Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Danu Sakit #3


__ADS_3

✉️ Iwan


Vina ke rumah sakit sekarang. Pak Danu kolaps


Vina yang membaca chat dari Iwan langsung duduk dari tidurnya. Vina berlari keluar kamar menggedor pintu kamar Maya.


"May, Maya buka pintunya may." teriak Vina dari depan pintu kamar.


Maya langsung keluar dari kamar saat mendengar teriakan Vina.


"Kenapa Vin?" kata Maya sambil.mengucek matanya.


"Pakai jaket loe, Kita harus ke rumah sakit sekarang." kata Vina.


Maya langsung masuk ke dalam kamar mengambil jaketnya. Vina dan Maya kemudian pergi menuju rumah sakit melihat Danu yang dikatakan oleh Iwan sedang kolab. Vina pergi dengan taksi online, tidak mungkin mereka pergi menggunakan motor dimalam hari.


Tin tin tin bunyi klasok taksi online yang telah sampai di depan rumah.


"May ayok taksinya udah datang" teriak Vina dari depan rumah.


Maya bergegas keluar dari rumah. Vina dan Maya kemudian masuk kedalam taksi online yang telah menunggu. Mereka melakukan perjalanan selama tiga puluh menit, karena jalanan yang lengang.


Vina dan Mira yang sampai langsung berlari menuju ruangan rawat Danu. Sesampai mereka di sana tidak ada siapa siapa di ruang rawat itu. Vina kemudian menghubungi Iwan.


"Bang, aku udah di depan ruangan. Kalian dimana?" tanya Vina dengan paniknya.


"Di ICU Vin. Tadi Danu sempat kritis, terus dibawa dokter ke ICU."


"Kami ke sana kak."


Vina dan Mira berlari menuju ruangan ICU. Sesampainya di sana sudah ada Iwan dan Ifan yang duduk di depan ruangan ICU.


"Kok bisa colaps bang?" tanya Vina yang langsung duduk di sebelah Iwan.


"Jadi tadi sekitar jam dua belas malam, Danu tiba tiba sesak, kemudian dokter membawa dia ke ICU."


"Penyebabnya?"


"Kami tidak tau, yang jelas saat dia tidur, tiba tiba aja sesak."


"Kata dokter?"


"Belum ada. Dokter masih memeriksa Danu."


Mereka kemudian menunggu dokter keluar dari ruangan Danu. Semua karyawan Danu panik melihat keadaan Danu yang masih belum sadarkan diri. Setelah menunggu lebih dari satu jam, akhirnya dokter keluar dari.ruangan ICU.


"Bagaimana Dok?" kata Iwan.


"Harus operasi sekarang juga. Silahkan mengurus ke administrasi. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi." kata dokter.


Iwan langsung saja berlari menuju bagian administrasi untuk melakukan prosedur pendaftaran operasi. Iwan mengurus semua prosedur yang harus dilakukan pasca operasi akan dilakukan. Setelah semua dibereskan Iwan kembali ke riangan ICU.


"Fan, Vina kalian masuk kantor hari ini. Biar abang yang menunggui operasi Danu." perintah Iwan.


"Oke bang. Nanti sehabis dari kantor kami kembali lagi ke sini." kata Ifan.


Ifan dan Vina pulang kerumah mereka masing - masing. Mereka sadar tidak mungkin mereka semua berada di rumah sakit dan membiarkan devisi mereka kosong. Kebetulan sekali orderan pesanan kue Vina sedang tidak banyak, hanya kue bolu sebanyak sepuluh buah yang diambil sore, yang akan dikerjakan oleh Maya.


Setelah selesai berberes Vina kemudian pergi ke kantor, hari ini Vina hanya membawa bekal cemilan tidak membawa bekal makan siang. Vina berniat membeli di kantin perusahaan. Sedangkan Ifan setelah meeting diluar akan langsung menuju rumah sakit.


