. Ayah juga janji akan membawa Bunda kue kehadapan kamu sayang. Doakan Ayah ya" ujar Danu berkata kepada Deli yang sudah tertidur lelap itu.
Deli sama sekali tidak menunjukkan kalau dia masih dalam keadaan sadar, bukan lagi di alam mimpi.
Setelah berkata dengan Deli, Danu kembali menuju kamarnya, dia kemudian langsung naik ke atas ranjang untuk beristirahat. Danu akan tidur dan melupakan semuanya kalau dia bisa. Tapi sayangnya hal itu tidak akan mungkin terjadi. Danu akan tetap mengingat semua kejadian tersebut.
.........................................................
Danu lebih memilih untuk pulang ke kampung pergi melihat dan bercengkrama dengan Deli dan kedua orang tuanya. Bagi Danu, saat dirinya seperti ini, mengganggu Deli adalah kebahagiaan sendiri di dalam hidupnya.
Sedangkan Vina, Sari, Juan dan Iwan lebih memilih untuk ke pantai menghilangkan rasa kesal karena perbuatan Ranti dan temannya itu. Mereka akan berada di sana sampai sekitar jam delapan malam. Tapi hanya mereka dan Tuhan yang tau jam berapa mereka akan selesai dibangun.
"Vina, tunggu sini bentar ya, aku mau ke toilet bentar" ujar Sari yang beranjak pergi ke toilet untuk menghubungi Ayahnya.
Sari ingin Ayahnya memecat perempuan yang telah berani beraninya mengata ngatain Vina di tengah keramaian mall. Sari sudah mengantongi nama dan di bagian mana wanita itu bekerja. Sari tidak ingin ada wanita tidak bermoral bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh Ayahnya. Sari saja yang besar di luar negeri masih berpikir untuk mengatakan hal yang dikatakan oleh perempuan yang tadi bersama dengan Ranti.
Sari menghubungi nomor ponsel pribadi Ayahnya yang hanya segelintir orang yang tau nomor tersebut. Panggilan pertama dirinya tidak diangkat oleh Ayah. Sari mencoba sekali lagi untuk menghubungi nomor Ayahnya itu. Tapi masih saja tidak tersambung. Sari sudah mulai gelisah sendiri.
"kemana lah ne gaek. Orang butuh Ayah, Ayah nggak angkat telpon. Nanti saat Ayah butuh kami, kami harus ada langsung" ujar Vina sambil menatap ke arah mobil datang. tapi sayangnya mobil yang ditunggu tunggu itu tadi balap dengan mobil yang warna putih.
Sari kembali ke tempat Vina dan yang lainnya menunggu. Sari terlihat sedikit cemberut. Tetapi karena Vina tidak dalam kondisi terbaiknya, makanya dia sama sekali tidak bertanya apapun kepada Sari.
"Ada apa?" tanya Juan kepada Sari. Juan tau Sari saat ini pasti sedang sangat kesal.
Juan sama sekali tidak bisa melihat Sari merasakan kesal atau sakit hati.
"Nggak bisa di telpon dia nyah" ujar Sari sambil menatap ke arah Juan dengan tatapan kesal. Sari memperlihatkan ponselnya kepada Ayah. Di ponsel Sari terpampang berapa kali Sari berusaha menghubungi orang yang bertanggung jawab dalam bagian tersebut.
"Lagi sibuk kali, makanya nggak angkat" ujar Juan menimpali perkataan Sari. Juan tidak mau Sari menjadi anak durhaka karena tadi berkata sedikit keras kepada orang yang lebih tua dari pada dirinya.
"Bisa jadi meeting" ujar Iwan memberikan satu jawaban yang bisa dikatakan sangat oke.
"ke toilet kali Sayang" ujar Juan memberikan beberapa alternatif kenapa tidak diangkat panggilan telpon oleh Ayah.
"Bisa jadi" jawab Sari lagi. Masih dengan nada kesal dan marah.
Mereka kemudian menatap ke arah laut lepas. Vina masih tetap diam. Dia tidak tau harus akan berbicara apa dan berbuat apa. Vina sama sekali kehabisan idenya. Baru kali ini Vina merasakan mati ide untuk berjualan.
"Kenapa Vin?" tanya Sari kepada Vina yang dari tadi terlihat diam saja.
"Nggak ada kenapa kenapa kok. Lagi nggak tau mau ngomong apa" jawab Vina sambil menatap ke arah Sari. Sari melongo mendengarkan apa kata kata buk Emawati.
"Udahlah Vina, nggak usah dipikirin apa kata mereka. Lagian kita besok akan kembali ke negara U. Ngapain juga mikirin mereka" ujar Sari yang jelas terdengar dengan nada marah dan kesal kepada perempuan yang telah mengata ngatain Vina.
"Sari, apa salah gue mencintai Danu?" ujar Vina berucap dengan lemah. Vina sangat terlihat frustasi dengan semuanya. Makanya ibuk Tria tidak melihat lihat karena dia tidak akan membeli.
