Kepahitan Sebuah Cinta

Kepahitan Sebuah Cinta
Ivan


__ADS_3

Negara I


Ivan yang sedang bersiap siap mau berangkat ke perusahaan untuk bekerja karena masih ada satu maket lagi yang belum selesai dibuat oleh dirinya dan Iwan, menatap ke arah layar ponselnya yang menyala itu. Sebuah panggilan masuk terpampang di layar tersebut, nama Frans tercantum di sana.


"Bang Frans nelpon pagi pagi gini?" ujar Ivan yang lumayan kaget saat melihat siapa yang menghubungi dirinya saat ini.


"Ada apa ya? Apa bukti bukti yang gue berikan nggak bisa dibuka ya?" kata Ivan yang mencoba menerka nerka apa yang akan dibicarakan oleh Frans kepada dirinya.


Sebelum panggilan Frans berakhir, Ivan sudah mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo Bang, selamat pagi" ujar Ivan menyapa Frans.


"Pagi Van. Apa loe sibuk di kantor hari ini Van?" ujar Frans bertanya kepada Frans tentang kesibukan dirinya pada hari ini.


"Terlalu sibuk nggak, cuma memang ada pekerjaan yang harus diselesaikan" jawab Ivan memberitahukan kepada Frans kalau dirinya memang ada pekerjaan yang harus diselesaikan.


"Emang ada apa ya Bang?" ujar Ivan bertanya kepada Frans.


"Apa bukti bukti yang aku berikan kemaren nggak bisa terbuka semua?" ujar Ivan bertanya selanjutnya kepada Frans.


Frans menyimak apa yang dikatakan oleh Ivan kepada dirinya. Sekarang Fran semakin yakin kalau Ivan bukanlah pegawai biasanya saja. Ivan selalu menganalisa setiap permasalahan serta dulu dua langkah dari pada pemikiran pegawai biasa saja. Hal itu terlihat dengan apa yang dilakukan oleh Ivan saat dirinya merekam pembicaraan antara Ranti dengan Anggara yang pada akhirnya membuat pikiran Frans untuk memekirkan bagaimana caranya hak asuh Deli akan dengan mudah jatuh kepada Deli sudah tertolong dengan rekaman yang diberikan oelh Ivan kepada dirinya.


"Hallo Bang, masih di sana kan Bang?" ujar Ivan saat tidak diberikan respon apa apa oleh Frans yang berada di seberang telpon tersebut.


"Eh maaf Van. Masih Van, tadi ada sedikit masalah" uajr Frans yang tidak mungkin mengatakan apa yang sedang dialaminya sebentar ini kepada Ivan


"Oh baiklah Bang" jawab Ivan yang sebenarnya tidak percaya dengan Frans tetapi apa mau dikata, Ivan harus main percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Frans kepada dirinya.


"Oh ya Bang, ada apa nelpon gue pagi pagi?" ujar Ivan yang kembali menanyakan kepada Frans, kenapa Frans menghubunginya di pagi hari seperti sekarang ini.


"Bisa kita bertemu pas jam makan siang Van?" ujar Frans yang akhirnya memilih untuk memundurkan jadwal bertemu dengan Ivan yang sebelumnya direncanakna akan bertemu pagi hari menjadi bertemu pada waktu jam makansiang, karena Ivan yang masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan oleh dirinya.


"Jam makan siang Bang?" ujar Ivan bertanya sekali lagi


"Iya" jawab Frans


"Oh baiklah Bang. Tapi dimana?" ujar Ivan menanyakan tempat mereka akan bertemu.


"Di kantor abang saja Van. Nanti akan abang kirimkan lokasinya ke kamu" ujar Frans menentukan dimana mereka akan bertemu.


"Oh baiklah Bang, di kantor abang saja. Tapi aku makan siang dulu ya Bang, baru ke sana" ujar Ivan yang sama sekali tidak pernah berminat untuk makan siang di kantor.


Bagi Ivan makan siang di kantor sudah habis masanya, semenjak Maya tidak lagi mengantarkan menu makan siang ke kantor, Ivan sudah tidak pernah makan siang di kantor lagi. Bagi Ivan kantor adalah murni tempat bekerja bukan tempat makan siang.


"Kenapa Van?" ujar Frans yang kaget saat mendengar Ivan akan makan di luar terlebih dahulu baru datang ke kantor Frans.