Vina sampai dikantor setelah menempuh perjalanan yang lumayan macet. Ternyata Ifan sudah berada diruangan duduk dengan direktur. Vina yang baru datang langsung membuatkan minuman untuk dirinya, Ifan dan direktur. Vina juga memindahkan cemilan yang dibawanya dari rumah kedalam beberapa piring kecil.


"Bagaimana keadaan Danu, Fan?" tanya direktur.


"Rencana Pak Danu akan dioperasi pagi ini Pak. Sekitar pukul sepuluh pagi."


"Hm. Di rumah sakit mana Fan?"


"Rumah sakit Permata, ruangan VIP pak."


"Oke, saya berangkat kerumah sakit dahulu. Kamu berangkateeting dengan Rudy asisten saya." kata Direktur sambil melihat kearah Rudi. Rudi yang diperintah pun langsung mengangguk tanda setuju.


"Silahkan dimakan pak cemilannya." kata Vina menawarkan kue yang dibawanya dari rumah.


"Berarti memang benar ternyata isu yang saya dengar. kalau bagian perencanaan selalu ada cemilan kue pagi dan makan siang yang dibuat oleh Vina. Benar itu Vin?" Direktur menatap ke arah Vina.


"Benar pak. Masakan Vina sangat enak. Ditambah lagi tanpa MSG pak." promosi Ifan.


"Kalau begitu setiap ada acara rapat atau pesta jamuan yang diadakan oleh pihak kantor kamu aja yang menghendel Vin. Nanti akan saya sampaikan ke bagian HRD dan Sekretaris saya."


"Terimakasih Pak. Saya sangat tersanjung mendapat tawaran dari Bapak."


Direktur kemudian memakan kue yang dibuat oleh Vina. Direktur kemudian tersenyum karena merasakan kue buatan Vina yang enak itu.


"Vin boleh bungkus Vin?" tanya direktur tanpa malu.


"Boleh Pak. Sebentar saya bungkuskan." Vina kemudian membungkuskan kue yang dibawanya untuk direktur. Setelah itu Vina menyerahkan bungkusannya kepada direktur.


"Saya berangkat dulu. Terimakasih kuenya Vin" kata direktur sambil mengangkat bungkusan yang diberikan Vina.


Vina dan Ifan kembali bekerja. Vina bekerja di kantor sedangkan Ifan melakukan meeting di luar. Mereka sudah berjanji akan bertemu di rumah sakit. Saat pulang kantor.


......................


Sedangkan di rumah sakit, Iwan sedang menunggui Danu yang sebentar lagi akan melakukan operasi. Danu sudah sadar dan sudah bisa diajak berbicara. Danu juga sudah dipindahkan keruang rawatnya.


"Dan, apa perlu menghubungi istrimu Dan?"


"Nggak usah Wan, percuma. Dia nggak akan peduli. Jadi biarkan saja. Toh buktinya gue nggak pulang dari pagi kemaren dia tidak ada bertanya." kata Danu sambil melihatkan ponselnya yang memang tidak ada pesan chat dari istri Danu.


"Dan kalau gue boleh usul neh. Sebaiknya loe perjelas hubungan loe dengan istri loe. Gue tau loe suka sama Vina. Tapi kalau status loe masih suami sah seorang wanita, mana mungkin Vina mau Dan."

__ADS_1


"Itulah Wan yang bikin gue tidak bisa berbuat apa apa. Setiap gue mau masukin pengajuan cerai. Istri gue langsung menggunakan anak sebagai alasan."


"Atau begini, loe harus jujur dengan Vina tentang status loe. Setelah Vina tau, dekatkan Vina dengan anak loe. Mana tau setelah mereka bisa dekat. Saat mereka sudah dekat dan saling menerima, loe bisa menceraikan istri loe. Kemudian loe nikah dengan Vina" kata Iwan dengan menggebu gebu.


"Monyet monyet, ngomong mah gampang. Penerapannya. Mampus gue, sukur kalau Vina nerima, nah kalau menjauh."