"Maksud loe gimana Vin? Gue nggak paham" ujar Sari kepada Vina. Sari memang tidak paham dengan maksud perkataan Vina yang sangat pelan terdengar di telinga para anggota yang akan belajar.
__ADS_1
"Maksud gue, apa gue salah mencintai Danu?" tanya Vina mengulang pertanyaannya kembali. Pertanyaan yang sudah ditanyakan kepada dirinya tetapi masih tidak menemukan jawaban yang pasti.
Sari terdiam, dia melihat ke arah Juan dan Iwan. Mereka sama sama tidak tahu harus menjawab bagaimana dengan pertanyaan Sari.
"Sar" ujar Vina mendesak Sari untuk menjawab pertanyaannya kembali. Sambil memukul tangan Sari.
Sari memegang lengan Vina.
"Cinta tidak pernah salah. Itu yang gue tahu. Cinta akan datang di waktu dan saat yang tepat dan ke orang yang tepat. Tapi tepatnya ini tergantung dari kita melihatnya." ujar Sari mulai menjawab pertanyaan dari Vina.
Sari tidak mau Vina merasa terhakimi, makanya Sari memakai pengandaian untuk membuat Vina merasa santai saat mendengar jawaban dari Sari.
Saat Sari menjawab tidak hanya Vina yang mendengarkannya, tetapi juga Juan dan Iwan. Mereka berdua juga menyimak apa yang akan dikatakan oleh Sari kepada Vina.
"Jadi Vina jangan pernah elo mengatakan kalau rasa cinta elo ke Danu tidak tepat. Rasa cinta itu tepat, tetapi sayangnya Danu sendiri yang membuat cinta itu seperti tidak tepat." Lanjut Sari menjelaskan kepada Vina.
"Sama saat suatu kejadian sudah terjadi neh. Terus loe ngomong gini, seandainya tadi ndak ke sana, pasti nggak akan kayak gini" Ujar Sari selanjutnya.
"Sekarang gue balik tanya ke elo. Kalau seandainya elo ndak jatuh cinta dengan Danu, apa loe akan kenal dengan gue dan Juan?" tanya Sari kepada Vina.
"Nggak" jawab Vina yang sudah mulai paham dengan maksud jawaban dari Sari.
"Makanya Vina, gue harap loe paham dengan maksud dari jawaban gue tadi. Cinta tidak pernah salah, yang salah adalah kita yang gagal menyikapinya, yang gagal menghadapinya" ujar Sari sambil tersenyum.
Sari dan Juan dulu hampir di kalahkan oleh rasa cinta mereka. Tetapi, karena rasa cinta tadi jugalah Sari dan Juan berusaha mati matian membangkitkan nya kembali. Hingga akhirnya mereka berdua dapat bersatu atas nama cinta.
Mereka semua cukup lama terdiam. Mereka membiarkan Vina dengan pikirannya sendiri. Sari dan yang lainnya tidak mau mengganggu Vina.
"Kalau menurut gue ya Vin. Ini menurut gue, tapi sebelumnya gue boleh tanya sesuatu sebelum gue menyampaikan apa menurut gue?" ujar Sari yang ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu sebelum memutuskan memberikan saran dan masukan kepada Vina.
"Boleh, loe boleh bertanya, gue akan pastikan jawaban gue adalah sebuah kejujuran" ujar Vina menatap ke arah Sari.
Vina sudah pasti tidak akan menutupi apapun dari Sari dan yang lainnya. Vina sudah sangat yakin dengan sahabat sahabatnya ini yang akan selalu menjaga dan memberikan dia saran dan masukan yang terbaik.
"Vina, maaf sebelumnya kalau ini adalah sifatnya pribadi menurut elo. Tapi bagi gue penting dan harus gue tanyakan untuk memastikan apakah saran yang akan gue berikan nanti cocok untuk loe atau tidaknya" ujar Sari membuka dan memulai untuk bertanya.
"Vina, apakah elo sampai detik ini masih mencintai Danu?" tanya Sari kepada Vina.
Iwan sudah menekan tombol rekam. Iwan akan mengirim bukti ini kepada Danu. Iwan tidak menyangka kalau Sari akan menanyakan hal ini kepada Vina.
"Ya Sari, gue masih mencintai dia sampai saat ini." jawab Vina dengan pasti.
"Terus kenapa loe berusaha menghindar dari dia?" Tanya Sari selanjutnya.
Sari benar benar ingin memancing Vina agar terbuka kepada mereka bertiga.
"Jawabannya satu, dia tidak bisa mengambil sikap. Gue nggak bisa harus menjadi yang kedua Sar. Gue juga egois. Mana mau gue menjadi yang kedua" ujar Vina dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Apa loe tau kalau Danu sudah punya satu anak namanya Deli?" tanya Sari selanjutnya kepada Vina.
