
“Vina bangun Nak, sholat dulu, hari sudah mau jam enam” ujar Ibu membangunkan Vina, Maya dan Sari. Ketiga wanita itu terlena dalam tidur malam mereka.
Vina mengucek matanya yang masih terasa mengantuk. Vina merasa enggan untuk bangun, tetapi kewajibannya sebagai seorang muslim mengharuskan Vina untuk segera bangun dan melaksanakan kewajibannya.
“Maya, Sari, bangun. Udah jam enam” ujar Vina membangunkan Maya dan Sari yang juga sangat nyenyak tidur.
“Jam berapa Vin?” tanya Maya yang baru saja sadar itu.
“Jam enam” jawab Vina sambil menunjukkan jam yang ada di dinding kamar.
“Waduh” ujar Maya yang langsung berdiri.
Vina dan Maya minus Sari yang ternyata baru dapat lampu merah itu langsung berlari menuju kamar mandi. Mereka mengambil wudhu langsung berdua. Mereka tidak ingin dikatakan sholat fajar oleh Bapak saat Bapak tau
kalau mereka baru akan sholat subuh. Vina dan Maya kembali ke dalam kamar mereka. Mereka berdua langsung sholat.
Setelah selesai mengerjakan sholatnya, Vina ke luar dari kamar, Vina menuju dapur. Vina bermaksud untuk membantu Ibu membuat sarapan. Sedangkan Maya menuju pintu, dia mengambil sapu yang tergantung di balik pintu. Vina dan Maya sepakat tidak membangunkan Sari, Sari terlihat sangat capek dan juga menikmati tidurnya. Maya mulai menyapu semua lantai rumah, dia tidak lupa menyapu kamar. Saat masuk ke kamar miliknya, Maya tidak melihat Juan lagi, tempat tidur sudah rapi, begitu juga selimut yang sudah dilipat.
Maya berjalan cepat menuju dapur. Nafasnya terlihat sangat memburu, seperti seseorang telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya.
“Vina, Juan hilang.” ujar Maya yang segan memakai kata kabur untuk mengatakan kepergian Juan kepada Maya.
“Hah ilang? Serius loe?” ujar Vina sambil berjalan menuju Maya.
“Serius, tengok sendiri aja kalau loe nggak percaya dengan apa yang gue katakan.” Ujar Maya lagi.
Vina dan Maya kemudian pergi menuju kamar Maya. Mereka melihat memang tidak ada lagi Juan di dalam kamar itu. Keadaan kamar sudah sangat rapi. Vina masuk ke dalam kamar, dia melihat tas ransel milik Juan masih ada di dekat almari baju.
“Kalau dia kabur, nggak mungkin ninggalin tas kali May. Mungkin Juan ke depan kali. Loe udah cek teras depan?” ujar Vina sambil menunjuk tas ransel milik Juan yang masih bedara di dalam kamar.
“Belum” jawab Maya.
“Loe cek dulu sana. Mana tau dia berada di teras depan sambil tengok pemandangan” ujar Vina meminta Maya mencek keberadaan Juan di teras depan.
Maya berjalan menuju teras depan, sedangkan Vina kembali ke dapur. Tak lama kemudian Maya berjalan menuju dapur.
“Gimana?” tanya Vina lagi.
“Nggak ada juga” jawab Maya menjawab pertanyaan Vina.
“Lah kemana tu anak?” ujar Vina sedikit panik, dia takut Juan kenapa kenapa.
Juan sama sekali tidak tau daerah sini, Vina takut Juan benar benar hilang. Sempat Juan hilang, apa yang akan dikatakan oleh Vina saat Sari bangun tidur nanti.
“Kemana tu anak ya May?” ujar Vina menatap Maya.
__ADS_1
“Gue juga nggak tau Vin. Tu anak pergi nggak ngomong ngomong atau ninggalin pesan.” ujar Maya yang juga tidak memiliki ide di kepalanya Juan akan pergi kemana.