"Jya juga ya Dan. Tapi kalau nggak dicoba mana kita tau Dan."


"Udahlah Wan, yang gue pikirin sekarang gue sehat dulu. Loe mau sahabat satu satunya loe ini tewas menggenaskan?"


"Kalau gue mau dari kemaren pagi udah gue biarin loe terkapar di ruangan." jawab Iwan.


Saat mereka asik berbincang, masuklah dokter yang meemriksa Danu dan dua orang perawat.


"Wah sepertinya Pak Danu udah segar. Sudah siap untuk dioperasi pak?" tanya dokter sambil tersenyum


"Siap Dok" jawab Danu dengan yakin dan mantap.


"Saya periksa dulu ya Pak."


Dokter kemudian memeriksa Danu. Setelah memeriksa, dokter kemudian tersenyum kepada Danu.


"Bener bener udah siap Bapak ternyata." kata dokter.


"Sus, silahkan bawa Pak Danu menuju ruangan operasi." kata dokter.


Suster sibantu oleh Iwan memindahkan Danu ke brangkar dorong rumah sakit. Mereka kemudian mendorong Danu menuju ruang operasi.


"Loe nggak bikin surat wasiat Dan?"


"Loe doain gue mampus Wan?:


Iwan mengangguk dengan mantap.


"Bawahan nggak ada akhlak loe" kata Danu sambil memukul tangan Iwan.


"Hahahahaha" Iwan tertawa.


Mereka sampai di ruang operasi. Iwan tidak boleh masuk ke dalam. Dia hanya bisa menunggu Danu di depan ruangan. Iwan berdoa kepada Tuhan semoga Danu baik baik saja dalam masa operasi. Bagaimanapun Danu selain atasannya di kantor juga sahabat terbaiknya semenjak SMP. Mereka selalu berbagi cerita baik suka maupun duka. Iwan sangat sayang dengan Danu begitu juga sebaliknya.


Operasi Danu telah berjalan selama satu jam. Iwan terus hilir mudik di depan ruang operasi seperti setrikaan. Iwan selalu melihat lampu ruang operasi, Iwan berharap lampu itu segera berubah warna menjadi hijau. Saat Iwan sedang serius menatap ke arah lampu tiba tiba pundaknya dipegang seseorang dari belakang. Iwan memutar kepalanya melihat siapa yang menyapanya.


"Eh Bapak." lata Iwan saat melihat Direktur telah berdiri dibelakangnya.


"Udah berapa lama Wan operasinya? Tadi saya sudah keruangan, kata perawat yang berjaga masih di ruang operasi." kata Direktur sambil duduk di sebalawah Iwan.


"Dari masuk tadi udah sejam lebih Pak. Perkiraan dokter tadi ajan memakan waktu satu setengah sampe dua jam"


Direktur melihat jam tangan mewahnya. "Masih setengah jam lagi." kata direktur sambil duduk di sebalah Iwan.


"Sakit apa Danu, Wan?"


"Usus buntu Pak. Kata dokter udah sangat akut. Makanya harus dilakukan operasi cepat."


"Iya pakm Makanya dilakukan operasi sesegera mungkin. Kalau tidak akan membahayakan ke Danu"


"Oh."


Mereka kemudian langsung berjalan ke arah pintu ruangan saat pintu ruangan operasi terbuka. Keluarlah seorang suster.


"Keluarga pasien Danu" kata suster.


"Saya dok." kata Iwan.


"Bapak silahkan keruangan belakang, Bapak lurus terus belok kiri, nanti ada pintu kaca Bapak masuk keruangan itu. Disana sudah menunggu dokter dan pasien." kata suster menerangkan lokasinya.


Iwan dan direktur kemudian berjalan sesuai dengan petunjuk yang diarahkan suster tadi. Mereka kemudian menunggu Dani yang sedang di dorong menuju ruangan tempat Irwan dan Direktur menunggu. Lima menit kemudian Danu datang dengan didorong oleh suster dalam keadaan masih setengah sadar.