__ADS_1


"Abang akan menyediakan makan siang di sini Van" lanjut Frans yang mengira kalau Ivan berpikrian kalau Ivan tidak akan diberi makan siang oleh Frans di kantornya.


"Bukan masalah makan siang abang sediakan atau tidak Bang." jawab Ivan yang hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Frans kepada dirinya.


"Terus kenapa?" ujar Frans kembali bertanya kepada Ivan.


"Aku memang tidak suka makan di kantor Bang. Bagi aku kantor adalah untuk tempat bekerja, bukan tempat makan siang. Kecuali aku harus mengerjakan sesuatu yang memang sudah sangat mendesak. Hal itupun jarang mau aku melakukannya. Penting bagi aku untuk makan siang tidak di dalam kantor" kata Ivan memberitahukan kepada Frans kenapa dirinya menolak untuk makan siang di kantor Frans.


"Oh baiklah, kalau begitu kamu abang tunggu di kantor saja. Bebas mau datang jam berapa" kata Frans yang tidak akan mungkin memaksakan kehendaknya kepada Ivan.


Ivan sudah jelas jelas menolak untuk makan siang di kantor Frans.


"Kalau abang mau, kita bisa makan di kantin kantor abang aja kalau ada. Atau bisa juga di warteg dekat kantor abang. Aku mah bebas bang mau makan dimana saja hayuk" kata Ivan yang tidak ingin di cap oleh Fran seseorang yang tidak bersahabat dengan orang baru.


"Serius Van, kamu mau makan di luaran sana tidak di restoran?" ujar Frans kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Ivan kepada dirinya.


"Ya Bang. Kita akan makan di warteg atau dimanapun itu" ujar Ivan meyakinkan Frans.


"Oke kalau begitu, kamu ke tempat Abang jam dua belas saja. kita langsung menuju warteg tempat langganan Abang beli nasi padang" ujar Frans yang langsung semangat mendapatkan teman yang satu frekuensi dalam hal makan siang dengan dirinya.


"Sip Bang, nanti aku akan ke kantor abang jam dua belas siang" ujar Ivan yang setuju dengan jam yang ditetapkan oleh Frans kepada dirinya.


"Oke abang tunggu" ujar Frans.


"Jadi dari pada gue menggerutu karena macet, mending bawa motor aja" ujar Ivan.


Ivan melihat Ayah sudah tidak ada lagi di panthouse.


"Ayah memang selalu menjadi pembuka pintu perusahaan" ujar Ivan mengomentari bagaimana cepatnya Ayah menuju perusahaan.


Ivan menyambar roti yang sudah dibuat oleh Ayah dan segelas teh yang ternyata sudah setengah panas itu. Ivan melihat jam dinding yang ada di dapur.


"Pantesan udah mau dingin ini teh, hari aja udah mau jam setengah delapan" kata Ivan berkomentar saat melihat jarum jam yang menunjukkan hampir jam setengah delapan itu.


Ivan menyantap menu sarapannya dengan sangat ligat. Dia nggak mau terlalu terlambat sampai di perusahaan. Ivan harus mengejar mempersiapkan maketnya itu. Kalau dia telat maka maket itu bisa tidak siap sebelum jam dua belas siang.


Ivan melajukan motornya dalam kecepatan yang lumayan tinggi. Ivan memilih untuk lewat jalan tikus daripada jalan besar. Ivan sudah bisa membayangkan kemacetan yang akan dilaluinya kalau dia lewat jalan besar seperti biasa. Tepat pukul setengah delapan lewat seperempat Ivan sudah sampai di depan perusahaan. Dia langsung saja mengambil kehadiran di mesin yang ada di dekat pintu lift karyawan


"Anda telat lima belas menit untuk hari ini" ujar mesin memberitahukan berapa menit keterlambatan Ivan.


"Oke. Makasih udah mau ngitunginnya" ujar Ivan menanggapi perkataan yang disampaikan oleh mesin kepada dirinya.


Setelah mengambil kehadiran, Ivan langsung menuju ruangannya yang terletak di lantai enam perusahaan itu. Ivan membuka pintu ruangan. Dia melihat Danu dan Iwan yang sedang bersiap siap.


"Mau kemana Bang?" ujar Ivan sesaat setelah menaruh tas kerjanya di kursi.