"Sudah. Malahan waktu Danu pulang ke rumah kedua orang tuanya, gue menyampaikan diri membuat kue untuk Deli dan kedua orang tua Danu." ujar Vina mengingat saat itu dia menitipkan kue kepada Danu untuk keluarganya.
"Saat itu gue mikir Danu udah atau masih dalam proses perceraian, tetapi ternyata tidak sama sekali. Bahkan sampai sekarang" ujar Vina nelangsa.
"Padahal ya Sar, kalau dia memutuskan untuk bercerai kemaren kemaren ini. Gue akan Terima dia kok. Tapi untuk sekarang, gue menjadi ragu dia akan menceraikan istrinya itu" lanjut Vina menyuarakan isi hatinya saat ini.
Iwan terus merekam isi pembicaraan antara Vina dan Sari.
"Ini seandainya lagi Vina. Seandainya Danu mengajukan perceraian kepada Ranti. Apa loe mau langsung menerima Danu?" tanya Sari kemudian.
Iwan sengaja memutus rekamannya. Dia langsung mengirimkan kepada Danu potongan rekaman yang menanggung pada kalimat terakhir yang sengaja tidak di rekam oleh Iwan.
"Gue akan menerima dia kembali. Tapi dia harus berjuang untuk mendapatkan perasaan gue seperti dulu lagi." Vina memberikan jawaban yang pasti tentang bagaimana rasa yang ada di dalam dirinya saat ini.
"Kalau loe masih cinta, maka saran kami bertiga adalah balikan sama dia saat dia sudah bercerai. Untuk saat ini, kamu harus menyamankan diri kamu, jangan pikirkan apapun yang dikatakan oleh orang lain" Ujar Sari menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Vina sebelum Sari menanyakan isi hati Vina saat ini.
Mereka berempat kemudian melanjutkan pembicaraan yang begitu banyak tema. Belum habis tema yang satu sudah masuk tema yang lainnya. Mereka benar benar tidak kehabisan tema sama sekali.
Saat mereka berbicara, ponsel milik Sari bergetar. Sari melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata Ayah yang tadi di hubungi tapi tidak angkat panggilan dari Sari. Sari kemudian menjauh dari pendengaran sahabatnya itu terutama Vina yang masih belum tau apa apa.
"Hallo Kak, maaf tadi Ayah meeting besar, karena Danu mendadak izin pulang kampung" ujar Ayah saat Sari mengangkat panggilan dari dirinya.
"Iya Ayah, Sari maklum kok. Oh ya Ayah bisa Sari minta tolong ke Ayah?" tanya Sari yang ingat dengan kejadian yang menimpa Vina.
"Bisa sayang, ada apa?" tanya Ayah yang juga penasaran kenapa Sari tiba tiba meminta sesuatu.
Sari kemudian menceritakan kejadian di Mall. Sari tidak lupa menyebutkan nama perempuan itu dan di devisi mana dia bekerja. Ayah mendengarkan dengan sangat tenang. Ayah benar benar bisa membawakan keadaan.
"Baiklah Nak, Ayah akan memberikan dia hadiah karena sudah berani mengata ngatain calon menantu kakak Ayah" ujar Ayah dengan nada final.
"Makasi Ayah" ujar Sari
"Kamu malam ini harus ke sini. Besok kamu akan terbang pagi. Ayah tidak Terima keberatan" ujar Ayah yang tidak bisa diganggu gugat.
"Oke sip" Jawab Sari yang langsung menyetujui keinginan Ayahnya itu.
Setelah berbicara panjang lebar, Sari kembali ke tempat sahabat sahabatnya. Mereka melanjutkan obrolan yang tersisa di otak masing masing, sebum kembali ke apartemen, apa lagi nanti malam Sari akan tidur di rumah Ayahnya.
Danu yang semula ingin langsung tidur saat sampai di atas ranjangnya membatalkan niatnya itu.
Dia kemudian mengambil ponselnya di atas nakas. Dia sudah lama tidak memeriksa pesan chat secara pribadi maupun pesan chat perusahaan.
Danu membuka pesan suara yang dikirimkan oleh Iwan. Danu mendengar dengan sangat serius. Tetapi sayangnya di kalimat terakhir Danu tidak bisa mendengarkan apa apa. Dia kemudian melihat jam di dinding kamar. Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Jadinya, Danu menunda untuk menghubungi Iwan yang mengirimkan pesan suara itu.
Berhubung hari telah malam, Vina dan Iwan sudah kembali ke apartemen, begitu juga dengan Maya yang sudah ada di apartemen.
__ADS_1
Iwan yang melihat ada Maya di apartemen, pamit untuk pulang ke rumah miliknya. Sedangkan Ivan, Sari dan Juan menuju rumah Ayah. Mereka akan menginap di sana.
Vina yang sudah capek langsung naik ke atas ranjang. Dia tidak sempat menceritakan kejadian tadi siang kepada Maya. Vina ingin cepat cepat beristirahat. Dia capek pikiran, capek hati dan capek badan