"Dengan keluarga pasien Danu?" tanya dokter.


"Iya pak, kami keluarganya." kata Direktur menjawab.


"Baiklah, pasien akan sadar dalam waktu tiga puluh menit lagi. Untuk operasi semua berjalan dengan lancar, tinggak pemulihan. Untuk obat nanti akan diantar ke ruangan." kata dokter.


"Terimakasih dok atas bantuannya. Untuk makan dan minum bagaimana ya dok?"


"Untuk makan atau minum, usahakan sampai pasien buang angin baru diberikan. Tapi yang ringan ringan saja terlebih dahulu."


"Baiklah dok terimakasih."


"Saya permisi dulu pak." dokter kemudian pergi masuk kembali keruangan operasi. Sedangkan Iwan dan Direktur menunggu Danu sadar, barulah Danu diantar keruang rawatnya kembali.


Tiba-tiba ponsel Iwan berbunyi.


"Hallo Vin?"


"Gimana dengan Pak Danu, bang?"


"Operasi sudah selesai. Ini sedang menunggu opservasi. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat. Bagaimana dengan kantor Vin?"


"Aman bang. Ifan meeting keluar dengan Asisten direktur. Vina jaga gawang."


Direktur kemudian meminta ponsel Iwan.


"Vina, kalau tidak ada pekerjaan lagi kamu tutup aja devisi kamu. Kamu saya izinkan untuk kesini." kata direktur.


"Benarkah Pak? Saya tidak salah dengar?" Vina memastikan apa yang didengarnya kepada direktur.


"Yup. Kamu tidak salah dengar. Kamu silahkan kesini sekarang. Tidak apa apa." kata direktur.


"Makasi banyak Pak. Saya akan kesana sekarang."

__ADS_1


Vina kemudian mematikan komputernya. Dia kemudian memasukkan kembali kue yang dibawanya ke dalam kotak bekal. Vina menutup semua tirai setelah itu dia mengunci pintu ruangannya. Tak lupa dia mengabari Ifan.


✉️ Vina


Bang, Vina ke rumah sakit. Udah diijinkan oleh direktur. Ruangan udah Vina kunci.


✉️ Ifan


Sip. Nanti siap meeting aku langsung OTW rumkit.


Vina turun menuju parkiran motor. Vina kemudian melajukan motornya menuju rumah sakit. Vina menyempatkan berhenti di rumah makan padang untuk membeli makan siang sebanyak empat porsi. Setelah membeli makan siang, Vina berhenti di toko buah, Vina membeli buah yang bisa dikonsumsi oleh Danu. Dari toko buah Vina berhemti di swalayan, Vina membeli semua yang dibutuhkan oleh Danu dan orang yang menunggui Danu. Setelah semua kebutuhan dirasa sudah cukup, Vina melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit permata. Vina memarkirkan motornya tepat disebelah motoe Iwan.


"Kayaknya orang makin sedikit yang memakai motor" kata Vina sambil membuka helmnya. Vina kemudian menitipkan helm kebagian penitipan.


Vina langsung saja menuju ruangan VIP tempat Danu dirawat. Vina kemudian langsung masuk kedalam ruang rawat Danu. Ternyata yang tinggal hanya Iwan saja.


"Loh bang, kemana direktur bang?" tanya Vina sambil melihat kesekeliling ruangan.


"Udah pulang barusan Vin. Katanya tadi mau menjenguk temannya yang meninggal."


"Siapa bang yang meninggal?"


"Mana abang tau Vin. Kamu bawa apaan banyak banget tentengannya?"


"Ini bawa nasi padang, buah, kemudian perlengkapan abang dan Pak Danu. Abang pasti belum mandikan?" tebak Vina.


"Bener. Aku belum mandi, tapi gosok gigi udah."


"Makan bagaimana bang?"


"Dari pagi belum ada Vin. Hanya minum teh doang." jawab Iwan.