Vina dan Maya terlihat sangat panik, ada ada saja masalah yang terjadi dalam dua hari ini. Pertama Ivan yang pergi dalam keadaan marah, yang kedua hari ini, Juan menghilang tak tau kemana. Vina dan Maya saling menatap dan melepaskan helaan nafas yang cukup berat.
Saat mereka sedang panik itu, Ibu datang dengan membawa sayuran dari hasil ladang. Vina dan Maya menatap Ibu, tidak mungkin Ibu akan pulang dengan cepat dari ladang. Sedangkan tadi Ibu masih sempat membangunkan
mereka berdua untuk melaksanakan kewajiban.
“Ibu dari ladang?” tanya Vina menatap Ibunya. Apalagi Ibu membawa sayuran dalam bakul miliknya yang biasa digunakan ibu untuk ke ladang.
“Nggak nduk, yang dari ladang itu Juan, tadi di ajak Bapak pagi untuk mengambil daun jeruk purut. Tuh sekarang mereka di depan sedang memasukkan semua rempah rempah ke dalam karung.” Ujar Ibu memberitahukan siapa
yang telah pergi ke ladang dari subuh.
Vina dan Maya bernafas lega. Orang yang mereka berdua sangka sudah hilang ternyata pergi ke ladang dengan Bapak sejak subuh tadi.
“Untung nggak jadi hilang.” ujar Maya sambil menahan tawanya supaya tidak keluar.
“Siapa yang untung nggak jadi hilang nduk.” tanya Ibu yang mendengar apa yang dikatakan oleh Maya.
“Tanya Vina aja Buk. Aku mau melanjutkan menyapu dulu. Sempat pending gara gara ada yang disangka sudah hilang.” jawab Maya meminta Ibu untuk bertanya kepada Vina saja.
“Ada apa Nduk?” tanya Ibu yang tidak mengerti dengan apa yang diceritakan oleh Maya tadi.
Vina kemudian menceritakan kepada Ibu apa yang terjadi tadi. Ibu menyimak cerita Vina. Ibu hanya bisa geleng geleng kepala saja atas perkiraan kedua putrinya itu.
Ibu membuat oseng kacang panjang lengkap dengan tahu, tempe, petai dan juga ikan tri kecil kecil. Bau harum tercium dari masakan yang dibuat oleh Ibu. Sedangkan Vina membantu membuatkan teh manis untuk semua anggota keluarganya.
“Nduk bangunkan Sari sana, sebentar lagi sarapan telah siap. Tapi kalian mau pergi jam sepuluh.” ujar Ibu meminta Vina untuk membangunkanSari.
“Setelah bangunin Sari, kamu juga langsung mandi. Siap itu baru kita sarapan.” Lanjut Ibu memberikan pesan kepada Vina.
“Oke Buk” jawab Vina
Vina meninggalkan Ibu sendirian di dapur. Dia kembali ke dalam kamar untuk melihat Sari. Ternyata Sari sudah bangun dari tidurnya, dia sedang membersihkan ranjang dan juga melipat selimut serta merapikan letak bantal bantal yang mereka pakai semalam.
“Gue kira loe masih terkapar. Gue yang mandi duluan atau loe?” tanya Vina kepada Sari yang masih sibuk melipat selimut.
“Loe duluan. Gue siap lipat selimut.” Jawab Sari sambil tetap melipat selimut yang semalam dipakai oleh Maya, sedangkan selimut yang dipakai Vina sudah dilipat Vina tadi.
Vina meraih handuk di balik pintu. Dia juga mengambil sebuah pakaian tidur untuk dipakainya dari kamar mandi menuju kamar. Sekarang tidak hanya Bapak yang ada di rumah. Tetapi juga ada Juan, Vina tidak mau saat dia keluar kamar mandi dengan memakai handuk saja. Mendadak Juan juga masuk ke dalam rumah. Vina tidak mau bertemu Juan dalam keadaan seperti itu. Vina kemudian menuju kamar mandi.
“Loe mau mandi?” tanya Maya yang baru saja meletakkan sapu ke tempatnya kembali.
“Yup.” Jawab Vina
__ADS_1
“Sari udah bangun?” tanya Maya lagi sambil mencomot sepotong goreng tempe dari atas meja makan.