__ADS_1


"Kami berdua mau presentasi. Tolong loe lanjutin maket yang kemaren ya" ujar Iwan yang menjawab pertanyaan yang diberikan oleh Ivan kepada Danu dan Iwan.


"Hah? Kok gue nggak tau?" ujar Ivan komplent kepada Iwan karena dia tidak tahu kalau hari ini harus bekerja sendirian di ruangan.


"Gue juga baru tahu pagi ini. Danu tiba tiba mengajak gue untuk presentasi" ujar Iwan menjelaskan kepada Ivan


Danu yang mendengar pembicaraan antara Iwan dan Ivan hanya diam saja tidak memberikan komentarnya sedikitpun kepada mereka berdua.


"Oh baiklah. Maket yang kemaren sudah sembilan puluh persenkan ya?" ujar Ivan melanjutkan pertanyaannya kepada Iwan dengan urusan pekerjaan.


"Ya tinggal sepuluh persen lagi sama finishingnya." ujar Iwan


"Oke sip." ujar Ivan.


Setelah Danu dan Iwan selesai menyiapkan barang barnag yang akan mereka bawa menuju tempat untuk presentasi. Danu dan Iwan pamit kepada Ivanyang akan melanjutkan pekerjaan membuat maket itu sendirian.


"Hati hati di jalan Bang. Semoga presentasinya berjalan dengan lancar" ujar Ivan memberikan dukunga semangat dan doa untuk kedua orang yang akan melakukan presentasi tersebut.


"Oke. Loe juga semangat untuk menyelesaikan maketnya" ujar Iwan membalas memberikan semangat kepada Ivan untuk melanjutkan pekerjaan menyelesaikan maket yang masih belum jadi seratus persen itu.


"Serahin ke gue Bang. Gue jamin akan siap dengan sangat keren" ujar Ivan.


Danu dan Iwan kemudian meninggalkan Ivan sendirian di ruangan mereka. Danu dan Iwan akan melakukan presentasi dengan rekan kerja baru perusahaan.


"Oke semangat Ivan" ujar Ivan memberikan semangat kepada dirinya sendiri untuk melakukan pekerjaan tersebut.


Ivan mulai menyempurnakan maket yang akan dipresentasikan besok. Ivan melakukan semuanya dengan sangat detail. Ivan sudah memasang alarm di ponselnya.


"Jam setengah dua belas sudah harus selesai" ujar Ivan juga memasang target ke dirinya sendiri. Ivan memang terbiasa melakukan hal itu. Apapun yang akan dikerjakan oleh Ivan. Ivan akan memasang target untuk dirinya sendiri terlebih dahulu.


Ivan mengerjakan maketnya dengan sangat fokus. Bunyi ponsel yang sudah berkali kali itu sama sekali tidak diangkat oleh Ivan. Siapapun yang menghubungi Ivan akan langsung masuk ke dalam vioce mail karena Ivan sudah mengaktifkan layanan itu.


"Akhirnya selesai juga. Sempurna" ujar Ivan saat melihat maket yang telah selesai di kerjakan oleh dirinya.


Ivan melihat maket itu dari sekian sisi. Ivan harus memastikan kalau maket itu tidak ada kesalahan dan murni sudah bisa digunakan sebagai alat untuk mempresentasikan kerjasama besok dengan perusahaan properti yang akan membangun perumahan elite.


"Oke sip" ujar Ivan yang sudah memastikan untuk kesekian kalinya kalau maket yang dibuat sudah sesuai dengan apa yang diinginkan oleh mitra kerjasama mereka.


Ivan melihat jam tangan mewahnya itu. Hari sudah menunjukkan pukul sebelas.


"Bonus setengah jam" ujar Ivan


Ivan duduk di sofa, dia mengambil ponsel yang dari tadi tidak berhenti berdering. Ivan melihat panggilan dari Sari, tetapi tidak ada panggilan dari Maya. Hanya satu pesan chat dari Maya yang mengatakan kalau Maya akan ke pasar pagi untuk berbelanja. Ivan menghubungi Sari, tetapi sekarang giliran Sari yang tidak mengangkat telpon dari dirinya.


Ivan kemudian membersihkan tangannya ke wastefel. Dia akan beristirahat sejenak sebelum berangkat menuju kantor Frans. Frans memang sudah mengirimkan lokasi di mana gedung perkantorannya berada.

__ADS_1


__ADS_2