Vina kemudian menghidangkan nasi padang untuk dirinya dan Iwan. Mereka makan dengan lahap. Sedangkan Danu baru saja tidur saat direktur permisi untuk pulang.


"Pak Danu udah sadar bang?"


"Udah, sekarang sepertinya tidur."


Mereke kemudian berbincang apa saja, pindah topik begitu cepat.


"Uhuk Uhuk." terdengar Danu batuk.


Vina labgsung berlari ke ranjang Danu." Minum pak" kata Vina sambil menyodorkan gelas yang sudah ada sedotannya. Danu kemudian meminum air yang diberikan oleh Vina.


"Makan Pak?" kata Vina sambil mengambil mangkok yang berisi bubur di atas nakas.


"Nanti Vin."


Vina meletakkan kembali mangkuk bubur ke tempatnya. Dia tidak mau memaksa Danu untuk makan. Vina kembali duduk di sofa dekat Iwan.


"Bang istirahat aja dulu. Nanti kita gantian. Siap maghrib aku pulang, abang dan Ifan menjaga pak Danu."


"Kamu jaga sekarang ya. Aku tidur dulu"


Vina pun mengangguk. Iwan langsung mengambil posisi tidur. Vina yang tidak tau harus mengapa mengeluarkan ponselnya untuk main game.


Danu yang sebenarnya lapar, tapi tidak mau merepotkan Vina menahan rasa laparnya. Danu kemudian memilih untuk tidur lagi sampai Iwan bangun atau Ifan datang.


Jam tiga sore Ifan datang. Danu yang melihat Ifan datang langsung memanggilnya.


"Fan"


"Yup Pak."


"Kamu bisa bantu suapin aku nggak Fan. Aku lapar." kata Dani sambil berbisik ditelinga Ifan.


Ifan kemudian mengambil mangkok bubur di atas nakas. Ifan menyuapi Danu. Vina hang melihat langsung nyeletuk.


"Tadi aku mau nyuapin dibilang nggak lapar. Eee Ifan datang langsung bilang lapar." Vina langsung manyun.


"Tapi memang belum lapar Vin. Ini baru lapar, kebetulan Ifan datang, makanya aku minta dia untu nyuapin" kata Danu membela dirinya.


"Oh" jawab kesal Vina.


"Makanya kalau sama sama ada rasa ngaku aja. Jangn disimpan dalam hati. Jadi sensi kan." kata Iwan.


"Apaan Wan" kata Vina dan Danu bersamaan.


"Cie kompak bener." jawab Ifan.


Ifan terus saja menyuapkan Danu sampai habis isi mabhkok bubur. Mereka berempat kemudian ngobrol receh. Samlai seorang suster masuk mengantarkan obat yang harus dimakan Danu.


"Vin, kamu bantu Pak Danu untuk minum obat ya. Aku mau curhat dulu" kata Ifan


"Bang Iwan mau ngapain?" tanya Vina.


"Mau nonton. Kamu aja yang nolong."


"Ye lah"


Vani kemudian membantu Danu untuk meminum obatnya. Danu tidak bisa mengelak lagi. Sebenarnya dalam hati Danu bersorak sorai bisa makan dari tangan Vina langsung. Vina juga bersorak dalam hati karena bisa meminumkan obat kepada Danu yang langsung dari tangannya.


"Kenapa begini rumit ya" kata Vina dalam hatinya


"Kenapa aku nggak bisa mengambil sikapya?" Danu berkata dalam hatinya.


Selesai menolong meminum obat Vina kemudian pamit untuk pulang. Vina mendapat telpon dari Maya kalau ada pesanan kue jajanan pasar yang lumayan banyak untuk besok. Maka persiapannya harus secepatnya.


...****************...


Kakak mampir di novelku yang lain dong kak yaitu

__ADS_1


Kesetiaan Seorang Istri


Obsesi Sebuah Cinta


__ADS_2