“Sudah, dia sedang beres beres kamar. Gosok gigi belum udah sarapan. Dasar jorok” ujar Vina meledek tingkah jorok Maya.
Vina kemudian menuju kamar mandi sedangkan Maya masuk ke dalam kamar. Dia akan mandi setelah Sari selesai mandi. Vina mandi dalam waktu lima belas menit, dia sekarang sudah berada di dalam kamar memakai pakaiannya
untuk pergi ke ibu kota. Sekarang giliran Sari yang mandi.
“Loe udah cek barang barang yang akan loe bawa?” tanya Vina kepada Maya yang sedang mengambil uang untuk membayar rempah rempah milik Bapak.
“Sudah. Ini mau bayar uang Bapak” jawab Maya.
Maya kemudian keluar kamar, dia menuju Bapak yang sedang duduk di teras bersama dengan Juan. Obrolan antara Bapak dan Juan terlihat sangat nyambung satu dengan yang lainnya. Hal ini diluar pemikiran Vina dan MAya serta Sari, mereka bernganggapan kalau Juan tidak akan nyambung dengan Bapak saat mengobrol.
“Bapak ini uang beli rempah rempah, sesuai dengan kesepakatan kita” ujar Maya memberikan uang kepada Bapak untuk pembayaran rempah rempah.
Bapak memasukkan uang tersebut ke dalam saku celananya.
“Kok nggak dihitung dulu Pak?” tanya Maya.
"Sama anak sendiri nggak boleh main hitung hitungan. Kita harus percaya sama anak sendiri” jawab Bapak sambil tersenyum kepada Maya.
Setelah memberikan uang kepada Bapak, Maya kembali masuk ke dalam kamar, dia melihat Sari sudah selesai mandi. Maya kemudian menuju kamar mandi, sekarang giliran dia untuk bersih bersih. Maya selalu tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mandi, dalam waktu sepuluh menit kurang, Maya telah selesai mandi. Dia kemudian memakai pakaiannya.
“Sayang, mandi dulu sana” ujar Sari kepada Juan yang terlihat sedang melihat Bapak menanam bibit buah.
“Iya sayang.” Jawab Juan.
“Bentar lagi” lanjut Juan.
“Nak Juan sana mandi, bentar lagi kita sarapan, kalian bukannya mau berangkat jam sepuluh, hari sudah jam delapan kurang.” Ujar Bapak sambil melihat matahari.
Juan melihat jam tangan miliknya. Jam tangan milik Juan memang menunjukkan jam delapan kurang. Bapak keren, dia memakai matahari sebagai jamnya, pengalaman bertahun tahun bekerja di ladang. Juan kemudian masuk ke dalam rumah. Dia pergi membersihkan dirinya terlebih dahulu.
Setelah mereka semua selesai mandi, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan, mereka akan sarapan sebelum Vina dan yang lainnya bertolak ke ibu kota. Selesai makan, mobil yang akan mengantar mereka ke kota
juga sudah datang.
Bapak, Juan dan sopir mobil, memasukkan semua barang ke dalam bagasi mobil. Setelah semuanya pindah ke dalam mobil. Vina dan yang lainnya berpamitan kepada Bapak dan Ibuk.
“Kalian harus hati hati di sana ya nak, jaga diri, dan jangan berbuat yang aneh aneh.” Ujar Bapak berpesan kepada Vina dan Maya serta Sari.
“Nak Juan, tolong jaga ketiga putri Ibuk ya.” Ujar Ibuk kepada Juan.
“Siap Ibuk” jawab Juan dengan pasti.
__ADS_1
Vina dan yang lain bersalaman dengan Bapak dan Ibuk, mereka kemudian masuk ke dalam mobil. Vina melambaikan tangannya kepada kedua orang tuanya itu. Mobil perlahan meninggalkan kampung halaman Vina. Mobil akan membawa Vina dan yang lainnya ke bandara. Dari Bandara dengan menggunakan pesawat milik perusahaan mereka akan menuju ibu kota.